Rabu, 14 Januari 2026

Tafsir Surah "At-Takatsur"

بسم الله الرحمن الرحيم

Surah At-Takatsur adalah surah yang ke 102 dalam Al-Qur'an, termasuk surah Makkiyah.

Surah ini bercerita tentang orang yang dilalaikan oleh kenikmatan dunia sehingga melupakan akhiratnya.

Hubungan surah ini dengan surah sebelumnya.

Surah sebelumnya "Al-Qari'ah" bersecerita tentang hari kiamat, dimana nanti yang menentukan baik buruknya kehidupan seseorang adalah timbangan amalannya. Sedangkan surah "At-Takatsur" menceritakan tentang orang yang ringan timbangannya karena kurang amalan kebaikannya.

Hubungan surah ini dengan surah setelahnya.

Surah "Al-'Ashr" menjelaskan tentang keutamaan waktu dan sifat manusia yang merugi. Sedangkan surah "At-Takatsur" menyebutkan contoh orang yang merugi karena melalaikan waktu dengan sibuk memperbanyak kenikmatan dunia semata.

Lihat: Tafsir surah "Al-'Ashr"

Ayat pertama dan kedua:

{أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ}

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.

1.      Maknya "At-Takatsur": Berlomba menjadi yang terbanyak dalam kenikmatan dunia dan menyombongkannya.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا} [الكهف: 34]

Dan dia (yang kafir) memiliki kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengan dia, "Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat." [Al-Kahf: 34]

2.      Kenikmatan dunia sangat melalaikan.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ} [الحديد: 20]

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [Al-Hadiid: 20]

Lihat: Perumpamaan kenikmatan dunia (Tafsir ayat 20 surah Al-Hadiid)

3.      Mencari harta untuk bermegah-megah adalah jalan syaitan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahul 'anhu; Rasulullah bersabda:

مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ سَعَى مُكَاثِرًا فَفِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ [المعجم الأوسط: حسنه الألباني]

"Barangsiapa yang mencari nafkah untuk kedua orang tuanya maka ia berada di jalan Allah, barangsiapa yang mencari nafkah untuk keluarganya (istri dan anak) maka ia berada di jalan Allah, dan barangsiapa yang mencari nafkah untuk memperbanyak harta maka ia berada di jalan setan dan sekutunya". [Al-Mu'jam Al-Ausath: Hasan]

4.      Harta tidak ikut menemani masuk kubur.

Dari Anas radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ " [صحيح البخاري ومسلم]

"Mayyit diiringi (ke kuburannya) tiga hal, yang dua akan kembali sedang yang satu terus menyertainya: Ia diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Harta dan keluarganya akan kembali, sedang amalnya akan terus tetap bersamanya." [Shaih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Syarah Riyadhushalihin Bab (11) Mujahadah (hadits 10) 

5.      Harta yang sesungguhnya yang menemani di akhirat adalah yang disedekahkan.

Abdullah bin Asy-Syikhir radhiyallahul 'anhu berkata: Aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau tengah membaca:

{أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ} [التكاثر: 1]

Bermegah-megahan telah melalaikanmu. [At-Takaatsur: 1]

Beliau bersabda:

"يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قَالَ: وَهَلْ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟" [صحيح مسلم]

"Anak cucu Adam berkata: 'Hartaku, hartaku'." Beliau meneruskan: "Hartamu wahai anak cucu Adam tidak lain adalah yang kau makan lalu kau habiskan, yang kau kenakan lalu kau usangkan atau yang kau sedekahkan lalu kau habiskan." [Shahih Muslim]

Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 12; Harta yang diinfakkan adalah harta sejati

Ø  Dari Abu Dzar radhiallahu'anhu; Rasulullah bersabda:

"إِنَّ المُكْثِرِينَ هُمُ المُقِلُّونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، إِلَّا مَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ خَيْرًا، فَنَفَحَ فِيهِ يَمِينَهُ وَشِمَالَهُ وَبَيْنَ يَدَيْهِ وَوَرَاءَهُ، وَعَمِلَ فِيهِ خَيْرًا"

'Sungguh orang-orang yang berbanyak-banyak (mengumpulkan harta) akan menjadi sedikit (melarat) pada hari kiamat, kecuali yang diberikan kebaikan oleh Allah padanya -beliau meniup ke sebelah kanan, kiri, depan dan belakangnya- lalu dia menggunakan (harta tersebut) dengan baik.' [Shahih Bukhari]

Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 13; “Yang banyak harta merekalah yang sedikit”

6.      Kerugian besar bagi orang yang dilalaikan oleh dunia.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ} [المنافقون: 9]

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. [Al-Munafiquun:9]

7.      Penetapan azab kubur.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ مِنْ حَرِّ الْقُبُورِ" [المعجم الكبير للطبراني: حسنه الشيخ الألباني]

“Sesungguhnya sedekah itu meredakan panasnya siksa kubur”. [Al-Mu’jam Al-Kabiir: Hasan]

Lihat: Keutamaan zakat, infaq, dan sedekah dalam As-Sunnah

8.      Keutamaan ziarah kubur.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ"

"Berziarahlah kubur karena ia akan mengingatkan kalian akan kematian." [Shahih Muslim]

Lihat: Keutamaan banyak mengingat mati

Ayat ketiga dan keempat dan kelima:

{كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ}

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin

1)      Pentingnya ilmu tentang akhirat.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ} [الروم : 7]

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. [Ar-Ruum: 7]

Ø  Dari Aisyah radhiyallahu 'anha; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ! وَاللَّهِ، لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ، لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا" [صحيح البخاري]

"Wahai umat Muhammad! Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui maka kalian akan sedikit tertawa dan kalian akan banyak menangis". [Shahih Bukhari]

Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 27; “Kalaulah kalian tahu yang kutahu”

2)      Tujuan pengulangan ayat ketiga:

a) Sebagai penegasan dan menakut-nakuti.

b) Yang pertama ditujukan untuk orang kafir, sedangkan yang kedua untuk orang beriman.

c) Yang pertama ketika wafat dan dalam kubur, sedangkan yang kedua ketika hari kiamat.

d) Yang pertama ketika wafat, sedangkan yang kedua ketika dalam kubur.

Ibnu 'Umar radhiallahu'anhuma berkata: Rasulullah bersabda:

" إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ، غُدْوَةً وَعَشِيًّا، إِمَّا النَّارُ وَإِمَّا الجَنَّةُ، فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى تُبْعَثَ إِلَيْهِ "

"Jika salah seorang di antara kalian meninggal, huniannya akan diperlihatkan di waktu pagi dan sore hari, baik itu neraka ataupun surga. Lantas dikatakan kepadanya: 'Ini adalah hunianmu kelak hingga engkau dibangkitkan kembali untuknya." [Shahih Bukhari]

Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 42; Sakaratul maut

Ayat keenam dan ketujuh

{لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ}

niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.

1.      Tiga tingkatan yakin:

a) Ilmul yaqin: Yaitu ketika seseorang yakin (tidak ragu) dengan apa yang ia dengar dari suatu berita, seperti tentang akan datangnya kematian.

Allah -subhanahu wata’aalaa- berfirman:

{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ} [الأنبياء: 35]

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. [Al-Anbiyaa’: 35]

Lihat: Sudah siapkah kita mati?

b) Ainul yaqin: Yaitu ketika seseorang melihat langsung apa yang selama ini ia dengar.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَىٰ (34) يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ مَا سَعَىٰ (35) وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ} [النازعات : 34-36]

Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. [An-Nazi'at: 34-36]

{وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ (90) وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ} [الشعراء : 90-91]

“Dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat". [Asy-Syu'ara: 90-91]

c) Haqqul Yaqin: Yaitu ketika seseorang merasakan apa yang ia dengar dan lihat.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{فَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ (88) فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ (89) وَأَمَّا إِن كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (90) فَسَلَامٌ لَّكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (91) وَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ (92) فَنُزُلٌ مِّنْ حَمِيمٍ (93) وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ (94) إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ} [الواقعة : 88-95]

Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan. Dan adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam jahannam. Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. [Al-Waqi'ah: 88-95]

{وَإِنَّهُ لَحَقُّ الْيَقِينِ} [الحاقة : 51]

Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini. [Al-Haaqqah: 51]

2.      Neraka jahim untuk orang yang dilalaikan dengan kenikmatan dunia.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى} [النازعات: 37 - 39]

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). [An-Naazi'aat: 37-39]

3.      Melihat dengan mata yang penuh keyakinan.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{لَّقَدْ كُنتَ فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ} [ق : 22]

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. [Qaaf: 22]

Ayat kedelapan:

{ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ}

kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

1)      Semua nikmat akan dipertanggungjawabkan

Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata:

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ لَيْلَةٍ. فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ. فَقَالَ: «مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ؟» قَالَا: الْجُوعُ. يَا رَسُولَ اللَّهِ! قَالَ: «وَأَنَا. وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ! لَأَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا. قُومُوا» فَقَامُوا مَعَهُ. فَأَتَى رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ. فَإِذَا هُوَ لَيْسَ فِي بَيْتِهِ. فَلَمَّا رَأَتْهُ الْمَرْأَةُ قَالَتْ: مَرْحَبًا! وَأَهْلًا! فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَيْنَ فُلَانٌ؟» قَالَتْ: ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا مِنَ الْمَاءِ. إِذْ جَاءَ الْأَنْصَارِيُّ فَنَظَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَصَاحِبَيْهِ. ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ. مَا أَحَدٌ الْيَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيَافًا مِنِّي. قَالَ فَانْطَلَقَ فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ. فَقَالَ: كُلُوا مِنْ هَذِهِ. وَأَخَذَ الْمُدْيَةَ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِيَّاكَ! وَالْحَلُوبَ» فَذَبَحَ لَهُمْ. فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ. وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ. وَشَرِبُوا. فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ! لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ. ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حتى أصابكم هذا النعيم»

Suatu hari (atau malam), Rasulullah keluar. Tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya: "Apa yang membuat kalian berdua keluar dari rumah pada saat seperti ini?" Mereka menjawab: "Lapar, wahai Rasulullah!" Beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, apa yang membuatku keluar juga yang membuat kalian berdua keluar. Berangkatlah." Maka mereka pun berangkat bersama beliau. Lalu beliau mendatangi seorang laki-laki dari kalangan Anshar. Ternyata laki-laki itu tidak ada di rumahnya. Ketika istrinya melihat Rasulullah , dia berkata: "Selamat datang!" Rasulullah bertanya kepadanya: "Di mana si Fulan?" Dia menjawab: "Dia pergi untuk mengambil air segar untuk kami." Tiba-tiba laki-laki Anshar itu datang. Ketika melihat Rasulullah dan kedua sahabatnya, dia berkata: "Segala puji bagi Allah. Pada hari ini, tidak ada seorang pun yang tamunya lebih mulia daripada tamuku." Kemudian dia pergi dan membawakan untuk mereka setandan kurma yang berisi buah kurma mentah (busr), kurma matang (tamr), dan kurma segar (ruthab). Dia berkata: "Makanlah dari ini." Lalu dia mengambil pisau (untuk menyembelih kambing). Rasulullah bersabda kepadanya: "Hati-hati, jangan sembelih yang sedang menyusui (anaknya)!" Maka dia menyembelih (kambing) untuk mereka. Mereka pun makan daging kambing dan kurma dari setandan itu, serta minum. Setelah mereka kenyang dan puas minum, Rasulullah bersabda kepada Abu Bakar dan Umar: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari Kiamat nanti. Rasa lapar yang mengeluarkan kalian dari rumah-rumah kalian, kemudian kalian tidak pulang hingga mendapatkan kenikmatan ini." [Shahih Muslim]

Ø  Dalam riwayat lain:

"هَذَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي تُسْأَلُونَ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ظِلٌّ بَارِدٌ وَرُطَبٌ طَيِّبٌ، وَمَاءٌ بَارِدٌ"

"Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ini termasuk kenikmatan yang akan kalian ditanya tentangnya pada hari kiamat, yaitu: naungan yang sejuk, kurma yang baik, dan air yang dingin." [Sunan Tirmidziy: Shahih]

Ø  Az-Zubair bin Al-'Awwam radhiyallahu 'anhu berkata:

لَمَّا نَزَلَتْ: ﴿ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ﴾ قَالَ الزُّبَيْرُ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَأَيُّ النَّعِيمِ نُسْأَلُ عَنْهُ، وَإِنَّمَا هُمَا الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ؟ قَالَ: "أَمَا إِنَّهُ سَيَكُونُ"

"Ketika ayat {Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan} [At-Takatsur: 8] turun, Az-Zubair berkata: 'Wahai Rasulullah, kenikmatan apa yang akan kita ditanya tentangnya? Bukankah (kenikmatan kita) hanyalah dua hal yang hitam (yakni) kurma dan air?' Rasulullah menjawab: 'Ketahuilah, sesungguhnya (kenikmatan) itu akan terjadi'." [Sunan Tirmidziy: Hasan]

Ø  Dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"يُؤْتَى بِالْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ اللهُ لَهُ: أَلَمْ أَجْعَلْ لَكَ سَمْعًا وَبَصَرًا وَمَالًا وَوَلَدًا، وَسَخَّرْتُ لَكَ الْأَنْعَامَ وَالْحَرْثَ، وَتَرَكْتُكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ، فَكُنْتَ تَظُنُّ أَنَّكَ مُلَاقِي يَوْمَكَ هَذَا؟ فَيَقُولُ: لَا، فَيَقُولُ لَهُ: الْيَوْمَ أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي"

"Pada Hari Kiamat, seorang hamba didatangkan, lalu Allah berfirman kepadanya: 'Bukankah Aku telah memberimu pendengaran dan penglihatan?' dan harta serta anak-anak, dan menundukkan untukmu hewan ternak dan tanaman, dan Aku membiarkanmu memimpin dan bersenang-senang? Lalu, apakah kamu mengira bahwa kamu akan menemui harimu ini?' Ia menjawab: 'Tidak.' Maka Allah berfirman: 'Pada hari ini Aku melupakanmu sebagaimana kamu telah melupakan-Ku.'" [Sunan Tirmidziy: Shahih]

Ø  Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata; Rasulullah bersabda:

"إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ - يَعْنِي العَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ - أَنْ يُقَالَ لَهُ: أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ، وَنُرْوِيَكَ مِنَ المَاءِ البَارِدِ" [سنن الترمذي: صحيح]

"Sesungguhnya pertama kali yang ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat dari kenikmatan adalah dikatakan kepadanya; bukankah Kami telah memberikan kesehatan kepada badanmu, dan memberimu minum dari air dingin?" [Sunan Tirmidziy: Shahih]

Lihat: Hadits Ibnu ‘Abbas; Dua nikmat yang banyak dilalaikan

Ø  Dari Abu Barzah Al-Aslamiy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ" [سنن الترمذي: صحيح]

"Kedua kaki seorang hamba tidak berajak dari tempatnya di hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya yang ia habiskan dengan melakukan apa, tentang ilmunya apa yang ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia dapat dan ia nafkahkan untuk apa, dan tentang jasadnya pada hal apa ia gunakan". [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Lihat: Hadits Abu Barzah; 4 pertanggung-jawaban di hadapan Allah

2)      Sedikit nikmat maka sedikit pula pertanggungjawabannya.

Dari Mahmud bin Labid radhiyallahu 'anhu; Nabi bersabda:

"اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ: الْمَوْتُ، وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ، وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ" [مسند أحمد: صحيح]

"Dua hal yang dibenci oleh manusia; kematian padahal kematian itu lebih baik bagi orang mukmin daripada fitnah dan benci sedikitnya harta padahal sedikitnya harta itu lebih ringan untuk hisab." [Musnad Ahmad: Shahih]

3)      Orang beriman dan beramal shalih pertanyaannya akan dimudahkan.

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah bersabda:

«لَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَّا هَلَكَ» فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَيْسَ قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا} [الانشقاق: 8] فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّمَا ذَلِكِ العَرْضُ، وَلَيْسَ أَحَدٌ يُنَاقَشُ الحِسَابَ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَّا عُذِّبَ»

"Tidak seorang pun yang di (paparkan) hisabnya melainkan akan celaka." Maka saya bertanya, 'Wahai Rasulullah, Bukankah Allah berfirman, {Barang siapa yang diberi kitabnya dari sebelah kanan, maka ia menghadapi hisab yang mudah}? [Al-Insyiqaq: 7-8] Rasulullah bersabda, "Yang dimaksudkan ayat itu adalah saat amal diperlihatkan, dan tidaklah seseorang hisabnya diperdebatkan, melainkan ia akan disiksa." [Shahih Bukhari]

Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 49; Siapa yang hisabnya diperdebatkan maka ia akan diazab

Wallahu a'lam!

Lihat juga: Tafsir surah "Al-Humazah" - Tafsir surah "Al-Ma'un" - Tafsir surah An-Nashr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...