بسم الله
الرحمن الرحيم
Surah At-Takatsur adalah surah yang
ke 102 dalam Al-Qur'an, termasuk surah Makkiyah.
Surah ini bercerita tentang orang
yang dilalaikan oleh kenikmatan dunia sehingga melupakan akhiratnya.
Hubungan surah ini dengan surah sebelumnya.
Surah sebelumnya "Al-Qari'ah" bersecerita tentang
hari kiamat, dimana nanti yang menentukan baik buruknya kehidupan seseorang
adalah timbangan amalannya. Sedangkan surah "At-Takatsur" menceritakan tentang
orang yang ringan timbangannya karena kurang amalan kebaikannya.
Hubungan surah ini dengan surah setelahnya.
Surah "Al-'Ashr" menjelaskan tentang
keutamaan waktu dan sifat manusia yang merugi. Sedangkan surah "At-Takatsur" menyebutkan contoh orang yang merugi karena melalaikan waktu dengan sibuk
memperbanyak kenikmatan dunia semata.
Lihat: Tafsir surah "Al-'Ashr"
Ayat pertama dan kedua:
{أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّىٰ
زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ}
Bermegah-megahan telah melalaikan
kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.
1.
Maknya
"At-Takatsur": Berlomba menjadi yang terbanyak dalam kenikmatan dunia
dan menyombongkannya.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَكَانَ
لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا
وَأَعَزُّ نَفَرًا} [الكهف:
34]
Dan dia (yang kafir) memiliki kekayaan besar, maka dia
berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengan dia,
"Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat." [Al-Kahf: 34]
2.
Kenikmatan dunia
sangat melalaikan.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{اعْلَمُوا
أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ
الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا
وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ} [الحديد: 20]
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah
permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu
serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang
tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering
dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti)
ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan
dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [Al-Hadiid: 20]
Lihat: Perumpamaan kenikmatan dunia (Tafsir ayat 20 surah Al-Hadiid)
3.
Mencari harta untuk
bermegah-megah adalah jalan syaitan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahul 'anhu;
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَعَى
عَلَى وَالِدَيْهِ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ فَفِي
سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ سَعَى مُكَاثِرًا فَفِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ [المعجم الأوسط: حسنه الألباني]
"Barangsiapa yang mencari nafkah untuk kedua orang
tuanya maka ia berada di jalan Allah, barangsiapa yang mencari nafkah untuk
keluarganya (istri dan anak) maka ia berada di jalan Allah, dan barangsiapa
yang mencari nafkah untuk memperbanyak harta maka ia berada di jalan setan dan
sekutunya". [Al-Mu'jam Al-Ausath: Hasan]
4.
Harta tidak ikut
menemani masuk kubur.
Dari Anas radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
"يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ،
فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ
وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ " [صحيح البخاري ومسلم]
"Mayyit diiringi (ke kuburannya) tiga hal, yang dua akan
kembali sedang yang satu terus menyertainya: Ia diiringi oleh keluarganya,
hartanya dan amalnya. Harta dan keluarganya akan kembali, sedang amalnya akan
terus tetap bersamanya." [Shaih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Syarah Riyadhushalihin Bab (11) Mujahadah (hadits 10)
5.
Harta yang
sesungguhnya yang menemani di akhirat adalah yang disedekahkan.
Abdullah bin Asy-Syikhir radhiyallahul 'anhu berkata: Aku mendatangi
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau tengah membaca:
{أَلْهَاكُمُ
التَّكَاثُرُ} [التكاثر:
1]
Bermegah-megahan telah melalaikanmu. [At-Takaatsur: 1]
Beliau bersabda:
"يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي،
قَالَ: وَهَلْ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ
فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟" [صحيح مسلم]
"Anak cucu Adam berkata: 'Hartaku, hartaku'."
Beliau meneruskan: "Hartamu wahai anak cucu Adam tidak lain adalah yang
kau makan lalu kau habiskan, yang kau kenakan lalu kau usangkan atau yang kau
sedekahkan lalu kau habiskan." [Shahih Muslim]
Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 12; Harta yang diinfakkan adalah harta sejati
Ø Dari Abu Dzar
radhiallahu'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
"إِنَّ المُكْثِرِينَ هُمُ المُقِلُّونَ
يَوْمَ القِيَامَةِ، إِلَّا مَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ خَيْرًا، فَنَفَحَ فِيهِ
يَمِينَهُ وَشِمَالَهُ وَبَيْنَ يَدَيْهِ وَوَرَاءَهُ، وَعَمِلَ فِيهِ خَيْرًا"
'Sungguh orang-orang yang berbanyak-banyak (mengumpulkan
harta) akan menjadi sedikit (melarat) pada hari kiamat, kecuali yang diberikan
kebaikan oleh Allah padanya -beliau meniup ke sebelah kanan, kiri, depan dan
belakangnya- lalu dia menggunakan (harta tersebut) dengan baik.' [Shahih
Bukhari]
Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 13; “Yang banyak harta merekalah yang sedikit”
6.
Kerugian besar bagi
orang yang dilalaikan oleh dunia.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ
اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ} [المنافقون: 9]
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka
mereka itulah orang-orang yang merugi. [Al-Munafiquun:9]
7.
Penetapan azab kubur.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu;
Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ مِنْ
حَرِّ الْقُبُورِ" [المعجم الكبير للطبراني: حسنه الشيخ الألباني]
“Sesungguhnya sedekah itu meredakan panasnya siksa kubur”.
[Al-Mu’jam Al-Kabiir: Hasan]
Lihat: Keutamaan zakat, infaq, dan sedekah dalam As-Sunnah
8.
Keutamaan ziarah
kubur.
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata; Nabi shallallahu
'alaihi wasallam bersabda:
"زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا
تُذَكِّرُ الْمَوْتَ"
"Berziarahlah kubur karena ia akan mengingatkan kalian
akan kematian." [Shahih Muslim]
Lihat: Keutamaan banyak mengingat mati
Ayat ketiga dan keempat
dan kelima:
{كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ
كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ}
Janganlah begitu, kelak kamu akan
mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan
mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang
yakin
1)
Pentingnya ilmu
tentang akhirat.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{يَعْلَمُونَ
ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ} [الروم : 7]
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. [Ar-Ruum: 7]
Ø Dari Aisyah
radhiyallahu 'anha; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
"يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ! وَاللَّهِ،
لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ، لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا"
[صحيح البخاري]
"Wahai umat Muhammad! Demi Allah, seandainya kalian
mengetahui apa yang aku ketahui maka kalian akan sedikit tertawa dan kalian
akan banyak menangis". [Shahih Bukhari]
Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 27; “Kalaulah kalian tahu yang kutahu”
2)
Tujuan pengulangan
ayat ketiga:
a) Sebagai penegasan dan menakut-nakuti.
b) Yang pertama ditujukan untuk orang kafir, sedangkan yang
kedua untuk orang beriman.
c) Yang pertama ketika wafat dan dalam kubur, sedangkan yang
kedua ketika hari kiamat.
d) Yang pertama ketika wafat, sedangkan yang kedua ketika
dalam kubur.
Ibnu 'Umar radhiallahu'anhuma berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
" إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ عُرِضَ
عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ، غُدْوَةً وَعَشِيًّا، إِمَّا النَّارُ وَإِمَّا الجَنَّةُ،
فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى تُبْعَثَ إِلَيْهِ "
"Jika salah seorang di antara kalian meninggal,
huniannya akan diperlihatkan di waktu pagi dan sore hari, baik itu neraka
ataupun surga. Lantas dikatakan kepadanya: 'Ini adalah hunianmu kelak hingga
engkau dibangkitkan kembali untuknya." [Shahih Bukhari]
Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 42; Sakaratul maut
Ayat keenam dan ketujuh
{لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ
لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ}
niscaya kamu benar-benar akan melihat
neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul
yaqin.
1.
Tiga tingkatan yakin:
a) Ilmul yaqin: Yaitu ketika seseorang yakin (tidak
ragu) dengan apa yang ia dengar dari suatu berita, seperti tentang akan
datangnya kematian.
Allah -subhanahu wata’aalaa- berfirman:
{كُلُّ
نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ} [الأنبياء: 35]
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. [Al-Anbiyaa’: 35]
Lihat: Sudah siapkah kita mati?
b) Ainul yaqin: Yaitu ketika seseorang melihat
langsung apa yang selama ini ia dengar.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{فَإِذَا
جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَىٰ (34) يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ مَا سَعَىٰ
(35) وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ} [النازعات : 34-36]
Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah
datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya,
dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. [An-Nazi'at: 34-36]
{وَأُزْلِفَتِ
الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ (90) وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ} [الشعراء : 90-91]
“Dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang
yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang
yang sesat".
[Asy-Syu'ara: 90-91]
c) Haqqul Yaqin: Yaitu ketika seseorang merasakan apa
yang ia dengar dan lihat.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{فَأَمَّا
إِن كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ (88) فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ (89)
وَأَمَّا إِن كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (90) فَسَلَامٌ لَّكَ مِنْ
أَصْحَابِ الْيَمِينِ (91) وَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ
(92) فَنُزُلٌ مِّنْ حَمِيمٍ (93) وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ (94) إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ
حَقُّ الْيَقِينِ} [الواقعة
: 88-95]
Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang
didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta
jannah kenikmatan. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka
keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan. Dan adapun jika dia
termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air
yang mendidih, dan dibakar di dalam jahannam. Sesungguhnya (yang disebutkan
ini) adalah suatu keyakinan yang benar. [Al-Waqi'ah: 88-95]
{وَإِنَّهُ
لَحَقُّ الْيَقِينِ} [الحاقة
: 51]
Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar kebenaran yang
diyakini.
[Al-Haaqqah: 51]
2.
Neraka jahim untuk orang yang dilalaikan dengan
kenikmatan dunia.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{فَأَمَّا
مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ
الْمَأْوَى} [النازعات:
37 - 39]
Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan
kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). [An-Naazi'aat: 37-39]
3.
Melihat dengan mata yang penuh keyakinan.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{لَّقَدْ
كُنتَ فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ
الْيَوْمَ حَدِيدٌ} [ق
: 22]
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini,
maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka
penglihatanmu pada hari itu amat tajam. [Qaaf: 22]
Ayat kedelapan:
{ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ
النَّعِيمِ}
kemudian kamu pasti akan ditanyai
pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
1)
Semua nikmat akan dipertanggungjawabkan
Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata:
خَرَجَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ لَيْلَةٍ. فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ.
فَقَالَ: «مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ؟» قَالَا:
الْجُوعُ. يَا رَسُولَ اللَّهِ! قَالَ: «وَأَنَا. وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ!
لَأَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا. قُومُوا» فَقَامُوا مَعَهُ. فَأَتَى رَجُلًا
مِنْ الْأَنْصَارِ. فَإِذَا هُوَ لَيْسَ فِي بَيْتِهِ. فَلَمَّا رَأَتْهُ
الْمَرْأَةُ قَالَتْ: مَرْحَبًا! وَأَهْلًا! فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَيْنَ
فُلَانٌ؟» قَالَتْ: ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا مِنَ الْمَاءِ. إِذْ جَاءَ
الْأَنْصَارِيُّ فَنَظَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَصَاحِبَيْهِ. ثُمَّ قَالَ:
الْحَمْدُ لِلَّهِ. مَا أَحَدٌ الْيَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيَافًا مِنِّي. قَالَ
فَانْطَلَقَ فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ. فَقَالَ:
كُلُوا مِنْ هَذِهِ. وَأَخَذَ الْمُدْيَةَ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِيَّاكَ!
وَالْحَلُوبَ» فَذَبَحَ لَهُمْ. فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ. وَمِنْ ذَلِكَ
الْعِذْقِ. وَشَرِبُوا. فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
لِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ! لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا
النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ. ثُمَّ
لَمْ تَرْجِعُوا حتى أصابكم هذا النعيم»
Suatu hari (atau malam), Rasulullah ﷺ keluar. Tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar.
Beliau bertanya: "Apa yang membuat kalian berdua keluar dari rumah pada
saat seperti ini?" Mereka menjawab: "Lapar, wahai Rasulullah!"
Beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, apa yang
membuatku keluar juga yang membuat kalian berdua keluar. Berangkatlah." Maka
mereka pun berangkat bersama beliau. Lalu beliau mendatangi seorang laki-laki
dari kalangan Anshar. Ternyata laki-laki itu tidak ada di rumahnya. Ketika
istrinya melihat Rasulullah ﷺ,
dia berkata: "Selamat datang!" Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya: "Di mana si Fulan?" Dia menjawab:
"Dia pergi untuk mengambil air segar untuk kami." Tiba-tiba laki-laki
Anshar itu datang. Ketika melihat Rasulullah ﷺ dan kedua sahabatnya, dia berkata: "Segala puji bagi
Allah. Pada hari ini, tidak ada seorang pun yang tamunya lebih mulia daripada
tamuku." Kemudian dia pergi dan membawakan untuk mereka setandan kurma
yang berisi buah kurma mentah (busr), kurma matang (tamr), dan kurma segar
(ruthab). Dia berkata: "Makanlah dari ini." Lalu dia mengambil pisau
(untuk menyembelih kambing). Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: "Hati-hati, jangan sembelih yang
sedang menyusui (anaknya)!" Maka dia menyembelih (kambing) untuk mereka.
Mereka pun makan daging kambing dan kurma dari setandan itu, serta minum.
Setelah mereka kenyang dan puas minum, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Bakar dan Umar: "Demi Dzat yang jiwaku
berada di tangan-Nya, sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan ini pada
hari Kiamat nanti. Rasa lapar yang mengeluarkan kalian dari rumah-rumah kalian,
kemudian kalian tidak pulang hingga mendapatkan kenikmatan ini." [Shahih
Muslim]
Ø Dalam riwayat
lain:
"هَذَا
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي تُسْأَلُونَ عَنْهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ، ظِلٌّ بَارِدٌ وَرُطَبٌ طَيِّبٌ، وَمَاءٌ بَارِدٌ"
"Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ini termasuk
kenikmatan yang akan kalian ditanya tentangnya pada hari kiamat, yaitu: naungan
yang sejuk, kurma yang baik, dan air yang dingin." [Sunan Tirmidziy:
Shahih]
Ø Az-Zubair bin
Al-'Awwam radhiyallahu
'anhu berkata:
لَمَّا
نَزَلَتْ: ﴿ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ﴾ قَالَ الزُّبَيْرُ:
يَا رَسُولَ اللهِ، وَأَيُّ النَّعِيمِ نُسْأَلُ عَنْهُ، وَإِنَّمَا هُمَا
الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ؟ قَالَ: "أَمَا إِنَّهُ سَيَكُونُ"
"Ketika ayat {Kemudian kamu benar-benar akan ditanya
pada hari itu tentang kenikmatan} [At-Takatsur: 8] turun, Az-Zubair
berkata: 'Wahai Rasulullah, kenikmatan apa yang akan kita ditanya tentangnya?
Bukankah (kenikmatan kita) hanyalah dua hal yang hitam (yakni) kurma dan air?'
Rasulullah menjawab: 'Ketahuilah, sesungguhnya (kenikmatan) itu akan terjadi'."
[Sunan Tirmidziy: Hasan]
Ø Dari Abu
Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhuma;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"يُؤْتَى بِالْعَبْدِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ اللهُ لَهُ: أَلَمْ أَجْعَلْ لَكَ سَمْعًا وَبَصَرًا
وَمَالًا وَوَلَدًا، وَسَخَّرْتُ لَكَ الْأَنْعَامَ وَالْحَرْثَ، وَتَرَكْتُكَ
تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ، فَكُنْتَ تَظُنُّ أَنَّكَ مُلَاقِي يَوْمَكَ هَذَا؟ فَيَقُولُ:
لَا، فَيَقُولُ لَهُ: الْيَوْمَ أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي"
"Pada Hari Kiamat, seorang hamba didatangkan, lalu Allah
berfirman kepadanya: 'Bukankah Aku telah memberimu pendengaran dan
penglihatan?' dan harta serta anak-anak, dan menundukkan untukmu hewan ternak
dan tanaman, dan Aku membiarkanmu memimpin dan bersenang-senang? Lalu, apakah
kamu mengira bahwa kamu akan menemui harimu ini?' Ia menjawab: 'Tidak.' Maka
Allah berfirman: 'Pada hari ini Aku melupakanmu sebagaimana kamu telah
melupakan-Ku.'" [Sunan Tirmidziy: Shahih]
Ø Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata;
Rasulullah ﷺ bersabda:
"إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ
يَوْمَ القِيَامَةِ - يَعْنِي العَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ - أَنْ يُقَالَ لَهُ:
أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ، وَنُرْوِيَكَ مِنَ المَاءِ البَارِدِ" [سنن الترمذي: صحيح]
"Sesungguhnya pertama kali yang ditanyakan kepada
seorang hamba pada hari kiamat dari kenikmatan adalah dikatakan kepadanya;
bukankah Kami telah memberikan kesehatan kepada badanmu, dan memberimu minum
dari air dingin?" [Sunan Tirmidziy: Shahih]
Lihat: Hadits Ibnu ‘Abbas; Dua nikmat yang banyak dilalaikan
Ø Dari Abu
Barzah Al-Aslamiy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda:
"لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ
القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ
فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ
جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ" [سنن الترمذي: صحيح]
"Kedua kaki seorang hamba tidak berajak dari tempatnya
di hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya yang ia habiskan dengan
melakukan apa, tentang ilmunya apa yang ia amalkan, tentang hartanya dari mana
ia dapat dan ia nafkahkan untuk apa, dan tentang jasadnya pada hal apa ia
gunakan". [Sunan Tirmidziy: Sahih]
Lihat: Hadits Abu Barzah; 4 pertanggung-jawaban di hadapan Allah
2)
Sedikit nikmat maka sedikit pula pertanggungjawabannya.
Dari Mahmud bin Labid radhiyallahu 'anhu; Nabi ﷺ bersabda:
"اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ:
الْمَوْتُ، وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ
الْمَالِ، وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ" [مسند أحمد: صحيح]
"Dua hal yang dibenci oleh manusia; kematian padahal kematian itu lebih baik bagi orang mukmin daripada fitnah dan benci sedikitnya harta padahal sedikitnya harta itu lebih ringan untuk hisab." [Musnad Ahmad: Shahih]
3)
Orang beriman dan beramal shalih pertanyaannya akan
dimudahkan.
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
أَحَدٌ يُحَاسَبُ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَّا هَلَكَ» فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ، أَلَيْسَ قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ
بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا} [الانشقاق: 8] فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّمَا
ذَلِكِ العَرْضُ، وَلَيْسَ أَحَدٌ يُنَاقَشُ الحِسَابَ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَّا
عُذِّبَ»
"Tidak seorang pun yang di (paparkan) hisabnya melainkan
akan celaka." Maka saya bertanya, 'Wahai Rasulullah, Bukankah Allah
berfirman, {Barang siapa yang diberi kitabnya dari sebelah kanan, maka ia
menghadapi hisab yang mudah}? [Al-Insyiqaq: 7-8] Rasulullah ﷺ bersabda, "Yang dimaksudkan ayat itu adalah saat amal
diperlihatkan, dan tidaklah seseorang hisabnya diperdebatkan, melainkan ia akan
disiksa." [Shahih Bukhari]
Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 49; Siapa yang hisabnya diperdebatkan maka ia akan diazab
Wallahu a'lam!
Lihat juga: Tafsir surah "Al-Humazah" - Tafsir surah "Al-Ma'un" - Tafsir surah An-Nashr

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...