بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya "Al-Wabilu Ash-Shaib wa Rafi'u
Al-Kalimu Ath-Thayyub" (hal.97) berkata:
الحادية والعشرون: أن
ما يَذْكُر به العبدُ ربَّه عز وجل من جلاله وتسبيحه وتحميده، يُذَكِّرُ بصاحبه
عند الشدة؛ فقد روى الإمام أحمد رحمه الله تعالى في «المسند» عن النبي ﷺ أنه
قال: «إنَّ مِمّا تَذْكُرُونَ مِنْ جَلالِ الله عز وجل، مِنَ التَّهْليلِ والتكبير
والتحميد، يتَعَاطَفْنَ حول العَرْشِ، لَهُنَّ دَوِيٌّ كدَوِيِّ النَّحْلِ،
يُذَكِّرْنَ بصاحبهنّ، أفلا يحبُّ أحدكم أن يكون له ما يُذَكِّرُ به؟!» هذا
الحديث أو معناه.
Kedua puluh satu: Bahwa dzikir yang diucapkan seorang
hamba untuk mengagungkan, menyucikan (bertasbih), dan memuji (bertahmid)
Rabbnya 'Azza wa Jalla, akan mengingatkan (malaikat) kepada pelakunya di
saat kesusahan.
Imam Ahmad -rahimahullah
Ta'ala- telah meriwayatkan dalam
Musnad-nya dari Nabi ﷺ bahwa beliau
bersabda: "Sesungguhnya di antara dzikir kalian yang mengagungkan Allah 'Azza wa Jalla, seperti tahlil, takbir,
dan tahmid, (kalimat-kalimat itu) saling berpelukan di sekitar 'Arsy.
Kalimat-kalimat itu memiliki suara gemuruh seperti suara lebah, yang
mengingatkan kepada pengucapnya. Tidakkah salah seorang dari kalian suka jika
ia memiliki sesuatu yang akan mengingatkan kepadanya?!". Ini adalah lafaz
hadits atau maknanya. [Musnad
Ahmad: Shahih, dari An-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma]
الثانية والعشرون: أن
العبد إذا تعرَّف إلى الله تعالى، بذكره في الرخاء عَرَفه في الشدّة، وقد جاء أثرٌ معناه: أن العبد المطيع الذاكر لله تعالى إذا أصابته
شدّة، أو سأل الله تعالى حاجة قالت الملائكة: يا ربّ! صوتٌ معروفٌ من عبدٍ معروفٍ. والغافل
المعرض عن ذكر الله عز وجل إذا دعاه أو سأله قالت الملائكة: يا ربّ! صوتٌ منكرٌ من
عبدٍ منكر.
Kedua Puluh Dua: Bahwa seorang hamba, jika ia
memperkenalkan diri kepada Allah Ta'ala dengan berdzikir kepada-Nya di
saat lapang, maka Allah akan mengenalinya di saat susah. Telah datang sebuah atsar (riwayat) yang maknanya:
"Ketika seorang hamba yang taat dan banyak berdzikir kepada Allah Ta'ala
tertimpa kesusahan, atau ia memohon suatu hajat kepada Allah Ta'ala, para
malaikat berkata: 'Wahai Rabb! Suara yang dikenal (dari) hamba yang
dikenal.'" Sedangkan orang yang lalai dan berpaling dari dzikir kepada Allah
'Azza wa Jalla, jika ia berdoa atau memohon kepada-Nya, para malaikat
berkata: "'Wahai Rabb! Suara yang tidak dikenal (dari) hamba yang tidak
dikenal.'" [Hadits
ini sangat lemah]
Mendekatkan diri kepada Allah saat senang
Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma berkata; Nabi ﷺ bersabda:
«تَعَرَّفْ
إِلَى الله فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّة»
"Ingatlah Allah di waktu lapang niscaya Dia akan ingat kepadamu di
waktu sempit." [Musnad Ahmad]
Lihat: Syarah Arba’in hadits (19) Ibnu ‘Abbas; Jagalah Allah niscaya Ia menjagamu
الثالثة والعشرون: أنه
منجاةٌ مِنْ عذاب الله تعالى، كما قال معاذٌ رضي الله عنه،
-ويُرْوَى مرفوعًا-: «ما عمل آدميّ عملًا أنجى له من عذاب الله عزّ وجلّ مِن ذكر
الله تعالى»
Kedua Puluh Tiga: Bahwa (dzikir) adalah penyelamat dari
azab Allah Ta'ala, sebagaimana
dikatakan oleh Mu'adz radhiyallahu 'anhu -dan diriwayatkan secara
marfu'-: "Tidak ada amal perbuatan anak Adam yang lebih
menyelamatkannya dari azab Allah 'Azza wa Jalla selain dzikir kepada
Allah Ta'ala." [Dari Mu'az bin Jabal radiyallahu 'anhu; Musnad Ahmad:
Shahih]
الرابعة والعشرون: أنه
سبب نُزول السكينة، وغِشْيان الرحمة، وحُفُوفِ الملائكة بالذاكر، كما أخبر به النبي ﷺ.
Kedua Puluh Empat: Bahwa (dzikir) adalah sebab turunnya
ketenangan (sakinah), turunnya rahmat, dan diliputi (dikelilingi)nya orang yang
berdzikir oleh para malaikat, sebagaimana
diberitakan oleh Nabi ﷺ.
Ketuamaan
duduk di majlis ilmu
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullahﷺ bersabda:
«مَا
اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ،
وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ،
وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ
فِيمَنْ عِنْدَهُ» [صحيح
مسلم]
“Tidaklah satu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (mesjid) membaca
kitabullah (Al-Qur'an) dan mempelajarinya di antara mereka kecuali Allah
menurunkan kepada mereka ketenangan dan mereka dinaungi dengan rahmat dan
malaikat mengerumungi mereka dan Allah menyebut mereka pada siapa yang ada di
sisi-Nya”. [Shahih Muslim]
Lihat: Pentingnya belajar Al-Qur'an
الخامسة والعشرون: أنه
سبب اشتغال اللسان عن الغيبة والنميمة، والكذب، والفحش، والباطل؛ فإن العبد لابُدَّ له من أن يتكلم، فإن لم يتكلم بذكر الله تعالى،
وذِكْرِ أوامره تكلم بهذه المحرمات أو ببعضها؛ فلا سبيل إلى السلامة منها ألبتة
إلا بذكر الله تعالى.
والمشاهدة والتجربةُ شاهدان بذلك؛ فمن عوَّد لسانه ذِكْرَ اللهِ
صانَ اللهُ لسانَه عن الباطل واللغو، ومن يَبِسَ لسانُه عن ذكر الله تعالى
تَرَطَّبَ بكل باطلٍ ولَغْوٍ وفُحْشٍ، ولا حول ولا قوة إلا بالله.
Kedua Puluh Lima: Bahwa (dzikir) adalah sebab sibuknya
lisan dari ghibah, namimah (adu domba), dusta, perkataan keji, dan perkataan
batil.
Karena seorang
hamba pasti akan berbicara. Jika ia tidak berbicara dengan dzikir kepada Allah Ta'ala
dan menyebut perintah-perintah-Nya, niscaya ia akan berbicara dengan hal-hal
yang diharamkan ini atau sebagian darinya. Maka tidak ada jalan menuju
keselamatan darinya sama sekali, kecuali dengan dzikir kepada Allah Ta'ala.
Pengamatan dan
pengalaman adalah dua saksi atas hal ini. Barangsiapa membiasakan lisannya
untuk berdzikir kepada Allah, niscaya Allah akan menjaga lisannya dari
kebatilan dan perkataan sia-sia. Dan barangsiapa lisannya kering dari dzikir
kepada Allah Ta'ala, niscaya ia akan basah (banyak berbicara) dengan
setiap kebatilan, perkataan sia-sia, dan keji. Tiada daya dan upaya kecuali
dengan pertolongan Allah.
Jika tidak menyibukkan diri dengan kebaikan maka akan disibukkan
dengan kebatilan
Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:
{وَمَن
يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ} [الزخرف
: 36]
Barangsiapa yang berpaling dari
pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al- Quran), kami adakan baginya syaitan
(yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu
menyertainya.
[Az-Zukhruf: 36]
Lihat: Penyakit futur dan obatnya
السادسة والعشرون: أنّ
مجالسَ الذكر مجالسُ الملائكة، ومجالسَ اللغو والغفلة مجالسُ الشياطين، فَلْيَتَخَيَّرِ العبدُ أعجبهما إليه، وأولاهما به؛ فهو مع أهله في
الدنيا والآخرة.
Kedua Puluh Enam: Bahwa majelis dzikir adalah majelis
para malaikat, sedangkan majelis perkataan sia-sia dan kelalaian adalah majelis
setan. Maka hendaklah seorang hamba
memilih mana yang lebih ia sukai dan lebih utama baginya. Ia akan bersama orang
yang ia pilih di dunia dan akhirat.
Dari Abu
Hurairah radiyallahu 'anhu;
Rasulullahﷺ bersabda:
«إِنَّ لِلهِ مَلَائِكَةً
يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا
قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ، قَالَ:
فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، قَالَ:
فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ: مَا يَقُولُ عِبَادِي؟
قَالُوا: يَقُولُونَ: يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ
وَيُمَجِّدُونَكَ، قَالَ: فَيَقُولُ: هَلْ رَأَوْنِي؟ قَالَ: فَيَقُولُونَ: لَا
وَاللهِ مَا رَأَوْكَ، قَالَ: فَيَقُولُ: وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟ قَالَ:
يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ
تَمْجِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا، قَالَ: يَقُولُ: فَمَا يَسْأَلُونِي؟
قَالَ: يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ:
يَقُولُونَ: لَا وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا، قَالَ: يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ
أَنَّهُمْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ
عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً، قَالَ:
فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ؟ قَالَ: يَقُولُونَ: مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: يَقُولُ:
وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَا وَاللهِ مَا رَأَوْهَا، قَالَ: يَقُولُ:
فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ
مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً، قَالَ: فَيَقُولُ: فَأُشْهِدُكُمْ
أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ، قَالَ: يَقُولُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ: فِيهِمْ
فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ، قَالَ: هُمُ الْجُلَسَاءُ لَا
يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ» [صحيح
البخاري ومسلم]
Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di jalan-jalan
mencari orang-orang yang berzikir, maka jika mereka mendapatkan suatu kaum yang
berzikir mengingat Allah mereka saling memanggil: "Kesinilah kalian menuju
apa yang kalian cari!". Kemudian para malaikat mengerumuni mereka sampai
ke langit dunia. Lalu Tuhan mereka bertanya padahal Ia lebih tahu dari mereka:
"Apa yang dikatakan hamba-Ku?" Malaikat menjawab: "Mereka
mensucikan-Mu, mengagungkan-Mu, memuji-Mu, dan memuja-Mu!" Allah bertanya
lagi: "Apakah mereka pernah melihat-Ku?" Malaikat menjawab:
"Tidak, demi Allah mereka tidak pernah melihat-Mu!" Allah bertanya
lagi: "Bagaimana jika seandainya mereka melihat-Ku?" Malaikat
menjawab: "Jika seandainya mereka melihat-Mu maka mereka pasti akan lebih
giat beribadah untuk-Mu, lebih sering memuja dan memuji-Mu, dan lebih banyak
bertasbih untuk-Mu!" Allah bertanya lagi: "Apa yang mereka minta
kepada-Ku?" Malaikat menjawab: "Mereka meminta kepada-Mu surga!"
Allah bertanya lagi: "Apakah mereka pernah melihatnya?" Malaikat
menjawab: "Tidak, demi Allah mereka tidak pernah melihatnya!" Allah
bertanya lagi: "Bagaimana jika seandainya mereka melihatnya?"
Malaikat menjawab: "Jika seandainya mereka melihatnya maka mereka pasti
akan sangat menginginkannya, lebih sering memintannya, dan lebih besar
harapannya!" Allah bertanya lagi: "Apa yang mereka mintai
perlindungan?" Malaikat menjawab: "Mereka meminta perlindungan dari
neraka!" Allah bertanya lagi: "Apakah mereka pernah melihatnya?"
Malaikat menjawab: "Tidak, demi Allah mereka tidak pernah
melihatnya!" Allah bertanya lagi: "Bagaimana jika seandainya mereka
melihatnya?" Malaikat menjawab: "Jika seandainya mereka melihatnya
maka mereka pasti akan sangat menjauhinya, dan lebih kuat ketakutannya!"
Kemudian Allah berkata: "Maka Aku mempersaksikan kalian, sesungguhnya Aku
telah mengampuni mereka semua"! Salah satu malaikat berkata:
"Diantara mereka ada si Fulan yang bukan bagian dari mereka (tidak
berzikir dan hanya duduk bersama mereka)?" Allah berkata: "Mereka
(ahli zikir) adalah teman duduk yang tidak merugikan temannya (yang duduk
bersamanya)". [Shahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Iman kepada malaikat
السابعة والعشرون: أنه
يَسْعَدُ الذاكرُ بذكره، ويَسْعَدُ به جليسُه، وهذا هو المبارك أينما كان، والغافلُ واللاغي يشقى بلغوه وغفلته، ويشقى به مُجالِسُه.
Kedua Puluh Tujuh: Bahwa orang yang berdzikir akan
berbahagia dengan dzikirnya, dan orang yang duduk bersamanya pun akan
berbahagia karenanya. Inilah majelis yang penuh berkah di mana pun berada. Sedangkan orang yang lalai dan suka perkataan sia-sia, ia
akan sengsara dengan perkataan sia-sia dan kelalaiannya, dan orang yang duduk
bersamanya pun akan sengsara.
Dari Abu
Musa radhiyallahu 'anhu;
Nabiﷺ bersabda:
«مَثَلُ
الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ،
فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ،
وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ
يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً» [صحيح
البخاري ومسلم]
“Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk bagaikan penjual
minyak wangi dengan pandai besi, bisa jadi penjual minyak wangi itu akan
menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau
wanginya sedangkan pandai besi hanya akan membakar bajumu atau kamu akan
mendapatkan bau tidak sedapnya." [Sahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Peran semua pihak mengatasi pergaulan bebas remaja
الثامنة والعشرون: أنه
يؤمِّن العبد من الحسرة يوم القيامة؛ فإنّ كل مجلس لا يَذْكُرُ العبدُ فيه ربَّه تعالى كان عليه حسرةً
وتِرَةً يوم القيامة.
Kedua Puluh Delapan: Bahwa (dzikir) akan memberikan
keamanan bagi seorang hamba dari penyesalan pada hari Kiamat. Karena setiap majelis yang di dalamnya seorang hamba
tidak mengingat Rabbnya Ta'ala, maka majelis itu akan menjadi penyesalan
dan kerugian baginya pada hari Kiamat.
Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullahﷺ bersabda:
«مَنِ
اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ تَعَالَى فِيهِ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِ
تِرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عَزَّ
وَجَلَّ فِيهِ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِ تِرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ» [سنن
أبى داود: حسنه
الألباني]
"Barangsiapa yang baring di pembaringan dan tidak menyebut nama
Allah maka akan ada penyesalan di hari kiamat, dan barangsiapa yang duduk di
suatu tempat dan tidak menyebut nama Allah maka akan ada penyesalan di hari
kiamat". [Sunan Abi Daud: Hasan]
Lihat: Jadikan amalan kita bernilai ibadah
التاسعة والعشرون: أنه
مع البكاء في الخلوة سببٌ لإظلال الله تعالى العبدَ يوم الحَرِّ الأكبر في ظِلِّ
عرشه، والناسُ في حَرِّ الشمس قد صَهَرَتْهُم في الموقف، وهذا الذاكرُ
مُسْتَظِلٌّ بظل عرش الرحمن عز وجل.
Kedua Puluh Sembilan: Bahwa (dzikir) yang disertai
tangisan dalam kesendirian adalah sebab Allah Ta'ala menaungi seorang
hamba pada hari panas yang besar (Kiamat) di bawah naungan 'Arsy-Nya. Sedangkan manusia berada dalam panas matahari yang telah
melelehkan mereka di tempat berkumpul (padang Mahsyar). Dan orang yang
berdzikir ini akan dinaungi oleh naungan 'Arsy Ar-Rahman 'Azza wa Jalla.
Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu; Nabi ﷺ bersabda:
«سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمُ اللَّهُ: رَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ»
"Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah, (salah satunya) adalah
seseorang yang berzikir kepada Allah hingga meneteskan air matanya."
[Shahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 24; Menangis karena takut kepada Allah
الثلاثون: أن الاشتغال
به سببٌ لعطاء الله الذاكرَ أفضلَ ما يُعْطِي السائلين؛ ففي الحديث عن عمر بن الخطاب قال: قال رسول الله ﷺ: "قال الله: من شغله ذكري عن مسألتي أعطيته أفضل ما أُعْطِي السائلين"
Ketiga Puluh: Bahwa menyibukkan diri dengan dzikir adalah
sebab Allah memberikan kepada orang yang berdzikir sesuatu yang terbaik dari
apa yang diberikan-Nya kepada para peminta. Dalam
sebuah hadits dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Allah berfirman: 'Barangsiapa yang menyibukkan diri dengan mengingat-Ku
(berdzikir) daripada meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya sesuatu
yang terbaik dari apa yang Aku berikan kepada para peminta.'" [Hadits ini sangat
lemah]
Rasa syukur
lebih berharga dari nikmat dunia yang diperoleh
Dari Anas radhiallahu'anhu;
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«مَا
أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، إِلَّا كَانَ
الَّذِي أَعْطَى أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ»
"Tidaklah Allah memberikan suatu nikmat kepada seorang hamba, lalu
dia mengucapkan 'Alhamdulillah' (Segala puji bagi Allah), melainkan apa yang
diberikan (Allah, berupa pahala) itu lebih utama daripada nikmat yang dia
terima." [Sunan Ibnu Majah: Hasan]
Lihat: Raih keselamatan dengan bersyukur
الحادية والثلاثون:
أنه أيسر العبادات، وهو من أجلِّها وأفضلها؛ فإن حركة اللسان أخف حركات الجوارح وأيسرها، ولو تحرك عضو من أعضاء
الإنسان في اليوم والليلة بقدر حركة لسانه لشق عليه غاية المشقة، بل لا يمكنه ذلك.
Ketiga Puluh Satu: Bahwa (dzikir) adalah ibadah yang
paling mudah, dan ia termasuk ibadah yang paling mulia dan utama. Karena gerakan lisan adalah gerakan anggota tubuh yang
paling ringan dan paling mudah. Seandainya satu anggota tubuh manusia bergerak
di siang dan malam hari sebanyak gerakan lisannya, niscaya itu akan sangat
memberatkannya, bahkan ia tidak akan mampu melakukannya.
Ringan di lisan tapi berat di timbangan akhirat.
Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu;
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«كَلِمَتَانِ
خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى
الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ»
"Dua kalimat yang ringan diucapkan di lidah, berat dalam timbangan
(amal), dan dicintai oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): 'Subhanallahi
wa bihamdihi, subhanallahil 'azhim' (Mahasuci Allah dan dengan segala puji
bagi-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung)." [Shahih Bukhari dan Muslim]
الثانية والثلاثون: أنه
غِراسُ الجنة، فقد روى الترمذي في «جامعه» من حديث عبد الله بن مسعود رضي الله
عنه قال: قال رسول الله ﷺ: «لقيت إبراهيم ليلة أسري بي فقال: يا محمد، أقْرئْ
أمَّتك مِنِّي السَّلام، وأخبرهم أن الجنة طيِّبَةُ التُّرْبَةِ، عَذْبَةُ الماء،
وأنَّها قِيعانٌ، وَأنَّ غِراسَها سُبحان الله، والحمدُ لله، ولا إله إلا الله،
والله أكبر». قال الترمذي: حديث حسن غريب من حديث ابن مسعود.
وفي «الترمذي» من حديث
أبي الزبير، عن جابر عن النبي ﷺ قال: «من قال: سبحان الله وبِحَمْده، غُرِسَتْ له
نخلةٌ فى الجنَّة» قال الترمذي: حديث حسن صحيح.
Ketiga puluh
dua: Bahwa dzikir itu adalah tanaman surga,
karena diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Jami'nya dari hadits Abdullah bin
Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda: "Aku bertemu Ibrahim pada malam aku di-Isra-kan, lalu dia
berkata: 'Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu, dan beritahukan
kepada mereka bahwa surga itu tanahnya subur, airnya tawar, dan ia adalah
dataran yang rata, serta tanamannya adalah Subhanallah, walhamdulillah, wa
la ilaha illallah, wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah,
tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha
Besar).'" At-Tirmidzi berkata: Hadits hasan gharib dari hadits Ibnu
Mas'ud. [Hadits hasan]
Dan dalam
At-Tirmidzi dari hadits Abu Az-Zubair, dari Jabir, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda: "Barangsiapa mengucapkan: 'Subhanallah wa bihamdih'
(Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya), maka ditanamkan baginya sebuah pohon
kurma di surga." At-Tirmidzi berkata: Hadits hasan shahih.
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu;
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ مَرَّ بِهِ
وَهُوَ يَغْرِسُ غَرْسًا فَقَالَ: «يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا الَّذِي تَغْرِسُ؟»
قُلْتُ: غِرَاسًا لِي! قَالَ: «أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى غِرَاسٍ خَيْرٍ لَكَ مِنْ
هَذَا؟» قَالَ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ! قَالَ: «قُلْ: سُبْحَانَ اللَّهِ،
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، يُغْرَسْ
لَكَ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ»
Bahwa Rasulullah ﷺ
pernah melawitnya saat ia sedang menanam tanaman, maka beliau bersabda,
"Wahai Abu Hurairah, tanaman apa yang kamu tanam?" dia menjawab,
"Tanaman milikku." Beliau bersabda, "Apakah kamu mau
kuberitahukan tentang tanaman yang bagimu akan lebih baik dari tanaman
ini?" Abu Hurairah menjawab, "Tentu wahai Rasulullah!" Beliau
bersabda, "Ucapkanlah olehmu Subhanallah (Mahasuci Allah), Al
Hamdulillah (Segala puji bagi Allah), Laa ilaaha illallah (tidak ada
ilah selain Allah) dan Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Maka setiap
bacaan tersebut akan menumbuhkan satu pohon di surga bagimu." [Sunan Ibnu
Majah: Shahih]
Lihat: Keutamaan tasbiih, tahmiid, dan takbiir
الثالثة والثلاثون: أن
العطاء والفضل الذي رُتِّب عليه لم يُرَتَّبْ على غيره من الأعمال. ففي «الصحيحين» عن أبي
هريرة رضي الله عنه، أن رسول الله ﷺ قال: «من قال: لا إله إلا اللهُ وحده لا شريك
له، له المُلْكُ وله الحمدُ وهو على كلِّ شيءٍ قدير في يومٍ مائة مرةٍ كانت له
عَدْل عَشْرِ رقابٍ، وَكُتِبَتْ له مائةُ حسَنةٍ، ومُحِيَتْ عنهُ مائةُ سيئةٍ،
وكانت له حِرْزًا من الشيطان يومه ذلك حتى يُمسي، ولم يأت أحَدٌ بأفضل مما جاء به
إلَّا رجلٌ عمل أكثر منه. ومن قال: سبحان الله وبحمده في يوم مائة مرَّة حُطَّتْ
خَطاياهُ وإن كانت مِثْلَ زَبَدِ البحر»
وفي «صحيح مسلم» عن أبي
هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ: لأن أقولَ: سبحانَ الله، والحمدُ لله،
ولا إله إلا الله، والله أكبر، أحَبُّ إليَّ مما طَلَعتْ عليه الشَّمْس»
Ketiga puluh
tiga: Bahwa pahala dan keutamaan yang ditetapkan padanya tidak ditetapkan pada
amal lainnya. Dalam Shahihain (Bukhari
dan Muslim) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa
Rasulullah ﷺ
bersabda: "Barangsiapa mengucapkan 'Laa ilaha illallah wahdahu laa
syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syay-in qadir'
(Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Milik-Nya segala kerajaan dan segala puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)
sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti memerdekakan
sepuluh budak, dicatat baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus
kesalahan, dan kalimat itu akan menjadi perisai baginya dari godaan setan pada
hari itu sampai petang. Dan tidak ada seorang pun yang datang dengan (amalan)
yang lebih utama daripada yang dia bawa, kecuali seorang yang mengerjakan lebih
banyak dari itu. Dan barangsiapa mengucapkan 'Subhanallah wa bihamdihi'
(Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) sebanyak seratus kali dalam sehari,
maka kesalahan-kesalahannya akan dihapus meskipun sebanyak buih di
lautan."
Dalam Shahih
Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata:
Rasulullah ﷺ
bersabda: "Sungguh, aku mengucapkan 'Subhanallah, walhamdulillah, walaa
ilaha illallah, wallahu akbar' (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah,
tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar) lebih aku cintai daripada
segala sesuatu yang disinari matahari."
Dari Abu
Ad-Darda' radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bertanya:
«أَلَا أُنَبِّئُكُمْ
بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي
دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيْرٌ
لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا
أَعْنَاقَكُمْ؟»
"Inginkah kalian kutunjuki amalan terbaik kalian, paling mulia di
sisi Tuhan-mu, paling tinggi mengangkat derajatmu, lebih baik bagimu dari pada
bersedekah dengan emas dan perak, dan lebih baik bagimu dari pada melawan musuh
lalu kau terbas leher mereka dan mereka menebas lehermu?"
Sahabat menjawab: Tentu!
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«ذِكْرُ اللَّهِ
تَعَالَى» [سنن
الترمذي: صححه الألباني]
"Dzikir kepada Allah ta'aalaa". [Sunan Tirmiziy: Shahih]
Lihat: Keutamaan zikir
الرابعة والثلاثون: أن
دوامَ ذِكر الرب تبارك وتعالى يُوجِب الأمان من نسيانه الذي هو سبب شقاء العبد في
معاشه ومعاده؛ فإن نسيان الرب سبحانه وتعالى يوجب نسيان نفسه ومصالحها، قال
تعالى: ﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ
أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾ [الحشر: ١٩].
فمن نسي الله تعالى
أنساه نفسه في الدنيا، ونسيه في العذاب يوم القيامة. قال الله تعالى: ﴿وَمَنْ
أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ
بَصِيرًا (١٢٥) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ
الْيَوْمَ تُنْسَى﴾ [طه: ١٢٤ - ١٢٦]، أي تُنْسَى في العذاب كما نسيت آياتنا، فلم تذكرها
ولم تعمل بما فيها.
Ketiga Puluh
Empat: Bahwa senantiasa mengingat (berdzikir kepada) Rabb Yang Maha Suci dan
Maha Tinggi mewajibkan keamanan dari kelalaian terhadap-Nya, yang mana
kelalaian itu adalah penyebab kesengsaraan seorang hamba di kehidupan dunia dan
akhiratnya. Karena sesungguhnya
melupakan Allah Subhanahu wa Ta'ala mewajibkan (menyebabkan) seseorang
melupakan dirinya sendiri dan kemaslahatannya. Allah Ta'ala berfirman: {Dan
janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, maka Allah menjadikan
mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.}
[Al-Hasyr:
19]
Barangsiapa
melupakan Allah, maka Allah akan menjadikannya lupa terhadap dirinya sendiri di
dunia, dan Dia akan melupakannya dalam siksa pada Hari Kiamat. Allah Ta'ala
berfirman: {Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh
baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkannya pada Hari Kiamat
dalam keadaan buta." Dia berkata, "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau
kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu bisa melihat?" Allah
berfirman, "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka engkau
melupakannya, dan demikian (pula) pada hari ini engkau dilupakan} [Thaha: 124-126] Maksudnya, dia dilupakan dalam azab sebagaimana dia
melupakan ayat-ayat Kami, tidak mengingatnya dan tidak mengamalkan apa yang
terkandung di dalamnya.
Yang
melupakan Allah maka Allah juga akan melupakannya.
Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:
{الْمُنَافِقُونَ
وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ
عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ} [التوبة : 67]
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan
sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan
melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah
lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang
munafik itu adalah orang-orang yang fasik. [At-Taubah: 67]
LIhat: Jangan berpaling dari Allah
الخامسة والثلاثون: أن
الذكر يُسَيِّر العبدَ وهو قاعد على فراشه، وفي سوقه، وفي حال صحته وسقمه، وفي حال
نعيمه ولذته، ومعاشه، وقيامه وقعوده واضطجاعه، وسفره وإقامته، فليس في الأعمال شيءٌ
يَعُمُّ الأوقات والأحوال مثله، حتى إنه يُسَيِّر العبدَ
وهو نائمٌ على فراشه، فيسبق القائم مع الغفلة، فيصبح هذا وقد قطع الرَّكْبَ وهو
مُسْتَلْقٍ على فراشه، ويصبح ذلك القائم الغافل في ساقَةِ الرَّكْبِ، وذلك فضلُ
الله يؤتيه من يشاء.
Ketiga Puluh
Lima: Bahwa dzikir itu menggerakkan (menjalankan) seorang hamba meskipun ia
sedang duduk di atas kasurnya, di pasarannya, dalam keadaan sehat dan sakitnya,
dalam keadaan nikmat dan kesenangannya, dalam kehidupan kesehariannya, saat
berdiri, duduk, berbaring, saat bepergian dan saat menetap. Maka tidak ada suatu amalan pun yang mencakup semua
waktu dan keadaan seperti dzikir. Bahkan dzikir dapat menggerakkan seorang
hamba saat ia tidur di atas kasurnya, sehingga ia bisa mendahului orang yang
berdiri (shalat/beramal) tetapi dalam kelalaian. Maka di pagi hari, orang yang
berdzikir ini sudah seperti melewati rombongan (kafilah kebaikan) sambil
berbaring di atas kasurnya, sementara orang yang berdiri (beramal) namun lalai
berada di belakang rombongan tersebut. Itulah karunia Allah yang diberikan
kepada siapa yang Dia kehendaki.
Berdzikir di setiap keadaan.
Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:
{إِنَّ فِي خَلْقِ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ
لِّأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا
وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ} [آل عمران : 190-191]
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. [Ali Imran: 190-191]
{فَإِذَا قَضَيْتُمُ
الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ} [النساء : 103]
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah
Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. [An-Nisaa': 103]
Ø Aisyah radiyallahu 'anha berkata:
«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ
يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ» [صحيح مسلم]
"Rasulullah ﷺ
mengingat Allah (berzikir) pada setiap kondisi". [Shahih Musllim]
Lihat: Hukum menyentuh dan membaca Al-Qur'an bagi orang yang berhadats
Bersambung insyaallah …
Nb:
Tulisan berwarna biru adalah ucapan imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah.
Wallahu a’lam!
Lihat juga: Keutamaan dzikir menurut Ibnu Al-Qayyim (bagian 1)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...