بسم الله الرحمن الرحيم
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«احْتَجَّ
آدَمُ وَمُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ عِنْدَ رَبِّهِمَا، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى،
قَالَ مُوسَى: أَنْتَ آدَمُ الَّذِي خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ
رُوحِهِ، وَأَسْجَدَ لَكَ مَلَائِكَتَهُ، وَأَسْكَنَكَ فِي جَنَّتِهِ، ثُمَّ
أَهْبَطْتَ النَّاسَ بِخَطِيئَتِكَ إِلَى الْأَرْضِ، فَقَالَ آدَمُ: أَنْتَ مُوسَى
الَّذِي اصْطَفَاكَ اللهُ بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلَامِهِ وَأَعْطَاكَ الْأَلْوَاحَ
فِيهَا تِبْيَانُ كُلِّ شَيْءٍ وَقَرَّبَكَ نَجِيًّا، فَبِكَمْ وَجَدْتَ اللهَ
كَتَبَ التَّوْرَاةَ قَبْلَ أَنْ أُخْلَقَ، قَالَ مُوسَى: بِأَرْبَعِينَ عَامًا،
قَالَ آدَمُ: فَهَلْ وَجَدْتَ فِيهَا وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى، قَالَ:
نَعَمْ، قَالَ: أَفَتَلُومُنِي عَلَى أَنْ عَمِلْتُ عَمَلًا كَتَبَهُ اللهُ
عَلَيَّ أَنْ أَعْمَلَهُ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي بِأَرْبَعِينَ سَنَةً؟»
"Adam dan Musa berdebat di
sisi Tuhan keduanya, maka Adam mengalahkan hujjah Musa" Musa berkata:
"Kamu adalah Adam yang diciptakan oleh Allah dengan tangan-Nya. Dia
meniupkan ruh-Nya padamu, dan Dia mengizinkanmu tinggal di surga-Nya. Kemudian
gara-gara kesalahanmu, kamu menjadikan manusia diturunkan ke bumi. Adam
menjawab: Kamu adalah Musa yang dipilih oleh Allah dengan risalah dan
Kalam-Nya. Dia memberimu “Lauh” yang berisi penjelasan tentang segala sesuatu.
Dia mendekatkanmu kepada-Nya sewaktu kamu bermunajat kepada-Nya. Berapa lama
kamu mendapatkan Allah telah menulis Taurat sebelum aku di ciptakan ?' Musa
menjawab: 'Empat puluh tahun.'
Adam bertanya: "Apakah di
sana tertulis, "Dan durhakalah Adam kepada Rabnya (Allah) dan sesatlah
dia"? Musa menjawab: Ya. Adam berkata, "Apakah kamu menyalahkanku
karena aku melakukan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah atasku empat puluh
tahum sebelum Dia menciptakanku?"
Rasulullah ﷺ bersabda:
«فَحَجَّ
آدَمُ مُوسَى»
“Maka Adam mengungguli argumen
Musa" [Shahih Bukhari dan Muslim]
Ø Dalam riwayat lain;
«كتب
لك التوراة بيده»
"Allah menulis untukmu
Taurat dengan tangan-Nya." [Shahih Muslim]
Ø Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ
مُوسَى قَالَ: يَا رَبِّ أَرِنَا آدَمَ الَّذِي أَخْرَجَنَا وَنَفْسَهُ مِنَ
الْجَنَّةِ، فَأَرَاهُ اللهُ آدَمَ فَقَالَ: أَنْتَ أَبُونَا آدَمُ؟ فَقَالَ لَهُ
آدَمُ: نَعَمْ. قَالَ: أَنْتَ الَّذِي نَفَخَ اللهُ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ،
وَعَلَّمَكَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا، وَأَمَرَ الْمَلَائِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ؟
فَقَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَمَا حَمَلَكَ عَلَى أَنْ أَخْرَجْتَنَا وَنَفْسَكَ مِنَ
الْجَنَّةِ؟ فَقَالَ لَهُ آدَمُ: وَمَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: أَنَا مُوسَى. قَالَ:
أَنْتَ نَبِيُّ بَنِي إِسْرَائِيلَ الَّذِي كَلَّمَكَ اللهُ مِنْ وَرَاءِ
الْحِجَابِ، لَمْ يَجْعَلْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ رَسُولًا مِنْ خَلْقِهِ. قَالَ:
نَعَمْ. قَالَ: أَفَمَا وَجَدْتَ أَنَّ ذَلِكَ كَانَ فِي كِتَابِ اللهِ قَبْلَ
أَنْ أُخْلَقَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فِيمَ تَلُومُنِي فِي شَيْءٍ سَبَقَ مِنَ
اللهِ تَعَالَى فِيهِ الْقَضَاءُ قَبْلِي؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عِنْدَ ذَلِكَ:
فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى عليهما السلام»
"Sesungguhnya Musa berkata:
'Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku Adam yang telah mengeluarkan kami dan
dirinya sendiri dari surga.' Maka Allah memperlihatkan Adam kepadanya. Musa
bertanya: 'Apakah engkau Adam, bapak kami?' Adam menjawab: 'Ya.' Musa bertanya:
'Engkaukah yang Allah tiupkan ke dalam dirimu dari ruh-Nya, dan Dia ajarkan
kepadamu semua nama, dan Dia perintahkan para malaikat lalu mereka bersujud
kepadamu?' Adam menjawab: 'Ya.' Musa berkata: 'Lalu apa yang membuatmu
mengeluarkan kami dan dirimu sendiri dari surga?' Adam bertanya kepadanya:
'Siapakah engkau?' Musa menjawab: 'Aku Musa.' Adam berkata: 'Engkau adalah nabi
Bani Israil yang Allah berbicara kepadamu dari balik tabir, tidak menjadikan
antara engkau dan Dia seorang rasul pun dari makhluk-Nya?' Musa menjawab: 'Ya.'
Adam berkata: 'Apakah engkau tidak mendapati bahwa hal itu telah ada dalam
kitab Allah sebelum aku diciptakan?' Musa menjawab: 'Ya.' Adam berkata: 'Lalu
mengapa engkau mencelaku dalam suatu perkara yang telah ditetapkan oleh Allah
Ta'ala sejak sebelumku?' Rasulullah ﷺ
bersabda pada saat itu: 'Maka Adam mengalahkan Musa, maka Adam mengalahkan Musa
semoga salam atas keduanya.'" [Sunan Abi Daud: Sanadnya hasan]
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Abu Hurairah dan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma.
Lihat: Abu Hurairah dan keistimewaannya - Keistimewaan Umar bin Khathab
2.
Kewajiban beriman
kepada para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam.
Lihat: Iman kepada Nabi dan Rasul Allah
3.
Penetapan sifat Al-Khalq
(mencipta) bagi Allah “Al-Khaliq”.
Lihat: “Al-Khaliq” dan “Al-Khallaq”; Allah Yang Maha Mencipta
4.
ِAllah ta’aalaa menciptakan
Nabi Adam dengan tanganNya.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{قَالَ
يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ} [ص : 75]
Allah berfirman: "Hai
iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan
kedua tangan-Ku." [Shaad: 75]
5.
Penetapan sifat "Tangan" bagi Allah ta’aalaa.
Lihat: Penetapan sifat “tangan” bagi Allah subhanahu wata’aalaa
6.
Allah ta’aalaa meniupkan
ruh dalam diri Nabi Adam kemudian memerintahkan para Malaikat untuk sujud
kepadanya.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{فَإِذَا
سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (29) فَسَجَدَ
الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ} [الحجر : 29-30]
Maka apabila Aku telah
menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku,
maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat
itu semuanya bersama-sama. [Al-Hijr: 29-30]
7.
Allah
mengajarkan kepada Nabi Adam semua nama-nama.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{وَعَلَّمَ
آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا} [البقرة: 31]
Dan Dia mengajarkan kepada
Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya. [Al-Baqarah: 31]
8.
Keistimewaan Nabi Musa ‘alaihissalam.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{قَالَ
يَا مُوسَىٰ إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالَاتِي وَبِكَلَامِي
فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ (144) وَكَتَبْنَا لَهُ فِي
الْأَلْوَاحِ مِن كُلِّ شَيْءٍ مَّوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِّكُلِّ شَيْءٍ
فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا ۚ سَأُرِيكُمْ
دَارَ الْفَاسِقِينَ} [الأعراف : 144-145]
Allah berfirman: "Hai
Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di
masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab
itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu
termasuk orang-orang yang bersyukur". Dan telah Kami tuliskan untuk Musa
pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi
segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan
teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan
sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang
fasik. [Al-A'raaf: 144-145]
9.
Penetapan sifat “Al-Kalaam”
(berbicara) bagi Allah ta’aalaa dengan suara tinggi maupun rendah (munajat).
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{وَنَادَيْنَاهُ
مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا} [مريم: 52]
Dan kami telah memanggilnya
(dengan suara tinggi) dari sebelah kanan gunung Thur dan kami telah
mendekatkannya kepada kami untuk bermunajat (berbicara dengan suara rendah).
[Maryam:52]
Lihat: Allah berbicara
10.
Al-Qur'an membenarkan
kitab suci sebelumnya.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{فَأَكَلَا
مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن
وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ} [طه
: 121]
Maka keduanya memakan dari
buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah
keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam
kepada Tuhan dan sesatlah ia. [Thaha: 121]
11.
Allah ta’aalaa memberikan
keistimewaan kepada seorang Nabi yang tidak diberikan kepada yang lainnya.
Allah subhanahu wata'aalaa
berfirman:
{تِلْكَ
الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ ۖ
وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ} [البقرة : 253]
Rasul-rasul itu Kami lebihkan
sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah
berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya
beberapa derajat. [Al-Baqarah: 253]
12.
Tidak boleh merendahkan
seorang Nabi pun 'alaihimussalam.
Allah subhanahu wata'aalaa
berfirman:
{مَن
كَانَ عَدُوًّا لِّلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ
فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ} [البقرة
: 98]
Barang siapa yang menjadi
musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka
sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. [Al-Baqarah: 98]
13.
Allah ta’aalaa telah
menakdirkan Nabi Adam dan keturunannya melakukan kesalahan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَمَّا
خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مَسَحَ ظَهْرَهُ، فَسَقَطَ مِنْ ظَهْرِهِ كُلُّ نَسَمَةٍ
هُوَ خَالِقُهَا مِنْ ذُرِّيَّتِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَجَعَلَ بَيْنَ
عَيْنَيْ كُلِّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ وَبِيصًا مِنْ نُورٍ، ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى
آدَمَ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ ذُرِّيَّتُكَ،
فَرَأَى رَجُلًا مِنْهُمْ فَأَعْجَبَهُ وَبِيصُ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ، فَقَالَ:
أَيْ رَبِّ مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: هَذَا رَجُلٌ مِنْ آخِرِ الأُمَمِ مِنْ
ذُرِّيَّتِكَ يُقَالُ لَهُ دَاوُدُ فَقَالَ: رَبِّ كَمْ جَعَلْتَ عُمْرَهُ؟ قَالَ:
سِتِّينَ سَنَةً، قَالَ: أَيْ رَبِّ، زِدْهُ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعِينَ سَنَةً،
فَلَمَّا قُضِيَ عُمْرُ آدَمَ جَاءَهُ مَلَكُ المَوْتِ، فَقَالَ: أَوَلَمْ يَبْقَ
مِنْ عُمْرِي أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَوَلَمْ تُعْطِهَا ابْنَكَ دَاوُدَ
قَالَ: فَجَحَدَ آدَمُ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ، وَنُسِّيَ آدَمُ فَنُسِّيَتْ
ذُرِّيَّتُهُ، وَخَطِئَ آدَمُ فَخَطِئَتْ ذُرِّيَّتُهُ» [سنن
الترمذي: صحيح]
"Ketika Allah menciptakan
Adam, Dia mengusap punggungnya, maka berjatuhanlah dari punggungnya setiap jiwa
yang akan Dia ciptakan dari keturunannya hingga hari Kiamat. Dan Dia menjadikan
di antara kedua mata setiap manusia dari mereka cahaya yang berkilau. Kemudian
Dia menampilkan mereka kepada Adam, lalu Adam berkata: 'Wahai Tuhanku, siapakah
mereka?' Allah berfirman: 'Mereka adalah keturunanmu.' Lalu ia melihat seorang
laki-laki di antara mereka yang membuatnya kagum karena kilau cahaya di antara kedua
matanya, lalu ia berkata: 'Wahai Tuhanku, siapakah ini?' Allah berfirman: 'Ini
adalah seorang laki-laki dari umat terakhir dari keturunanmu, namanya Daud.' Ia
berkata: 'Tuhanku, berapa Engkau jadikan usianya?' Allah berfirman: 'Enam puluh
tahun.' Ia berkata: 'Wahai Tuhanku, tambahkanlah untuknya dari usiaku empat
puluh tahun.' Maka ketika usia Adam telah habis, datanglah malaikat maut
kepadanya, lalu ia berkata: 'Bukankah masih tersisa empat puluh tahun dari
usiaku?' Malaikat berkata: 'Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu
Daud?' Maka Adam mengingkari, maka keturunannya pun mengingkari; Adam lupa,
maka keturunannya pun lupa; dan Adam berbuat salah, maka keturunannya pun
berbuat salah." [Sunan Tirmidzi: Shahih]
14.
Hadits ini tidak
menunjukkan bahwa Nabi Adam menjadikan takdir sebagai alasan untuk melakukan
maksiat.
Karena beliau
telah taubat dari dosanya. Dan orang yang telah taubat dari suatu maksiat boleh
menjadikan takdir sebagai alasan atas maksiat tersebut.
Ada juga yang
berpendapat bahwa nabi Musa tidak menyalahkan nabi Adam karena maksiatnya, akan
tetapi menyalahkannya karena telah menjadi penyebab atas musibah yang menimpah
umat manusia yang harus keluar dari Surga.
Oleh sebab itu
dalam riwayat lain Nabi Musa berkata kepada Nabi Adam:
«أَنْتَ
الَّذِي أَخْرَجْتَ النَّاسَ مِنَ الجَنَّةِ بِذَنْبِكَ وَأَشْقَيْتَهُمْ»
“Engkau Adam yang telah
mengeluarkan umat manusia dari Surga dengan dosamu dan engkau membuat mereka
sengsara” [Sahih Bukhari dan Muslim]
Maka benarlah
Adam dalam hal ini, karena dibolehkan menjadikan takdir sebagai alasan suatu
musibah yang telah menimpa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu;
Rasulullah ﷺ bersabda:
«الْمُؤْمِنُ
الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي
كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ،
وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا،
وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ
الشَّيْطَانِ» [صحيح مسلم]
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih
dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan,
semangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah bantuan Allah dan
jangan lemah, dan jika engkau ditimpa suatu musibah maka janganlah mengatakan:
“Seandainya aku melakukan ini maka akan seperti ini dan itu”, akan tetapi
katakanlah: “Allah telah menetapkannya, dan apa yang Ia kehendai akan Ia
lakukan”. Karena sesungguhnya kata “seandainya” membuka pintu amalan syaitan”.
[Shahih Muslim]
Lihat: Kehendak Allah kauniyah dan syar’iyah
15.
Kenapa Allah ta’aalaa
menakdirkan Nabi Adam melakukan dosa?
Diantara hikmahnya:
1)
Allah ta’aalaa
melakukan apa yang Ia mau, tidak ada yang berhak untuk mempertanyakannya.
Allah -subhanahu wata'ala-
berfirman:
{لَا
يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ} [الأنبياء:
23]
Dia (Allah) tidak ditanya
tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.
[Al-Anbiyaa':23]
{يُثَبِّتُ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا
يَشَاءُ} [إبراهيم: 27]
Allah meneguhkan (iman)
orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu [tauhid] dalam kehidupan
di dunia dan di akhirat; Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah
memperbuat apa yang Dia kehendaki. [Ibrahim: 27]
2)
Allah ta’aalaa
melakukan sesuatu pasti ada hikmahnya, kadang kita tahu dan kebanyakan tidak
kita tahu.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{إِنَّ
رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ} [يوسف: 100]
Sesungguhnya Tuhanku Maha
Lembut terhadap apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana. [Yusuf: 100]
Lihat: Cara menyikapi takdir baik dan buruk
3)
Manusia memang
diciptakan untuk diuji (diturunkan ke Bumi).
Allah -subhanahu wata'ala-
berfirman:
{إِنَّا
خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيه} [الإنسان: 2]
Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak
mengujinya. [Al-Insaan: 2]
Lihat: Hidup adalah ujian
4)
Untuk membuka
pintu taubat, karena diantara nama dan sifat Allah adalah Al-'Afuww, Al-Gafuur,
Al-Gaffaar, dan At-Tawwaab.
Dari Anas radhiyallahu
‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«كُلُّ
ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ» [سنن الترمذي: حسنه الألباني]
"Semua anak cucu Adam pasti
melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang
bertaubat". [Sunan Tirmidzi: Hasan]
Lihat: Taubat .. Kenapa tidak ?
5)
Untuk
meninggikan derajat dengan merendah dan merasa hina di hadapan Allah ta’aalaa.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{إِنَّ
اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِين} [البقرة: 222]
Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.
[Al-Baqarah: 222]
Ø Sebagian salaf rahimahullah berkata:
«إن
العبد ليعمل الذنب يدخل به الجنة، ويعمل الحسنة يدخل بها النار. قالوا: كيف؟ قال:
يعمل الذنب فلا يزال نصب عينيه منه مشفقًا وجلًا باكيًا نادمًا مستحيًا من ربه
تعالى ناكس الرأس بين يديه منكسر القلب له، فيكون ذلك الذنب أنفع له من طاعات
كثيرة بما ترتب عليه من هذه الأمور التي بها سعادة العبد وفلاحه، حتى يكون ذلك
الذنب سبب دخوله الجنة. ويفعل الحسنة فلا يزال يمن بها على ربه ويتكبر بها ويرى
نفسه ويعجب بها ويستطيل بها ويقول فعلت وفعلت، فيورثه من العجب والكبر والفخر
والاستطالة ما يكون سبب هلاكه»
"Sesungguhnya seorang hamba
benar-benar melakukan dosa yang dengannya ia masuk surga, dan melakukan
kebaikan yang dengannya ia masuk neraka."
Mereka berkata: "Bagaimana
bisa?"
Ia menjawab: "Ia melakukan
dosa, lalu dosa itu senantiasa berada di depan matanya; ia merasa takut, cemas,
menangis, menyesal, malu kepada Tuhannya, menundukkan kepala di hadapan-Nya,
dan hatinya pun tunduk merendahkan diri kepada-Nya. Maka dosa itu menjadi lebih
bermanfaat baginya daripada banyak ketaatan, karena dampak-dampak yang timbul
darinya berupa hal-hal yang menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan seorang
hamba, sehingga dosa itu menjadi sebab ia masuk surga.
Dan ia melakukan kebaikan, lalu
ia senantiasa mengungkit-ungkitnya kepada Tuhannya, menyombongkan diri
dengannya, memandang dirinya hebat, bangga dengan amal itu, merasa tinggi
dengannya, dan berkata: 'Aku telah melakukan ini dan itu.' Maka hal itu menimbulkan
pada dirinya rasa bangga, sombong, membanggakan diri, dan merasa tinggi yang
menjadi sebab kebinasaan dirinya." [Al-Wabilu Ash-Shaib kary Ibnu Qayyim]
6)
Manusia memang diciptakan
lemah, tidak maksum seperti Malaikat.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{وَخُلِقَ
الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا} [النساء: 28]
Dan manusia dijadikan bersifat
lemah. [An-Nisa': 28]
Ø Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَمَّا
صَوَّرَ اللهُ آدَمَ فِي الْجَنَّةِ تَرَكَهُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَتْرُكَهُ،
فَجَعَلَ إِبْلِيسُ يُطِيفُ بِهِ، يَنْظُرُ مَا هُوَ، فَلَمَّا رَآهُ أَجْوَفَ
عَرَفَ أَنَّهُ خُلِقَ خَلْقًا لَا يَتَمَالَكُ» [صحيح
مسلم]
"Ketika Allah membentuk Adam
di surga, Dia membiarkannya sebagaimana Allah kehendaki untuk membiarkannya.
Maka Iblis mulai berkeliling di sekitarnya, melihat bagaimana bentuknya. Ketika
ia melihatnya berongga (kosong di dalamnya), ia tahu bahwa ia diciptakan
sebagai makhluk yang tidak dapat menahan diri (tidak mampu mengendalikan hawa
nafsunya)." [Shahih Muslim]
Wallahu a'lam!
Lihat juga: Kisah Nabi Adam dalam Al-Qur'an (Surah Al-Baqarah 30-39) - Sebab-sebab kemenangan dari kisah Nabi Musa - Kisah perjalanan Isra’ dan Mi’raj

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...