Sabtu, 31 Oktober 2026

Tafsir surah Al-'Alaq (segumpal darah)

بسم الله الرحمن الرحيم

Surah “Al-'Alaq” adalah surah yang ke 96 dalam Al-Qur'an, termasuk surah Makkiyah, terdiri dari 19 ayat.

Surah ini secara umum berbicara tentang awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad ﷺ dan bagaimana sikap kaum Musyrikin terhadap Nabi Muhammad ﷺ setelah diangkat menjadi Nabi dengan turunnya surah ini.

Hubungan surah ini dengan surah sebelum dan sesudahnya

Surah sebelumnya “At-Tiin” bebicara tentang pemuliaan Allah terhadap manusia karena diciptakan dengan sebaik-baik bentuk, sedangkan dalam surah ini Allah menceritakan asal-usul penciptaan manusia dan bagaimana manusia dimuliakan dengan ilmu.

Adapun surah setelahnya “Al-Qadr”, bebicara tentang waktu turunnya surah ini yaitu malam lailatul qadr.

Lihat: Tafsir Surah Al-Qadr

Keistiwewaan surah ini dan sebab turunnya:

Surah ini adalah surah yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad ﷺ ketika beliau menyendiri di gua Hira.

Lihat: Hadits Aisyah; Awal turunya wahyu di gua Hira

Ayat pertama dan kedua:

{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ}

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

1. Perintah membaca menunjukkan pentingnya ilmu dalam beragama.

Lihat: Keutamaan ilmu dan ulama

2. Membaca dan belajar harus dengan nama Allah ikhlash untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Lihat: Bagaimana menuntut ilmu

3. Allah adalah "Al-Khalik" Yang Menciptakan.

Lihat: “Al-Khaliq” dan “Al-Khallaq”; Allah Yang Maha Mencipta

4. Proses penciptaan manusia.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ} [المؤمنون: 12 - 14]

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. [Al-Mu’minuun: 12-14]

Lihat: Al-Qur’an dan penciptaan manusia

Ayat ketiga - kelima:

{اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ}

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

1) Perintah membaca diulang menunjukkan bahwa belajar tidak ada batas waktunya.

2) "Al-Akram" adalah salah satu nama Allah Al-Husnaa.

Lihat: 108 "Asmaa-ul husna"

3) Allah ta’aalaa yang mengajarkan ilmu.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ} [البقرة: 32]

Mereka (malaikat) menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (penuh hikmah)". [Al-Baqarah: 32]

4) Tidak berputus asa dalam menuntut ilmu.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ} [يوسف: 87]

"Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir." [Yusuf: 87]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَز» [صحيح مسلم]

"Semangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan dari Allah dan jangan lemah". [Shahih Muslim]

5) Keutamaan "Al-Qalam" (pena).

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ} [القلم : 1]

Nuun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. [Al-Qalam: 1]

Ø  Dari Abdullah bin Ash-Shamith radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ»

"Sesungguhnya yang paling pertama Allah ciptakan adalah Al-Qalam (pena) kemudian Allah berkata kepadanya: Tulislah! Ia bertanya: Apa yang harus saya tulis? Allah berfirman: Tulislah takdir segala sesuatu sampai hari kiamat datang".

Abdullah berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

«مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي» [سنن أبي داود: صحيح]

"Barangsiapa yang meninggal tanpa keyakinan ini maka ia bukan golonganku". [Sunan Abu Daud: Sahih]

Lihat: Tingkatan Iman kepada Takdir

6) Keutamaan menuliskan ilmu.

Lihat: Kitab Ilmu bab 39; Penulisan ilmu

Ayat keenam dan ketujuh:

{كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ (6) أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ}

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.

1. Manusia sering lupa diri saat bergelimang nikmat.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ} [الشورى : 27]

Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. [Asy-Syuraa: 27]

Lihat: Sifat dasar manusia dalam Al-Qur’an

2. Kecuali sedikit dari manusia yang bersyukur.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ} [سبإ : 13]

Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. [Saba': 13]

Lihat: Paling Banyak Vs Paling Sedikit

Ayat kedelapan:

{إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰ}

Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).

Semua hamba akan kembali kepada Allah untuk mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya di dunia.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ} [البقرة : 281]

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). [Al-Baqarah: 281]

{أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ} [المؤمنون: 115]

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?! [Al-Mu'minun: 115]

Lihat: Hadits Abu Barzah; 4 pertanggung-jawaban di hadapan Allah

Ayat kesembilan dan kesepuluh:

{أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ}

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika mengerjakan shalat.

Yang dimaksud adalah Abu Jahl 'Amr bin Hisyam Al-Qurasyiy.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:

«قَالَ أَبُو جَهْلٍ: لَئِنْ رَأَيْتُ مُحَمَّدًا يُصَلِّي عِنْدَ الْكَعْبَةِ لَأَطَأَنَّ عَلَى عُنُقِهِ، فَبَلَغَ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: لَوْ فَعَلَهُ لَأَخَذَتْهُ الْمَلَائِكَةُ»

"Abu Jahal berkata: 'Sungguh jika aku melihat Muhammad shalat di dekat Ka'bah, niscaya akan kuinjak lehernya.' Maka hal itu sampai kepada Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda: 'Seandainya ia melakukannya, niscaya para malaikat akan menyiksanya.'" [Shahih Bukhari]

Ø  Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:

قال أبو جهل: هل يعفر محمد وجهه بين أظهركم؟ قال فقيل: نعم. فقال: واللات والعزى! لئن رأيته يفعل ذلك لأطأن على رقبته. أو لأعفرن وجهه في التراب. قال فأتى رسول الله ﷺ وهو يصلي. زعم ليطأ على رقبته. فما فجئهم منه إلا وهو ينكص على عقبيه ويتقي بيديه. فقيل له: مالك؟ فقال: إن بيني وبينه لخندقا من نار وهولا وأجنحة. فقال رسول الله ﷺ: «لو دنا مني لاختطفته الملائكة عضوا عضوا». قال فأنزل الله عز وجل: {كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ (6) أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ (7) إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰ (8) أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ (10) أَرَأَيْتَ إِن كَانَ عَلَى الْهُدَىٰ (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَىٰ (12) أَرَأَيْتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ} يعني أبا جهل {أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ (14) كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ (15) نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ (16) فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ (17) سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ (18) كَلَّا لَا تُطِعْهُ} [العلق: ٦ - ١٩].

Abu Jahal berkata: "Apakah Muhammad benar-benar menempelkan wajahnya (bersujud) di tengah-tengah kalian?" Dikatakan kepadanya: "Ya." Maka ia berkata: "Demi al-Lat dan al-Uzza! Sungguh jika aku melihatnya melakukan itu, niscaya akan kuinjak lehernya, atau akan kubenamkan wajahnya ke dalam tanah." Abu Hurairah berkata: "Maka Rasulullah ﷺ datang sedang beliau shalat. Ia (Abu Jahal) bermaksud menginjak leher beliau. Namun tidak ada yang mengejutkan mereka melainkan ia (Abu Jahal) justru mundur ke belakang dengan kedua tangannya menahan (seperti melindungi diri)." Dikatakan kepadanya: "Ada apa denganmu?" Ia menjawab: "Sesungguhnya antara aku dan dia ada parit dari api, kengerian, dan sayap-sayap (malaikat)." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Seandainya ia mendekat kepadaku, niscaya para malaikat akan mencabik-cabiknya anggota demi anggota." Abu Hurairah berkata: "Maka Allah عز وجل menurunkan : {Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya kepada Tuhanmulah tempat kembali(-mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat? Bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang) itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) itu mendustakan dan berpaling} yakni Abu Jahal {Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)? Ketahuilah! Sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami akan tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya). Kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah. Sekali-kali jangan! Janganlah kamu patuhi dia} [Al-'Alaq: 6-19]." [Shahih Muslim]

Ayat kesebelas - keempatbelas:

{أَرَأَيْتَ إِن كَانَ عَلَى الْهُدَىٰ (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَىٰ (12) أَرَأَيْتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ (13) أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ}

Bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?

1) Nabi Muhammad ﷺ senantiasa berada di atas kebenaran.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُّسْتَقِيمٍ} [الحج : 67]

Dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. [Al-Hajj: 67]

Lihat: Keistimewaan Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an

2) Nabi Muhammad ﷺ senantiasa memerintahkan untuk bertakwa.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ} [الزمر : 10]

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". [Az-Zumar: 10]

Ø  Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ» [سنن الترمذي: حسن]

“Bertakwalah kamu dimanapun berada”. [Sunan Tirmidzi: Hasan]

Lihat: Bertakwa di manapun berada

3) Allah Maha Melihat segala sesuatu.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ} [التوبة : 105]

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. [At-Taubah: 105]

{وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (217) الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (218) وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ} [الشعراء : 217-219]

Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. [Asy-Syu'ara':  217-219]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Jibril 'alaihissalam bertanya: "Apakah ihsan itu?"

Nabi ﷺ menjawab:

«أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك»

"Kamu beribadah menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya, dan bila kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu". [Shahih Bukhari]

Lihat: Syarah Arba'in hadits (17) Syaddad; Perintah berbuat ihsan (kebaikan)

Ayat kelimabelas - kedelapanbelas:

{كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ (15) نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ (16) فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ (17) سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ}

Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah.

1. Bahaya menentang dan menghalangi orang yang mengajak kepada hidayah dan takwa.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ} [الأنفال : 36]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. [Al-Anfal: 36]

{يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِ} [الرحمن : 41]

Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandannya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka. [Ar-Rahman: 41]

2. Orang Musyrik suka membanggakan golongannya.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata:

«كان رسولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي عندَ المَقامِ، فمرَّ به أبو جهلِ بنُ هشامٍ، فقال: يا محمدُ، ألم أنهكَ عن هذا؟ وتوعَّده، فأغلَظ له رسولُ اللَّهِ ﷺ وانتهره، فقال: يا محمدُ، بأيِّ شيءٍ تهدِّدُني؟ أما واللَّهِ إني لأكثرُ هذا الوادى ناديًا. فأنزَل اللَّهِ: ﴿فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ (١٧) سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ﴾. قال ابن عباسٍ: لو دعا ناديَه، أخَذَته زبانيةُ العذابِ من ساعته»

"Rasulullah ﷺ sedang shalat di dekat Maqam (Ibrahim). Lalu Abu Jahal bin Hisyam lewat di dekat beliau dan berkata: 'Wahai Muhammad, bukankah aku sudah melarangmu dari ini?' Dan ia mengancam beliau. Maka Rasulullah ﷺ bersikap keras kepadanya dan membentaknya. Lalu ia (Abu Jahal) berkata: 'Wahai Muhammad, dengan apa engkau mengancamku? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak memiliki penolong (penduduk) di lembah ini.' Maka Allah menurunkan: {Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah} [Al-'Alaq: 17-18]. Ibnu Abbas berkata: 'Seandainya ia memanggil golongannya, niscaya malaikat Zabaniyah (malaikat penyiksa) akan langsung menyiksanya saat itu juga.'" [Tafsir Ath-Thabariy: Shahih]

3. Malaikat Zabaniyah bertugas untuk menurunkan adzab

Lihat: Iman kepada malaikat

Ayat kesembilan belas:

{كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب}

Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).

1) Larangan patuh kepada orang yang menyimpang.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ} [الأنعام : 116]

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). [Al-An'am: 116]

{وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ} [الأنعام : 121]

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. [Al-An'am: 121]

{فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ (8) وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ (9) وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ (10) هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ (11) مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ (12) عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ (13) أَن كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ (14) إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ} [القلم : 8-15]

Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala". [Al-Qalam]

2) Perintah sujud untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ» [صحيح مسلم]

“Saat paling dekat seorang hamba dari Tuhannya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah berdo’a”. [Shahih Muslim]

Lihat: Keutamaan shalat dalam As-Sunnah

3) Nabi ﷺ sujud tilawah ketika membaca surah ini.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:

«سَجَدْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي {إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ}، وَ{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ}» [صحيح مسلم]

Kami pernah sujud bersama Nabi ﷺ dalam surat “Idzassamaa'un syaqqat” dan “Iqra` bismi rabbika” (maksudnya, ayat sajdah yang terdapat pada keduanya). [Shahih Muslim]

Lihat: Hukum seputar sujud tilawah

Wallahu a'lam!

Lihat juga: Tafsir surah Al-Bayyinah (bukti yang nyata) - Mewaspadai Fitnah Dunia (At-Tagabun 14-17) - Tafsir surah "Az-Zalzalah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...