Jumat, 20 Mei 2011

Zakat Fitrah

     Kewajiban puasa Ramadhan adalah salah satu keutamaan agama Islam. Puasa ramadhan melatih ruh dalam mengendalikan jasad dari hawa nafsu. Bulan ramadhan adalah bulan pengayoman dan kasih sayang. Dalam bulan ini umat Islam memperhatikan hak-hak umat manusia secara umum, dengan turut merasakan penderitaan lapar dan pedihnya kemiskinan.
     Kehidupan yang mapan bisa menanamkan sifat negatif dalam diri manusia. Apabila seseorang senantiasa hidup dalam kemapanan, tentu saja ia tidak akan mampu merasakan pedihnya rasa lapar, dan tidak pula merasakan sedihnya kehilangan nikmat.
     Dalam satu riwayat disebutkan, bahwasanya Nabi Yusuf -'alaihissalam- terkadang kelaparan padahal ia sebagai pengontrol harta kekayaan Mesir, saat beliau ditanya akan hal itu, beliau menjawab: Aku takut saat aku kenyang lupa akan orang-orang yang lapar.
     Salah satu bentuk toleransi antar umat Islam di bulan ramadhan adalah diwajibkannya zakat fitrah bagi setiap muslim yang mampu untuk diserahkan kepada fakir miskin.

Pengertian zakat fitrah.
     Zakat fitrah adalah sedekah yang wajib dikeluarkan pada akhir bulan Ramadhan. Zakat fitrah merupakan zakat untuk anggota badan.

Hikmah disyari'atkannya zakat fitrah. 
     Hikmah diwajibkannya zakat fitrah adalah sebagai bentuk rasa kasih sayang kepada fakir miskin dengan memberikan kecukupan bagi mereka di hari raya dan tidak perlu meminta-minta. Memberikan kebahagiaan kepada mereka sebagaimana orang-orang mampu berbahagia di hari raya.
     Zakat fitrah juga merupakan pensucian akhir bagi orang-orang yang telah berpuasa di bulan ramadhan dari kelalaian dan kekhilafan yang telah dilakukan selama di bulan suci ini.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas -radiyallahu 'anhuma- beliau berkata: Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pensucian bagi orang yang telah berpuasa dari senda gurau dan perkataan kotor, dan sebagai makanan untuk orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum salat 'id maka itu adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah salat 'id maka itu hanya sebagai sedekah saja. [Sunan Abu Daud: Hasan]

Dalil wajibnya zakat fitrah:
     Hadtis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar -radiyallahu 'anhuma- beliau berkata: Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha' dari korma atau satu sha' dari gandum, bagi budak dan orang merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak kecil ataupun dewasa dari umat Islam, dan Rasulullah memerintahkan untuk menunaikannya sebelum orang-orang keluar untuk menunaikan salat 'id. [Sahih Bukhari dan Muslim]
     Sa'id bin Al-Musayyab dan Umar bin Abdul Aziz –rahimahumallah-menafsirkan kata "tazakka" dalam firman Allah { قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى } adalah zakat fitrah, artinya: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membayar zakat fitrah" [Al-A'laa:14]
     Ibnu Al-Mundzir –rahimahullah- mengatakan: Semua ulama yang kita kenal sepakat akan kewajiban zakat fitrah.

Syarat wajibnya zakat fitrah.
     Zakat fitrah wajib bagi laki-laki, perempuan, dewasa, dan anak-anak. Wajib bagi dirinya dan orang-orang yang wajib ia nafkahi, dengan syarat :
1- Muslim, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar di atas " من المسلمين". Syarat ini disepakati jumhur ulama, kecuai Syafi'iyah yang mewajibkan bagi orang kafir untuk menzakati keluarganya yang muslim.
2- Mampu mengeluarkan zakat fitrah. Ukuran mampu disini adalah memiliki kelebihan pangan bagi dirinya dan semua yang wajib ia nafkahi sehari semalam di hari raya. Ukuran ini detetapkan oleh jumhur ulama sebagaimana dalam sebuah hadits, Rasulullah –sallallahu 'alaihi wasallam- bersabda :
" من سأل وعنده مايغنيه فإنما يستكثر من النار " ، فقالوا : يارسول الله وما يغنيه ؟ قال : " أن يكون له شبع يوم وليلة "
Barangsiapa yang meminta padahal ia memiliki apa sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya ia telah memperbanya api neraka. Sahabat bertanya: Ya Rasulullah .. berapa ukuran mencukupi itu? Rasulullah menjawab: Jika ia memiliki pangan sehari semalam. [Sunan Abi Daud: Sahih]
     Sedangkan Al-Hanafiyah tidak mewajibkannya kecuali bagi orang yang memiliki nisab zakat emas/perak atau senilainya setelah memenuhi biaya tempat tinggalnya. Mereka berhujjah dengan hadits " لا صدقة إلا عن ظهر غنى "; tidak ada sedekah kecuali bagi orang kaya.
     Akan tetapi pendapat jumhur ulama dalam hal ini lebih kuat dengan alasan:
1- Kewajiban zakat fitrah tidak ditentukan kaya miskinnya.
2- Jumlah yang dikeluarkan pada zakat fitrah tidak dipengaruhi dengan jumlah kekayaan seseorang.
3- Ukuran kaya atau mampu pada zakat fitrah sudah ditentukan oleh Rasulullah –sallallahu 'alaihi wasallam- dalam hadits di atas.
     Orang yang punya utang tetap harus mengeluarkan zakat fitrah, kecuali jika pemiliknya meminta hingga pangannya tidak mencukupi di hari raya.

Zakat fitrah bagi budak.
     Al-Hanabilah mewajibkan zakat fitrah bagi seorang hamba, sedangkan jumhur ulama tidak mewajibkannya karena mereka tidak memiliki apa-apa. Akan tetapi wajib bagi seorang tuan untuk mengeluarkan zakat fitrah bagi hambanya yang muslim sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar –radiyallahu 'anhuma-:
" أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بصدقة الفطر عن الصغير والكبير والحر والعبد ممن تمونون "
Rasulullah memerintahkan untuk menunaikan zakat fitrah bagi anak kecil, orang dewasa, orang merdeka, dan budak yang engkau tanggung. [Sunan Ad-Daruquthny: Hasan]
     Syekh Ibnu Utsaimin mendhaifkan lafadz hadits di atas " ممن تمونون ", sehingga beliau merajihkan kewajiban zakat fitrah hanya untuk diri sendiri dan tidak wajib mengeluarkannya untuk orang-orang dalam tanggungannya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Hazm . Allah –'azza wajalla- berfirman : { وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى }
"Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." [Al-An'am:164]

Jenis barang yang dikeluarkan. 
     Jenis barang yang dikeluarkan pada zakat fitrah adalah jenis apa saja yang menjadi makanan pokok umat Islam di daerahnya, tidak terpokus pada jenis makanan yang tercantum dalam hadits. Abu Sa'id Al-Khudry –radiyallahu 'anhu- berkata :
" كنا نخرج زكاة الفطر - إذ كان فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم - صاعا من طعام "
Dulu kami mengeluarkan zakat fitrah di saat Rasulullah masih bersama kami dengan satu sha' makanan. [Sahih Bukhari dan Muslim] 

Ukuran zakat fitrah.
     Ada dua pendapat ulama tentang ukuran yang wajib dikeluarkan pada zakat fitrah.
     Pendapat pertama: Yang wajib adalah satu sha' dari jenis apa pun. Ini adalah pendapat jumhur ulama selain Imam Abu Hanifah dan Ashab Ar-ra'y, dan dirajihkan oleh syekh Ibnu Baz dan syekh Ibnu Utsaimin. Hujjah yang mereka pakai:
1- Hadits Abu Sa'id Al-Khudry –radiyallahu 'anhu- beliau berkata : Dulu kami mengeluarkan zakat fitrah di saat Rasulullah masih bersama kami dengan satu sha' makanan, atau satu sha' gandum, atau satu sha' kurma, atau satu sha' anggur kering, atau satu sha' susu kering. Maka seterusnya kami membayar zakat seperti itu, sampai Mu'awiyah datang ke Madinah. Lalu ia berpidato, di antara pidatonya kepada orang-orang: Aku menganggap kalau dua mud gandum Syam senilai dengan satu sha' kurma. Maka orang-orang melaksanakan pendapat itu.
Abu Sa'id berkata: Akan tetapi aku tetap mengeluarkan zakat seperti cara yang dulu. [Sahih Bukhari dan Muslim]
2- Hadits Ibnu Umar –radiyallahu 'anhuma- beliau berkata : Nabi sallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah atau ramadhan bagi laki-laki dan perempuan, orang merdeka dan budak, satu sha' kurma atau satu sha' gandum, lalu orang-orang menggantinya dengan seperdua sha' gandum.
     Pendapat yang kedua: Yang wajib adalah satu sha' untuk jenis apa saja kecuali "al-burr/al-qamh" (gandum) cukup seperdua sha'. Ini adalah pendapat Ashab Ar-ra'y, dan Abu Hanifah menyamakan antara "az-zabiib" (anggur kering) dengan "al-burr". Hujjah yang mereka gunakan :
1- Hadits Asma binti Abi Bakr –radiyallahu 'anhuma-: Ia pernah mengeluarkan zakat fitrah di masa Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam untuk keluarganya yang merdeka dan budak sebanyak dua mud gandum, atau satu sha' kurma, menggunakan mud atau sha' yang mereka pakai dalam berjual beli. [Ath-Thabrany: Sahih]
2- Hadits Ibnu Shu'air, Rasulullah -sallallahu 'alaihi wasallam- bersabda :
" صاع من بر أو قمح على كل اثنين "
Satu sha' gandum cukup untuk dua orang. [Sunan Abi Daud: Dhaif]
3- Hadits Abdullah bin Amr –radiyallahu 'anhuma- beliau berkata : Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mengutus orang untuk menyeru di jalan-jalan Mekah: Ketahuilah sesungguhnya zakat fitrah wajib bagi setiap Muslim laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak, anak kecil atau orang dewasa, dua mud gandum atau selainnya satu sha' makanan. [Sunan Tirmidzi: Dhaif]
     Pendapat ini dirajihkan oleh syekh Islam Ibnu Taemiya, Ibnu Qayyim, dan Syekh Al-Bany -rahimahumullah- bahwa untuk al-qamh cukup seperdua sha' .

Catatan:
• 1 sha' = 4 mud = 2,157 kg .
• Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mengeluarkan zakat fitrah dengan ukuran sha' bukan dengan timbangan.

Bisakah mengeluarkan zakat fitrah dengan uang ?
     Jumhur ulama tidak membolehkan pengeluaran zakat fitrah dengan uang, kecuali Abu Hanifah yang membolehkan.
     Hujjah yang tidak membolehkan:
1- Menyalahi sunnah Rasulullah -sallallahu 'alaihi wasallam-, dan seandainya boleh mengeluarkan uang pasti akan dijelaskan oleh beliau.
2- Menyalahi amalan para sahabat.
3- Zakat fitrah adalah ibadah yang harus dilaksanakan sesuai tuntunan syari'at sebagaimana ibadah-ibadah lainnya.
4- Hikmah zakat fitrah untuk mencukupi pangan fakir miskin di hari raya.
     Hujjah bagi yang membolehkan:
1- Zakat bertujuan untuk memenuhi kebutukan fakir miskin, dan uang lebih sesuai dengan keperluan mereka. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar –radiyallahu 'anhuma- beliau berkata :
" فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر ، وقال : أغنوهم في هذا اليوم "
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah, dan berkata: Cukupilah mereka di hari ini. [Al-Baehaqy: Dhaif]
2- Tidak merepotkan orang yang mengeluarkan zakat.
     Pendapat lain mengatakan: Boleh mengeluarkan dengan uang jika keadaan mendesak atau ada kebijaksanaan dari pemerintah sebagaimana yang dilakukaan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz –rahimahullah-.

Waktu mengeluarkan zakat fitrah.
     Wajib dikeluarkan sebelum shalah 'Id, dan haram menangguhkannya sampai setelah shalat 'Id sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar –radiyallahu 'anhuma- di atas:
"وأمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة "
Rasulullah memerintahkan untuk menunaikan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk shalat 'id.
     Adapun awal waktu diwajibkannya adalah tenggelamnya matahari akhir bulan ramadhan menurut Asy-Syafi'iyah, Al-Hanabilah, dan salah satu pendapat Al-Malikiyah. Sedangkan menurut Al-Hanafiyah dan salah satu pendapat Al-Malikiyah, wajib ketika terbit matahari di hari 'Id.
     Dampak dari perselisihan ini: Apabila seorang meninggal setelah matahari tenggelam maka wajib mengeluarkan zakat fitrah menurut pendapat pertama dan tidak wajib menurut pendapat kedua.
     Sebaliknya, bayi yang lahir setelah matahari tenggelam matahari, tidak wajib dikeluarkan zakat fitrahnya menurut pendapat pertama dan wajib menurut pendapat kedua.

Catatan:
     Ulama menganjurkan pengeluaran zakat fitrah bagi janin yang masih dalam kandungan apabila sudah ada ruhnya, sebagaimana yang diriwayatkan dari Usman bin 'Affan –radiyallahu 'anhu-.     
     Boleh mengeluarkan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum hari raya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Nafi' –rahimahullah- beliau berkata :
" وكان ابن عمر رضي الله عنهما يعطيها الذين يقبلونها ، وكانوا يعطون قبل الفطر بيوم أو يومين "
Ibnu Umar sering memberikan zakat fitrahnya kepada orang yang ditemuinya, dan orang-orang biasanya memberi zakta fitrah sehari sebelum hari raya atau dua hari sebelumnya. [Sahih Bukhari]
     Adapun orang yang tidak mengeluarkannya sebelum shalat 'Id, maka ia telah melakukan satu dosa dan tetap wajib mengeluarkannya walaupun setelah shalat, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas –radiyallahu 'anhuma- di atas:
 "من أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة ، ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات "
Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat 'id maka zakatnya diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya sebagai sedekah.
  
Yang berhak mendapat zakat fitrah.
     Ada dua pendapat ulama tentang orang yang berhak mendapatkan zakat fitrah:
1- Yang berhak adalah delapan golongan yang disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 60 Allah –'azza wajalla- berfirman :
{ إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ }
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan.
Ini adalah pendapat jumhur ulama selain Al-Malikiyah.
2- Yang berhak hanyalah fakir miskin. Ini adalah pendapat Al-Malikiyah, dan dipilih oleh syekh Islam Ibnu Taimiya, Asy-Syaukany, syekh Ibnu Utsaimin, dan syekh Al-Bany –rahimahumullah-. 
     Mereka berpegang pada hadits Ibnu Abbas –radiyallahu 'anhuma- di atas: " وطعمة للمساكين ", zakat fitrah sebagai makanan untuk orang miskin.

                                                والله أعلم                                        
 
             سبحانك اللهم وبحمدك ، أشهد أن لا إله إلا أنت ، أستغفرك وأتوب إليك

* Makalah ini dibawakan dalam acara Buka Puasa Bersama dan Diskusi Ramadhan yang diadakan oleh DPD-PPMI Mansoura-Mesir pada tanggal 17 September 2008.

* Lihat juga: Shalat `Ied
                   Menyentuh Kemaluan; Apakah Membatalkan Wudhu?
                   Makanan dan minuman                      

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...