Kamis, 09 Juli 2015

Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (6) Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم


Pembahasan pertama:

Bab keenam kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari adalah bab “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan, harapan, dan niat”.

Dalam bab ini Imam Bukhari menyebutkan satu hadits mu’allaq (sanad terputus) dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan satu hadits muttashil (sanad bersambung) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Pembahasan kedua:

Hadits pertama: Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Hadits ini akan diriwayatkan ulang oleh Imam Bukhari secara muttashil dengan lafadz yang lengkap pada kitab Al-Buyuu’ (jual beli).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«يَغْزُو جَيْشٌ الكَعْبَةَ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ، يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ»

“Suatu pasukan (di akhir zaman) ingin memerangi ka’bah, dan ketika mereka sampai pada satu padang yang tandus di bumi ini, mereka ditelan bumi (dibinasakan) mulai dari awal sampai akhir mereka (semuanya).”
Aisyah bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana bisa dibinasakan dari awal sampai akhir mereka padahal diantara mereka ada yang cuma pedagan (rakyat biasa) dan orang yang bukan dari mereka (orang yang lemah dan tawanan)?
Rasulullah menjawab:

«يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ، ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ»

“Mereka semua dibinasakan dari awal sampai akhir, kemudian mereka dibangkitkan (pada hari kiamat dan dihisab) sesuai dengan niatnya masing-masing”.

Dalam riwayat lain di sahih Muslim:

Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan satu gerakan dalam tidurnya, maka kami bertanya: Wahai Rasulullah, engkau melakukan sesuatu dalam tidurmu yang tidak pernah engkau lakukan sebelumnya?
Maka Rasulullah bersabda:

«الْعَجَبُ إِنَّ نَاسًا مِنْ أُمَّتِي يَؤُمُّونَ بِالْبَيْتِ بِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ، قَدْ لَجَأَ بِالْبَيْتِ، حَتَّى إِذَا كَانُوا بِالْبَيْدَاءِ خُسِفَ بِهِمْ»

“Mengherankan, sesungguhnya baberapa orang dari umatku dipimpin oleh seorang dari Quraisy menuju Ka’bah (ingin menghancurkannya), sampai ketika mereka tiba di suatu padang yang tandus, mereka semua dibinasakan”
Kami bertanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya di jalan berkumpul banyak orang?
Rasulullah menjawab:

«نَعَمْ، فِيهِمُ الْمُسْتَبْصِرُ وَالْمَجْبُورُ وَابْنُ السَّبِيلِ، يَهْلِكُونَ مَهْلَكًا وَاحِدًا، وَيَصْدُرُونَ مَصَادِرَ شَتَّى، يَبْعَثُهُمُ اللهُ عَلَى نِيَّاتِهِمْ»

“Iya, diantar mereka ada yang tahu maksud mereka (sengaja ikut), ada yang terpaksa, dan ada yang cuma lewat bersama, mereka semua dibinasakan satu kali pembinasaan (keseluruhan), kemudian mereka dibangkitkan dengan cara yang berbeda, Allah membangkitkan mereka (dan menghisabnya) sesuai niatnya masing-masing”

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Biografi Aisyah radhiyallahu 'anha secara singkat dan beberapa keistimewaannya bisa dibaca di sini "Aisyah binti Abi Bakr dan keistimewaannya".

2.      Hadits ini menunjukkan bahwa amalan seseorang tergantung niatnya.

Dari Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang (berniat) hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa (berniat) hijrah karena dunia yang bakal diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya itu." [Sahih Bukhari dan Muslim]

3.      Hadits ini dijadikan dalil oleh Imam Bukhari bahwa syarat sah puasa adalah niat.

Jumhur ulama mensyaratkan penetapan niat puasa wajib sebelum terbit fajar, dengan dalil hadits Hafshah radhiyallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ»

“Barangsiapa yang tidak meniatkan puasa sebelum fajar, maka tidak ada (tidak sah) puasa untuknya”. [Sunan Abi Dawud: Sahih]

Sedangkan puasa sunnah, boleh menetapkan niat setelah terbit fajar, dangan dalil hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepadaku pada suatu hari dan bertanya:

«هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟»

“Apakah kalian punya sesuatu (yang bisa aku makan)?”
Kami menjawab: Tidak ada.
Rasulullah bersabda:

«فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ»

“Jika demikian maka kau berpuasa”
Kemudian beliau mendatangi kami di hari yang lain, maka kami berkata: Wahai Rasulullah, telah dihadiakan untuk kami “Hais” (sejenis makanan dari kurma)!
Maka Rasulullah bersabda:

«أَرِينِيهِ، فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا»

“Perlihatkanlah kepadaku, sungguh aku bangun pagi dalam keadaan puasa”
Kemudian beliau makan. [Sahih Muslim]

4.      Hadits ini menunjukkan bahaya berteman dan berdekatan dengan orang yang buruk sifatnya, karena hukuman yang akan menimpa mereka bisa jadi mengenai juga orang yang baik.

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الأنفال: 25]

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. [Al-Anfaal:25]

Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan sekalipun diantara kami ada orang-orang yang shalih?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:

«نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الخَبَثُ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Iya, jika keburukan sudah banyak terjadi”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ» [سنن الترمذي: صحيح]

“Sesungguhnya manusia jika mereka melihat seorang dzalim kemudian mereka tidak mencegahnya (menasehatinya) maka sebentar lagi Allah akan mendatangkan hukuman darinya secara umum”. [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu; Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

" مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً " [صحيح البخاري ومسلم]

"Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi, bisa jadi penjual minyak wangi itu akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wanginya sedangkan pandai besi hanya akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan bau tidak sedapnya." [Sahih Bukhari dan Muslim]

Pembahasan ketiga:

Hadits kedua: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang mendirikan shalat di malam lailatul Qadr dengan keimanan dan harapan, maka diampuni untuknya semua dosanya yang telah lalu. Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan keimanan dan harapan, maka diampuni untuknya semua dosanya yang telah lalu.

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi singkat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan beberapa keistimewaannya bisa dibaca di sini "Abu Hurairah dan keistimewaannya".

2)      Keutamaan shalat di malam lailatul qadr dan puasa Ramadhan jika dilakukan atas dasar iman (meyakini bahwa Allah memerintahkannya) dan mengharapkan pahala dan ridha Allah semata, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

3)      Pentingnya niat dalam setiap ibadah, dan seseorang tidak mendapatkan sesuatu dari ibadahnya kecuali apa yang ia niatkan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda:

" قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ " [صحيح مسلم]

"Allah tabaraka wa ta'ala berfirman: 'Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan dan menyekutukan Aku dengan selainKu, Aku akan meninggalkannya bersama sekutunya'." [Sahih Muslim]

4)      Hadits ini menunjukkan bahwa kita beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’aalaa mengharapkan pahala dan keridhaan-Nya, tidak seperti yang diajarkan sebagian kaum untuk beribadah kepada Allah tanpa iming-iming pahala dan surga atau takut neraka.

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:

{إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (15) تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا} [السجدة: 15، 16]

Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabb-nya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (mereka tidak tidur malam) dan mereka selalu berdoa (beribadah) kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap. [As-Sajdah: 15-16]

{إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ} [الأنبياء: 90]

Sesungguhnya mereka (para Nabi) adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa (beribadah) kepada kami dengan penuh harap dan cemas (khawatir akan azabnya). Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami. [Al-Anbiyaa’: 90]

5)      Ulama berselisih pendapat tentang waktu terjadinya lailatul qadr, pendapat yang paling kuat adalah sepuluh malam terakhir Ramadhan khususnya pada malam-malam ganjil.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ، مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Berusahalah mendapatkan lailatul qadr pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَابْتَغُوهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ، وَابْتَغُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ [صحيح البخاري ومسلم]

“Maka carilah lalitul qadr pada sepuluh akhir Ramadhan, dan carilah ia pada setiap malam ganjil”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«أَرَى رُؤْيَاكُمْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَاطْلُبُوهَا فِي الْوِتْرِ مِنْهَا» [صحيح مسلم]

“Aku melihat mimpi kalian (tentang lailatul qadr) terjadi pada sepulu terakhir (Ramadhan), maka carilah ia pada malam-malam ganjilnya”. [Sahih Muslim]

NB: Imam Bukhari rahimahullah akan mengkhususkan beberapa bab tentang lailatul qadr pada kitab Shalat At-Tarawih setelah kitab Ash-Shaum.

Wallahu ta’aalaa a’lam!


Lihat juga:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...