Selasa, 31 Maret 2026

Hati yang mencintai Allah

بسم الله الرحمن الرحيم

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ، وَكَانَ يَقْرَأُ لِأَصْحَابِهِ فِي صَلَاتِهِ فَيَخْتِمُ بِـ {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ}، فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: «سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟» فَسَأَلُوهُ فَقَالَ: لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ»

Nabi mengutus seseorang dalam misi perang, dan orang tersebut selalu membaca surah dalam shalatnya ketika mengimami sahabatnya kemudian mengakhirinya dengan surah “Al-Ikhlash”. Maka ketika mereka kembali, mereka menceritakan hal itu kepada Nabi . Maka beliau bersabda: “Tanyakan kepadanya, karena alasan apa ia melakukan hal itu?” Kemudian mereka menanyakannya, maka ia menjawab: “Karena surah tersebut adalah sifat Ar-Rahman (Allah) dan aku suka membacanya”. Maka Rasulullah bersabda: “Sampaikan kepadanya bahwasanya Allah telah mencintainya”. [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءٍ، وَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ بِهَا لَهُمْ فِي الصَّلَاةِ مِمَّا يُقْرَأُ بِهِ افْتَتَحَ بِـ ﴿قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ﴾ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا ثُمَّ يَقْرَأُ سُورَةً أُخْرَى مَعَهَا وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا: إِنَّكَ تَفْتَتِحُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ثُمَّ لَا تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِأُخْرَى، فَإِمَّا تَقْرَأُ بِهَا، وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِأُخْرَى؟! فَقَالَ: مَا أَنَا بِتَارِكِهَا، إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِذَلِكَ فَعَلْتُ، وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ!، وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِهِمْ، وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ، فَلَمَّا أَتَاهُمُ النَّبِيُّ ﷺ أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ: «يَا فُلَانُ مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ؟ وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُومِ هَذِهِ السُّورَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ؟» فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّهَا! فَقَالَ: «حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ»

Ada seorang sahabat dari kaum Anshar yang menjadi imam bagi mereka di Masjid Quba'. Setiap kali ia memulai membaca suatu surat dalam shalat, ia selalu memulainya dengan surat "Qul huwallaahu ahad" hingga selesai, kemudian ia membaca surat lain setelahnya. Dan ia melakukan hal itu di setiap rakaat. Maka para sahabatnya (makmum) menegurnya, "Sesungguhnya engkau memulai dengan surat ini (Al-Ikhlas), lalu engkau tidak merasa cukup hanya dengan surat itu sehingga engkau membaca surat lain. Sebaiknya, engkau membaca surat ini saja (tanpa surat lain), atau tinggalkan surat ini dan ganti dengan surat lain." Sahabat itu menjawab, "Aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ingin aku tetap menjadi imam kalian dengan cara seperti itu, maka akan aku lakukan. Namun jika kalian tidak suka, maka aku akan tinggalkan kalian (mencari imam lain)." Para sahabat memandangnya sebagai orang yang paling utama di antara mereka, dan mereka tidak suka jika digantikan oleh orang lain. Ketika Nabi datang kepada mereka, mereka menceritakan perihal tersebut. Beliau bertanya kepada sahabat itu, "Wahai Fulan, apa yang menghalangimu untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh sahabat-sahabatmu? Apa yang mendorongmu untuk selalu membaca surat ini di setiap rakaat?" Sahabat itu menjawab, "Sesungguhnya aku mencintai surat ini." Maka Rasulullah bersabda, "Kecintaanmu kepada surat ini akan memasukkanmu ke dalam surga." [Shahih Bukhari]

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Biografi Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Lihat: Aisyah binti Abi Bakr dan keistimewaannya

2.      Biografi Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

3.      Keutamaan membaca surah “Al-Ikhalas”.

Diantaranya:

a)      Mendapatkan cinta dari Allah 'azza wajalla.

b)      Mendapatkan surga.

c)       Membacanya tanda keimanan.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata:

أَنَّ رَجُلًا قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ، فَقَرَأَ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى: {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ} [الكافرون: 1] حَتَّى انْقَضَتِ السُّورَةُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «هَذَا عَبْدٌ عَرَفَ رَبَّهُ»، وَقَرَأَ فِي الْآخِرَةِ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} [الإخلاص: 1] حَتَّى انْقَضَتِ السُّورَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «هَذَا عَبْدٌ آمَنَ بِرَبِّهِ»

Seorang laki-laki berdiri kemudian mendirikan shalat dua raka’at sebelum shalat subuh, maka ia membaca pada raka’at pertama {Qul yaa Ayyuhal Kafirun} [Al-Kafirun] sampai selesai. Maka Nabi bersabda: “Ini hamba yang mengenal Tuhannya”. Dan membaca pada raka’at kedua {Qul huwallahu ahad} [Al-Ikhlash] sampai selesai, maka Rasulullah bersabda:  “Ini hamba yang beriman kepada Tuhannya”. [Shahih Ibnu Hibban]

d)      Mendapatkan perlindungan.

‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu berkata:

بَيْنَا أَنَا أَقُودُ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ رَاحِلَتَهُ فِي غَزْوَةٍ إِذْ قَالَ: «يَا عُقْبَةُ، قُلْ فَاسْتَمَعْتُ»، ثُمَّ قَالَ: «يَا عُقْبَةُ، قُلْ فَاسْتَمَعْتُ»، فَقَالَهَا الثَّالِثَةَ، فَقُلْتُ: مَا أَقُولُ؟ فَقَالَ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} فَقَرَأَ السُّورَةَ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَرَأَ: {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ} وَقَرَأْتُ مَعَهُ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَرَأَ {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ} فَقَرَأْتُ مَعَهُ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَالَ: «مَا تَعَوَّذَ بِمِثْلِهِنَّ أَحَدٌ»

Di saat aku menuntun tunggangan Rasulullah dalam satu peperangan, tiba-tiba beliau bersabda:  “Wahai ‘Uqbah, bacalah dan aku akan mendengarkannya”. Kemudian bersabda lagi: “Wahai ‘Uqbah, bacalah dan aku akan mendengarkannya” Kemudian bersabda lagi untuk yang ketiga kalinya, maka aku berkata: Apa yang harus saya baca? Maka beliau bersabda: {Qul huwallahu ahad} [Al-Ikhlash] Kemudian beliau membacanya sampai selesai, kemudian membaca {Qul a’udzu birabbil falaq} [Al-Falaq] Dan aku membaca bersamanya sampai selesai, kemudian beliau membaca {Qul a’udzu birabbinnas} [An-Naas]. Dan aku membaca bersamanya sampai selesai, kemudian beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun yang minta perlindungan sepertinya (yang lebih baik dan mulia)” [Sunan An-Nasa’iy: Shahih]

e)      Mendapatkan ampunan.

Dari seorang sahabat Nabi ; Bahwasanya Nabi mendengar seseorang membaca surah “Al-Ikhlash”, maka beliau bersabda:

«أَمَّا هَذَا فَقَدْ غُفِرَ لَهُ» [مسند أحمد: صحيح]

“Adapun orang ini, maka dosanya telah diampuni”. [Musnad Ahmad: Shahih]

f)        Sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.

Dari Abu Ad-Dardaa’ radhiyallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«{قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ» [صحيح مسلم]

“Surah Al-Ikhlash sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an”. [Shahih Muslim]

Lihat: Keutamaan surah Al-Ikhlash

4.      Surah “Al-Ikhlas” menjelaskan sifat Allah ‘azza wajalla.

Ubaiy bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu berkata:

«أَنَّ المُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ: انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ! فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ} [الإخلاص] » [سنن الترمذي: حسنه الألباني]

Kaum musyrikin berkata kepada Rasulullah : Sebutkanlah sifat Tuhanmu kepada kami! Maka Allah menurunkan: Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, …” [Surah Al-Ikhlash] [Sunan At-Tirmidziy: Hasan]

Lihat: Tafsir surah Al-Ikhlash

5.      Tanda cinta seseorang kepada Allah ‘azza wajalla.

Diantaranya:

a.       Meneladani Rasulullah .

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [آل عمران: 31]

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali 'Imran:31]

Ø  Al-Hasan Al-Bashriy dan selainnya dari ulama salaf rahimahumullah berkata:

«زَعَمَ قَوْمٌ أَنَّهُمْ يُحِبُّونَ اللَّهَ فَابْتَلَاهُمُ اللَّهُ بِهَذِهِ الْآيَةِ، فَقَالَ: {قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ}» [تفسير ابن كثير]

“Beberapa orang mengaku bahwa mereka mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini: {Katakanlah: "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian}” [Tafsir Ibnu Katsir]

Ø  Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

«هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ حَاكِمَةٌ عَلَى كُلِّ مَنِ ادَّعَى مَحَبَّةَ اللَّهِ، وَلَيْسَ هُوَ عَلَى الطَّرِيقَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ فَإِنَّهُ كَاذِبٌ فِي دَعْوَاهُ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ، حَتَّى يَتَّبِعَ الشَّرْعَ الْمُحَمَّدِيَّ وَالدِّينَ النَّبَوِيَّ فِي جَمِيعِ أَقْوَالِهِ وَأَحْوَالِهِ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: "مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عَلَيْهِ أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ"» [تفسير ابن كثير]

Ayat yang mulia ini adalah penentu terhadap setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah sedangkan ia tidak berada di atas jalan Nabi Muhammad, maka seseungguhnya pengakuannyaitu dusta dengan sendirinya, sampai ia mengikuti syari’at Muhammad dan agamanya pada setiap perkataan dan keadaannya, sebagaimana diriwayatkan dalam Ash-Shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Siapa yang melakukan suatu amalan ibadah yang bukan termasuk perkara agama kami maka itu tertolak”. [Tafsir Ibnu Katsir]

b.      Suka membaca Al-Qur’an.

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُحِبَّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَقْرَأْ فِي الْمُصْحَفِ» [حلية الأولياء: حسنه الألباني]

"Barangsiapa yang gembira mencintai Allah dan Rasul-Nya maka hendaklah ia membaca Al-Qur'an dengan mushaf". [Hilyatul Auliya': Hasan]

c.       Jujur, amanah, dan berbuat baik kepada tetangga.

Dari Abdurrahman bin Abi Qurad radhiyallahu ‘anhu;

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ تَوَضَّأَ يَوْمًا فَجَعَلَ أَصْحَابُهُ يَتَمَسَّحُونَ بِوَضُوئِهِ، فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ: «مَا يَحْمِلُكُمْ عَلَى هَذَا؟» قَالُوا: حُبُّ اللهِ وَرَسُولِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُحِبَّ اللهَ وَرَسُولَهُ، أَوْ يُحِبَّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ فَلْيَصْدُقْ حَدِيثَهُ إِذَا حَدَّثَ، وَلْيُؤَدِّ أَمَانَتَهُ إِذَا ائْتُمِنَ، وَلْيُحْسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَهُ» [شعب الإيمان للبيهقي: حسنه الألباني]

Bahwasanya Nabi berwudhu suatu hari, lalu para sahabatnya membasuh diri dari sisa wudhu beliau, maka Nabi bertanya kepada mereka: Apa yang membuat kalian melakukan ini? Mereka menjawab: Karena cinta kepada Allah dan RasulNya. Maka Nabi bersabda: Siapa yang senang untuk mencintai Allah dan RasulNya atau ia dicintai oleh Allah dan RasulNya maka hendaklah ia jujur ucapannya saat berbicara, menunaikan amanah ketika diberi amanah, dan memperbaiki hubungannya dengan tetangganya”. [Syu’abul Iman karya Al-Baihaqiy: Dihasankan oleh syekh Albaniy]

Lihat: Tafsir ayat 31 surah Ali ‘Imran; “Tanda cinta kepada Allah dan keutamaannya”

6.      Keutamaan mencintai Allah ‘azza wajalla.

Diantaranya:

a)      Pokok keimanan.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ} [البقرة: 165]

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. [Al-Baqarah: 165]

b)      Merasakan manisnya iman.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Ada tiga hal yang barangsiapa memilikinya maka ia akan mendapatkan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, (2) mencintai seseorang hanya karena Allah, (3) dan tidak ingin kembali pada kekafiran sebagaimana ia tidak ingin dilemparkan ke dalam neraka”. [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Hadits Anas bin Malik; Manisnya iman

c)       Bekal terbaik setelah kematian.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا». قَالَ: لاَ شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»

Seorang Sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: Kapan hari kiamat tiba? Rasulullah balik bertanya: "Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?" Sahabat tersebut menjawab: Tidak ada yang spesial, kecuali aku mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: " Engkau akan bersama siapa yang kau cinta di akhirat nanti". Anas berkata: Tidak pernah kami gembira seperti kegembiraan kami mendengar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:" Engkau akan bersama siapa yang kau cinta di akhirat nanti". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Sudah siapkah kita mati?

7.      Boleh mengulangi satu ayat atau surah di setiap raka’at.

Dari seorang laki-laki dari Juhainah radhiyallahu ‘anhu;

«أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَقْرَأُ فِي الصُّبْحِ: ﴿إِذَا زُلْزِلَتِ الأَرْضُ﴾ فِي الرَّكْعَتَيْنِ كِلْتَيْهِمَا، فَلَا أَدْرِي أَنَسِيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَمْ قَرَأَ ذَلِكَ عَمْدًا»

“Bahwa ia mendengar Nabi membaca pada salat Subuh surat {Idza zulzilatil ard} [Az-Zalzalah] pada kedua rakaatnya. Maka aku tidak tahu apakah Rasulullah lupa atau beliau sengaja membacanya demikian”. [Sunan Abi Daud: Shahih]

Ø  Syekh Albaniy rahimahullah berkata:

«والظاهر أنّه ﷺ فعَل ذلك عمدًا للتشريع»

"Dan tampaknya beliau (Nabi ) melakukan hal itu dengan sengaja untuk memberikan syariat (pengajaran)." [Sifat shalat Nabi]

8.      Yang berhak menjadi imam adalah yang terbaik dari mereka.

Dari Abu Mas'ud Al-Asnhariy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّه،ِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّة،ِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِه،ِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ»

"Yang berhak menjadi imam atas suatu kaum adalah: (1) yang paling menguasai bacaan kitabullah (Alquran), jika dalam bacaan kapasitasnya sama, maka (2) yang paling tahu terhadap sunnah, jika dalam as sunnah (hadits) kapasitasnya sama, maka (3) yang paling dahulu hijrah, jika dalam hijrah sama, maka (4) yang pertama-tama masuk Islam, dan jangan seseorang mengimami seseorang di daerah wewenangnya, dan jangan duduk di rumah seseorang di ruang tamunya, kecuali telah mendapatkan izin darinya." [Shahih Muslim no.1078]

Ø  Dalam riwayat lain:

«فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا»

"Jika mereka dalam hijrah sama, maka yang lebih dewasa”. [Shahih Muslim no.1079]

Lihat: Hadits Malik bin Al-Huwairits; Shalatlah seperti kalian melihatku shalat

9.      Boleh mengadukan imam kepada penguasa jika ada sesuatu yang dianggap keliru.

Jabir -radhiyallahu 'anhu- berkata, "Mu'adz bin Jabal Al-Anshariy -radhiyallahu 'anhu- shalat Isya' mengimami para sahabatnya, lalu dia memanjangkan bacaannya atas mereka, maka seorang laki-laki dari kalangan kami berpaling, lalu shalat sendirian. Lalu Mu'adz diberitahu tentangnya, maka dia berkata, 'Dia seorang yang munafik.'

Ketika hal tersebut sampai pada laki-laki tersebut maka dia mengunjungi Rasulullah -shallallahu'alaihi wasallam-, lalu mengabarkan kepadanya sesuatu yang dikatakan Mu'adz. Maka Nabi -shallallahu'alaihi wasallam- bersabda kepadanya:

«أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذ؟ُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِـ {الشَّمْسِ وَضُحَاهَا} وَ{سَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى}، وَ{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ} وَ{اللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى}»

'Apakah kamu ingin menjadi pemfitnah (yang membuat orang lain lari dari agama) wahai Mu'adz? Apabila kamu mengimami manusia, maka bacalah surat {Asy-Syams wa dhuhaha}, serta {Sabbihisma Rabbika al-A'la}, dan {Iqra' Bismi Rabbika}, serta {Wa al-Laili idza Yaghsya}." [Shahih Muslim]

Lihat: 6 gibah yang dibolehkan

Wallahu a'lam!

Lihat juga: Perbarui iman dalam hati - Membangun hati dengan keimanan - Allah sebaik-baik yang mensucikan Hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...