Kamis, 21 Mei 2026

Kitab Adab bab 23-26; Adab kepada anak yatim, janda dan orang miskin

بسم الله الرحمن الرحيم

A.    Bab 23

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: حُسْنُ الْعَهْدِ مِنَ الْإِيمَانِ.

Bab: Mengenang kebaikan bagian dari keimanan.

Judul bab ini diambil dari potongan hadits Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:

جاءت عجوزٌ إلى النبي ﷺ وهو عندي، فقال لها رسول الله ﷺ: «من أنتِ؟» قالت: أنا جَثّامةُ المُزَنيَّة، فقال: «بل أنتِ حَسّانةُ المُزَنية، كيف أنتم؟ كيف حالُكم؟ كيف كنتم بعدَنا؟» قالت: بخير بأبي أنت وأمي يا رسول الله، فلما خَرَجَت قلتُ: يا رسول الله، تُقبِلُ على هذه العجوز هذا الإقبالَ! فقال: «إنها كانت تأتينا زمنَ خديجةَ، وإِنَّ حُسْنَ العهدِ من الإيمان» [المستدرك للحاكم: حسن]

"Seorang wanita tua datang kepada Nabi saat beliau berada di sisiku. Rasulullah bertanya kepadanya, 'Siapa kamu?' Wanita itu menjawab, 'Aku adalah Jatsaamah al-Muzaniyyah.' Maka beliau bersabda, 'Sebaliknya, engkau adalah Hassaanah al-Muzaniyyah. Bagaimana keadaan kalian? Bagaimana kabarmu? Bagaimana keadaan kalian setelah kami (sepeninggal Khadijah)?' Wanita itu menjawab, 'Baik-baik saja, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah.' Ketika wanita itu keluar, aku (Aisyah) bertanya, 'Wahai Rasulullah, engkau menyambut wanita tua itu dengan sambutan yang begitu hangat?' Maka beliau bersabda, 'Sesungguhnya dia biasa datang kepada kami pada zaman Khadijah. Dan sungguh, menjaga hubungan baik (dengan orang yang pernah berjasa) adalah bagian dari iman.'" [Al-Mustadrak Al-Hakim: Hasan]

Dalam bab ini, imam Bukhari menjelaskan tentang pentingnya seseorang selalu mengenang kebaikan orang lain kepadanya karena itu adalah bagian dari keimanan. Alasannya:

a. Jika seseorang mengenang kebaikan orang lain sekalipun sudah tiada maka itu menunjukkan bahwa hubungan mereka selama ini betul-betul didasari karena keimanan.

Lihat: Saling mencintai karena Allah

b. Mengenang kebaikan orang lain adalah bagian dari rasa syukur kepada Allah.

Lihat: Hadits An-Nu’man bin Basyir; Mensyukuri nikmat Allah

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٥٨ - حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ [حماد بن أسامة]، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: «مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ، وَلَقَدْ هَلَكَتْ قَبْلَ أَنْ يَتَزَوَّجَنِي بِثَلَاثِ سِنِينَ، لِمَا كُنْتُ أَسْمَعُهُ يَذْكُرُهَا، وَلَقَدْ أَمَرَهُ رَبُّهُ أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ، وَإِنْ كَانَ لَيَذْبَحُ الشَّاةَ ثُمَّ يُهْدِي فِي خُلَّتِهَا مِنْهَا»

Telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Isma'il, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah [Hammad bin Usamah], dari Hisyam, dari Ayahnya, dari Aisyah radhiallahu'anha dia berkata, "Aku tidak pernah merasa cemburu kepada siapapun melebihi kecemburuanku kepada Khadijah sungguh dia telah wafat tiga tahun sebelum beliau menikahiku. Menurut apa yang aku dengar beliau suka menyebut-nyebutnya. Sungguh, Rabb-nya telah memerintahkan kepada beliau agar memberi kabar gembira kepadanya dengan istana dari permata di surga. Apabila Rasulullah menyembelih seekor kambing, maka beliau suka menghadiahkannya kepada para sahabat-sahabatnya Khadijah daripada dirinya."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.       Biografi Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Lihat: Aisyah binti Abi Bakr dan keistimewaannya

2.       Keutamaan sifat cemburu.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah bersabda:

«إِنَّ اللهَ يَغَارُ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ عَلَيْهِ» [صحيح مسلم]

“Sesungguhnya Allah memiliki kecemburuan dan orang mukmin juga memiliki kecemburuan. Kecemburuan Allah adalah apabila seorang mukmin mengerjakan apa yang di haramkan oleh Allah." [Shahih Muslim]

Ø  Dari Jabir bin 'Atik radhiyallahu 'anhu; Nabi berkata:

«مِنَ الْغَيْرَةِ مَا يُحِبُّ اللَّهُ وَمِنْهَا مَا يُبْغِضُ اللَّهُ، فَأَمَّا الَّتِي يُحِبُّهَا اللَّهُ فَالْغَيْرَةُ فِي الرِّيبَةِ، وَأَمَّا الْغَيْرَةُ الَّتِي يُبْغِضُهَا اللَّهُ فَالْغَيْرَةُ فِي غَيْرِ رِيبَةٍ» [سنن أبي داود: حسن]

"Diantara rasa cemburu ada yang dicintai Allah, dan diantara rasa cemburu tersebut ada yang dibenci Allah. Adapun rasa cemburu yang Allah 'Azza wa Jalla cintai adalah cemburu dalam keraguan, adapun rasa cemburu yang Allah 'Azza wa Jalla benci adalah kecemburuan yang tidak dalam keraguan. [Sunan Abi Daud: Hasan]

3.       Cara menghindari cemburu yang berlebihan:

a)      Ridha dengan takdir Allah ta’aalaa.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah bersabda:

«ارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ» [سنن الترمذي: حسن]

"Terimalah pemberian Allah dengan rela niscaya kau menjadi orang terkaya." [Sunan Tirmidziy: Hasan]

b)      Meninggalkan dugaan-dugaan yang tidak beralasan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا» [صحيح البخاري ومسلم]

“Jauhilah buruk sangka, karena buruk sangkah adalah ungkapan yang paling dusta, dan janganlah kalian menguping pembicaraan orang lain, dan jangan mencari-cari keburukan orang lain”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

c)       Minta perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ} [الأعراف: 200]

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui." [Al-A'raaf:200]

Ø  Dari Aisyah, istri Nabi , bahwa ia menceritakan:

أن رسول الله ﷺ خرج من عندها ليلا. قالت فغرت عليه. فجاء فرأى ما أصنع. فقال «مالك؟ يا عائشة! أغرت؟» فقلت: وما لي لا يغار مثلي على مثلك؟ فقال رسول الله ﷺ «أقد جاءك شيطانك؟» قالت: يا رسول الله! أو معي شيطان؟ قال «نعم» قلت: ومع كل إنسان؟ قال «نعم» قلت: ومعك؟ يا رسول الله! قال «نعم. ولكن ربي أعانني عليه حتى أسلم». [صحيح مسلم]

Rasulullah keluar dari sisinya pada malam hari. Aisyah berkata, "Maka aku pun cemburu (kepada beliau)." Lalu beliau kembali dan melihat apa yang aku lakukan. Beliau bertanya, "Ada apa denganmu wahai Aisyah? Apakah kamu cemburu?" Aku menjawab, "Mengapa aku tidak boleh cemburu terhadap orang sepertimu?" Maka Rasulullah bersabda, "Apakah setanmu telah datang kepadamu?" Aisyah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah aku memiliki setan?" Beliau menjawab, "Ya." Aisyah bertanya, "Apakah setiap manusia (memiliki setan)?" Beliau menjawab, "Ya." Aisyah bertanya, "Apakah engkau juga (memiliki setan) wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya, namun Tuhanku menolongku menghadapinya sehingga ia (setan itu) menjadi muslim (tunduk)." [Shahih Muslim]

d)      Menggunakan akal dalam menentukan sikap.

e)      Berusaha untuk meninggalkan rasa cemburu.

f)        Berdo’a agar dijauhkan dari sifat cemburu yang berlebihan.

Ummu Salamah berkata: Rasulullah mengutus kepadaku Hathib binn Abi Balta'ah melamarku untuknya, maka aku berkata: Sesungguhnya aku memiliki seorang putri, dan aku sangat pecemburu.

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membalas:

«أَمَّا ابْنَتُهَا فَنَدْعُو اللهَ أَنْ يُغْنِيَهَا عَنْهَا، وَأَدْعُو اللهَ أَنْ يَذْهَبَ بِالْغَيْرَةِ»

"Adapun putrinya maka kita berdo'a kepada Allah semoga mencukupinya darinya, dan aku berdo'a kepada Allah agar menghilangkan rasa cemburunya". [Shahih Muslim]

g)      Mempertimbangkan akibat buruknya.

Anas radhiallahu'anhu berkata;

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ عِنْدَ بَعْضِ نِسَائِهِ، فَأَرْسَلَتْ إِحْدَى أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِينَ بِصَحْفَةٍ فِيهَا طَعَامٌ، فَضَرَبَتِ الَّتِي النَّبِيُّ ﷺ فِي بَيْتِهَا يَدَ الخَادِمِ، فَسَقَطَتِ الصَّحْفَةُ فَانْفَلَقَتْ، فَجَمَعَ النَّبِيُّ ﷺ فِلَقَ الصَّحْفَةِ، ثُمَّ جَعَلَ يَجْمَعُ فِيهَا الطَّعَامَ الَّذِي كَانَ فِي الصَّحْفَةِ، وَيَقُولُ: «غَارَتْ أُمُّكُمْ» ثُمَّ حَبَسَ الخَادِمَ حَتَّى أُتِيَ بِصَحْفَةٍ مِنْ عِنْدِ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا، فَدَفَعَ الصَّحْفَةَ الصَّحِيحَةَ إِلَى الَّتِي كُسِرَتْ صَحْفَتُهَا، وَأَمْسَكَ المَكْسُورَةَ فِي بَيْتِ الَّتِي كَسَرَتْ [صحيح البخاري]

Suatu ketika Nabi berada di tempat istrinya. Lalu salah seorang Ummahatul Mukminin mengirimkan hidangan berisi makanan. Maka istri Nabi yang beliau saat itu sedang berada di rumahnya memukul piring yang berisi makanan, maka beliau pun segera mengumpulkan makanan yang tercecer ke dalam piring, lalu beliau bersabda, "Ibu kalian rupanya sedang terbakar cemburu." Kemudian beliau menahan sang Khadim (pembantu) hingga didatangkan piring yang berasal dari rumah istri yang beliau pergunakan untuk bermukim. Lalu beliau menyerahkan piring yang bagus kepada istri yang piringnya pecah, dan membiarkan piring yang pecah di rumah istri yang telah memecahkannya. [Shahih Bukhari]

h)      Menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat.

i)        Mengutamakan sikap optimis dan berharap baik.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda: Allah ta'aalaa berfirman (hadits qudsi):

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي» [صحيح البخاري ومسلم]

"Aku sesuai prasangka hambak-Ku terhadap-Ku". [Shahih Bukhari dan Muslim]

j)        Meninggalkan kekhawatiran berlebihan akan terjadinya keburukan.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ} [الناس: 5، 6]

Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. [An-Naas: 5 - 6]

Lihat: Rapor merah istri

4.       Pernkahan Rasulullah dengan Aisyah radhiyallahu 'anha.

Lihat: Hadits pernikahan Aisyah dengan Rasulullah

5.       Keistimewaan Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu 'anha.

Lihat: Keistimewaan Khadijah binti Khuwailid

6.       Kemuliaan akhlak Nabi .

Lihat: Akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

7.       Jangan melupakan kebaikan orang lain.

Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, Nabi bersabda:

«أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ» قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: «يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita. Karena mereka sering mengingkari". Ditanyakan: "Apakah mereka mengingkari Allah?" Beliau bersabda: "Mereka mengingkari pemberian suami, mengingkari kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap seseorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata: 'aku belum pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu". [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Kitab Iman bab 21; Mengingkari kebaikan suami, dan istilah kekufuran di bawah kekufuran

8.       Besarnya cinta kepada pasangan yang telah wafat tidak boleh menjadi penghalang untuk menikah lagi.

Ummu Salamah berkata, Saya mendengar Rasulullah bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156]، اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا»، قَالَتْ: فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ، قُلْتُ: أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ؟ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا، فَأَخْلَفَ اللهُ لِي رَسُولَ اللهِ ﷺ [صحيح مسلم]

"Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, 'INAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI RAAJI'UUN ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya).' melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik." Ummu Salamah berkata, Ketika Abu Salamah telah meninggal, saya bertanya, "Orang muslim manakan yang lebih baik daripada Abu Salamah? Dia adalah orang-orang yang pertama-tama hijrah kepada Rasulullah . Kemudian akupun mengucapkan doa tersebut. Maka Allah pun menggantikannya bagiku Rasulullah ." [Shahih Muslim]

Lihat: Pernikahan Nabi ﷺ dengan Aisyah dan Saudah

9.       Berbuat baik kepada kerabat dan teman-teman istri.

Aisyah radhiallahu'anha berkata:

مَا غِرْتُ عَلَى نِسَاءِ النَّبِيِّ ﷺ، إِلَّا عَلَى خَدِيجَةَ وَإِنِّي لَمْ أُدْرِكْهَا، قَالَتْ: وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا ذَبَحَ الشَّاةَ، فَيَقُولُ: «أَرْسِلُوا بِهَا إِلَى أَصْدِقَاءِ خَدِيجَةَ» قَالَتْ: فَأَغْضَبْتُهُ يَوْمًا، فَقُلْتُ: خَدِيجَةَ فَقَالَ: رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا» [صحيح مسلم]

Saya tidak pernah merasa cemburu kepada para istri Rasulullah yang lain kecuali kepada Khadijah, meskipun ia tidak hidup semasa dengan saya. Pernah, pada suatu hari, ketika Rasulullah menyembelih seekor kambing, beliau berkata, 'Berikanlah sebagian daging kambing kepada teman-teman Khadijah!' maka saya marah kepada Rasulullah sambil berkata; Khadijah?" Lalu beliau menjawab, "Sesungguhnya aku benar-benar telah dianugerahi cinta Khadijah." [Shahih Muslim]

B.     Bab 24

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: فَضْلِ مَنْ يَعُولُ يَتِيمًا.

Bab: Keutamaan mengasuh anak yatim

٥٦٥٩ - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ [سلمة بن دينار] قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا». وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبابةِ وَالْوُسْطَى.

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdul Wahab, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz bin Abi Hazim [Salamah bin Dinar], ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ayahku, ia berkata: Aku mendengar Sahl bin Sa'ad, dari Nabi , beliau bersabda, "Aku dan orang yang menanggung anak yatim berada di surga seperti ini." Beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya, yaitu telunjuk dan jari tengah."

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi Sahl bin Sa’ad As-Sa’idiy radhiyallahu ‘anhuma.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2)      Keutamaan mengasuh anak yatim.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ} [الضحى : 9]

Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. [Adh-Dhuha: 9]

{وَأَن تَقُومُوا لِلْيَتَامَىٰ بِالْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا} [النساء : 127]

Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya. [An-Nisaa: 127]

Ø  Abu Hurariah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah bersabda:

«كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ»

"Orang yang menanggung anak yatim miliknya atau milik orang lain, aku dan dia seperti dua ini di surga."

Imam Malik mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah. [Shahih Muslim]

Ø  Dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

أتى النبيَّ - ﷺ - رجلٌ يشكو قَسوةَ قلبِهِ. قال: «أتُحِبُّ أنْ يلينَ قلبُك، وتُدرِكَ حاجتَك؟ ارْحَمِ اليتيمَ، وامسَحْ رأْسه، وأطْعِمْهُ مِنْ طَعامِك؛ يَلِنْ قلبُكْ، وتُدرِكْ حاجتَك». [صحيح الترغيب والترهيب]

"Seseorang datang kepada Nabi mengeluhkan kerasnya hatinya. Beliau bersabda: 'Apakah kamu ingin hatimu menjadi lembut dan terkabul keperluanmu? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah dia makanan dari makananmu, niscaya hatimu akan menjadi lembut dan keperluanmu akan terkabul.'" [Shahih at-Targhib wat-Tarhib]

Lihat: Tafsir surah "Al-Ma'un"

3)      Menyampaikan ilmu dengan Isyarat.

Lihat: Kitab Ilmu bab 24; “Bab: Orang yang menjawab fatwa dengan isyarat tangan atau kepada”

4)      Nabi memuliakan orang yang mengasuh anak yatim karena beliau pernah merasakan yatim.

5)      Bentuk-bentuk mengasuh anak yatim:

a. Menyayanginya, mengusap kepalanya, dan memberikan perhatian.

b. Menjaga hartanya.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا ۚ وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا} [النساء : 6]

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu). [An-Nisaa: 6]

c. Menikahinya.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ} [النساء : 3]

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.  [An-Nisaa: 3]

d. Menikahi ibunya.

e. Menafkahi kebutuhan hidupnya.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوفًا} [النساء : 8]

Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. [An-Nisaa: 8]

6)      Orang-orang yang bersama Nabi di surga:

Lihat: Kuingin bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di surga

C.     Bab 25

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ.

Bab: Menyantuni janda

٥٦٦٠ - حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ، يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ [مرسلا] قَالَ: «السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوْ: كَالَّذِي يَصُومُ النَّهَارَ وَيَقُومُ اللَّيْلَ».

Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Abdillah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Shafwan bin Sulaim, ia memarfukkannya kepada Nabi [secara mursal], beliau bersabda: "Orang yang menyantuni para janda dan orang-orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah atau seperti orang yang berpuasa di siang harinya dan mengerjakan salat di malam harinya."

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ الدِّيلِيِّ، عَنْ أَبِي الْغَيْثِ [سالم] مَوْلَى ابْنِ مُطِيعٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ مِثْلَهُ.

Telah menceritakan kepada kami Isma'il, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Tsaur bin Zaid ad-Daili, dari Abu Al-Ghaits [Salim] bekas budak Ibnu Muthi', dari Abu Hurairah, dari Nabi dengan hadis yang semisalnya.

D.    Bab 26

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٢٦ - باب: السَّاعِي عَلَى الْمِسْكِينِ.

Bab: Menyantuni orang miskin

٥٦٦١ - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَبِي الْغَيْثِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ». وَأَحْسِبُهُ قَالَ - يَشُكُّ الْقَعْنَبِيُّ -: «كَالْقَائِمِ لَا يَفْتُرُ، وَكَالصَّائِمِ لَا يُفْطِرُ».

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah, telah menceritakan kepada kami Malik dari Tsaur bin Zaid dari Abu Al-Ghaits dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu dia berkata, Rasulullah bersabda, "Orang yang membantu para janda dan orang-orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah -aku mengira beliau juga bersabda -(Al-Qa'nabiy ragu) -: Dan seperti orang yang salat malam tidak pernah istirahat, dan seperti orang puasa tidak berbuka."

Penjelasan singkat dua hadits di atas:

1.       Biografi Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: Abu Hurairah dan keistimewaannya

2.       Keutamaan menyantuni janda dan orang miskin.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ» [صحيح مسلم]

“Barangsiapa yang menghilangkan dari seorang mu’min satu musibah dari musibah dunia maka Allah akan menghilangkan darinya satu musibah dari musibah hari kiamta, dan barangsiapa yang memudahkan bagi orang yang kesulitan maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat, dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat, dan Allah senantiapa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menulong saudaranya”. [Sahih Musim]

3.       Sedekah bernilai jihad, shalat dan puasa.

Lihat: Keutamaan zakat, infaq, dan sedekah dalam As-Sunnah

Wallahu a'lam!

Lihat juga: Kitab Adab Bab 19-22; Kasih sayang kepada anak kecil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...