Selasa, 23 Juni 2026

Kitab Adab bab 28-32; Adab bertetangga

بسم الله الرحمن الرحيم

A.    Bab 28.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: الوصاءة بِالْجَارِ.

“Bab: Wasiat untuk berbuat baik kepada tetangga”

Dalam bab ini imam Bukhari menjelaskan tentang wajibnya berbuat baik kepada tetangga, dengan menyebutkan satu ayat dan 2 hadits yang semakna dari Aisyah dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

وَقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾ [النساء: ٣٦]

Dan firman Allah Ta'ala: {Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, ... } [An-Nisaa': 36]

Lengkap ayat ini menunjukkan perintah berbuat baik kepada tetangga, Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا} [النساء: 36]

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. [An-Nisaa': 36]

Makna tetangga dekat dan tetangga jauh:

a. Tetangga dekat adalah kerabat dan tetangga jauh yang bukan kerabat.

b. Tetangga dekat adalah yang muslim, dan tetangga jauh adalah yang non muslim.

c. Dekat dan jauh dari segi tempat.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٦٨ - حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ مُحَمَّدٍ [بن عمرو بن حزم]، عَنْ عَمْرَةَ [بنت عبد الرحمن بن سعد بن زرارة]، عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ»

Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Abu Uwais, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Yahya bin Sa'id dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Bakr bin Muhammad [bin ‘Amr bin Hazm], dari 'Amrah [binti Abdirrahman bin Sa’d bin Zurarah], dari Aisyah radhiallahu'anha dari Nabi beliau bersabda, "Jibril senantiasa mewasiatkanku untuk berbuat baik terhadap tetangga sehingga aku mengira tetangga juga akan mendapatkan harta waris."

٥٦٦٩ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِنْهَالٍ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ [بن زيد بن عبد الله بن عمر]، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ»

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Minhal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai', ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Umar bin Muhammad [bin Zayd bin Abdillah bin Umar], dari Ayahnya, dari Ibnu Umar radhiallahu'anhuma dia berkata, Rasulullah bersabda, "Jibril senantiasa mewasiatkanku untuk berbuat baik terhadap tetangga sehingga aku mengira tetangga juga akan mendapatkan harta waris."

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Lihat: Aisyah binti Abi Bakr dan keistimewaannya

2)      Biografi Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

3)      Perhatian Jibril kepada Nabi .

4)      Keutamaaan berbuat baik kepada tetangga.

Diantaranya:

1.      Kedudukan terbaik di sisi Allah subhanahu wata’aalaa.

Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma berkata; Rasulullah bersabda:

«خَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ، وَخَيْرُ الجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ» [سنن الترمذي: صحيح]

"Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah seorang yang terbaik terhadap temannya. Dan tetangga yang paling terbaik di sisi Allah adalah seorang yang paling baik baik terhadap tetangganya." [Sunan Tirmidziy: Shahih]

2.      Menguatkan keimanan.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah bersabda:

«أَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا» [سنن الترمذي: حسن]

"Berbuat baiklah terhadap tetanggamu niscaya kamu menjadi orang mukmin." [Sunan Tirmidziy: Hasan]

3.      Menambah kekayaan dan memanjangkan umur.

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha; Rasulullah bersabda:

«إِنَّهُ مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ ، فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الْجِوَارِ يَعْمُرَانِ الدِّيَارَ، وَيَزِيدَانِ فِي الْأَعْمَارِ» [مسند أحمد: صحيح]

"Sesungguhnya barangsiapa yang diberi bagiannya dari sifat lemah lembut maka ia telah diberi bagiannya dari kebaikan dunia dan akhirat, dan silaturahmi, akhlak yang mulia, dan berbuat baik kepada tetangga akan menambah kekayaan dan memanjangkan umur". [Musnad Ahmad: Shahih]

4.      Mendapatkan ampunan.

Dari Anas radhiyallahu 'anhu; Nabi bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَشْهَدُ لَهُ أَرْبَعَةٌ أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْ جِيرَانِهِ الْأَدْنَيْنَ، إِلَّا قَالَ: قَدْ قَبِلْتُ عِلْمَكُمْ فِيهِ، وَغَفَرْتُ لَهُ مَا لَا تَعْلَمُونَ»

"Tidak ada seorang muslim yang meninggal kemudian ada empat tetangga rumah dekatnya yang datang kepadanya, melainkan Allah akan berfirman: Sungguh Aku telah menerima amalnya dengan kehadiran kalian dan aku mengampuninya dengan apa yang kalian tidak tahu." [Musnad Ahmad: Hasan ligairih]

Lihat: Adab bertetangga dalam Islam

5)      Berbuat baik kepada tetangga sekalipun non muslim.

Abdullah bin Amru radhiyallahu 'anhuma pernah menyembelih kambing, lalu berkata: Apakah kalian telah beri tetanggaku yang Yahudi? Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:

«مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ» [سنن أبي داود: صحيح]

"Jibril senantiasa memberiku nasihat agar aku berbuat baik kepada tetanggaku, hingga aku punya perkiraaan bahwa dia akan menjadikannya ahli waris." [Sunan Abi Daud: Shahih]

B.     Bab 29.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: إثم من لا يأمن جاره بوائقه.

"Bab: Dosa seorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya"

Dalam bab ini imam Bukhari menjelaskan tentang bahaya berbuat buruk kepada tetangga, dengan menyebutkan 2 hadits yang semakna dari Abu Syuraih (secara muttashil) dan Abu Hurairah (secara mu’allaq) radhiyallahu ‘anhum.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

﴿يوبقهن﴾ [الشورى: ٣٤]: يهلكهن. ﴿موبقًا﴾ [الكهف: ٥٢]: مهلكًا.

{Yuubiqhunna} [Asy-Syuuraa: 34] artinya kapal-kapal itu dibinasakanNya. {Maubiqan} [Al-Kahf: 52] artinya tempat kebiasaan.

Imam Bukhari menyebutkan dua ayat ini untuk menjelaskan makna "bawaiq". Lengkapnya Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَمِنْ آيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ (32) إِن يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَىٰ ظَهْرِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (33) أَوْ يُوبِقْهُنَّ بِمَا كَسَبُوا وَيَعْفُ عَن كَثِيرٍ} [الشورى : 32-34]

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal di tengah (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaannya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, atau kapal-kapal itu dibinasakan-Nya karena perbuatan mereka atau Dia memberi maaf sebagian besar (dari mereka). [Asy-Syuuraa: 32-34]

{وَيَوْمَ يَقُولُ نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُم مَّوْبِقًا} [الكهف : 52]

Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Dia berfirman: "Serulah olehmu sekalian sekutu-sekutu-Ku yang kamu katakan itu". Mereka lalu memanggilnya tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka). [Al-Kahf: 52]

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٧٠ - حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ: حَدَّثَنَا [محمد بن عبد الرحمن بن المغيرة بن الحارث] ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ سَعِيدٍ [المقبري]، عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ [خويلد الخزاعي]: أَنّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ». قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ».

Telah menceritakan kepada kami Ashim bin Ali, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdirrahman bin Al-Mugirah bin Al-Harits] Ibnu Abu Dzi'ib, dari Sa'id [Al-Maqburiy], dari Abu Syuraih bahwasanya Nabi bersabda, "Demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman." Ditanyakan kepada beliau, "Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah?" beliau bersabda, "Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya."

تَابَعَهُ شَبابةُ [بن سوار المدايني] وَأَسَدُ بْنُ مُوسَى. وَقَالَ حُمَيْدُ بْنُ الْأَسْوَدِ، وَعُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، وَشُعَيْبُ بْنُ إسحق: عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ.

Riwayat ini dikuatkan pula oleh Syababah [bin Suwwar Al-Madayiniy] dan Asad bin Musa. Dan berkata Humaid bin Al Aswad, Utsman bin Umar, Abu Bakr bin 'Ayyasy dan Syu'aib bin Ishaq, dari Ibnu Abu Dzi'b, dari Al-Maqburiy, dari Abu Hurairah."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.       Biografi Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2.       Biografi Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: Abu Hurairah dan keistimewaannya

3.       Bersumpah dan mengulangi ucapan untuk menegaskan.

4.       Keimanan bisa bertambah dan bisa berkurang.

Lihat: Kitab Iman bab 34; Bertambah dan berkurangnya iman

5.       Ancaman bagi orang yang mengganggu tetangganya:

1)      Tidak sempurna keimanannya.

2)      Berhak mendapatkan laknat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Seorang berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي جَارًا يُؤْذِينِي، فَقَالَ: «انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَتَاعَكَ إِلَى الطَّرِيقِ» ، فَانْطَلَقَ فَأَخْرِجَ مَتَاعَهُ، فَاجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَقَالُوا: مَا شَأْنُكَ؟ قَالَ: لِي جَارٌ يُؤْذِينِي، فَذَكَرْتُ لِلنَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَتَاعَكَ إِلَى الطَّرِيقِ»، فَجَعَلُوا يَقُولُونَ: اللَّهُمَّ الْعَنْهُ، اللَّهُمَّ أَخْزِهِ. فَبَلَغَهُ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى مَنْزِلِكَ، فَوَاللَّهِ لَا أُؤْذِيكَ [الأدب المفرد للبخاري: صحيح]

Wahai Rasulullah, sungguh saya punya tetangga yang suka menyakitiku! Maka Rasulullah bersabda: “Pergilah, kemudian keluarkan barang-barangmu ke jalan!” Maka ia pergi lalu mengeluarkan barang-barangnya (dari rumah). Maka orang-orang mengerumunginya dan bertanya: Ada apa denganmu? Ia menjawab: Saya punya tetangga yang selalu menyakitiku, lalu aku adukan kepada Nabi dan beliau bersabda: “Pergilah, kemudian keluarkan barang-barangmu ke jalan!” Maka orang-orang berkata: “Ya Allah, laknatlah ia (tetangganya itu), ya Allah, hinakanlah ia” Maka tetangganya itu mendatanginya dan berkata: Kembalilah ke rumahmu, karena demi Allah aku tidak akan menyakitimu lagi. [Al-Adab Al-Mufrad karya Al-Bukhariy: Shahih]

3)      Tidak masuk surga.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ» [صحيح مسلم]

"Tidak akan masuk surga, orang yang mana tetangganya tidak aman dari bahayanya." [Shahih Muslim]

4)      Menjadi penghuni neraka.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Seseorang bertanya: Ya Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah (seorang wanita) terkenal dengan banyak melakukan salat, puasa, dan sedekah, akan tetapi ia menyakiti tetangganya dengan lidahnya?

Rasulullah bersabda:

«هِيَ فِي النَّارِ»

"Ia adalah penghuni neraka!"

Orang itu bertanya lagi: Ya Rasulullah, si Fulanah yang lain terkenal dengan sedikit melakukan puasa, sedekah dan salat, ia hanya bersedekah dengan secuil keju akan tetapi ia tidak menyakiti tetangganya dengan lidahnya?

Rasulullah bersabda:

«هِيَ فِي الْجَنَّةِ» [مسند أحمد: صحيح]

"Ia adalah penghuni surga!" [Musnad Ahmad: Sahih]

C.     Bab 30.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا.

Bab: Jangan seorang tetangga meremehkan pemberian untuk tetangganya

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٧١ - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ، هُوَ الْمَقْبُرِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ: «يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ، لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ»

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Al Laits, telah menceritakan kepada kami Sa'id yaitu Al-Maqburi dari Ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, Nabi bersabda, "Wahai para wanita muslimah, janganlah antara tetangga yang satu dengan yang lainnya saling meremehkan walaupun hanya dengan memberi kaki kambing."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.       Jangan meremehkan pemberian orang lain.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Nabi bersabda:

«لَوْ دُعِيتُ إِلَى ذِرَاعٍ، أَوْ كُرَاعٍ، لَأَجَبْتُ، وَلَوْ أُهْدِيَ إِلَيَّ ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ»

"Sekiranya aku diundang untuk menyantap sepotong daging lengan (kambing) atau sepotong kaki (kambing), niscaya aku akan penuhi undangan tersebut. Dan sekiranya ada yang menghadiahkan kepadaku sepotong daging lengan atau sepotong kaki, niscaya akan aku terima." [Shahih Bukhari]

2.       Berbuat baik kepada tetangga walau sedikit.

Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata: Kekasih saya, Rasulullah pernah berpesan kepada saya:

«إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ، فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ» [صحيح مسلم]

'Apabila kamu memasak kuah sayur, maka perbanyaklah airnya, lalu lihatlah jumlah keluarga tetanggamu dan berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan baik.'" [Shahih Muslim]

D.    Bab 31.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: (مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ»

Bab: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah ia mengganggu tetangganya

Dalam bab ini Imam Bukhari menyebutkan 2 hadits dari Abu Hurairah dan Abu Syuraih radhiyallahu 'anhuma.

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٧٢ - حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ [سلام بن سليم]، عَنْ أَبِي حَصِينٍ [عثمان بن عاصم]، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Ahwash [Salam bin Sulaim], dari Abu Hashin [Utsman bin ‘Ashim], dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah ia mengganggu tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia bertutur kata baik atau lebih baik diam."

Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Syarah Arba'in hadits (15) Abu Hurairah; Sifat orang beriman kepada Allah dan hari akhirat

Hadits Abu Syuraih Al-'Adawiy radhiyallahu 'anhu

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٧٣ - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ: حَدَّثَنِي سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ، عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْعَدَوِيِّ قَالَ: سَمِعَتْ أُذُنَايَ، وَأَبْصَرَتْ عَيْنَايَ، حِينَ تَكَلَّمَ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ». قَالَ: وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ، وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Al Laits dia berkata, telah menceritakan kepadaku Sa'id Al Maqburi dari Abu Syuraih Al 'Adawi dia berkata, "Saya telah mendengar dengan kedua telingaku dan melihat dengan kedua mataku ketika Rasulullah mengucapkan sabdanya, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tetangganya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, dan menjamunya" dia bertanya, 'Apa yang dimaksud dengan menjamunya wahai Rasulullah?" beliau menjawab, "Yaitu pada siang dan malam harinya, bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah bagi tamu tersebut." Dan beliau bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berkata dengan baik atau diam."

Nb: Hadits ini diriwayatkan juga pada Kitab Ar-Riqaq, bab 23; Menjaga lisan

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Akhlak yang baik tanda baiknya iman.

Lihat: Aqidah sebagai pondasi akhlak mulia

2)      Keutamaan memuliakan tamu.

Lihat: Adab menerima tamu dalam Islam

3)      Keutamaaan menjaga ucapan.

Lihat: Hadits Abu Sa’id; Pesan seluruh tubuh kepada lidah

E.     Bab 32.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: حَقِّ الْجِوَارِ فِي قُرْبِ الْأَبْوَابِ.

Bab: Hak bertetangga karena berdekatan pintu

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٧٤ - حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو عِمْرَانَ [عبد الملك بن حبيب] قَالَ: سَمِعْتُ طَلْحَةَ [بن عبد الله]، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي جَارَيْنِ، فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي؟ قَالَ: «إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بابا»

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, iaberkata, telah mengabarkan kepadaku Abu 'Imran, ia berkata, Aku mendengar Thalhah dari Aisyah, ia berkata, Aku pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, manakah yang lebih dahulu kuberikan hadiah?" Beliau menjawab, "Yang lebih dekat dengan pintu rumahmu."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.       Semangat Aisyah radhiyallahu 'anha menuntut ilmu dan beramal.

Lihat: Sifat mulia ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

2.       Tetangga yang lebih utama untuk diperlakukan baik:

a. Yang terdekat dengan pintu rumah.

b. Kerabat (ada hubungan keluarga).

Dari Salman bin 'Amir radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ، وَالصَّدَقَةُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ: صَدَقَةٌ، وَصِلَةٌ» [مسند أحمد: صحيح]

"Bersedekah kepada fakir miskin mendapat pahala sedekah, dan bersedekah kepada kerabat mendapat dua pahala: Pahala sedekah dan pahala silaturahmi". [Musnad Ahmad: Sahih]

Lihat: Silaturahmi

c. Seiman.

Dari Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ» [سنن أبي داود: حسنه الألباني]

"Janganlah engaku berteman kecuali dengan sorang yang beriman, dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa". [Sunan Abi Daud: Hasan]

Lihat: Adab menerima tamu dalam Islam

d. Yang lebih membutuhkan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانًا وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ» [المعجم الكبير للطبراني: حسن لغيره]

"Tidak beriman kepadaku (dengan keimanan yang sempurna) orang yang tidur di malam hari sedangkan tetangganya kelaparang di sampingnya dan ia tahu hal tersebut". [Al-Mu'jamul Kabiir karya Ath-Thabaraniy: Hasan]

Wallahu a'lam!

Lihat juga: Kitab Adab bab 27; Menyayangi manusia dan hewan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...