Kamis, 25 Juni 2026

Hikmah dalam berda’wah (Fiqhi Da’wah)

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah -subhanahu wata'ala- berfirman:

{ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ} [النحل: 125]

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [An-Nahl: 125]

Diantara bentuk sikap bijak (hikmah) dalam berda'wah:

1.      Mendahulukan perkara yang lebih penting.

Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Ketika Nabi mengutus Mu'adz radhiyallahu 'anhu ke negeri Yaman, Beliau berwasiat:

«إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ، فَإِذَا عَرَفُوا اللَّهَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ، فَإِذَا فَعَلُوا، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً مِنْ أَمْوَالِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ، فَإِذَا أَطَاعُوا بِهَا، فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Kamu akan mendatangi Ahlul Kitab, maka hendaklah da'wah yang pertama kali lakukan kepada mereka adalah mengajak mereka untuk ber'ibadah kepada Allah. Jika mereka telah mengenal Allah, maka beritahukanlah bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam. Dan jika mereka telah melaksanakannya, maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shadaqah (zakat) dari harta mereka yang akan diberikan kepada orang-orang faqir dari mereka. Jika mereka telah menaatinya, maka ambillah dari mereka (sesuai ketentuannya) dan berhati-hatilah dari harta terbaik manusia (jangan diambil dengan paksa)". [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dalam riwayat lain:

«إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى ... »

“Sesungguhnya engkau mendatangi kaum ahli kitab, maka hendaklah yang paling pertama engkau ajak mereka adalah meng-tauhid-kan Allah ta'ala, ...” [Sahih Bukhari]

Ø  Dan dalam riwayat lain:

«... فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّه ... »

“... Maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa "tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku (Muhammad) adalah utusan Allah ... “ [Sahih Muslim]

Ø  'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

«إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنَ المُفَصَّلِ، فِيهَا ذِكْرُ الجَنَّةِ وَالنَّارِ، حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الإِسْلاَمِ نَزَلَ الحَلاَلُ وَالحَرَامُ، وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ: لاَ تَشْرَبُوا الخَمْرَ، لَقَالُوا: لاَ نَدَعُ الخَمْرَ أَبَدًا، وَلَوْ نَزَلَ: لاَ تَزْنُوا، لَقَالُوا: لاَ نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا» [صحيح البخاري]

"Sesungguhnya yang paling pertama turun adalah surah Al-Mufashal (dari surah Qaaf sampai An-Naas), di dalamnya menyebutkan tentang surga dan neraka, sampai pada saat orang-orang sudah masuk Islam, turunlah ayat yang berkaitan dengan halal dan haram. Kalau saja ayat yang paling pertama turun mengatakan "Jangan minum khamar!", mereka akan mengatakan "Kami tidak akan meninggalkan khamar selama-lamnya!". Dan kalau saja ayat yang paling pertama turun mengatkan "Jangan kalian berzina!", mereka akan mengatakan "Kami tidak akan meninggalkan perzinaan selamanya!"". [Shahih Bukhari]

Lihat: Pokok-pokok da’wah salaf

2.      Menyampaikan sesuai dengan kemampuan.

Allah -subhanahu wata'ala- berfirman:

{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء: 36]

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [Al-Israa': 36]

Ø  Dari Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ» [صحيح مسلم]

“Barangsiapa dari kalian yang melihat kemungkaran maka perbaikilah dengan tanganmu, kalau kamu tidak mampu maka dengan lidahmu, kalau kamu tidak bisa maka dengan hatimu, dan itu adalah selemah-lemahnya iman”. [Sahih Muslim]

3.      Menasehati penguasa secara sembunyi-sembunyi.

Dari 'Iyadh bin Ganm -radhiyallahu ‘anhu-; Rasulullah bersabda:

«مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ، فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ، فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ»

"Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terang-terangan, tapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua. Jika diterima memang begitu, jika tidak maka dia telah melaksakan kewajibannya". [Musnad Ahmad: Hasan ligairih]

Lihat: Syarah Arba’in hadits (28) Al-'Irbadh; Kewajiban taat kepada pemimpin

4.      Mendahulukan orang yang lebih membutuhkan.

Abu Rifa'ah radhiyallahu 'anhu berkata:

«انْتَهَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ يَخْطُبُ، قَالَ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ رَجُلٌ غَرِيبٌ، جَاءَ يَسْأَلُ عَنْ دِينِهِ، لَا يَدْرِي مَا دِينُهُ، قَالَ: فَأَقْبَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ، وَتَرَكَ خُطْبَتَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَيَّ، فَأُتِيَ بِكُرْسِيٍّ، حَسِبْتُ قَوَائِمَهُ حَدِيدًا، قَالَ: فَقَعَدَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ، وَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ، ثُمَّ أَتَى خُطْبَتَهُ، فَأَتَمَّ آخِرَهَا» [صحيح مسلم]

"Aku tiba di tempat Rasulullah saat beliau sedang berkhutbah. Lalu aku berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, ada orang asing yang sengaja datang kepada Anda untuk bertanya tentang agama, ia tidak tahu apa agamanya." Maka Rasulullah pun mendatangiku dan memutuskan khutbahnya. Ketika beliau sampai di dekatku, diberikanlah sebuah kursi -aku memperkirakan kaki-kakinya terbuat dari besi- untuk beliau duduki. Selanjutnya Rasulullah duduk di kursi tersebut dan mengajarkan kepadaku perihal agama yang telah diajarkan Allah kepada beliau. Setelah itu, beliau meneruskan khutbahnya hingga selesai." [Shahih Muslim]

5.      Berusaha memberi kemudahan.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Seorang A'raby kencing berdiri dalam mesjid, maka para sahabat ingin memukulnya, lalu Rasulullah bersabda kepada mereka:

«دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ» [صحيح البخاري]

“Biarkan ia menyelesaikan kencingnya, kemudian kalia sirami kencingnya denga seember air, sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan ummat, bukan untuk menyusahkannya.” [Sahih Bukhari]

Ø  Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

«مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بَيْنَ أَمْرَيْنِ، أَحَدُهُمَا أَيْسَرُ مِنَ الْآخَرِ، إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا، كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Rasulullah tidak disuruh memilih antara dua hal, salah satunya lebih mudah dari yang lainnya, kecuali beliau memilih yang paling mudah dari keduanya, selama itu bukan dosa, tapi kalau yang lebih mudah itu dosa maka beliau adalah orang yang paling penjauhinya". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Beberapa bentuk mempermudah dalam menyampaikan ilmu:

a)      Memilih waktu yang tepat.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:

إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ مَرَّ بِهَا وَهِيَ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ، فَقَالَ: «اتَّقِي اللَّهَ، وَاصْبِرِي»، فَقَالَتْ: إِلَيْكَ عَنِّي، فَإِنَّكَ خِلْوٌ مِنْ مُصِيبَتِي، قَالَ: فَجَاوَزَهَا وَمَضَى، فَمَرَّ بِهَا رَجُلٌ فَقَالَ: مَا قَالَ لَكِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ؟ قَالَتْ: مَا عَرَفْتُهُ؟ قَالَ: إِنَّهُ لَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ، قَالَ: فَجَاءَتْ إِلَى بَابِهِ فَلَمْ تَجِدْ عَلَيْهِ بَوَّابًا، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَاللَّهِ مَا عَرَفْتُكَ، فَقَالَ النَّبِيُّ : «إِنَّ الصَّبْرَ عِنْدَ أَوَّلِ صَدْمَةٍ» [صحيح البخاري ومسلم]

Sesungguhnya Nabi pernah melewati wanita itu saat ia menangis di suatu kuburan, lantas beliau menasihatinya: 'Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah!' Si wanita itu malah menjawab; 'Sana kau menjauh, sebab kamu tidak mengalami seperti musibahku ini!' Kata Anas, Nabi pun segera menjauh dan pergi. Lantas ada seseorang yang melewati wanita itu seraya mengatakan; 'Apa yang disabdakan Rasulullah kepadamu?' Si wanita tadi menjawab; 'Saya tidak tahu kalau orang tadi Rasulullah.' Laki-laki itu mengatakan, "Orang tadi itu Rasulullah !" Anas berkata; Si wanita terus datang ke pintu rumah Nabi dan ia tidak menemukan seorang penjaga pintunya, lantas mengatakan; 'Wahai Rasulullah, Demi Allah, aku tidak mengenalmu!' Lantas Nabi bersabda, "Kesabaran itu terlihat pada saat pertama kali benturan." [Shahih Bukhari dan Muslim]

b)      Memilih materi yang sesuai dengan kemampuan pendengar.

Mu'adz bin Jabal radhiallahu 'anhu berkata:

كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ ﷺ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ فَقَال: «يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِه، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّه؟» قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ! قَالَ: «فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا». فَقُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاس؟  قَال: «لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا»

"Aku pernah membonceng di belakang Nabi di atas seekor keledai yang diberi nama 'Ufair lalu Beliau bertanya: "Wahai Mu'adz, tahukah kamu apa hak Allah atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Allah?" Aku jawab: "Allah dan Rosul-Nya yang lebih tahu". Beliau bersabda: "Sesungguhnya hak Allah atas para hamba-Nya adalah hendankah beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan hak para hamba-Nya atas Allah adalah seorang hamba tidak akan disiksa selama dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun". Lalu aku berkata: "Wahai Rasulullah, apakah boleh aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?" Beliau menjawab: "Jangan kamu beritahukan mereka sebab nanti mereka akan berpasrah saja". [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu berkata:

«حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ» [صحيح البخاري]

“Sampaikanlah kepada orang-orang apa yang bisa mereka pahami, sukakah kalian jika Allah dan Rasul-Nya didustakan?!” [Shahih Bukhari]

Ø  Abdullah bin Mas'ud radiyallahu 'anhu berkata:

«مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً» [صحيح مسلم]

“Tidaklah kamu menyampaikan sesuatu kepada satu kaum yang belum bisa mereka pahami kecuali hal itu akan menjadi fitnah (cobaan dan masalah) bagi sebagian mereka”. [Shahih Muslim]

Lihat: Kitab Ilmu bab 48 dan 49; Memilih ilmu yang akan diamalkan dan disampaikan

c)       Tidak terlalu lama dalam menyampaikan.

Dari Ammar radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda:

«إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ، وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ، مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ، فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ، وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ، وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا» [صحيح مسلم]

“Sesungguhnya, panjang shalat seseorang dan khutbahnya yang ringkas, menunjukkan kedalaman ilmu (pemahaman)nya, maka panjangkanlah shalat kalian dan singkatkan khutbah, dan sesungguhnya dari penjelasan yang baik bisa menyihir (pendengarnya)”. [Sahih Muslim]

Ø  Abu Mas'ud Al-Anshariy radhiyallahu 'anhu berkata: Seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata: "Sesungguhnya aku meninggalkan shalat Subuh (berjama'ah) karena si Fulan yang terlalu panjang bacaannya".

Maka aku tidak pernah melihat Rasulullah marah pada saat menasehati seperti marahnya hari itu, kemudian beliau bersabda:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ، فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ، فَلْيُوجِزْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ، وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ» [صحيح مسلم]

"Wahai sekalia manusia, sesungguhnya ada dari kalian yang membuat orang lari (dari ajaran Islam), maka siapapun dari kalian yang menjadi imam bagi orang-orang, maka hendaklah ia mempersingkat, karena dibelakangnya (makmum) ada orang tua, orang lemah, dan yang punya hajat." [Shahih Bukhari dan Muslim]

d)      Tidak terlalu sering.

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu memberi pelajaran kepada orang-orang setiap hari Kamis, kemudian seseorang berkata, "Wahai Abu Abdurrahman, sungguh aku ingin kalau Anda memberi pelajaran kepada kami setiap hari". Dia berkata:

«أَمَا إِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ، وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ، كَمَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا، مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا»

"Sungguh aku enggan melakukannya, karena aku takut membuat kalian bosan, dan aku ingin memberi pelajaran kepada kalian sebagaimana Nabi memberi pelajaran kepada kami karena khawatir kebosanan akan menimpa kami". [Shahih Bukhari]

Ø  Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata:

«حَدِّثِ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ، فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلاَثَ مِرَارٍ، وَلاَ تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا القُرْآنَ، وَلاَ أُلْفِيَنَّكَ تَأْتِي القَوْمَ وَهُمْ فِي حَدِيثٍ مِنْ حَدِيثِهِمْ، فَتَقُصُّ عَلَيْهِمْ، فَتَقْطَعُ عَلَيْهِمْ حَدِيثَهُمْ فَتُمِلُّهُمْ، وَلَكِنْ أَنْصِتْ، فَإِذَا أَمَرُوكَ فَحَدِّثْهُمْ وَهُمْ يَشْتَهُونَهُ» [صحيح البخاري]

"Berbicaralah (menyampaikan ilmu) kepada orang-orang setiap Jumat sekali, jika kamu enggan, maka dua kali, dan apabila kamu ingin lebih banyak lagi, hendaknya hanya tiga kali (setiap Jumat). Janganlah membuat orang-orang bosan dengan Al-Qur'an ini. Jangan sekali-kali aku dapatkan kamu mendatangi sebuah kaum ketika mereka berbincang-bincang, tiba-tiba kamu menyampaikan ilmu dan memotong pembicaraan mereka hingga mereka bosan. Akan tetapi diamlah terlebih dahulu. Jika mereka telah mempersilakanmu, silakan kamu bicara, sehingga mereka antusias (semangat) mendengarkan tutur bicaramu." [Shahih Bukhari]

e)      Tidak tergesa-gesa dalam penyampaian.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَسْرُدُ سَرْدَكُمْ هَذَا، يَتَكَلَّمُ بِكَلَامٍ يٌبَيِّنُهُ فَصْلًا، يَحْفَظُهُ مَنْ سَمِعَهُ» [مسند أحمد: حسن]

“Rasulullah tidak berbicara cepat seperti kalian ini, ia berbicara dengan ucapan yang jelas, bisa dihafal oleh orang yang mendengarnya”. [Musnad Ahmad: Hasan]

Ø  Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

«كَانَ النَّبِيّ ﷺ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاَثًا، حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ» [صحيح البخاري]

“Rasulullah jika berbicara terkadang mengulanginya sebanyak tiga kali sampai dipahami”. [Shahih Bukhari]

Lihat: Kitab Ilmu bab 11 dan 12; Memilih waktu untuk menyampaikan dan menimba ilmu

f)        Sesekali diselingi dengan canda.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا، قَالَ: «إِنِّي لَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا»

Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah engkau sering bersendau gurau dengan kami!? Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya aku tidak mengatakan sesuatu kecuali kebenaran". [Sunan Tirmidziy: Shahih]

Lihat: Canda tawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

g)      Tidak keluar dari apa yang dibawa oleh Nabi (guluw).

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah memerintahkanku di pagi hari melempar Al-'Aqabah (jamrah) saat beliau berada di atas kendaraannya:

«هَاتِ، الْقُطْ لِي»

"Ambilkan aku batu lemparan!"

Maka aku mengambilkannya batu kecil yang dipakai untuk melempar, dan ketika aku meletakkannya di tangannya, beliau bersabda:

«بِأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ» [سنن النسائي: صححه الألباني]

"Dengan batu seperti inilah kalian melempar, dan jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam menjalankan agama karena sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam menjalankan agama". [Sunan An-Nasa'i: Sahih]

Lihat: Syarah Riyadhushalihin Bab (14) Sederhana dalam ketaatan

6.      Meninggalkan perdebatan yang tidak efektif.

Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah bersabda:

«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ»

"Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bershifat gurau, Dan aku juga menjamin rumah di syurga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik." [Sunan Abi Daud: Hasan]

Ø  Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ». ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ ﷺ هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ﴾

"Tidaklah suatu kaum sesat setelah mereka berada di atas petunjuk, kecuali mereka diberi (kemampuan) berdebat (dengan batil)." Kemudian Rasulullah membacakan ayat ini: {"Mereka tidak membantahmu (dengan cara) melainkan untuk berdebat (dengan batil), bahkan mereka adalah kaum yang suka bertengkar."} [Az-Zukhruf: 58] [Sunan Tirmidziy: Hasan]

Lihat: Adab berdebat dan berselisih pendapat

7.      Menjaga persatuan dan menghindari perpecahan.

Dari Abu Musa Al-Asy'ariy radhiyallahu 'anhu; Nabi mengutus Mu'adz dan Abu Musa ke negeri Yaman dan Beliau berpesan:

«يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا، وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا»

"Mudahkanlah (urusan) dan jangan dipersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari (tidak tertarik) dan bekerja samalah kalian berdua dan jangan berselisih". [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Sikap seorang muslim ketika ada perbedaan

Wallahu  a'lam!

*Materi ini disampaikan pada “Bimbingan dan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Muballigh” yang diadakan oleh Pemkot Makassar di Makassar Golden Hotel 23/6-2026M oleh Dr. Umar Mansyur Lc, MA.

Lihat juga: Jujur dalam berda’wah kepada Allah - Bersabar di jalan da’wah - Kitab Ilmu bab 2; Orang yang ditanya suatu ilmu sedangkan ia sedang sibuk dalam pembicaraannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...