بسم
الله الرحمن الرحيم
Abu Bakr Ahmad bin Ibrahim Al-Isma’iliy Asy-Syafi’iy (w.371H) rahimahullah
berkata:
[إثبات المشيئة]
ويقولون ما يقوله المسلمون بأسرهم: (ما شاء الله كان، وما لا يشاء
لا يكون)، كما قال تعالى: ﴿وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ﴾ [الإنسان: ٣٠]
Mereka mengucapkan sebagaimana yang diucapkan oleh seluruh
umat Islam: "Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak
dikehendaki-Nya tidak akan terjadi," sebagaimana firman Allah: {Dan
kalian tidak menghendaki (sesuatu) kecuali jika Allah menghendaki}
[Al-Insan: 30]
Syarah:
Tidak ada yang bisa lepas dari takdir dan ketetapan
Allah subhanahu wata’aalaa.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا
أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ} [التكوير: 29]
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu)
kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." [At-Takwiir: 27-29]
Lihat: Kehendak Allah kauniyah dan syar’iyah
[علم الله]
ويقولون لا سبيل لأحد أن
يخرج عن علم الله، ولا أن يغلب فعله وإرادته مشيئة الله، ولا أن يبدل علم الله،
فإنه العالم لا يجهل ولا يسهو، والقادر لا يغلب.
"Dan mereka mengatakan, tidak ada jalan bagi seseorang
untuk keluar dari ilmu Allah, tidak pula perbuatan dan kehendaknya mengalahkan
kehendak Allah, dan tidak ada yang dapat mengubah ilmu Allah. Karena Dia-lah
Yang Maha Mengetahui, tidak lalai dan tidak lupa, serta Maha Kuasa, tidak dapat
dikalahkan."
Syarah:
1) Tidak ada yang luput dari ilmu Allah subhanahu
wata’aalaa.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{ذَلِكَ لِتَعْلَمُوا
أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ
اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} [المائدة: 97]
Demikian itu agar kamu tahu, bahwa Sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. [Al-Maidah:97]
{لِتَعْلَمُوا أَنَّ
اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ
عِلْمًا} [الطلاق
: 12]
Agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. [Ath-Thalaq: 12]
2) Tidak ada yang bisa keluar dari kekuasaan
Allah subhanahu wata’aalaa.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ
وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ} [الرحمن: 33]
Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus
(melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah (untuk keluar dari
kekuasaan Allah). Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan
(dari Allah).
[Ar-Rahman: 33]
Lihat: Tafsir surah Ar-Rahman ayat 33; “Tidak ada yang bisa keluar dari kekuasaan Allah”
[القرآن كلام الله]
ويقولون: القرآن كلام
الله غير مخلوق، وإنما كيفما يصرف بقراءة القارئ له، وبلفظه، ومحفوظا في الصدور،
متلوًا بالألسن، مكتوبًا في المصاحف، غير مخلوق، ومن قال بخلق اللفظ بالقرآن يريد
به القرآن، فهو قد قال بخلق القرآن.
"Dan mereka berkata: Al-Qur'an adalah firman Allah,
tidak diciptakan. Namun bagaimanapun ia diungkapkan melalui bacaan seorang
qari, dengan lafalnya, tersimpan di dalam dada, dibaca oleh lisan, dan ditulis
dalam mushaf-mushaf, ia tetap tidak diciptakan. Barangsiapa mengatakan bahwa
lafal Al-Qur'an itu diciptakan, dan yang ia maksud dengan lafal tersebut adalah
Al-Qur'an, maka sungguh ia telah mengatakan bahwa Al-Qur'an itu
diciptakan."
Lihat: Allah berbicara
[أفعال العباد مخلوقة لله]
ويقولون إنه لا خالق على
الحقيقة إلا الله عز وجل، وأن أكساب العباد كلها مخلوقة لله، وأن الله يهدي من
يشاء ويضل من يشاء، لا حجة لمن أضله الله عز وجل، ولا عذر، كما قاله الله عز وجل:
﴿قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ﴾ [الأنعام: ١٤٩] وقال: ﴿كَمَا بَدَأَكُمْ
تَعُودُونَ - فَرِيقًا هَدَى وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلَالَةُ﴾ [الأعراف: ٢٩ - ٣٠] وقال: ﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا
لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ﴾ [الأعراف: ١٧٩] وقال: ﴿مَا أَصَابَ مِنْ
مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ
أَنْ نَبْرَأَهَا﴾ [الحديد: ٢٢] ومعنى «نبرأها» أي نخلقها وبلا خلاف في اللغة، وقال
مخبرًا عن أهل الجنة: ﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا
لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ﴾ [الأعراف: ٤٣] وقال: ﴿أَنْ لَوْ
يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا﴾ [الرعد: ٣١] وقال: ﴿وَلَوْ شَاءَ
رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ -
إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ﴾ [هود: ١١٨ - ١١٩]
"Mereka mengatakan bahwa tidak ada Pencipta yang
sebenarnya selain Allah 'Azza wa Jalla, dan bahwa semua perbuatan hamba
adalah makhluk ciptaan Allah. Dan sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada
siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Tidak ada
alasan bagi orang yang telah disesatkan oleh Allah 'Azza wa Jalla, dan
tidak ada udzur (maaf). Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla: {Katakanlah,
'Milik Allahlah hujah yang sempurna. Maka jika Dia menghendaki, niscaya Dia
memberi petunjuk kepada kalian semua.'} [Al-An'am: 149]. Dan Dia berfirman:
{Sebagaimana Dia telah memulai penciptaanmu, kamu akan kembali. (Kembali
kepada-Nya) seraya berkelompok-kelompok. Sebagian Dia beri petunjuk, dan
sebagian lagi telah tetap kesesatan atas mereka.} [Al-A'raf: 29-30]
Dan Dia berfirman: {Dan sungguh, Kami jadikan (isi
neraka Jahanam) dari kalangan jin dan manusia yang banyak.} [Al-A'raf:
179]. Dan Dia berfirman: {Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi
dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah ada dalam Kitab (Lauhul
Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.} [Al-Hadid: 22]. Makna 'nabra'aha'
(Kami menciptakannya) yaitu Kami menciptakannya, tanpa ada perbedaan pendapat
dalam bahasa Arab."
Dan Dia berfirman, mengabarkan tentang penduduk surga: {Segala
puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kami kepada (surga) ini. Kami tidak
akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami.}
[Al-A'raf: 43]. Dan Dia berfirman: {Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia
memberi petunjuk kepada semua manusia.} [Ar-Ra'd: 31]. Dan Dia berfirman: {Dan
jika Tuhanmu menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia umat yang satu. Tetapi
mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang diberi rahmat oleh
Tuhanmu.} [Hud: 118-119].
Syarah:
Tidak ada sesuatupun yang ada dan terjadi di
alam semesta ini kecuali diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{اللهُ خَالِقُ كُلِّ
شَيْءٍ} [الزمر:
62]
Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala
sesuatu.
[Az-Zumar:62]
{وَاللهُ خَلَقَكُمْ
وَمَا تَعْمَلُونَ} [الصافات:
96]
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu
perbuat itu.
[Ash-Shaaffaat:96]
Ø Dari Hudzaifah
radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«خَلَقَ اللهُ كُلَّ صَانِعٍ ، وَصَنْعَتَهُ» [مسند البزار: صحيح]
"Allah menciptakan semua yang berbuat dan perbuatannya". [Sahih
Al-Jami']
Lihat: Tingkatan Iman kepada Takdir
[الخير والشر بقضاء الله]
ويقولون إن الخير والشر
والحلو والمر، بقضاء من الله عز وجل، أمضاه وقدره، لا يملكون لأنفسهم ضرا ولا نفعا
إلا ما شاء الله، وإنهم فقراء إلى الله عز وجل، لا غنى لهم عنه في كل وقت.
"Dan mereka berkata, bahwa kebaikan dan keburukan,
manis dan pahit, semuanya terjadi karena ketetapan dari Allah 'Azza wa Jalla,
Dia yang melaksanakannya dan mentakdirkannya. Mereka tidak kuasa mendatangkan
bahaya maupun manfaat untuk diri mereka sendiri, kecuali apa yang dikehendaki
Allah. Dan sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fakir kepada Allah 'Azza
wa Jalla, tidak ada kekayaan bagi mereka dari-Nya di setiap waktu."
Syarah:
1) Perbedaan antara kehendak kauniyah dan
syar'iyah:
1. Kehendak
"kauniyah" ada yang baik dan ada yang buruk, sedangkan kehendak
syar'iyah semuanya baik.
2. Kehendak kauniyah mesti
terjadi, sedangkan kehendak syar'iyah tidak mesti terlaksana.
3. Kehendak kauniayah
berkaitan dengan perbuatan dan tindakan Allah subhanahu wata'ala kepada
makhlukNya (tauhud rububiyah), oleh sebab itu kehendak ini mesti terjadi karena
tidak ada yang bisa menghalangi sesuatu yang dikehendaki-Nya.
Sedangkan kehendak syar'iyah berhubungan dengan
perbuatan dan tindakan makhluk dalam menjalankan syari'at Allah (tauhud
uluhiyah). Dan ini tidak akan terlaksana kecuali dengan pertolongan dan rahmat
Allah Yang Maha berkehendak.
4. Setiap makhluk tidak ada
yang tahu apa kehendak kauniyah Allah pada dirinya. Sedangkan kehendak
syar'iyah Allah dapat diketahui melauli kitab Suci, Nabi dan Rasul Allah subhanahu
wata'ala.
5. Kehendak kauniyah tidak
diinginkan secara dzatnya, akan tetapi diinginkan untuk selainnya (untuk tujuan
lain).
Sedangkan kehendak syar'iyah diinginkan untuk dzatnya.
«الإرادة الكونية مقصودة لغيرها، والشرعية
مقصودة لذاتها»
"Kehendak universal (kauniyah) dimaksudkan untuk selainnya,
sedangkan kehendak syariat dimaksudkan untuk dirinya sendiri."
Lihat: Cara menyikapi takdir baik dan buruk
2) Makhluk senantiasa butuh kepada Allah ta’aalaa.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ
أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ} [فاطر: 15]
Hai manusia, kamulah yang membutuhkan kepada Allah; dan Allah
Dialah yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. [Faathir:15]
Lihat: "Al-Ganiy" Yang Maha Kaya
[النزول إلى السماء الدنيا]
وأنه عز وجل ينزل إلى
السماء الدنيا على ما صح به الخبر عن رسول الله ﷺ، بلا اعتقاد كيف فيه.
"Dan bahwa Dia (Allah) 'Azza wa Jalla turun ke
langit dunia, sesuai dengan berita shahih dari Rasulullah ﷺ, tanpa meyakini adanya tata cara
(bagaimana) di dalamnya."
Syarah:
Allah 'azza wajalla turun ke langit dunia secara hakiki, maha
suci Allah dari segala bentuk kekurangan, dan tidak ada sesuatupun yang
menyamai sifatNya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ
لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ
يَقُولُ: "مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي
فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ!» [صحيح البخاري، ومسلم]
“Tuhan kita -Yang maha agung dan maha tinggi- turun setiap malam ke
langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berkata: Siapa yang berdo'a
kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberikan, siapa
yang memohon ampun pada-Ku akan Kuampuni”. [Sahih Bukhari dan Muslim]
Ø Dari Aisyah
radhiyallahu 'anha; Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ
اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو،
ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمِ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟!» [صحيح مسلم]
Tidak ada suatu hari yang paling banyak Allah membebasakan seorang hamba
dari neraka dari hari Arafah, dan sesungguhnya Allah akan mendekat (turun) pada
hari itu dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat dan berkata:
"Apa yang mereka inginkan?" [Sahih Muslim]
Lihat: Allah di atas semua makhluk
[رؤية المؤمنين ربهم في الآخرة]
ويعتقدون جواز الرؤية من
العباد المتقين لله عز وجل في القيامة، دون الدنيا، ووجوبها لمن جعل الله ذلك
ثوابًا له في الآخرة، كما قال: ﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ - إِلَى رَبِّهَا
نَاظِرَةٌ﴾ [القيامة: ٢٢ - ٢٣] وقال في الكفار: ﴿كَلَّا
إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ﴾ [المطففين: ١٥] فلو كان المؤمنون كلهم
والكافرون كلهم لا يرونه، كانوا جميعا عنه محجوبين، وذلك من غير اعتقاد التجسيم في
الله عز وجل ولا التحديد له، ولكن يرونه جل وعز بأعينهم على ما يشاء هو بلا كيف.
Mereka meyakini bolehnya melihat Allah (bagi hamba-hamba
yang bertakwa) pada hari kiamat, tidak di dunia, dan wajibnya hal itu bagi
siapa yang Allah jadikan sebagai pahala di akhirat, sebagaimana firman-Nya: {Wajah-wajah
pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhan mereka melihat.} [Al-Qiyamah:
22-23] Dan firman-Nya tentang orang-orang kafir: {Sekali-kali tidak!
Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan
mereka.} [Al-Muthaffifin: 15]. Seandainya semua orang mukmin dan semua orang
kafir tidak melihat-Nya, tentu mereka semua terhalang dari-Nya. Hal ini tanpa
meyakini adanya penyerupaan bentuk (tajsim) pada Allah 'Azza wa Jalla,
juga tanpa penetapan batasan bagi-Nya. Akan tetapi, mereka melihat-Nya 'Azza
wa Jalla dengan mata kepala mereka sesuai dengan cara yang Dia kehendaki,
tanpa mengetahui bagaimana hakikatnya (bilaa kaif).
Lihat: Melihat Allah di akhirat
Syarah:
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
«قَالَ النَّوَوِيُّ: مَذْهَبُ أَهْلِ
السُّنَّةِ أَنَّ رُؤْيَةَ الْمُؤْمِنِينَ رَبَّهُمْ مُمْكِنَةٌ، وَنَفَتْهَا
الْمُبْتَدِعَةُ مِنَ الْمُعْتَزِلَةِ وَالْخَوَارِجِ، وَهُوَ جَهْلٌ مِنْهُمْ،
فَقَدْ تَضَافَرَتِ الْأَدِلَّةُ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ
الصَّحَابَةِ وَسَلَفِ الْأُمَّةِ عَلَى إِثْبَاتِهَا فِي الْآخِرَةِ
لِلْمُؤْمِنِينَ» [فتح
الباري لابن حجر
(11/ 447)]
“An-Nawawiy berkata: Madzhab Ahlissuunah bahwasanya orang beriman melihat
Rabb mereka adalah sesuatu yang memungkinkan, dan ahlu bid’ah dari kaum
Mu’tazilah dan Khawarij menolaknya, dan itu adalah kebodohan dari mereka.
Sungguh sangat banyak dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan kesepakatan (Ijma’)
sahabat begitu pula kaum salaf dari umat ini yang menetapkan hal itu di akhirat
bagi orang beriman”. [Fathul Bari]
Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 52; Shirath jembatan neraka jahannam
[حقيقة الإيمان]
ويقولون إن الإيمان قول
وعمل ومعرفة، يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية، من كثرت طاعته أزيد إيمانًا ممن هو
دونه في الطاعة.
Mereka mengatakan bahwa iman adalah perkataan, perbuatan,
dan pengetahuan. Iman bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
Barang siapa yang lebih banyak ketaatannya, maka imannya lebih besar daripada
orang yang di bawahnya dalam ketaatan.
Syarah:
1.
Iman terdiri dari empat hal: Keyakinan dalam hati, amalan hati, ucapan lisan,
dan amalan anggota tubuh lainnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ - أَوْ بِضْعٌ
وَسِتُّونَ - شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ،
وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ
الْإِيمَانِ» [صحيح
البخاري ومسلم]
"Keimanan itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih
cabang. Yang paling afdal (tinggi kedudukannya) adalah mengatakan "tiada
Tuhan yang berhak disembah selain Allah", dan yang paling rendah adalah
menjauhkan duri/kotoran dari jalan. Dan rasa malu adalah cabang dari
keimanan". [Sahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Kitab Iman bab 18; Orang yang berpendapat bahwa iman adalah perbuatan
2.
Imam bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.
Dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«لاَ يَزْنِي العَبْدُ حِينَ يَزْنِي وَهُوَ
مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَشْرَبُ حِينَ
يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَقْتُلُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ» قَالَ عِكْرِمَةُ:
قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ: كَيْفَ يُنْزَعُ الإِيمَانُ مِنْهُ؟ قَالَ: «هَكَذَا،
وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ، ثُمَّ أَخْرَجَهَا، فَإِنْ تَابَ عَادَ إِلَيْهِ
هَكَذَا، وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ»
"Tidaklah berzina seorang hamba yang berzina ketika ia berzina dalam
keadaan beriman, dan tidaklah mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman,
tidaklah ia meminum khamr ketika meminumnya dan ia dalam keadaan beriman, dan
tidaklah dia membunuh sedang dia dalam keadaan beriman." Ikrimah berkata:
Saya bertanya kepada 'Ibnu 'Abbas; 'Bagaimana iman bisa dicabut padanya? ' Ibnu
Abbas menjawab: 'Seperti ini', sambil menjalinkan jari-jemarinya, kemudian ia
keluarkan, 'maka jika ia bertaubat, iman itu kembali kepadanya, ' sambil ia
menjalin jari jemarinya. [Sahih Bukhari]
Lihat: Kitab Iman bab 01; “Islam dibangun atas lima (rukun)” - Kitab Iman bab 34; Bertambah dan berkurangnya iman
3.
Yang dimaksud dengan "ma'rifah" adalah amalan hati.
Imam Bukhari -rahimahullah- berkata:
بَابُ قَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ: «أَنَا
أَعْلَمُكُمْ بِاللَّهِ»، وَأَنَّ المَعْرِفَةَ فِعْلُ القَلْبِ لِقَوْلِ اللَّهِ
تَعَالَى: {وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ} [البقرة: 225]
Bab: Sabda Nabi ﷺ “Saya
adalah orang yang paling tahu tentang Allah”, dan sesungguhnya ma’rifat
(pengenalan tentang Allah/iman) adalah perbuatan hati, karena firman Allah ta’aalaa:
{tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu}
[Al-Baqarah: 225]
Lihat: Kitab Iman bab 13 dan 14; Iman itu harus tertanam dalam hati
[قولهم في مرتكب الكبيرة]
ويقولون إن أحدًا من أهل
التوحيد ومن يصلي إلى قبلة المسلمين، لو ارتكب ذنبًا، أو ذنوبًا كثيرة، صغائر، أو
كبائر، مع الإقامة على التوحيد لله والإقرار بما التزمه وقبله الله، فإنه لا يكفر به، ويرجون له
المغفرة، قال تعالى: ﴿وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾ [النساء: ٤٨]
"Mereka mengatakan bahwa seseorang dari kalangan ahli
tauhid dan orang yang shalat menghadap kiblat umat Islam, jika ia melakukan
satu dosa, atau banyak dosa, baik dosa-dosa kecil maupun besar, namun tetap
konsisten dalam ketauhidannya kepada Allah dan pengakuannya terhadap apa yang
telah ia ikrarkan dan Allah terima, maka ia tidak menjadi kafir karenanya, dan
mereka mengharapkan ampunan baginya. Allah Ta'ala berfirman: {Dan Dia
mengampuni selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.} [An-Nisa':
48]
[حكم تارك الصلاة عمدًا]
واختلفوا في متعمدي ترك
الصلاة المفروضة حتى يذهب وقتها من غير عذر، فكفره جماعة لما روي عن النبي ﷺ أنه
قال: «بين العبد وبين الكفر ترك الصلاة» وقوله: «من ترك الصلاة فقد كفر» و«من ترك
الصلاة فقد برأت منه ذمة الله» وتأول جماعة منهم بذلك من تركها جاحدًا لها، كما
قال يوسف عليه السلام: ﴿إِنِّي تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ﴾ [يوسف: ٣٧] ترك جحود الكفر.
Dan mereka berbeda pendapat tentang orang yang sengaja
meninggalkan salat fardhu hingga berlalu waktunya tanpa udzur (alasan syar'i).
Maka sekelompok ulama mengkafirkannya berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: 'Sesungguhnya batas
antara seorang hamba dengan kekufuran adalah meninggalkan salat.' Dan sabda
beliau: 'Barang siapa meninggalkan salat, maka sungguh dia telah kafir.' Dan:
'Barang siapa meninggalkan salat, maka sungguh terlepas darinya jaminan Allah.'
Sementara sekelompok ulama yang lain menakwilkan (memaknai) hal itu bagi orang
yang meninggalkannya karena mengingkarinya (kewajiban salat), sebagaimana
perkataan Nabi Yusuf 'alaihissalam: {Sungguh, aku telah meninggalkan
agama kaum yang tidak beriman kepada Allah'} [Yusuf: 37] yaitu meninggalkan
karena mengingkari kekufuran (agama mereka)."
Lihat: Kitab Iman bab 31; Shalat bagian dari iman
Syarah:
1. Ancaman
orang yang meninggalkan shalat
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{مَا سَلَكَكُمْ فِي
سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ} [المدثر: 42، 43]
"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar
(neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang
yang mengerjakan shalat”. [Al-Muddatsir: 42-43]
Ø Dari Jabir
bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ
وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ» [صحيح مسلم]
“Sesungguhnya pembeda antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran
adalah meninggalkan shalat”. [Sahih Muslim]
Ø Dari Buraidah
radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ
الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ» [سنن الترمذي: صحيح]
“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa
yang meninggalkannya maka ia telah kafir”. [Sunan Tirmidziy: Sahih]
Ø Abu Darda' radhiyallahu ‘anhu berkata:
أَوْصَانِي خَلِيلِي ﷺ أَنْ: «لَا
تُشْرِكْ بِاللَّهِ شَيْئًا، وَإِنْ قُطِّعْتَ وَحُرِّقْتَ، وَلَا تَتْرُكْ
صَلَاةً مَكْتُوبَةً مُتَعَمِّدًا، فَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمِّدًا، فَقَدْ
بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ، وَلَا تَشْرَبِ الْخَمْرَ، فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ
شَرٍّ»
"Kekasihku (Nabi Muhammad) ﷺ mewasiatkan kepadaku: 1. Janganlah engkau menyekutukan Allah
dengan sesuatu apa pun, sekalipun engkau dipotong-potong dan dibakar. 2.
Janganlah engkau meninggalkan salat wajib dengan sengaja, karena barangsiapa
meninggalkannya dengan sengaja, maka gugurlah perlindungan (jaminan) Allah
darinya. 3. Janganlah engkau meminum khamr (minuman keras), karena sesungguhnya
ia adalah kunci segala kejahatan." [Sunan Ibnu Majah, dan dinilai sahih
oleh Al-Albani]
Lihat: Keutamaan shalat dalam Al-Qur’an
2. Dalil
jumhur ulama bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas tidak dihukumi
kafir.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ
يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ
فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ
عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا
انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ» [سنن الترمذي: صحيح]
“Sesungguhnya yang pertama diperiksa pada seorang hamba di hari kiamat
dari amalannya adalah shalat-nya, maka jika sempurna maka beruntunglah ia dan
selamatlah ia, dan jika rusak maka celakalah ia dan rugilah ia. Kemudian jika
ada sesuatu yang kurang dari shalat wajibnya, Allah ‘azza wa jalla
berfirman: Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah. Maka dengannya
disempurnakan apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian setelah itu amalan
lain diperiksa seperti itu.” [Sunan Tirmidziy: Sahih]
Ø Dari ‘Ubadah
bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى
الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا
بِحَقِّهِنَّ، كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ،
وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ
عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ» [سنن أبي داود: صححه الشيخ الألباني]
“Lima shalat, Allah mewajibkannya kepada semua hamba, maka barangsiapa
yang mendirikannya, tidak melalaikan satupun darinya karena meremehkan haknya
maka untuknya di sisi Allah janji akan memasukkannya syurga, dan barangsiapa
yang tidak mendirikannya maka tidak ada untuknya di sisi Allah janji, jika
Allah menghendaki akan menyiksanya, dan jika Allah menghendaki Allah akan
memasukkannya syurga”. [Sunan Abu Dawud: Sahih]
Lihat: Keutamaan shalat dalam As-Sunnah
[أقوال أهل العلم في الفرق بين الإسلام
والإيمان]
وقال منهم: إن الإيمان
قول وعمل، والإسلام فعل ما فرض على الإنسان أن يفعله، إذا ذكر كل اسم مضمومًا إلى
الآخر، فقيل: المؤمنون والمسلمون جميعا مفردين أريد بأحدهما معنى لم يرد بالآخر،
وإن ذكر أحد الاسمين شمل الكل وعمهم.
وكثير منهم قالوا:
الإسلام والإيمان واحد، قال عز وجل: ﴿وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا
فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ﴾ [آل عمران: ٨٥] فلو أن الإيمان غيره لم
يقبل منه، وقال: ﴿فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ - فَمَا
وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾ [الذاريات: ٣٥ - ٣٦]
ومنهم من ذهب إلى أن
الإسلام مختص بالاستسلام لله والخضوع له والانقياد لحكمه فيما هو مؤمن به،
كما قال: ﴿قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا
أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ﴾ [الحجرات: ١٤] وقال: ﴿يَمُنُّونَ
عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ
يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ﴾ [الحجرات: ١٧] وهذا أيضًا دليل لمن قال
هما واحد.
Di antara mereka (para ulama) ada yang berpendapat:
Sesungguhnya iman itu adalah ucapan dan perbuatan, sedangkan Islam adalah
melaksanakan apa yang diwajibkan atas seseorang untuk dikerjakannya. Apabila
kedua nama tersebut disebutkan secara berdampingan (disandingkan), maka
masing-masing (kata) yang berdiri sendiri mengandung makna yang tidak
terkandung pada yang lain. Namun, jika salah satu dari kedua nama itu
disebutkan secara sendiri (tanpa menyertakan yang lain), maka ia mencakup
seluruhnya (menyatukan keduanya).
Dan sebagian besar dari mereka berpendapat: Islam dan iman
itu satu. Allah Ta'ala berfirman: {Dan barang siapa mencari agama selain
Islam, maka tidak akan diterima darinya} [Ali Imran: 85]. Maka, seandainya
iman itu berbeda dengan Islam, niscaya (agama yang mengandung iman tanpa Islam)
tidak akan diterima darinya. Dan Allah juga berfirman: {Lalu Kami keluarkan
orang-orang yang beriman (mu'minin) yang berada di dalam negeri itu. Maka Kami
tidak mendapati di dalam negeri itu, selain sebuah rumah dari orang-orang yang
berserah diri (muslimin)} [Adz-Dzariyat: 35-36]
Dan di antara mereka ada yang berpendapat bahwa Islam itu
khusus (terbatas) pada ketundukan kepada Allah, kekhusyukan kepada-Nya, dan
kepatuhan terhadap hukum-Nya dalam hal yang ia imani. Sebagaimana firman-Nya: {Orang-orang
Arab Badui itu berkata: 'Kami telah beriman.' Katakanlah (kepada mereka):
'Kalian belum beriman, tetapi katakanlah: 'Kami telah masuk Islam (tunduk),'
karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu'} [Al-Hujurat: 14]. Dan
firman-Nya: {Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman
mereka. Katakanlah: 'Janganlah kalian merasa telah memberi nikmat kepadaku
dengan keislaman kalian, tetapi Allah-lah yang memberi nikmat kepada kalian
karena Dia telah menunjukkan kalian kepada keimanan'} [Al-Hujurat: 17]. Dan
ini juga merupakan dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa keduanya (iman dan
Islam) adalah satu."
Lihat: Syarah Arba’in hadits (2) Umar; Jibril bertanya tentang iman, islam, ihsan, dan kiamat
Syarah:
Perbedaan makna iman dan islam.
Jika kata Iman dan Islam digunakan dalam satu kalimat
(bergandengan), maka kata Islam berarti penyerahan diri dengan melakukan ibadah
dzahir berupa perkataan lisan dan aktifitas anggota badan (melaksanakan rukun
Islam dan amal shaleh lainnya). Adapun kata iman diartikan sebagai penyerahan
diri dengan ibadah batin yaitu meyakini rukun Iman dan melakukan amalan hati.
Adapun jika digunakan secara terpisah maka maka Iman
sama dengan makna Islam, yaitu menjalankan ajaran agama Islam secara utuh
dengan penuh keimanan.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ
آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ
يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) أُولَئِكَ هُمُ
الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ
كَرِيمٌ} [الأنفال:
2 - 4]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila
disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya
bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka
bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan
sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang
beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat
ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. [Al-Anfaal: 2-4]
Ø Dari Sa'd
radhiyallahu 'anhu;
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَعْطَى
رَهْطًا وَسَعْدٌ جَالِسٌ، فَتَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ رَجُلًا هُوَ أَعْجَبُهُمْ
إِلَيَّ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ عَنْ فُلاَنٍ فَوَاللَّهِ إِنِّي
لَأَرَاهُ مُؤْمِنًا، فَقَالَ: «أَوْ مُسْلِمًا» فَسَكَتُّ قَلِيلًا، ثُمَّ
غَلَبَنِي مَا أَعْلَمُ مِنْهُ، فَعُدْتُ لِمَقَالَتِي، فَقُلْتُ: مَا لَكَ عَنْ
فُلاَنٍ؟ فَوَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَاهُ مُؤْمِنًا، فَقَالَ: «أَوْ مُسْلِمًا».
ثُمَّ غَلَبَنِي مَا أَعْلَمُ مِنْهُ فَعُدْتُ لِمَقَالَتِي، وَعَادَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ ، ثُمَّ قَالَ: «يَا سَعْدُ إِنِّي لَأُعْطِي الرَّجُلَ، وَغَيْرُهُ
أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ، خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللَّهُ فِي النَّارِ»
Bahwa Rasulullah ﷺ
memberikan makanan kepada beberapa orang dan saat itu Sa'd sedang duduk. Tetapi
beliau tidak memberi makanan tersebut kepada seorang laki-laki, padahal orang
tersebut yang paling berkesan bagiku diantara mereka yang ada, maka aku
bertanya kepada Rasulullah ﷺ,
"Wahai Rasulullah, bagaimana dengan si fulan? Sungguh aku melihat dia
sebagai seorang mukmin." Nabi ﷺ membalas, "Atau dia muslim?" Kemudian aku terdiam
sejenak, dan aku terdorong untuk lebih memastikan apa yang dimaksud Beliau ﷺ, maka aku ulangi ucapanku, "Wahai Rasulullah, bagaimana
dengan si fulan? Sungguh aku memandangnya sebagai seorang mukmin." Nabi ﷺ membalas, "Atau dia muslim?" Lalu aku terdorong lagi
untuk lebih memastikan apa yang dimaksudnya hingga aku ulangi lagi
pertanyaanku. Lalu Nabi ﷺ
bersabda, "Wahai Sa'd, sesungguhnya aku memberi harta kepada seseorang
padahal orang yang lainnya aku lebih sukai daripada dia (dan aku tidak
memberinya sesuatu), karena aku takut kalau Allah akan mencampakkannya ke
neraka". [Shahih Bukhari]
Lihat: Kitab Iman bab 19; Jika Islam bukan makna secara hakikatnya
Bersambung …
Lihat juga: "Syarah Akidah Ahlussunnah" karya Al-Isma'iliy (bagian 1)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...