بسم
الله الرحمن الرحيم
A.
Bab 36.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٣٦ - باب: تَعَاوُنِ الْمُؤْمِنِينَ
بَعْضِهِمْ بَعْضًا.
Bab: Membantu sesama mu'min.
Dalam bab ini Imam Bukhari menjelaskan bahwa diantara bentuk
adab adalah membantu sesama orang beriman dalam kebaikan, sebagaimana
diriwayatkan dalam hadits Abi Musa Al-Asya’riy radhiyallahu ‘anhu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٨٠ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ:
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ [بن سعيد الثوري]، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي
بُرْدَةَ قَالَ: أَخْبَرَنِي جَدِّي أَبُو بُرْدَةَ [عامر بن عبد الله بن قيس]،
عَنْ أَبِيهِ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ
كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا». ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.
وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ جَالِسًا، إِذْ جَاءَ رَجُلٌ يَسْأَلُ، أَوْ طَالِبُ
حَاجَةٍ، أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ: «اشْفَعُوا فَلْتُؤْجَرُوا،
وَلْيَقْضِ اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا شَاءَ»
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan [bin Sa’id Ats-Tsauriy], dari
Abu Burdah Buraidah bin Abu Burdah, dia berkata: Telah mengabarkan kepadaku
kakekku Abu Burdah [‘Amir bin Abdillah bin Qais], dari ayahnya Abu Musa,
dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Seorang
mukmin dengan mukmin yang lain ibarat bangunan yang saling menguatkan antara
satu dengan yang lain." Kemudian beliau menganyam jari-jemarinya, setelah
itu Nabi ﷺ
duduk, jika ada seorang laki-laki memerlukan atau meminta suatu kebutuhan
datang kepada beliau, maka beliau akan menghadapkan wajahnya kepada kami, lalu
beliau bersabda, 'Berikanlah pertolongan agar kalian saling memperoleh pahala
dan semoga Allah melaksanakan apa yang disenangi-Nya melalui ucapan
nabi-Nya.'"
Penjelasan singkat hadits ini:
1)
Biografi Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2)
Perintah tolong-menolong dalam kebaikan.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَتَعَاوَنُوا
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [المائدة : 2]
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. [Al-Maidah: 2]
Ø Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu- berkata;
Rasulullah ﷺ bersabda:
«من
نفّس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا، نفّس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة. ومن يسّر
على معسر، يسّر الله عليه في الدنيا والآخرة. ومن ستر مسلما، ستره الله في الدنيا
والآخرة. والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه»
'Barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan
dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat.
Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka
Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib
seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan
selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama
muslim. [Shahih Muslim]
Lihat: Syarah Arba’in hadits (36) Abu Hurairah; Pertolongan Allah untuk yang suka menolong
3)
Boleh menganyam jari-jari di luar shalat.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Abu al-Qasim ﷺ bersabda:
«إِذَا
تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلَاةٍ
حَتَّى يَرْجِعَ، فَلَا يَقُلْ هَكَذَا»
"Apabila salah seorang di antara kalian berwudu di
rumahnya, kemudian datang ke masjid, maka ia dihitung berada dalam keadaan
salat hingga ia kembali. Karena itu, janganlah ia berbuat seperti ini,"
lalu beliau menyela-nyelakan (mengaitkan) jari-jari kedua tangannya. [Shahih
Ibnu Khuzaimah]
4)
Memberi penjelasan dengan gambaran tangan atau selainnya.
5)
Mengajak orang lain untuk memberi bantuan kepada seseorang.
6)
Nabi ﷺ menyampaikan
wahyu dari Allah ‘azza wajalla.
Lihat: Sunnah Nabi adalah Wahyu
B.
Bab 37.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٣٧ - باب: قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿مَنْ
يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا وَمَنْ يَشْفَعْ
شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ مُقِيتًا﴾ [النساء:
٨٥]
Bab: Firman Allah ta’aalaa: {Barangsiapa yang
memberikan syafa'at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala)
dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan
memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu}.
[An-Nisaa ': 85]
Dalam bab ini Imam Bukhari rahimahullah menjelaskan
tentang keutamaan memberi syafa'at dalam perkara kebaikan, sebagaimana
terkandung dalam ayat yang dijadikan judul bab, dan hadits Abu Musa yang
telah diriwayatkan pada bab sebelumnya.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
{كِفْلٌ}:
«نَصِيبٌ». قَالَ أَبُو مُوسَى: ﴿كِفْلَيْنِ﴾ [الحديد: ٢٨]: «أَجْرَيْنِ، بِالْحَبَشِيَّةِ»
“{Kiflun}: Bagian. Abu Musa berkata: {Kiflaini} [Al-Hadid:
28] artinya dua pahala, dalam bahasa Habasyah (Etiopia)."
Nb: Ayat yang ditafsirkan oleh Abu Musa adalah firman
Allah ta’aalaa:
{يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ
كِفْلَيْنِ مِن رَّحْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ} [الحديد : 28]
Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah
kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan
rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan
cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Hadiid: 28]
Penjelasan singkat ayat 85 surah An-Nisaa':
1.
Keutamaan memberi
petunjuk/mengajak kepada kebaikan dan bahaya mengajak kepada keburukan.
Dari Abu Mas'ud Al-Anshari radhiyallahu 'anhu,
ia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ
إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: إِنِّي أُبْدِعَ بِي فَاحْمِلْنِي. فَقَالَ: «مَا
عِنْدِي» فَقَال رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَنَا أَدُلُّهُ عَلَى مَنْ
يَحْمِلُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ دَلَّ على خير فله مثل أجر فاعله». [صحيح مسلم]
"Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, 'Sungguh, hewan tungganganku kelelahan (tidak bisa
berjalan lagi), maka bawalah aku (berikan kendaraan).' Beliau bersabda, 'Aku
tidak punya (kendaraan).' Maka seorang laki-laki berkata, 'Wahai Rasulullah,
aku akan menunjukkannya kepada orang yang bisa membawanya (memberinya
kendaraan).' Maka Rasulullah ﷺ
bersabda: 'Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala
seperti pahala orang yang mengerjakannya.' " [Shahih Muslim]
Ø Dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ
دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا
يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ
عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ
آثَامِهِمْ شَيْئًا» [صحيح
مسلم]
"Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan maka ia akan
mendapat pahala seperti pahal yang mengerjakannya tampa mengurangi pahala
mereka sedikitpun, dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia akan
mendapat dosa seperti dosa yang mengerjakannya tampa mengurangi dosa mereka
sedikitpun". [Shahih Muslim]
Lihat: Jujur dalam berda’wah kepada Allah
2.
"Al-Muqiit"
salah satu nama Allah yang Al-Husna.
Lihat: 108 "Asmaa-ul husna"
3.
Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{إِنَّ
اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} [البقرة : 20]
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. [Al-Baqarah: 20]
Hadits Abu Musa radhiyallahu 'anhu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٨١ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ:
حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ [حماد بن أسامة]، عَنْ بُرَيْدٍ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ،
عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَتَاهُ السَّائِلُ
أَوْ صَاحِبُ الْحَاجَةِ قَالَ: «اشْفَعُوا فَلْتُؤْجَرُوا، وَلْيَقْضِ اللَّهُ
عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مَا شَاءَ»
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-'Ala`, ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah [Hammad bin Usamah], dari
Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ: "ApabiIa ada seseorang meminta
atau memerlukan suatu kebutuhan datang kepada beliau, maka beliau bersabda,
'Berikanlah pertolongan agar kalian saling memperoleh pahala dan semoga Allah
melaksanakan apa yang disenangi-Nya melalui ucapan rasul-Nya.'
Nb: Sudah dijelaskan pada bab (36) sebelumnya.
C.
Bab 38.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٣٨ - باب: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ
فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا.
Bab: Nabi ﷺ tidak pernah berbuat kejelekan dan tidak
menyuruh untuk berbuat kejelekan."
Dalam bab ini Imam Bukhari rahimahullah menjelaskan
tentang akhlak Nabi Muhammad ﷺ
dengan meriwayatkan 4 hadits dari Abdullah bin Amru, Aisyah (2
hadits) dan Anas radhiallahu'anhum.
Hadits Abdullah bin 'Amru radhiyallahu'anhuma.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٨٢ - حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ:
حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سُلَيْمَانَ [بن مهران]: سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ [شقيق
بن سلمة]: سَمِعْتُ مَسْرُوقًا [بن الأجدع] قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
عَمْرٍو (ح). وحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ [بن سعيد]: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ [بن عبد
الحميد]، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ شَقِيقِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ:
دَخَلْنَا عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو حِينَ قَدِمَ مَعَ مُعَاوِيَةَ إِلَى
الْكُوفَةِ، فَذَكَرَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ: لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا
مُتَفَحِّشًا، وَقَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ
أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا».
Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Sulaiman [bin Mihran], ia berakta: Saya
mendengar Abu Wa`il [Syaqiq bin Salamah], ia berakta: Saya mendengar Masruq
[bin Al-Ajda’], dia berkata: Abdullah bin 'Amru berkata: (Hadits) Dan (imam
Bukhari berkata dari jalur lain): Telah menceritakan kepada kami Qutaibah [bin
Sa’id], ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Jarir [bin Abdil Hamid],
dari Al-A'masy, dari Syaqiq bin Salamah, dari Masruq, dia berkata: "Kami
pernah menemui Abdullah bin 'Amru ketika kami tiba di Kufah bersama
Mu'awiyah, kemudian dia ingat Rasulullah ﷺ seraya berkata, "Beliau tidak pernah berbuat kejelekan dan
tidak menyuruh untuk berbuat kejelekan." Lalu (Abdullah bin Amru) berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya
orang yang terbaik di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya."
Penjelasan singkat hadits ini:
1)
Biografi Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2)
Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad ﷺ.
Lihat: Akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
3)
Keutamaan berakhlak mulia.
Lihat: Akhlak Mulia
4)
Ukuran manusia terbaik.
Lihat: Manusia yang terbaik dan yang terburuk
Hadits 'Aisyah radhiyallahu'anha
(pertama).
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٨٣ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ:
أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ [بن عبد المجيد]، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: أَنَّ يَهُودَ
أَتَوْا النَّبِيَّ ﷺ فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكُمْ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ:
عَلَيْكُمْ، وَلَعَنَكُمُ اللَّهُ، وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ. قَالَ: «مَهْلًا
يَا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ، وَإِيَّاكِ وَالْعُنْفَ وَالْفُحْشَ».
قَالَتْ: أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ: «أَوَلَمْ تَسْمَعِي مَا قُلْتُ؟
رَدَدْتُ عَلَيْهِمْ، فَيُسْتَجَابُ لِي فِيهِمْ، وَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمْ فِيَّ»
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam, ia berkata:
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab [bin Abdil Majid], dari Ayyub, dari
Abdullah bin Abu Mulaikah, dari Aisyah radhiallahu'anha bahwa
sekelompok orang Yahudi datang kepada Nabi ﷺ sambil berkata, "Kebinasaan atasmu." Maka Aisyah
berkata, "Semoga atas kalian juga, dan semoga laknat dan murka Allah juga
menimpa kalian." Beliau bersabda, "Tenanglah wahai Aisyah, berlemah
lembutlah dan janganlah kamu bersikeras dan janganlah kamu berkata keji."
Aisyah berkata, "Apakah Anda tidak mendengar apa yang mereka
katakan?" beliau bersabda, "Tidakkah kamu mendengar apa yang saya
ucapkan, saya telah membalasnya, adapun jawabanku akan dikabulkan sementara doa
mereka tidak akan diijabahi."
Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada bab sebelumnya (bab 35).
Hadits Anas radhiyallahu'anhu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٨٤ - حَدَّثَنَا أَصْبَغُ [بن الفرج] قَالَ:
أَخْبَرَنِي ابْنُ وَهْبٍ: أَخْبَرَنَا أَبُو يَحْيَى، هُوَ فُلَيْحُ بْنُ
سُلَيْمَانَ، عَنْ هِلَالِ بْنِ أُسَامَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه
قَالَ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ سَبابا، وَلَا فَحَّاشًا، وَلَا لَعَّانًا، كَانَ
يَقُولُ لِأَحَدِنَا عِنْدَ الْمَعْتِبَةِ: «مَا لَهُ تَرِبَ جَبِينُهُ».
Telah menceritakan kepada kami Asbagh [bin Al-Faraj], dia
berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan
kepada kami Abu Yahya yaitu Fulaih bin Sulaiman, dari Hilal bin Usamah, dari Anas
bin Malik radhiallahu'anhu dia berkata, "Nabi ﷺ adalah sosok yang tidak pernah mencela, berkata keji dan
melaknat, apabila beliau mencela salah satu dari kami, maka beliau akan
berkata, "Mengapa dahinya berdebu (dengan sindiran)."
Penjelasan singkat hadits ini:
Kelembutan tutur kata Rasulullah ﷺ.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:
"Sesungguhnya Aflah, saudara laki-laki Abu Al-Qu'ais, meminta izin untuk
masuk menemuiku setelah ayat hijab diturunkan. Maka aku berkata, 'Demi Allah,
aku tidak akan mengizinkannya masuk hingga aku meminta izin kepada Rasulullah ﷺ. Karena yang menyusuiku bukanlah saudara Abu Al-Qu'ais itu,
tetapi yang menyusuiku adalah istri Abu Al-Qu'ais.'
Kemudian Rasulullah ﷺ masuk menemuiku, lalu aku berkata, 'Wahai Rasulullah, laki-laki
itu bukanlah yang menyusuiku, tetapi istrinyalah yang menyusuiku.'
Beliau ﷺ
bersabda:
«ائْذَنِي
لَهُ فَإِنَّهُ عَمُّكِ تَرِبَتْ يَمِينُكِ»
"Izinkanlah ia masuk, karena sesungguhnya ia adalah
pamanmu (karena hubungan persusuan). Semoga tangan kananmu berlumur debu."
[Shahih Al-Bukhari]
Ø Dari Ummu
Salamah radhiyallahu 'anha, ia berkata:
جَاءَتْ أُمُّ
سُلَيْمٍ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ لَا
يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ، فَهَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا
احْتَلَمَتْ؟ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ». فَغَطَّتْ أُمُّ
سَلَمَةَ، تَعْنِي وَجْهَهَا، وَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَتَحْتَلِمُ
الْمَرْأَةُ؟ قَالَ: «نَعَمْ، تَرِبَتْ يَمِينُكِ، فَبِمَ يُشْبِهُهَا وَلَدُهَا»
"Ummu Sulaim datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu
dari kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika ia bermimpi basah?' Nabi
ﷺ bersabda: 'Ya, jika dia
melihat air (mani).' Maka Ummu Salamah menutupi wajahnya dan berkata: 'Wahai
Rasulullah, apakah wanita juga bisa bermimpi basah?' Beliau menjawab: 'Ya,
semoga tangan kananmu berdebu (ungkapan takjub). Lalu dengan apa anaknya akan
menyerupainya (jika wanita tidak mengeluarkan mani)?'" [Shahih Bukhari dan
Muslim]
Hadits 'Aisyah radhiyallahu'anhuma
(kedua).
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٨٥ - حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عِيسَى:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَوَاءٍ: حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ الْقَاسِمِ، عَنْ
مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ رَجُلًا
اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمَّا رَآهُ قَالَ: «بِئْسَ أَخُو
الْعَشِيرَةِ، وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ». فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ
النَّبِيُّ ﷺ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ، فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ
قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ
لَهُ كَذَا وَكَذَا، ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ؟
فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ: «يَا عَائِشَةُ، مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا، إِنَّ شَرَّ النَّاسِ
عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ
شَرِّهِ».
Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Isa, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Sawa`, ia berkata: Telah menceritakan
kepada kami Rauh bin Al-Qasim, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari 'Urwah, dari
Aisyah: Bahwa seorang laki-laki meminta izin kepada Nabi ﷺ, ketika beliau melihat orang tersebut, beliau bersabda,
"Amat buruklah saudara Kabilah ini atau seburuk-buruk saudara Kabilah
ini." Saat orang itu duduk, beliau menampakkan wajahnya yang berseri-seri,
setelah orang itu keluar 'Aisyah berkata, "Wahai Rasulullah, ketika Anda
melihat (kedatangan) orang tersebut, Anda berkata seperti ini dan ini, namun
setelah itu wajah Anda nampak berseri-seri, Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai 'Aisyah, kapankah kamu melihatku
mengatakan perkataan keji? Sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi
Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut
akan kekejiannya."
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Aisyah rahdiyallahu ‘anha.
Lihat: Aisyah binti Abi Bakr dan keistimewaannya
2.
Boleh menceritakan keburukan orang lain untuk
memperingatkan bahayanya.
Lihat: 6 gibah yang dibolehkan
3.
Memuliakan tamu.
Lihat: Adab menerima tamu dalam Islam
4.
Berwajah ceria dan tersenyum ketika berbicara dengan orang
lain.
Jarir radiyallahu 'anhu berkata:
«مَا
حَجَبَنِي النَّبِيُّ ﷺ مُنْذُ أَسْلَمْتُ، وَلاَ رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ فِي
وَجْهِي» [صحيح
البخاري ومسلم]
Nabi ﷺ
tidak pernah menolakku masuk rumahnya sejak aku memeluk Islam, dan beliau tidak
pernah melihatku kecuali ia tersenyum di wajahku. [Sahih Bukhari dan Muslim]
Ø Abdullah bin
Al Harits bin Jaz`i radhiyallahu
'anhu berkata:
«مَا
رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ»
"Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak
senyumannya selain Rasulullah ﷺ."
[Sunan Tirmidziy: Sahih]
5.
Kecerdasan Aisyah yang selalu memperhatikan keadaan
Rasulullah ﷺ dan suka bertanya.
Lihat: Sifat mulia ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Wallahu a’lam!
Lihat juga: Kitab Adab bab 33-35; Berbuat dalam segala hal

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...