بسم
الله الرحمن الرحيم
A.
Bab 40.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٤٠ - باب: كَيْفَ يَكُونُ الرَّجُلُ فِي
أَهْلِهِ.
Bab: Bagaimana seseorang di tengah keluarganya
Dalam bab ini imam
Bukhari menjelaskan tentang adab dan akhlak seseorang terhadap istri dan
keluarganya.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٩٢ - حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ:
حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الْحَكَمِ [بن عتيبة]، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ
الْأَسْوَدِ [بن يزيد] قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ: مَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ
يَصْنَعُ فِي أَهْلِهِ؟ قَالَتْ: «كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ
الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ.
Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Al-Hakam [bin ‘Utaibah], dari Ibrahim,
dari Al-Aswad [bin Yazid], ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Aisyah:
"Apa yang biasa Nabi ﷺ
lakukan dalam rumah tangganya?" Aisyah menjawab, "Beliau suka
membantu pekerjaan rumah istrinya, hanya saja bila tiba waktu salat, maka
beliau lekas pergi untuk melaksanakannya."
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Lihat: Aisyah binti Abi Bakr dan keistimewaannya
2.
Salaf sangat antusias menpelajari segala tentang Nabi ﷺ sampai urusan
rumah tangga.
Lihat: Semangat salaf menimba ilmu
3.
Suami membantu istri dalam pekerjaan rumah.
Lihat: Hak-hak istri
4.
Tidak dilalaikan dengan keluarga.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [التغابن: 14]
"Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara
Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka
berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi
serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang."
[At-Tagaabun:14]
Maksudnya: kadang-kadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau
ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.
Lihat: Godaan wanita
5.
Suami terbaik adalah yang paling baik kepada istrinya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ
لِنِسَائِهِمْ»
“Yang paling baik dari kalian adalah yang paling baik kepada
istrinya". [Sunan At-Tirmidzi: Shahih]
Lihat: Rapor merah suami
B.
Bab 41.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٤١ - باب: الْمِقَةِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى.
Bab: Kecintaan yang teguh dari Allah
Judul bab ini adalah
penggalan dari lafadz hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam
“Al-Mu'jam AlKabiir” dari Abu Umamah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia
berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda,
«الْمِقَةُ مِنَ اللهِ،
وَالصَّيتُ فِي السَّمَاءِ، فَإِذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا قَالَ: يَا جِبْرِيلُ،
إِنَّ رَبَّكَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، قَالَ: فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي
السَّمَاءِ إِنَّ رَبَّكُمْ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ قَالَ: فَيُنْزِلُ لَهُ
الْمِقَةَ عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ»
"Kecintaan (di hati manusia) itu dari Allah, dan ketenaran (sebutan
baik) di langit. Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia berfirman: 'Wahai
Jibril, sesungguhnya Tuhanmu mencintai si Fulan, maka cintailah dia.'"
Beliau bersabda: "Maka Jibril pun menyeru di langit: 'Sesungguhnya Tuhan
kalian mencintai si Fulan, maka cintailah dia.' Maka diturunkankanlah kecintaan
baginya di antara penduduk bumi."
Dalam bab ini imam
Bukhari menjelaskan bagaimana ketika Allah ‘azza wajalla mencintai
seseorang dari hambaNya.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٩٣ - حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ:
حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ [الضحاك بن مخلد]، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ:
أَخْبَرَنِي مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ
النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ العبد نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ
اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي
جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ،
فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ
الْأَرْضِ».
Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Ali, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Abu 'Ashim [Adh-Dhahhak bin Makhlad], dari Ibnu
Juraij, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Musa bin 'Uqbah, dari Nafi',
dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Apabila Allah mencintai seorang hamba,
maka Dia akan menyeru Jibril, 'Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka
cintailah dia.' Maka Jibril pun mencintai orang tersebut. Jibril lalu menyeru
kepada para penduduk langit, 'Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka
cintailah dia'. Maka serentak para penduduk langit pun mencintai orang
tersebut, sehingga pada akhirnya penduduk bumi dianugrahkan rasa hormat dan
menerima terhadapnya."
Penjelasan singkat hadits ini:
1)
Biografi Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Lihat: Abu Hurairah dan keistimewaannya
2)
Dalam riwayat lain, hadits ini disebutkan dengan matan yang
lebih lengkap.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«إِنَّ اللهَ إِذَا
أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ،
قَالَ: فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ: إِنَّ
اللهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، قَالَ ثُمَّ
يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ، وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ
فَيَقُولُ: إِنِّي أُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضْهُ، قَالَ فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ،
ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ فُلَانًا
فَأَبْغِضُوهُ، قَالَ: فَيُبْغِضُونَهُ، ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي
الْأَرْضِ»
"Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Ia memanggil
Jibril dan berkata kepadanya: Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan maka
cintailah ia! Lalu Jibril ikut mencintainya, kemudian berseru di langit:
Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan maka cintailah ia. Lalu penduduk langit
turut mencintainya, kemudian diturunkan rasa cinta kepadanya di bumi. Dan jika
Allah membenci seorang hamba, Ia memanggil Jibril dan berkata kepadanya:
Sesungguhnya Aku membenci si Fulan maka bencilah ia. Lalu Jibril ikut membencinya,
kemudian berseru di langit: Sesungguhnya Allah membenci si Fulan maka bencilah
ia. Lalu penduduk langit turut membencinya, kemudian diturunkan rasa benci
kepadanya di bumi." [Shahih Muslim]
3)
Allah ta’aalaa mencintai dan membenci.
Lihat: Kaedah nama dan sifat Allah
4)
Jibril 'alaihissalam bertugas menyampaikan cinta dan benci Allah ta’aalaa.
Lihat: Tugas malaikat Jibril
5)
Cinta dan benci di Tangan Allah ta’aalaa.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَأَلَّفَ بَيْنَ
قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ
قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ} [الأنفال: 63]
Dan (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang
beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi,
niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah
mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. [Al-Anfaal:63]
Lihat: Meraih surga dengan persaudaraan
Ø Anas bin
Malik radhiallahu'anhu
berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda:
«إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ
أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ» [سنن الترمذي: صحيح]
“Sesungguhnya hati-hati manusia berada di antara dua jari di antara
jari-jari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.’” [Sunan
Tirmidziy: Shahih]
Lihat: Sifat hati yang suka terbolak-balik
6)
Bagaimana mendapatkan cinta Allah?
Lihat: Meraih cinta Allah
7)
Sebab-sebab murka Allah:
Diantaranya:
a.
Menyekutukan Allah subahanahu wata'aalaa.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَيُعَذِّبَ
الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ
الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ وَغَضِبَ
اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا} [الفتح:
6]
Dan supaya dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan
perempuan danorang-orang musyrik laki-laki dan perempuanyang mereka itu
berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan)
yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi
mereka neraka jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat
kembali. [Al-Fath:6]
Lihat: Awas ada syirik!
b.
Durhaka kepada kedua
orang tua.
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhuma; Nabi ﷺ bersabda:
«رِضَى الرَّبِّ فِي
رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ» [سنن الترمذي: صححه الألباني]
“Ridah Ar-Rabb (Allah) ada pada ridha orang tua, dan murka Ar-Rabb ada
pada murka orang tua” [Sunan Tirmidziy: Sahih]
Lihat: Berbakti pada kedua orang tua
c.
Tidak bersabat saat
ditimpa musibah.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ إِذَا
أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ
فَلَهُ السَّخَطُ» [سنن
الترمذي: حسن]
"Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum akan ditimpakan
bencana, maka barangsiapa yang ridha maka untuknya keridhaan Allah, dan
barangsiapa yang murka maka untuknya pula murka Allah". [Sunan Tirmidziy:
Sahih]
Lihat: Tingkatan orang yang ditimpa musibah
d.
Ucapan yang buruk.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ العَبْدَ
لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا،
يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ
مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ» [صحيح البخاري]
"Sungguh seorang hamba berbicara satu kalimat yang diridhai Allah,
tanpa ia pikirkan, menyebabkan Allah mengangkat derajatnya. Dan sungguh seorang
hamba berbicara satu kalimat yang dimurkai Allah, tanpa ia pikirkan,
menyebabkan ia terjerumus ke dalam neraka jahannam". [Sahih Bukhari]
Lihat: Bahaya ucapan; Berdusta terhadap Allah
C.
Bab 42.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٤٢ - باب: الْحُبِّ فِي اللَّهِ.
Bab: Cinta di jalan Allah
Dalam bab ini imam
Bukhari menjelaskan tentang keutamaan saling mencintai karena Allah ta'alaa.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٩٤ - حَدَّثَنَا آدَمُ: حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا يَجِدُ
أَحَدٌ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ حَتَّى يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا
لِلَّهِ، وَحَتَّى أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ
يَرْجِعَ إِلَى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ، وَحَتَّى يَكُونَ اللَّهُ
وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا»
Telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami
Syu'bah dari Qatadah dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu dia berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Tidak akan mendapatkan manisnya iman sehingga
ia mencintai seseorang dan ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan
sehingga ia lebih suka dimasukkan ke dalam api daripada kembali kepada
kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, dan sehingga Allah dan rasul-Nya
lebih ia cintai daripada yang lain."
Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada kitab Iman bab (9), dengan
lafadz:
«ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ
فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ
إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا
لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ
فِي النَّارِ»
"Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan
mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya
dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya
kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci
bila dilempar ke neraka"
Lihat: Kitab Iman bab 07, 08, 09 dan 10; Mencintai bagian dari iman
D.
Bab 43.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٤٣ - باب قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿يا أيها
الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ﴾ الآية [الحجرات: ١١]
Bab firman Allah ta'aalaa: {Hai orang-orang yang beriman,
janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain} [Al-Hujuraat: 11]
Dalam bab ini imam
Bukhari menjelaskan larangan saling merendahkan dan mengina.sebagaimana yang
disebutkan dalam ayat surah Al-Hujurat yang dijadikan judul bab, dan 2 hadits
dari Abdullah bin Zam'ah dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum.
Ayat
11 surah Al-Hujuraat.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا
تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ
بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [الحجرات : 11]
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang
laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu
lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan
kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah
suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung
ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan
barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. [Al-Hujuraat: 11]
Penjelasan
singkat ayat ini:
1.
Allah memanggil dengan
sifat iman karena yng mengamalkan ayat ini menunjukkan kesempurnaan iman.
Lihat: Aqidah sebagai pondasi akhlak mulia
2.
Larangan saling
merendahkan.
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَيْسَ المُؤْمِنُ
بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الفَاحِشِ وَلَا البَذِيءِ»
“Orang beriman (yang sempurna imannya) tidak suka mencela, tidak suka
melaknat, tidak berlaku jelek, dan tidak berkata buruk”. [Sunan Tirmidziy: Shahih]
3.
Larangan suka mencela.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَيْلٌ لِّكُلِّ
هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ} [الهمزة
: 1]
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. [Al-Humazah: 1]
Lihat: Tafsir surah "Al-Humazah"
4. Tidak
boleh memanggil dengan panggilan yang buruk.
5. Tidak
memberi gelar yang jelek.
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«سِبَابُ المُسْلِمِ
فُسُوقٌ» [صحيح
البخاري ومسلم]
"Mencaci sesama muslim adalah suatu kefasikan". [Shahih Bukhari
dan Muslim]
Lihat: Hadits Abu Sa’id; Pesan seluruh tubuh kepada lidah
6. Segera
bertaubat dari sifat yang buruk.
7. Hari-hati
dengan sikap dzalim.
Lihat: Syarah Arba’in hadits (24) Abu Dzar; Keharaman perbuatan dzalim
Hadits Abdullah bin Zam'ah radhiyallahu
‘anhu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٩٥ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ
اللَّهِ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ [بن عيينة]، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَمْعَةَ قَالَ: نَهَى النَّبِيُّ ﷺ أَنْ يَضْحَكَ الرَّجُلُ
مِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ، وَقَالَ: «بِمَ يَضْرِبُ أَحَدُكُمُ
امْرَأَتَهُ ضَرْبَ الْفَحْلِ، ثُمَّ لَعَلَّهُ يُعَانِقُهَا».
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Sufyan [bin ‘Uyainah], dari Hisyam, dari ayahnya, dari
Abdullah bin Zam'ah dia berkata, Nabi ﷺ melarang seseorang menertawakan sesuatu yang keluar dari orang
lain (maknanya mengejek orang lain)." Beliau juga bersabda, "Kenapa
salah seorang dari kalian memukul istrinya sebagaimana memukul kudanya atau
budaknya, semoga saja ia dapat memeluk istrinya."
وَقَالَ الثَّوْرِيُّ وَوُهَيْبٌ
وَأَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ هِشَامٍ: «جَلْدَ الْعَبْدِ».
Ats Tsauri, Wuhaib dan Abu Mu'awiyah mengatakan dari Hisyam yaitu,
"Sebagaimana mencambuk budak."
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Abdullah bin Zam’ah bin Al-Aswad Al-Qurasiy radhiyallahu
‘anhu.
Lahir di Mekkah dan
Rasulullah wafat saat ia berumur 15 tahun. Ibunya adalah saudari Ummi Salamah
istri Nabi ﷺ. [Tahdzib Al-Kamal karya Al-Mizziy]
2.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam kitab
"Tafsir" dengan lafadz;
Dari Abdullah bin Zam'ah radhiyallahu 'anhu, bahwa ia
mendengar Nabi ﷺ
berkhutbah. Beliau menyebutkan tentang para wanita, lalu bersabda:
«يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ
يَجْلِدُ امْرَأَتَهُ جَلْدَ الْعَبْدِ، فَلَعَلَّهُ يُضَاجِعُهَا مِنْ آخِرِ
يَوْمِهِ»
"Sungguh, salah seorang di antara kalian sengaja mencambuk istrinya
seperti mencambuk seorang budak, padahal bisa jadi pada penghujung hari itu
juga ia akan menggaulinya."
Kemudian beliau menasihati mereka mengenai kebiasaan mereka menertawakan
suara kentut, seraya bersabda:
«لِمَ يَضْحَكُ
أَحَدُكُمْ مِمَّا يَفْعَلُ»
"Mengapa salah seorang di antara kalian menertawakan sesuatu yang ia
sendiri juga melakukannya?" [Shahih Al-Bukhari]
3.
Larangan menertawakan kentut.
4.
Larangan memukul istri dengan keras.
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda ketika khutbah di padang Arafah:
«اتَّقُوا اللهَ فِي
النِّسَاءِ، فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ، وَاسْتَحْلَلْتُمْ
فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ، وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ
فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ، فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ
ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ» [صحيح مسلم]
"Bertakwahlah kalian kepada Allah (jangalah diri kalian) terhadap
wanita. Karena kalian mengambil mereka sebagai amanah Allah, dan mereka halal
bagimu dengan kalimat Allah. Setelah itu, kamu punya hak atas mereka, yaitu
supaya mereka tidak membolehkan orang lain menduduki tikarmu. Jika mereka
melanggar, pukullah mereka dengan cara yang tidak membahayakan". [Shahih
Muslim]
5.
Pukulan yang dibolehkan kepada istri.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَاللَّاتِي تَخَافُونَ
نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ
فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ
عَلِيًّا كَبِيرًا} [النساء:
34]
Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuzuznya, maka
nasehatilah mereka dan jauhilah mereka di tempat tidur mereka, dan pukuatilah
mereka dan jauhilah mereka di tempat tidur mereka, dan pukuka dan jauhilah
mereka di tempat tidur mereka, dan puku mereka, dan pukullah mereka. Kemudian
jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk
menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. [An-Nisaa: 34]
Ø Mu'awiyah
Al-Qusyairiy radhiyallahu
'anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ: Ya Rasulullah apakah hak istri terhadap kami?
Rasulullah ﷺ menjawab:
«أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا
طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، أَوِ اكْتَسَبْتَ، وَلَا تَضْرِبِ
الْوَجْهَ، وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ» [سنن أبي داود: صححه الألباني]
“Memberinya makan jika kamu makan, memberinya pakaian jika kamu memakai
pakaian, jangan memukul wajah, jangan menghinanya, dan jangan menjauhinya
kecuali dalam rumah”. [Sunan Abu Daud: Sahih]
Syarat boleh memukul istri:
a) Tidak berhenti
dari pelanggarannya.
b) Dilakukan sesuai
dengan kadar pelanggarannya, setelah nasehat dan manjauhinya.
c) Menghadirkan
niat ketika memukul untuk memperbaiki.
d) Menghindari
pukulan pada tempat yang berbahaya seperti kepala, wajah, dan perut.
e) Tidak mematahkan
tulang, tidak merusak tubuh, tidak berdarah, dan tidak memukul berulang kali
pada tempat yang sama.
f)
Berhenti memukul jika sudah kembali baik.
Lihat: Rapor merah suami
Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٩٦ - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ
الْمُثَنَّى: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ: أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ
مُحَمَّدِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ:
قَالَ النَّبِيُّ ﷺ بِمِنًى: «أَتَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا». قَالُوا: اللَّهُ
وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «فَإِنَّ هَذَا يَوْمٌ حَرَامٌ، أَفَتَدْرُونَ أَيُّ
بَلَدٍ هَذَا». قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «بَلَدٌ حَرَامٌ،
أَتَدْرُونَ أَيُّ شَهْرٍ هَذَا». قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «شَهْرٌ
حَرَامٌ، قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ
وَأَعْرَاضَكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي
بَلَدِكُمْ هَذَا».
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsanna, telah menceritakan
kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami 'Ashim bin Muhammad
bin Zaid dari Ayahnya dari Ibnu Umar radhiallahu'anhuma dia berkata, Nabi ﷺ bersabda ketika di Mina, "Apakah kalian tahu hari apakah
ini?" orang-orang menjawab, "Allah dan rasul-Nya yang lebih
tahu." Beliau bersabda, "Sesungguhnya hari ini adalah hari haram
(yang dimuliakan), apakah kalian tahu negeri apakah ini?" orang-orang
menjawab, "Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu."
Beliau menjawab, "Ini adalah negeri haram, apakah kalian tahu bulan
apakah sekarang?"Orang-orang menjawab, "Allah dan rasul-Nya yang
lebih tahu." Beliau bersabda, "Ini adalah bulan haram." Beliau
melanjutkan, "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian darah
kalian, harta benda kalian dan kehormatan kalian sebagaimana kehormatan pada
hari kalian ini, bulan ini dan di negeri kalian ini."
Nb: Hadits yang semakna diriwayatkan juga oleh imam Bukhari dari Abi Bakrah radhiyallahu 'anhu dan sudah dijelaskan pada Kitab Ilmu bab 9; Bisa jadi orang yang hanya mendapat penyampaian lebih paham dibanding orang yang mendengar langsung
Wallahu alam!
Lihat juga: Kitab Adab bab 39; Bagusnya akhlak dan kedermawanan serta dibencinya kebakhilan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...