Selasa, 25 Agustus 2026

Kitab Adab bab 44; Larangan mencela dan melaknat

بسم الله الرحمن الرحيم

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٤٤ - باب: مَا يُنْهَى مِنَ السِّباب وَاللَّعْنِ.

Bab: Larangan mencela dan melaknat

                Dalam bab ini imam Bukhari menjelaskan bahwa diantara bentuk adab adalah tidak saling mencela dan melaknat, sebagaimana dalam hadits yang diriwatkan oleh Ibnu Mas'ud, Abu Dzar (dua hadits), Anas bin Malik, Tsabit Adh-Dhahhak, Sulaiman bin Dhurad, dan Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu anhum.

A.    Hadits Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٩٧ - حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «سِباب الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Manshur, ia berkata: Aku mendengar Abu Wa`il bercerita dari Abdullah, ia berkata, Rasulullah bersabda, "Mencaci maki orang muslim adalah suatu kefasikan, sementara membunuhnya adalah suatu kekufuran."

تَابَعَهُ محمد بن جعفر، عَنْ شُعْبَةَ.

“Hal ini diperkuat juga oleh riwayat Muhammad bin Ja’far, dari Syu'bah."

Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Kitab Iman bab 37; Kekhawatiran seorang mukmin bila amalnya terhapus tanpa sadar

B.     Hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu (pertama).

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٩٨ - حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ [عبد الله بن عمرو]: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ [بن سعيد]، عَنِ الْحُسَيْنِ [بن ذكوان]، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ: حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَعْمَرَ: أَنَّ أَبَا الْأَسْوَدِ الدِّيلِيَّ حَدَّثَهُ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه: أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ، وَلَا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ، إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ»

Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar [Abdullah bin ‘Amr], ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Warits [bin Sa’id], dari Al-Husain [bin Dzakwan], dari Abdullah bin Buraidah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Ya'mar: Bahwa Abu Al-Aswad Ad-Diiliy menceritakan kepadanya, dari Abu Dzar radhiallahu'anhu, bahwa ia mendengar Nabi bersabda: "Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan dan kekufuran, melainkan (tuduhan tersebut) akan kembali kepadanya bila ternyata orang yang tertuduh tidak seperti itu."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.       Biografi Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: Kisah islamnya Abu Dzar

2.       Tidak boleh menghukumi seseorang dengan kata fasik atau kafir.

                Seorang muslim dikatakan kafir kekal di neraka apabila mengingkari kandungan dua kalimat syahadat dengan keyakinan dalam hati, ucapan, maupun perbuatan; mengingkari apa yang sudah menjadi kesepakatan umat.

Lihat: 10 Pembatal Keislaman

C.     Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٩٩ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ: حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ: حَدَّثَنَا هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَاحِشًا، وَلَا لَعَّانًا، وَلَا سَبابا، كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْمَعْتَبَةِ: «مَا لَهُ تَرِبَ جَبِينُهُ»

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaiman, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hilal bin Ali, dari Anas, dia berkata, "Rasulullah tidak pernah berkata keji, melaknat dan mencela, dan jika beliau ingin menegur siapa pun dari kita, beliau biasa mengatakan: "Apa yang salah dengannya, dahinya menjadi berdebu (dengan bahasa sindiran)."

Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Kitab Adab bab 36-38; Berakhlak mulia

D.    Hadits Tsabit Adh-Dhahhak radhiyallahu ‘anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧٠٠ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ: أَنَّ ثَابِتَ بْنَ الضَّحَّاكِ، وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ، حَدَّثَهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «مَنْ حَلَفَ عَلَى مِلَّةٍ غَيْرِ الْإِسْلَامِ فَهُوَ كَمَا قَالَ، وَلَيْسَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَذْرٌ فِيمَا لَا يَمْلِكُ، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ فِي الدُّنْيَا عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَعَنَ مُؤْمِنًا فَهُوَ كَقَتْلِهِ، وَمَنْ قَذَفَ مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ»

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Al-Mubarak, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Qilabah, bahwa Tsabit bin Adh-Dhahhak -dan dia termasuk dari Ashabus Syajarah (yang ikut serta dalam Baiatur Ridhwan) - dia menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang bersumpah atas agama selain Islam, maka ia dihukumi seperti apa yang ia katakan. Anak cucu Adam dilarang bernadzar dengan sesuatu yang tidak dimilikinya. Barang siapa yang bunuh diri dengan sesuatu di dunia, maka ia akan disiksa di akhirat kelak dengan sesuatu yang digunakan untuk bunuh diri. Barang siapa yang melaknat seorang mukmin, maka ia seperti membunuhnya. Dan barang siapa yang menuduh seorang muslim dengan kekufuran, maka ia seperti membunuhnya."

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi Tsabit bin Adh-Dhahhak Abu Zayd Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu.

                Ia ikut pada bai’at Ridhwan sebelum perjajian Hudaibiyah dan berboncengan dengan Nabi pada saat perang Khandaq. Beliau wafat tahun 45 hijriyah. [Tahdzib Al-Kamal]

2)      Larangan bersumpah dengan agama selain Islam.

Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu'anhuma, ia mendengar seorang laki-laki mengucapkan, "Tidak, demi Ka'bah." Ibnu Umar lalu berkata, "Tidak boleh bersumpah dengan selain Allah. Aku mendengar Rasulullah bersabda:

«مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ» [سنن الترمذي: صحيح]

"Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka ia telah kafir atau berbuat syirik." [Sunan Tirmidziy: Shahih]

Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (42); Larangan menjadikan sekutu bagi Allah

3)      Tidak boleh bernadzar dengan sesuatu yang tidak ia miliki.

Lihat: Syarah Kitab tauhid bab (12); Termasuk syirik, bernadzar untuk selain Allah

4)      Haramnya bunuh diri.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا} [النساء : 29]

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. [An-Nisaa': 29]

Ø  Jundub bin Abdullah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah bersabda:

«كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ»

'Di antara orang-orang sebelum kalian ada seorang laki-laki yang terluka. Ia merasa sangat gelisah (tidak sabar), lalu ia mengambil pisau dan menggorok tangannya dengan pisau itu. Darahnya tidak berhenti mengalir hingga ia mati. Allah Ta'ala berfirman: Hamba-Ku telah mendahului-Ku dengan (menghilangkan) nyawanya sendiri, maka Aku haramkan surga baginya.'" [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi beliau bersabda:

«مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهْوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا»

"Barang siapa yang menjatuhkan diri dari gunung lalu membunuh dirinya sendiri, maka ia di dalam neraka Jahanam akan terus menerus jatuh ke dalamnya, kekal dan abadi di dalamnya selamanya. Dan barang siapa yang meneguk racun lalu membunuh dirinya sendiri, maka racun itu ada di tangannya, ia akan terus meneguknya di dalam neraka Jahanam, kekal dan abadi di dalamnya selamanya. Dan barang siapa yang membunuh dirinya dengan besi (senjata tajam), maka besi itu ada di tangannya, ia akan terus menikamkan besi itu ke perutnya di dalam neraka Jahanam, kekal dan abadi di dalamnya selamanya." [Shahih Bukhari dan Muslim]

5)      Larangan melaknat orang beriman secara person.

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata:

أَنَّ رَجُلًا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ كَانَ اسْمُهُ عَبْدَ اللَّهِ، وَكَانَ يُلَقَّبُ حِمَارًا، وَكَانَ يُضْحِكُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ، وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ قَدْ جَلَدَهُ فِي الشَّرَابِ، فَأُتِيَ بِهِ يَوْمًا فَأَمَرَ بِهِ فَجُلِدَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: اللَّهُمَّ العَنْهُ، مَا أَكْثَرَ مَا يُؤْتَى بِهِ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لاَ تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ»

Ada seorang lelaki di masa Nabi yang bernama Abdullah dijuluki himar (keledai), ia sering membuat Rasulullah tertawa, dan Nabi telah beberapa kali menyambuknya karena minum khamar. Suatu hari ia minum lagi dan Rasulullah memerintahkan untuk menyambuknya. Lalu seseorang berkata: Ya Allah, laknatlah ia, sudah sering sekali ia dicambuk!

Mendengar ucapan itu, Nabi bersabda: "Jangan kalian melaknatnya, karena demi Allah, tidak ada yang aku ketahui tentang dirinya kecuali ia mencintai Allah dan Rasul-Nya".

Lihat: Membuat orang tertawa

6)      Tidak boleh menghukumi kafir secara person.

Lihat: "Syarah Akidah Ahlussunnah" karya Al-Isma'iliy (bagian 2)

E.     Hadits Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧٠١ - حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ: حَدَّثَنِي عَدِيُّ بْنُ ثَابِتٍ قَالَ: سَمِعْتُ سُلَيْمَانَ بْنَ صُرَدٍ، رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَغَضِبَ أَحَدُهُمَا، فَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى انْتَفَخَ وَجْهُهُ وَتَغَيَّرَ: فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً، لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ الَّذِي يَجِدُ». فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ الرَّجُلُ فَأَخْبَرَهُ بِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ وَقَالَ: تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَقَالَ: أَتُرَى بِي بأسًا، أَمَجْنُونٌ أَنَا، اذْهَبْ.

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku 'Adi bin Tsabit, dia berkata: Saya mendengar Sulaiman bin Shurad -seorang dari sahabat Nabi - dia berkata, "Dua orang laki-laki saling mencaci maki di sisi Nabi . Ternyata salah seorang di antara keduanya sangat marah hingga mukanya berubah menjadi merah. Lalu Rasulullah bersabda, 'Sungguh aku mengetahui satu kalimat yang seandainya diucapkan, maka marahnya akan hilang." Lalu orang yang mendengar ucapan beliau beranjak pergi dan mengabarkan kepadanya sabda Nabi , katanya, "Berlindunglah kepada Allah dari setan." laki-laki yang marah tersebut berkata, 'Apakah kamu menganggap saya ada masalah, sudah gilakah saya, pergilah?"

Penjelasan singkat hadits ini:

1.       Biografi Sulaiman bin Shurad bin Al-Jun, Abu Al-Mutharrif Al-Khuza’iy radhiyallahu 'anhu.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2.       Caci-maki berujung amarah.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا} [الإسراء : 53]

Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. [Al-Israa': 53]

3.       Berusaha meredakan amarah.

4.       Syaitan memicu amarah.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} [فصلت : 36]

Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Fushilat: 36]

{وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي} [يوسف : 100]

Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. [Yusuf: 100]

5.       Dampak buruk amarah.

Seorang sahabat Nabi berkata;

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَوْصِنِي؟ قَالَ: «لَا تَغْضَبْ» ، قَالَ: قَالَ الرَّجُلُ: فَفَكَّرْتُ حِينَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ مَا قَالَ، فَإِذَا الْغَضَبُ يَجْمَعُ الشَّرَّ كُلَّهُ [مسند أحمد: صحيح]

Wahai Rasulullah, berwasiatlah padaku! Rasulullah bersabda, "Jangan marah." Orang itu berkata; Lalu aku berfikir saat Nabi mengucapkan sabda itu, ternyata marah menyatukan seluruh keburukan. [Musnad Ahmad: Shahih]

6.       Keutamaan menahan amarah.

Dari Mu'adz bin Anas radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda:

«مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ» [سنن أبي داود: حسن]

"Barangsiapa yang menahan marah padahal ia manpu melampiaskannya, Allah akan memanggilnya di hadapan semua makluk pada hari kiamat sampai Allah menyuruhnya memilih bidadari sesuai yang ia inginkan". [Sunan Abu Daud: Hasan]

Ø  Abdullah bin 'Amr radhiyallahu ‘anhuma bertanya kepada Rasulullah : Amalan apa yang bisa menjauhkanku dari murka Allah?

Rasulullah menjawab: «لَا تَغْضَبْ» "Jangan marah". [Musnad Ahmad: Sahih]

Lihat: Syarah Arba'in hadits (16) Abu Hurairah; Wasiat untuk menahan marah

F.     Hadits Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧٠٢ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ، عَنْ حُمَيْدٍ قَالَ: قَالَ أَنَسٌ: حَدَّثَنِي عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِيُخْبِرَ النَّاسَ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَتَلَاحَى رَجُلَانِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ، فَتَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ، وَإِنَّهَا رُفِعَتْ، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ»

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al-Mufadhal dari Humaid dia berkata, Anas berkata, telah menceritakan kepadaku 'Ubadah bin Ash-Shamit dia berkata, Rasulullah keluar untuk mengabarkan Lailatulqadar kepada orang-orang, kemudian terdapat dua orang dari kalangan muslimin yang saling berselisih. Lantas Nabi bersabda, "Sesungguhnya aku keluar hendak mengabarkan Lailatulqadar kepada kalian, namun aku mendapati perselisihan antara Fulan dan Fulan sehingga laitatul qadar diangkat kembali, bisa jadi hal itu adalah lebih baik buat kalian, maka carilah Lailatulqadar pada hari kesembilan, ketujuh, dan kelima (sebelum Akhir)."

Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Kitab Iman bab 37; Kekhawatiran seorang mukmin bila amalnya terhapus tanpa sadar

G.    Hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu (kedua).

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧٠٣ - حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنِ الْمَعْرُورِ [بن سويد]، عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: رَأَيْتُ عَلَيْهِ بُرْدًا، وَعَلَى غُلَامِهِ بُرْدًا، فَقُلْتُ: لَوْ أَخَذْتَ هَذَا فَلَبِسْتَهُ كَانَتْ حُلَّةً، وَأَعْطَيْتَهُ ثَوْبًا آخَرَ، فَقَالَ: كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ رَجُلٍ كَلَامٌ، وَكَانَتْ أُمُّهُ أَعْجَمِيَّةً، فَنِلْتُ مِنْهَا، فَذَكَرَنِي إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ لِي: «أَسَابَبْتَ فُلَانًا». قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «أَفَنِلْتَ مِنْ أُمِّهِ». قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ». قُلْتُ عَلَى حِينِ سَاعَتِي: هَذِهِ مِنْ كِبَرِ السِّنِّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، هُمْ إِخْوَانُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ جَعَلَ اللَّهُ أَخَاهُ تَحْتَ يَدِهِ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلَا يُكَلِّفُهُ مِنَ الْعَمَلِ مَا يَغْلِبُهُ، فَإِنْ كَلَّفَهُ مَا يَغْلِبُهُ فَلْيُعِنْهُ عَلَيْهِ»

Telah menceritakan kepadaku 'Umar bin Hafsh, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Ma'rur [Ibnu Suwaid], dari Abu Dzar, (Ma'rur) berkata, "Saya pernah melihat Abu Dzar memakai pakaian serupa dengan sahayanya. Maka saya berkata kepadanya, "Sekiranya kamu mengambil kain tersebut untuk kamu kenakan kemudian kamu memberi kain lagi untuk sahayamu (itu akan lebih baik), Lalu Abu Dzar berkata, "Bahwa dahulu aku dengan seorang laki-laki terjadi percekcokan, sementara ibu laki-laki itu adalah orang 'ajm (non Arab) lalu aku pun menghinakannya. Kemudian laki-laki itu mengadu kepada Nabi , maka beliau bersabda kepadaku, "Apakah kamu habis menjelekkan fulan?" jawabku, "Benar." Beliau bertanya lagi, "Apakah kamu juga menghinakan ibunya?" jawabku, "Benar." Beliau bersabda, "Sungguh dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliah, " aku pun berkata, "Apakah saya masih memiliki sifat jahiliahan padahal aku sudah tua?" beliau menjawab, "Ya, benar, mereka adalah saudaramu dan paman-pamanmu yang dititipkan Allah di bawah pengurusanmu, barang siapa memiliki saudara yang masih dalam pengurusanya, hendaklah dia diberi makan sebagaimana yang dia makan, diberi pakaian sebagaimana ia mengenakan pakaian. Dan janganlah kamu bebaninya diluar batas kemampuannya, dan jika kamu membebaninya, maka bantulah dia dalam menyelesaikan tugasnya."

Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Kitab Iman bab 22; Perbuatan maksiat merupakan kebiasaan Jahiliyah, tidak dikafirkan pelakunya kecuali perbuatan syirik

Wallahu a'lam!

Lihat juga: Kitab Adab bab 40-43; Saling mencintai di jalan Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...