بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٤٤ - باب: مَا يُنْهَى مِنَ السِّباب
وَاللَّعْنِ.
Bab: Larangan mencela dan melaknat
Dalam
bab ini imam Bukhari menjelaskan bahwa diantara bentuk adab adalah tidak saling
mencela dan melaknat, sebagaimana dalam hadits yang diriwatkan oleh Ibnu
Mas'ud, Abu Dzar (dua hadits), Anas bin Malik, Tsabit Adh-Dhahhak,
Sulaiman bin Dhurad, dan Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu
anhum.
A.
Hadits Abdullah bin
Mas'ud radhiyallahu ‘anhu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٩٧ - حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ:
حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ يُحَدِّثُ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «سِباب الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ،
وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, ia berkata:
Telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Manshur, ia berkata: Aku mendengar
Abu Wa`il bercerita dari Abdullah, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Mencaci maki orang muslim adalah suatu
kefasikan, sementara membunuhnya adalah suatu kekufuran."
تَابَعَهُ محمد
بن جعفر، عَنْ شُعْبَةَ.
“Hal ini diperkuat juga oleh riwayat Muhammad bin Ja’far,
dari Syu'bah."
Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Kitab Iman bab 37; Kekhawatiran seorang mukmin bila amalnya terhapus tanpa sadar
B.
Hadits Abu Dzar radhiyallahu
‘anhu (pertama).
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٩٨ - حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ [عبد الله
بن عمرو]: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ [بن سعيد]، عَنِ الْحُسَيْنِ [بن ذكوان]،
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ: حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَعْمَرَ: أَنَّ
أَبَا الْأَسْوَدِ الدِّيلِيَّ حَدَّثَهُ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه: أَنَّهُ
سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ، وَلَا
يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ، إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ
كَذَلِكَ»
Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar [Abdullah bin ‘Amr],
ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Warits [bin Sa’id], dari Al-Husain
[bin Dzakwan], dari Abdullah bin Buraidah, ia berkata: Telah menceritakan
kepadaku Yahya bin Ya'mar: Bahwa Abu Al-Aswad Ad-Diiliy menceritakan kepadanya,
dari Abu Dzar radhiallahu'anhu, bahwa ia mendengar Nabi ﷺ bersabda: "Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan
kefasikan dan kekufuran, melainkan (tuduhan tersebut) akan kembali kepadanya
bila ternyata orang yang tertuduh tidak seperti itu."
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.
Lihat: Kisah islamnya Abu Dzar
2.
Tidak boleh menghukumi seseorang dengan kata fasik atau
kafir.
Seorang
muslim dikatakan kafir kekal di neraka apabila mengingkari kandungan dua
kalimat syahadat dengan keyakinan dalam hati, ucapan, maupun perbuatan;
mengingkari apa yang sudah menjadi kesepakatan umat.
Lihat: 10 Pembatal Keislaman
C.
Hadits Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٩٩ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ:
حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ: حَدَّثَنَا هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ
أَنَسٍ قَالَ: لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَاحِشًا، وَلَا لَعَّانًا، وَلَا
سَبابا، كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْمَعْتَبَةِ: «مَا لَهُ تَرِبَ جَبِينُهُ»
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan, ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaiman, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Hilal bin Ali, dari Anas, dia berkata,
"Rasulullah ﷺ
tidak pernah berkata keji, melaknat dan mencela, dan jika beliau ingin menegur
siapa pun dari kita, beliau biasa mengatakan: "Apa yang salah dengannya,
dahinya menjadi berdebu (dengan bahasa sindiran)."
Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Kitab Adab bab 36-38; Berakhlak mulia
D.
Hadits Tsabit
Adh-Dhahhak radhiyallahu ‘anhu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٧٠٠ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ:
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ
يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ: أَنَّ ثَابِتَ بْنَ
الضَّحَّاكِ، وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ، حَدَّثَهُ: أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ ﷺ قَالَ: «مَنْ حَلَفَ عَلَى مِلَّةٍ غَيْرِ الْإِسْلَامِ فَهُوَ كَمَا
قَالَ، وَلَيْسَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَذْرٌ فِيمَا لَا يَمْلِكُ، وَمَنْ قَتَلَ
نَفْسَهُ بِشَيْءٍ فِي الدُّنْيَا عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ
لَعَنَ مُؤْمِنًا فَهُوَ كَقَتْلِهِ، وَمَنْ قَذَفَ مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ
كَقَتْلِهِ»
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Ali bin Al-Mubarak, dari Yahya bin Abi Katsir, dari
Abu Qilabah, bahwa Tsabit bin Adh-Dhahhak -dan dia termasuk dari Ashabus
Syajarah (yang ikut serta dalam Baiatur Ridhwan) - dia menceritakan kepadanya
bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda, "Barang siapa yang bersumpah atas agama selain Islam, maka ia
dihukumi seperti apa yang ia katakan. Anak cucu Adam dilarang bernadzar dengan
sesuatu yang tidak dimilikinya. Barang siapa yang bunuh diri dengan sesuatu di
dunia, maka ia akan disiksa di akhirat kelak dengan sesuatu yang digunakan
untuk bunuh diri. Barang siapa yang melaknat seorang mukmin, maka ia seperti
membunuhnya. Dan barang siapa yang menuduh seorang muslim dengan kekufuran,
maka ia seperti membunuhnya."
Penjelasan singkat hadits ini:
1)
Biografi Tsabit bin Adh-Dhahhak Abu Zayd Al-Anshariy radhiyallahu
‘anhu.
Ia ikut
pada bai’at Ridhwan sebelum perjajian Hudaibiyah dan berboncengan dengan Nabi ﷺ pada saat perang Khandaq. Beliau wafat tahun 45 hijriyah.
[Tahdzib Al-Kamal]
2)
Larangan bersumpah dengan agama selain Islam.
Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu'anhuma, ia
mendengar seorang laki-laki mengucapkan, "Tidak, demi Ka'bah." Ibnu
Umar lalu berkata, "Tidak boleh bersumpah dengan selain Allah. Aku
mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda:
«مَنْ
حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ» [سنن الترمذي: صحيح]
"Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka ia telah
kafir atau berbuat syirik." [Sunan Tirmidziy: Shahih]
Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (42); Larangan menjadikan sekutu bagi Allah
3)
Tidak boleh bernadzar dengan sesuatu yang tidak ia miliki.
Lihat: Syarah Kitab tauhid bab (12); Termasuk syirik, bernadzar untuk selain Allah
4)
Haramnya bunuh diri.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَلَا
تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا} [النساء : 29]
Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah
Maha Penyayang kepadamu. [An-Nisaa': 29]
Ø Jundub bin
Abdullah radhiyallahu
'anhu berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda:
«كَانَ
فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ
بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: بَادَرَنِي
عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ»
'Di antara orang-orang sebelum kalian ada seorang laki-laki
yang terluka. Ia merasa sangat gelisah (tidak sabar), lalu ia mengambil pisau
dan menggorok tangannya dengan pisau itu. Darahnya tidak berhenti mengalir
hingga ia mati. Allah Ta'ala berfirman: Hamba-Ku telah mendahului-Ku
dengan (menghilangkan) nyawanya sendiri, maka Aku haramkan surga
baginya.'" [Shahih Bukhari dan Muslim]
Ø Dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda:
«مَنْ
تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهْوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى
فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا،
وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي
نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ
بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ
جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا»
"Barang siapa yang menjatuhkan diri dari gunung lalu
membunuh dirinya sendiri, maka ia di dalam neraka Jahanam akan terus menerus
jatuh ke dalamnya, kekal dan abadi di dalamnya selamanya. Dan barang siapa yang
meneguk racun lalu membunuh dirinya sendiri, maka racun itu ada di tangannya,
ia akan terus meneguknya di dalam neraka Jahanam, kekal dan abadi di dalamnya
selamanya. Dan barang siapa yang membunuh dirinya dengan besi (senjata tajam),
maka besi itu ada di tangannya, ia akan terus menikamkan besi itu ke perutnya
di dalam neraka Jahanam, kekal dan abadi di dalamnya selamanya." [Shahih
Bukhari dan Muslim]
5)
Larangan melaknat orang beriman secara person.
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata:
أَنَّ رَجُلًا
عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ كَانَ اسْمُهُ عَبْدَ اللَّهِ، وَكَانَ يُلَقَّبُ
حِمَارًا، وَكَانَ يُضْحِكُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ، وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ قَدْ
جَلَدَهُ فِي الشَّرَابِ، فَأُتِيَ بِهِ يَوْمًا فَأَمَرَ بِهِ فَجُلِدَ، فَقَالَ
رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: اللَّهُمَّ العَنْهُ، مَا أَكْثَرَ مَا يُؤْتَى بِهِ؟
فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لاَ تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِنَّهُ
يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ»
Ada seorang lelaki di masa Nabi ﷺ yang bernama Abdullah dijuluki himar (keledai), ia sering
membuat Rasulullah ﷺ
tertawa, dan Nabi ﷺ
telah beberapa kali menyambuknya karena minum khamar. Suatu hari ia minum lagi
dan Rasulullah memerintahkan untuk menyambuknya. Lalu seseorang berkata: Ya
Allah, laknatlah ia, sudah sering sekali ia dicambuk!
Mendengar ucapan itu, Nabi ﷺ bersabda: "Jangan kalian melaknatnya, karena demi Allah,
tidak ada yang aku ketahui tentang dirinya kecuali ia mencintai Allah dan
Rasul-Nya".
Lihat: Membuat orang tertawa
6)
Tidak boleh menghukumi kafir secara person.
Lihat: "Syarah Akidah Ahlussunnah" karya Al-Isma'iliy (bagian 2)
E.
Hadits Sulaiman bin Shurad
radhiyallahu ‘anhu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٧٠١ - حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ:
حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ: حَدَّثَنِي عَدِيُّ بْنُ ثَابِتٍ
قَالَ: سَمِعْتُ سُلَيْمَانَ بْنَ صُرَدٍ، رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ،
قَالَ: اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَغَضِبَ أَحَدُهُمَا، فَاشْتَدَّ
غَضَبُهُ حَتَّى انْتَفَخَ وَجْهُهُ وَتَغَيَّرَ: فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنِّي
لَأَعْلَمُ كَلِمَةً، لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ الَّذِي يَجِدُ». فَانْطَلَقَ
إِلَيْهِ الرَّجُلُ فَأَخْبَرَهُ بِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ وَقَالَ: تَعَوَّذْ بِاللَّهِ
مِنَ الشَّيْطَانِ، فَقَالَ: أَتُرَى بِي بأسًا، أَمَجْنُونٌ أَنَا، اذْهَبْ.
Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-A'masy,
dia berkata: Telah menceritakan kepadaku 'Adi bin Tsabit, dia berkata: Saya
mendengar Sulaiman bin Shurad -seorang dari sahabat Nabi ﷺ- dia berkata, "Dua orang laki-laki saling mencaci maki di
sisi Nabi ﷺ. Ternyata salah seorang di
antara keduanya sangat marah hingga mukanya berubah menjadi merah. Lalu
Rasulullah bersabda, 'Sungguh aku mengetahui satu kalimat yang seandainya
diucapkan, maka marahnya akan hilang." Lalu orang yang mendengar ucapan
beliau beranjak pergi dan mengabarkan kepadanya sabda Nabi ﷺ, katanya, "Berlindunglah kepada Allah dari setan."
laki-laki yang marah tersebut berkata, 'Apakah kamu menganggap saya ada
masalah, sudah gilakah saya, pergilah?"
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Sulaiman bin Shurad bin Al-Jun, Abu Al-Mutharrif Al-Khuza’iy
radhiyallahu 'anhu.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2.
Caci-maki berujung amarah.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَقُل
لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ
بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا} [الإسراء : 53]
Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu
menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah
musuh yang nyata bagi manusia. [Al-Israa': 53]
3.
Berusaha meredakan amarah.
4.
Syaitan memicu amarah.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَإِمَّا
يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} [فصلت : 36]
Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka
mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.
[Fushilat: 36]
{وَقَدْ
أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن
بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي} [يوسف : 100]
Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika
Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun
padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan
saudara-saudaraku.
[Yusuf: 100]
5.
Dampak buruk amarah.
Seorang sahabat Nabi ﷺ berkata;
يَا رَسُولَ
اللَّهِ، أَوْصِنِي؟ قَالَ: «لَا تَغْضَبْ» ، قَالَ: قَالَ الرَّجُلُ: فَفَكَّرْتُ
حِينَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ مَا قَالَ، فَإِذَا الْغَضَبُ يَجْمَعُ الشَّرَّ كُلَّهُ
[مسند أحمد:
صحيح]
Wahai Rasulullah, berwasiatlah padaku! Rasulullah ﷺ bersabda, "Jangan marah." Orang itu berkata; Lalu aku
berfikir saat Nabi ﷺ
mengucapkan sabda itu, ternyata marah menyatukan seluruh keburukan. [Musnad
Ahmad: Shahih]
6.
Keutamaan menahan amarah.
Dari Mu'adz bin Anas radhiyallahu ‘anhu;
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ
اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ» [سنن أبي داود: حسن]
"Barangsiapa yang menahan marah padahal ia manpu
melampiaskannya, Allah akan memanggilnya di hadapan semua makluk pada hari
kiamat sampai Allah menyuruhnya memilih bidadari sesuai yang ia inginkan".
[Sunan Abu Daud: Hasan]
Ø Abdullah bin
'Amr radhiyallahu
‘anhuma bertanya kepada Rasulullah ﷺ: Amalan apa yang bisa menjauhkanku dari murka Allah?
Rasulullah menjawab: «لَا تَغْضَبْ» "Jangan marah". [Musnad Ahmad: Sahih]
Lihat: Syarah Arba'in hadits (16) Abu Hurairah; Wasiat untuk menahan marah
F.
Hadits Ubadah bin
Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٧٠٢ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا
بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ، عَنْ حُمَيْدٍ قَالَ: قَالَ أَنَسٌ: حَدَّثَنِي
عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِيُخْبِرَ النَّاسَ
بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَتَلَاحَى رَجُلَانِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، قَالَ
النَّبِيُّ ﷺ: «خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ، فَتَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ،
وَإِنَّهَا رُفِعَتْ، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوهَا فِي
التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ»
Telah menceritakan kepada kami Musaddad, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Bisyr bin Al-Mufadhal dari Humaid dia berkata, Anas
berkata, telah menceritakan kepadaku 'Ubadah bin Ash-Shamit dia berkata,
Rasulullah ﷺ keluar untuk mengabarkan
Lailatulqadar kepada orang-orang, kemudian terdapat dua orang dari kalangan
muslimin yang saling berselisih. Lantas Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku keluar hendak mengabarkan
Lailatulqadar kepada kalian, namun aku mendapati perselisihan antara Fulan dan
Fulan sehingga laitatul qadar diangkat kembali, bisa jadi hal itu adalah lebih
baik buat kalian, maka carilah Lailatulqadar pada hari kesembilan, ketujuh, dan
kelima (sebelum Akhir)."
Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Kitab Iman bab 37; Kekhawatiran seorang mukmin bila amalnya terhapus tanpa sadar
G.
Hadits Abu Dzar radhiyallahu
‘anhu (kedua).
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٧٠٣ - حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ:
حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنِ الْمَعْرُورِ [بن سويد]، عَنْ
أَبِي ذَرٍّ قَالَ: رَأَيْتُ عَلَيْهِ بُرْدًا، وَعَلَى غُلَامِهِ بُرْدًا،
فَقُلْتُ: لَوْ أَخَذْتَ هَذَا فَلَبِسْتَهُ كَانَتْ حُلَّةً، وَأَعْطَيْتَهُ
ثَوْبًا آخَرَ، فَقَالَ: كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ رَجُلٍ كَلَامٌ، وَكَانَتْ
أُمُّهُ أَعْجَمِيَّةً، فَنِلْتُ مِنْهَا، فَذَكَرَنِي إِلَى النَّبِيِّ ﷺ،
فَقَالَ لِي: «أَسَابَبْتَ فُلَانًا». قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «أَفَنِلْتَ مِنْ
أُمِّهِ». قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ». قُلْتُ
عَلَى حِينِ سَاعَتِي: هَذِهِ مِنْ كِبَرِ السِّنِّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، هُمْ
إِخْوَانُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ جَعَلَ اللَّهُ
أَخَاهُ تَحْتَ يَدِهِ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا
يَلْبَسُ، وَلَا يُكَلِّفُهُ مِنَ الْعَمَلِ مَا يَغْلِبُهُ، فَإِنْ كَلَّفَهُ مَا
يَغْلِبُهُ فَلْيُعِنْهُ عَلَيْهِ»
Telah menceritakan kepadaku 'Umar bin Hafsh, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-A'masy,
dari Ma'rur [Ibnu Suwaid], dari Abu Dzar, (Ma'rur) berkata, "Saya
pernah melihat Abu Dzar memakai pakaian serupa dengan sahayanya. Maka saya
berkata kepadanya, "Sekiranya kamu mengambil kain tersebut untuk kamu
kenakan kemudian kamu memberi kain lagi untuk sahayamu (itu akan lebih baik),
Lalu Abu Dzar berkata, "Bahwa dahulu aku dengan seorang laki-laki terjadi
percekcokan, sementara ibu laki-laki itu adalah orang 'ajm (non Arab) lalu aku
pun menghinakannya. Kemudian laki-laki itu mengadu kepada Nabi ﷺ, maka beliau bersabda kepadaku, "Apakah kamu habis
menjelekkan fulan?" jawabku, "Benar." Beliau bertanya lagi,
"Apakah kamu juga menghinakan ibunya?" jawabku, "Benar."
Beliau bersabda, "Sungguh dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliah,
" aku pun berkata, "Apakah saya masih memiliki sifat jahiliahan
padahal aku sudah tua?" beliau menjawab, "Ya, benar, mereka adalah
saudaramu dan paman-pamanmu yang dititipkan Allah di bawah pengurusanmu, barang
siapa memiliki saudara yang masih dalam pengurusanya, hendaklah dia diberi
makan sebagaimana yang dia makan, diberi pakaian sebagaimana ia mengenakan
pakaian. Dan janganlah kamu bebaninya diluar batas kemampuannya, dan jika kamu
membebaninya, maka bantulah dia dalam menyelesaikan tugasnya."
Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Kitab Iman bab 22; Perbuatan maksiat merupakan kebiasaan Jahiliyah, tidak dikafirkan pelakunya kecuali perbuatan syirik
Wallahu a'lam!
Lihat juga: Kitab Adab bab 40-43; Saling mencintai di jalan Allah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...