Surah Al-'Adiyat adalah surah yang ke-100, termasuk surah
Makkiyah, terdiri dari 11 ayat.
Hubungan surah ini dengan surah sebelum dan
sesudahnya
Surah
Al-Adiyat berbicara tentang sifat manusia yang mengingkari nikmat, sehingga
lalai dengan hari kebangkitan.
Sedangkan
surah sebelumnya “Az-Zalzalah” dan surah setelahnya “Al-Qari'ah” berbicara
tentang hari kiamat dan kebangkitan yang menggambarkan bagaimana kondisi
manusia saat itu.
Lihat: Tafsir surah "Al-Qari'ah"
Ayat pertama-kelima
﴿وَالْعَادِيَاتِ
ضَبْحًا (1) فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا (2) فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا (3) فَأَثَرْنَ
بِهِ نَقْعًا (4) فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا﴾
Demi kuda perang yang berlari kencang
dengan terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku
kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia
menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.
1.
Kenapa Allah 'azza wajalla bersumpah
dengan kuda perang?
a)
Menunjukkan keutamaan kuda.
Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:
{وَأَعِدُّوا
لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ
عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ} [الأنفال: 60]
Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi
mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat
menggentarkan musuh Allah, musuhmu. [Al-Anfal: 60]
Ø Dari Abdullah
bin Umar radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«الخَيْلُ
فِي نَوَاصِيهَا الخَيْرُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Pada ubun-ubun kuda ada kebaikan sampai hari
kiamat". [Shahih Bukhari dan Muslim]
Ø Dari Abu
Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ berkata:
«الْخَيْلُ
لِثَلَاثَةٍ: لِرَجُلٍ أَجْرٌ، وَلِرَجُلٍ سِتْرٌ، وَعَلَى رَجُلٍ وِزْرٌ،
فَأَمَّا الَّذِي لَهُ أَجْرٌ: فَرَجُلٌ رَبَطَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَأَطَالَ
لَهَا فِي مَرْجٍ أَوْ رَوْضَةٍ، فَمَا أَصَابَتْ فِي طِيَلِها ذَلِكَ مِنَ المرج
والروضة كَانَ لَهُ حَسَنَاتٍ، وَلَوْ أَنَّهَا قَطَعَتْ طِيَلَها، فاستنَّت
شَرَفًا أَوْ شَرَفَيْنِ، كَانَتْ آثَارُهَا وأوراثها حَسَنَاتٍ لَهُ، وَلَوْ
أَنَّهَا مَرَّتْ بِنَهَرٍ فَشَرِبَتْ مِنْهُ وَلَمْ يُرِدْ أَنْ يَسْقِيَ بِهِ
كَانَ ذَلِكَ حَسَنَاتٍ لَهُ، وَهِيَ لِذَلِكَ الرَّجُلِ أَجْرٌ. وَرَجُلٌ
رَبَطَهَا تغنِّيًا وتعفُّفًا،
وَلَمْ ينسَ حَقَّ اللَّهِ فِي رِقَابِهَا وَلَا ظُهُورِهَا، فَهِيَ لَهُ سِتْرٌ.
وَرَجُلٌ رَبَطَهَا فَخْرًا وَرِيَاءً، فَهِيَ عَلَى ذَلِكَ وِزْرٌ». وَسُئِلَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنِ الْحُمُرِ، قَالَ: «مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عليَّ فِيهَا
إِلَّا هَذِهِ الْآيَةَ الفاذَّة الْجَامِعَةَ: ﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذرَّة
خَيْرًا يَرَهُ. وَمَنْ يعمل مثقال ذرَّة شرًا يره﴾»
'Kuda itu bagi tiga orang; bagi orang pertama mendatangkan
pahala, bagi orang kedua sebagai penutup (penyelesaian, solusi), dan bagi orang
ketiga mendatangkan dosa. Adapun kuda yang mendatangkan pahala adalah seseorang
yang menambatkan kudanya di jalan Allah, lantas ia gembalakan kudanya di
rerumputan luas atau kebun, maka segala yang dimakan kuda itu di padang
gembalaan, baik kebun atau rerumputan luas selain tercatat sebagai kebaikan
baginya, dan sekiranya kuda itu mengarungi padang gembalaan, lantas dia melangkah
satu atau dua langkah, maka bekas dan kotorannya juga terhitung kebaikan
baginya, dan sekiranya kuda itu melewati sungai dan meminumnya, padahal si
pemilik tidak berniat memberinya minuman, maka itu terhitung kebaikan baginya,
kesemuanya itu terhitung ganjaran baginya. Kuda kedua, adalah seseorang yang
mengikatnya untuk mencari penghasilan dan untuk menjaga kehormatan diri, sedang
ia tidak melupakan hak Allah terhadap ikatannya dan tidak pula terhadap
punggungnya, maka kuda itu sebagai penyelesaian baginya. Adapun kuda ketiga
adalah, seseorang yang mengikatnya untuk sekedar kebanggaan dan pamer, maka itu
adalah bosa baginya. Dan Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang keledai. Maka beliau hanya menjawab,
'Allah tidak menurunkan kepadaku tentangnya selain satu ayat yang ringkas ini:
'(Barang siapa yang beramal kebaikan seberat biji dzarrah, maka Allah akan
melihatnya, sebaliknya barang siapa yang beramal seberat biji dzarrah
keburukan, pasti ia melihatnya) ' [Az-Zalzalah: 7-8] [Shahih Bukhari]
Ø Dari Jabir
bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«كُلُّ
شَيْءٍ لَيْسَ فِيهِ ذِكْرُ اللهِ فَهُوَ لَهْوٌ وَلَعِبٌ إِلَّا أَرْبَعَ:
مُلَاعَبَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ، وَتَأْدِيبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ، وَمَشْيُهُ
بَيْنَ الْغَرَضَيْنِ، وَتَعْلِيمُ الرَّجُلِ السَّبَّاحَةَ» [السنن الكبرى للنسائي: صححه الألباني]
“Segala sesuatu yang tidak dibarengi dengan dzikir kepada
Allah maka itu adalah sendau gurau dan permainan saja kecuali empat: Suami
mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, berjalan diantara dua
tujuan, dan seseorang belajar berenang”. [As-Sunan Al-Kubra karya An-Nasa’iy:
Shahih]
Ø Dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا
سَبَقَ إِلَّا فِي خُفٍّ أَوْ فِي حَافِرٍ أَوْ نَصْلٍ» [سنن أبي داود: صحيح]
"Tidak ada perlombaan kecuali dalam hewan yang bertapak
kaki (onta), yang berkuku (kuda), serta memanah." [Sunan Abi Daud: Shahih]
b)
Keutamaan jihad di medan perang.
c)
Membandingkan ketundukan dan ketaatan kuda perang dengan manusia
yang banyak ingkar.
Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:
{وَلَقَدْ
ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا
يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا
يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ
هُمُ الْغَافِلُونَ} [الأعراف
: 179]
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam)
kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan
mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar
(ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. [Al-A'raaf: 179]
{أَرَأَيْتَ
مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا (43) أَمْ
تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا
كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا} [الفرقان : 43-44]
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,
atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami.
Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat jalannya (dari binatang ternak itu). [Al-Furqan: 43-44]
2. Menyerang musuh di waktu subuh.
Anas radhiyallahu 'anhu berkata:
«كَانَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا غَزَا قَوْمًا لَمْ يُغِرْ حَتَّى يُصْبِحَ، فَإِنْ سَمِعَ
أَذَانًا أَمْسَكَ، وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ بَعْدَمَا يُصْبِحُ»
"Rasulullah ﷺ apabila hendak menyerang suatu kaum, beliau tidak melakukannya
hingga waktu subuh tiba. Jika beliau mendengar suara azan, maka beliau
mengurungkan niatnya (tidak jadi menyerang). Namun jika tidak mendengar azan,
maka beliau menyerang setelah subuh." [Shahih Bukhari]
Ayat keenam
﴿إِنَّ
الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ﴾
Sesungguhnya manusia itu sangat
ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,
Tabiat manusia mengingkari nikmat Allah ta'aalaa.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَقَلِيلٌ
مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ} [سبأ: 13]
Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. [Saba':13]
{وَهُوَ
الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا
تَشْكُرُونَ} [المؤمنون:
78] [الملك: 23]
Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian,
pendengaran, penglihatan dan hati. amat sedikitlah kamu bersyukur. [Al-Mu'minuun:78]
{فَإِذَا
مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَكِنَّ
أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ} [الزمر: 49]
Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian
apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya
aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah
ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. [Az-Zumar:49]
Lihat: Sifat mukmin yang menakjubkan; Bersyukur dan bersabar
Ayat ketujuh
﴿وَإِنَّهُ
عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ﴾
Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan
(sendiri) keingkarannya,
Dhamir pada kalimat (إنه) dimaksudkan pada:
a.
Manusia itu sendiri.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{مَا
كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَن يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ
أَنفُسِهِم بِالْكُفْرِ ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ
خَالِدُونَ} [التوبة
: 17]
Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan
mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah
orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. [At-Taubah: 17]
b.
Allah ‘azza wajalla.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{قُلْ
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ
عَلَىٰ مَا تَعْمَلُونَ} [آل عمران : 98]
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari
ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan?". [Ali 'Imran: 98]
Ayat kedelapan
﴿وَإِنَّهُ
لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ﴾
Dan sesungguhnya dia sangat bakhil
karena cintanya kepada harta.
Tabiat manusia mencintai harta.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ
رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا
إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16)
كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ
الْمِسْكِينِ (18) وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا (19) وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا} [الفجر : 15-20]
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia
dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku
telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi
rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". Sekali-kali
tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak
saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka
dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil), dan kamu mencintai
harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. [Al-Fajr: 15-20]
Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 10; Mewaspadai fitnah harta
Ayat kesembilan
﴿أَفَلَا
يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ﴾
Maka apakah dia tidak mengetahui
apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur.
Penetapan adanya hari kebangkitan
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَإِذَا
الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ (4) عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ} [الإنفطار : 4-5]
Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa
akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. [Al-Infithar: 4-5]
Lihat: Perjalanan setelah kematian
Ayat kesepuluh
﴿وَحُصِّلَ
مَا فِي الصُّدُورِ﴾
Dan dinampakkan apa yang ada di dalam
dada.
Di akhirat akan nampak perkara hati.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء : 36]
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [Al-Israa': 36]
{وَمَن
كَفَرَ فَلَا يَحْزُنكَ كُفْرُهُ ۚ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُم بِمَا
عَمِلُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ} [لقمان : 23]
Dan barangsiapa kafir maka kekafirannya itu janganlah
menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada
mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
segala isi hati.
[Luqman: 23]
{إِن
تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ
الْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ
أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ
تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ} [الزمر : 7]
Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan
(iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu
bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang
berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah
kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu. [Az-Zumar: 7]
Ayat kesebelas
﴿إِنَّ
رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ﴾
Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari
itu Maha Mengetahui keadaan mereka.
1.
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَإِنَّ
كُلًّا لَّمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمْ رَبُّكَ أَعْمَالَهُمْ ۚ إِنَّهُ بِمَا
يَعْمَلُونَ خَبِيرٌ} [هود : 111]
Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih
itu) pasti Tuhanmu akan menyempurnakan dengan cukup, (balasan) pekerjaan
mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. [Huud: 111]
{يَا
بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ
أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ
لَطِيفٌ خَبِيرٌ} [لقمان
: 16]
(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada
(sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit
atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya).
Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. [Luqman: 16]
{يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ
لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ} [الحشر : 18]
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.
[Al-Hasyr: 18]
2.
Diantara nama Allah adalah “Al-Khabiir”.
Lihat: 108 "Asmaa-ul husna"
Pelajaran yang bisa diambil dari surah ini:
1) Senantiasa mensyukuri nikmat Allah ta'aalaa .
Lihat: Hadits An-Nu’man bin Basyir; Mensyukuri nikmat Allah
2)
Jangan terlalu ambisi terhadap kenikmatan dunia.
3)
Mempersiapkan diri untuk hari akhirat.
4)
Selalu merasa diawasi oleh Allah ta'aalaa (muraqabah).
Lihat: Syarah Riyadhushalihin Bab (05) Muraqabah
Wallahu a'lam!
Lihat juga: Tafsir surah Al-Fatihah - Tafsir surah As-Sajdah - Tafsir Surah Al-Qadr

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...