بسم الله الرحمن الرحيم
Abu Bakr Ahmad bin Ibrahim Al-Isma’iliy Asy-Syafi’iy (w.371H) rahimahullah
berkata:
[الشفاعة والحوض والمعاد والحساب]
ويقولون إن الله يخرج من
النار قوما من أهل التوحيد بشفاعة الشافعين، وأن الشفاعة حق، والحوض حق، والمعاد
حق، والحساب حق.
Dan
mereka berkata, "Sesungguhnya Allah mengeluarkan dari neraka suatu kaum
dari kalangan ahli tauhid dengan syafaat para pemberi syafaat. Dan sesungguhnya
syafaat itu benar, telaga (Al-Haudh) itu benar, hari kebangkitan itu benar, dan
perhitungan amal itu benar."
Syarah:
1.
Ada beberapa jenis
syafaat di akhirat.
Lihat: Jenis-jenis Syafa’at di akhirat
2.
Telaga Nabi ﷺ
adalah salah satu dari kebaikan (Al-Kautsar) yang Allah berikan
kepadanya.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ
الْكَوْثَرَ} [الكوثر:
1]
Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. [Al-Kautsar: 1]
Ø Abdullah bin Zayd radhiallahu 'anhu berkata: Nabi ﷺ bersabda:
«اصْبِرُوا حَتَّى
تَلْقَوْنِي عَلَى الحَوْضِ»
"Bersabarlah kalian sampai kalian menjumpaiku di telaga” [Shahih
Bukhari]
Lihat: Tafsir surah Al-Kautsar
3.
Penetapan hari
kebangkitan di akhirat.
Dari Abu Salma -radhiallahu 'anhu- mantan budak Rasulullah ﷺ; Rasulullah ﷺ
bersabda:
«بَخٍ بَخٍ لِخَمْسٍ مَنْ
لَقِيَ اللَّهَ مُسْتَيْقِنًا بِهِنَّ دَخَلَ الْجَنَّة: يُؤْمِنُ بِاللَّهِ،
وَالْيَوْمِ الْآخِر، وَبِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ،
وَالْحِسَابِ»
"Amboi, amboi, ada lima perkara, barangsiapa yang bertemu Allah
dalam keadaan yakin terhadap kelima itu maka dia masuk surga: Beriman kepada
Allah, Hari Akhir, Surga, Neraka, Hari Kebangkitan setelah kematian dan Hari
perhitungan". [Musnad Ahmad: Shahih]
Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 45; Bagaimana hari pengumpulan (Al-Hasyr)
4.
Penetapan hisab di
akhirat.
Dari 'Aisyah radhiyallahu ‘anha; Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ نُوقِشَ الحِسَابَ
عُذِّبَ» قَالَتْ: قُلْتُ: أَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: {فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا} [الانشقاق: 8] قَالَ: «ذَلِكِ العَرْضُ»
"Barang siapa yang hisabnya dituntut (dinampakkan), maka ia
disiksa." Kata Aisyah, saya bertanya; Bukankah Allah Ta'ala
berfirman {Maka ia dihisab dengan hisab yang mudah}? [Al-Insyiqaq: 8]
Nabi menjawab, "Ayat itu maksudnya hanyalah 'ardh (hari ketika amal
diperlihatkan)." [Shahih Bukhari]
Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 49; Siapa yang hisabnya diperdebatkan maka ia akan diazab
[ترك الشهادة لأحد من الموحدين بالجنة
أو النار]
ولا يقطعون على أحد من
أهل الملة أنه من أهل الجنة أو من أهل النار، لأن علم ذلك يغيب عنهم، لا يدرون على
ماذا الموت؟ أعلى الإسلام؟ أم على الكفر؟ ولكن يقولون إن من مات على الإسلام
مجتنبا للكبائر والأهواء والآثام، فهو من أهل الجنة، لقوله تعالى: ﴿إِنَّ الَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ﴾ [البينة: ٧] ولم يذكر عنهم ذنبا
﴿أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ - جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ
عَدْنٍ﴾ [البينة: ٧ - ٨] ومن شهد له النبي ﷺ بعينه وصح له ذلك عنه، فإنهم
يشهدون له بذلك، اتباعا لرسول الله ﷺ وتصديقا لقوله.
Dan
mereka tidak memastikan bahwa seseorang dari pemeluk agama Islam (ahlul millah)
itu termasuk penghuni surga atau penghuni neraka, karena ilmu tentang hal itu
tersembunyi bagi mereka. Mereka tidak tahu bagaimana akhir hidupnya? Apakah ia
meninggal dalam keadaan Islam? Atau dalam kekafiran? Akan tetapi mereka
mengatakan: "Barangsiapa yang meninggal di atas Islam, menjauhi dosa-dosa
besar, hawa nafsu, dan perbuatan dosa, maka ia termasuk penghuni surga,"
berdasarkan firman Allah Ta'ala: {Sesungguhnya orang-orang yang
beriman dan mengerjakan kebajikan...} [Al-Bayyinah: 7], dan tidak
disebutkan tentang mereka dosa apapun. {...mereka itulah sebaik-baik
makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga 'Adn...}
[Al-Bayyinah: 7-8]. Adapun orang yang secara spesifik disaksikan oleh Nabi ﷺ (bahwa ia penghuni surga atau neraka) dan
hal itu telah sahih baginya, maka mereka bersaksi untuknya sesuai dengan itu,
sebagai bentuk mengikuti Rasulullah ﷺ dan membenarkan sabdanya.
Syarah:
1)
Tidak boleh menghukumi (memastikan) surga untuk seseorang secara person.
Sewaktu Usman bin Madz'un radhiyallahu 'anhu meninggal (tahun 3
hijriyah), Ummu Al-'Ala' radhiyallahu 'anha berkata:
رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أَبَا
السَّائِبِ، فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ: لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ، فَقَالَ
النَّبِيُّ ﷺ: «وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ
أَكْرَمَهُ؟» فَقُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَمَنْ يُكْرِمُهُ
اللَّهُ؟ فَقَالَ: «أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ اليَقِينُ، وَاللَّهِ إِنِّي
لَأَرْجُو لَهُ الخَيْرَ، وَاللَّهِ مَا أَدْرِي، وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ، مَا
يُفْعَلُ بِي» قَالَتْ: فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا [صحيح البخاري]
"Rahmat Allah untukmu wahai Abu As-Saib (kuniah Usman), aku bersaksi
tentang kamu sesungguhnya Allah telah memuliakanmu!" Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya: "Dari mana engkau tau kalau Allah
telah memuliakannya?" Ummu Al-'Ala' menjawab: "Demi Allah aku tidak
tau, tapi kalau bukan seperti dia yang dimuliakan Allah, siapa lagi?"
Rasulullah ﷺ menjawab: "Adapun dia
(Usman), maka ia sudah didatangi keyakinan (kematian), dan demi Allah aku
berharap ia dalam keadaan yang baik, dan demi Allah aku pun tidak tau, padalah
aku adalah Rasul Allah, apa yang Allah akan perbuat nanti terhadapku".
Ummu Al-'Alaa' berkata: "Demi Allah, aku tidak akan memuji seseorang pun
setelahnya untuk selama-lamanya". [Shahih Bukhari]
Lihat: Sahabat yang pertama masuk Islam
2) Tidak boleh menghukumi (memastikan) neraka untuk seseorang secara person.
Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«قَالَ رَجُلٌ: وَاللهِ
لاَ يَغْفِرُ اللهُ لِفُلاَنٍ، فَقَالَ اللهُ تعالى: مَنْ ذَا الَّذِيْ يَتَأَلَّى
عَلَيَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ؟ إِنِّيْ قَدْ غَفَرْتُ لَهُ وَأَحْبَطْتُ
عَمَلَكَ»
“Ada seorang laki-laki berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni
si fulan, maka Allah ta’aalaa berfirman: “siapa yang bersumpah mendahului-Ku,
bahwa aku tidak mengampuni sifulan? Sungguh Aku telah mengampuni-Nya dan Aku
telah menghapuskan amalmu.” [Shahih Muslim]
Ø Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda:
«كَانَ رَجُلَانِ فِي
بَنِي إِسْرَائِيلَ مُتَوَاخِيَيْنِ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالْآخَرُ
مُجْتَهِدٌ فِي الْعِبَادَةِ فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الْآخَرَ
عَلَى الذَّنْبِ فَيَقُولُ: أَقْصِرْ! فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ
لَهُ: أَقْصِرْ! فَقَالَ: خَلِّنِي وَرَبِّي أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيبًا؟
فَقَالَ: وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَوْ لَا يُدْخِلُكَ اللَّهُ
الْجَنَّةَ! فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ
فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ: أَكُنْتَ بِي عَالِمًا أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي
يَدِي قَادِرًا؟! وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ: اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ
بِرَحْمَتِي! وَقَالَ لِلْآخَرِ: اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ»
"Ada dua orang laki-laki dari bani Isra'il yang saling bersaudara;
salah seorang dari mereka suka berbuat dosa sementara yang lain giat dalam
beribadah. Orang yang giat dalam beribdah itu selalu melihat saudaranya berbuat
dosa hingga ia berkata, "Berhentilah." Lalu pada suatu hari ia
kembali mendapati suadaranya berbuat dosa, ia berkata lagi,
"Berhentilah." Orang yang suka berbuat dosa itu berkata,
"Biarkan aku bersama Tuhanku, apakah engkau diutus untuk selalu mengawasiku!"
Ahli ibadah itu berkata, "Demi Allah, sungguh Allah tidak akan
mengampunimu, atau tidak akan memasukkanmu ke dalam surga." Allah kemudian
mencabut nyawa keduanya, sehingga keduanya berkumpul di sisi Rabb semesta alam.
Allah kemudian bertanya kepada ahli ibadah: "Apakah kamu lebih tahu
dari-Ku? Atau, apakah kamu mampu melakukan apa yang ada dalam
kekuasaan-Ku?" Allah lalu berkata kepada pelaku dosa: "Pergi dan
masuklah kamu ke dalam surga dengan rahmat-Ku." Dan berkata kepada ahli
ibadah: "Bawalah ia ke dalam neraka."
Abu Hurairah berkata:
«وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ»
"Demi Dzat yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sungguh ia telah
mengucapkan satu ucapan yang mampu merusak dunia dan akhiratnya." [Sunan
Abi Daud:Shahih]
Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (64); Larangan bersumpah mendahului Allah
3) Sepuluh sahabat terbaik dipersaksikan oleh Nabi ﷺ akan masuk surga.
Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَبُو بَكْرٍ فِي
الجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي
الجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الجَنَّةِ، وَعَبْدُ
الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الجَنَّةِ، وَسَعْدٌ فِي الجَنَّةِ، وَسَعِيدٌ فِي
الجَنَّةِ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الجَرَّاحِ فِي الجَنَّةِ» [سنن الترمذي: صحيح]
“Abu Bakr (akan masuk) dalam surga, Umar dalam surga, Utsman dalam surga,
Ali dalam surga, Thalhah dalam surga, Az-Zubair dalam surga, Abdurrahman bin
‘Auf dalam surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) dalam surga, Sa’id (bin Zayd) dalam
surga, dan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarraah dalam surga”. [Sunan Tirmidziy: Shahih]
Lihat: 105 Biografi Sahabat
[عذاب القبر]
ويقولون إن عذاب القبر حق، يعذب الله من استحقه إن شاء، وإن
شاء عفى عنه، لقوله تعالى: ﴿النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا
وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ﴾ [غافر: ٤٦] فأثبت لهم ما بقيت
الدنيا عذابا بالغدو والعشي دون ما بينهما، حتى إذا قامت القيامة عذبوا أشد
العذاب، بلا تخفيف عنهم كما كان في الدنيا، وقال: ﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي
فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا﴾ [طه: ١٢٤] يعني قبل فناء الدنيا، لقوله بعد
ذلك: ﴿وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى﴾ [طه: ١٢٤] بين أن المعيشة الضنك
قبل يوم القيامة، وفي معاينتنا اليهود والنصارى والمشركين في العيش الرغد
والرفاهية في المعيشة ما يعلم به أنه لم يرد به ضيق الرزق في الحياة الدنيا لوجود
مشركين في سعة من أرزاقهم، وإنما أراد به بعد الموت، قبل الحشر.
Dan mereka mengatakan bahwa azab kubur itu
benar adanya; Allah mengazab siapa yang berhak menerimanya jika Dia kehendaki,
dan jika Dia kehendaki, Dia memaafkannya. Berdasarkan firman Allah Ta'ala:
{(Yaitu) neraka, mereka diperlihatkan kepadanya pada pagi dan petang, dan
pada hari terjadinya Kiamat (dikatakan kepada malaikat): 'Masukkanlah Fir'aun
dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras} [Ghafir: 46]. Maka Allah
tetapkan bagi mereka selama dunia masih ada azab pada waktu pagi dan petang,
(sementara) tidak pada waktu antara keduanya, sehingga ketika hari Kiamat tiba,
mereka diazab dengan azab yang paling keras, tanpa ada keringanan bagi mereka
seperti yang ada di dunia. Dan Dia berfirman: {Dan barang siapa berpaling
dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit}
[Thaha: 124] — maksudnya sebelum hancurnya dunia, karena firman-Nya setelah
itu: {Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta}
[Thaha: 124]. Maka dijelaskan bahwa kehidupan yang sempit itu (terjadi) sebelum
hari Kiamat. Dan pada pengamatan kita terhadap orang-orang Yahudi, Nasrani, dan
musyrik yang hidup dalam kemewahan dan kelapangan hidup, menjadi diketahui
bahwa yang dimaksud (dengan kehidupan yang sempit) bukanlah kesempitan rezeki
dalam kehidupan dunia, karena adanya orang-orang musyrik yang berada dalam
kelapangan rezeki mereka. Akan tetapi yang dimaksud adalah (kehidupan yang
sempit) setelah kematian, sebelum (hari) kebangkitan.
Syarah:
Dalil adanya siksaan di alam kubur.
Ali
radhiyallahu 'anhu berkata; Rasulullah ﷺ bersabda pada perang Ahzab:
«شَغَلُونَا عَنِ
الصَّلَاةِ الْوُسْطَى، صَلَاةِ الْعَصْرِ، مَلَأَ اللهُ بُيُوتَهُمْ
وَقُبُورَهُمْ نَارًا»
"Pasukan musuh benar-benar telah menyibukkan kita dari shalat
wustha, shalat ashar, semoga Allah memenuhi rumah dan kuburan mereka dengan
api."
Kemudian Rasulullah ﷺ
melakukan shalat Ashar di antara dua shalat malam, yaitu Magrib dan Isya.
[Shahih Muslim]
Lihat: Perjalanan setelah kematian
[سؤال منكر ونكير]
ويؤمنون بمسألة منكر ونكير على ما ثبت به الخبر عن رسول الله ﷺ،
مع قول الله تعالى: ﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ
فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ
وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ﴾ [إبراهيم: ٢٧] وما ورد تفسيره عن النبي.
Dan mereka beriman kepada pertanyaan (di alam
kubur oleh) Munkar dan Nakir, sesuai dengan apa yang telah ditetapkan
berdasarkan berita dari Rasulullah ﷺ, bersamaan dengan firman Allah Ta'ala: {Allah
meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di
dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang zalim, serta Allah
berbuat apa yang Dia kehendaki} [Ibrahim: 27], dan sesuai dengan tafsir
yang telah diriwayatkan dari Nabi.
Syarah:
Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ
خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ. وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ
فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ،
فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ، فَيَقُولَانِ
لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَقُولَانِ: وَمَا يُدْرِيكَ؟
فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ. فَذَلِكَ قَوْلُ
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ
الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ
الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ} [إبراهيم: 27] » قَالَ: «فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ
السَّمَاءِ: أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ،
وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ» قَالَ:
«فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا، وَيُفْتَحُ لَهُ فِيهَا مَدَّ بَصَرِهِ»
"Sungguh, mayat itu akan dapat mendengar derap sandal mereka (yang
mengantar) saat berlalau pulang. Lalu ada dua malaikat mendatanginya seranya
mendudukkannya. Malaikat itu bertanya, "Siapa Rabbmu?" Ia menjawab,
"Rabbku adalah Allah." Malaikat itu bertanya lagi, "Apa
agamamu?" Ia menjawab, "Agamaku adalah Islam." Malaikat itu
bertanya lagi, "Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian ini? ' Ia
menjawab, "Dia adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
Malaikat itu bertanya lagi, "Apa yang membuat kamu mengetahuinya?" Ia
menjawab, "Aku membaca Kitabullah, aku mengimaninya dan
membenarkannya." Maka inilah makna firman Allah: '(Allah meneguhkan
(iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu [tauhid] dalam
kehidupan di dunia dan di akhirat; Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim
dan Allah memperbuat apa yang Dia kehendaki) [Ibrahim: 27] Beliau bersabda:
"Kemudian ada suara dari langit yang menyeru, "Benarlah apa yang
dikatakan oleh hamba-Ku, hamparkanlah permadani untuknya di surga, bukakan
baginya pintu-pintu surga dan berikan kepadanya pakaian surga." Beliau
melanjutkan: "Kemudian didatangkan kepadanya wewangian surga, lalu
kuburnya diluaskan sejauh mata memandang."
Lihat: Hadits Al-Baraa’; Ketika ajal menjemput dan pertanyaan alam kubur
[ترك الخصومات والمراء في الدين]
ويرون ترك الخصومات والمراء في القرآن وغيره، لقول الله عز
وجل: ﴿مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا﴾ [غافر: ٤] يعني يجادل فيها تكذيبا
بها والله أعلم.
Mereka berpendapat untuk meninggalkan
perselisihan dan perdebatan dalam Al-Qur’an maupun selainnya, berdasarkan
firman Allah ‘Azza wa Jalla: {Tidak ada yang memperdebatkan ayat-ayat
Allah kecuali orang-orang yang kafir} [Ghafir: 4]. Maksudnya,
memperdebatkannya dalam rangka mendustakannya, wallahu a’lam.
Syarah:
Larangan suka berdebat.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{خَلَقَ الْإِنسَانَ مِن
نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ} [النحل : 4]
Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi
pembantah yang nyata.
[An-Nahl: 4]
Ø Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ
فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»
"Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang
meninggalkan perdebatan meskipun benar." [Sunan Abi Daud: Hasan]
Ø Dari Abu
Umamah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ
هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ، ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ
﴿مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ﴾ [الزخرف: ٥٨]»
"Tidaklah suatu kaum tersesat setelah sebelumnya berada di atas
petunjuk, kecuali mereka dianugerahi sifat suka berdebat." Kemudian beliau
membaca ayat ini: {"Mereka tidak memberikannya kepadamu (sebagai
perumpamaan) melainkan hanya untuk berbantah-bantahan; sebenarnya mereka adalah
kaum yang suka bertengkar."} [Az-Zukhruf: 58] [Musnad Ahmad: Hasan
ligairih]
Lihat: Kitab I’tisham, bab (18) Firman Allah ta'aalaa {Sungguh manusia itu makhluk yang suka membantah}
[خلافة الخلفاء الراشدين]
ويثبتون خلافة أبي بكر
رضي الله عنه بعد رسول الله ﷺ، باختيار الصحابة إياه، ثم خلافة عمر بعد أبي بكر
رضي الله عنه باستخلاف أبي بكر إياه، ثم خلافة عثمان رضي الله عنه باجتماع أهل
الشورى وسائر المسلمين عليه عن أمر عمر ثم خلافة علي بن أبي طالب رضي الله عنه عن
بيعة من بايع من البدريين عمّار بن ياسر وسهل بن حنيف ومن تبعهما من سائر الصحابة
مع سابقه وفضله.
Dan
mereka menetapkan kekhalifahan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu setelah Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam, karena pilihan para sahabat terhadapnya. Kemudian
kekhalifahan Umar setelah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, karena Abu Bakar
menunjuknya sebagai khalifah. Kemudian kekhalifahan Utsman radhiyallahu 'anhu,
karena berkumpulnya para ahli syura dan seluruh kaum muslimin atas dirinya atas
perintah Umar. Kemudian kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu,
berdasarkan baiat dari orang-orang yang membaiatnya di antara sahabat Badr,
yaitu 'Ammar bin Yasir dan Sahl bin Hunaif, serta orang-orang yang mengikuti
keduanya dari kalangan sahabat yang lain, disertai dengan keutamaan dan
kelebihannya (Ali)."
Lihat: Sepuluh sahabat terbaik dijamin masuk surga
[فضائل الصحابة]
ويقولون بتفضيل الصحابة
رضي الله عنهم، لقوله: ﴿لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ
يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ﴾ [الفتح: ١٨] وقوله: ﴿وَالسَّابِقُونَ
الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ
بِإِحْسَانٍ رضي الله عنهم﴾ [التوبة: ١٠٠] ومن أثبت الله رضاه عنه
لم يكن منهم بعد ذلك ما يوجب سخط الله عز وجل، ولم يوجب ذلك للتابعين إلا بشرط
الإحسان، فمن كان من التابعين من بعدهم يتنقصهم لم يأت بالإحسان، فلا مدخل له في
ذلك.
Mereka (Ahlus Sunnah) mengatakan tentang keutamaan para
sahabat radhiyallahu 'anhum berdasarkan firman-Nya: {Sungguh, Allah telah
ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di
bawah pohon} [Al-Fath: 18], dan firman-Nya: {Orang-orang yang terdahulu
lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka}
[At-Taubah: 100]. Barangsiapa yang telah Allah tetapkan keridhaan-Nya
kepadanya, maka setelah itu tidak ada lagi sesuatu yang menyebabkan kemurkaan
Allah 'Azza wa Jalla. Dan Allah tidak menetapkan keridhaan itu bagi para
tabi'in kecuali dengan syarat berbuat baik (ihsan). Maka barangsiapa di antara
tabi'in setelah mereka yang mencela para sahabat, berarti dia tidak berbuat
baik, sehingga tidak masuk ke dalam (keridhaan) itu.
Lihat: Keutamaan Sahabat Rasulullah
[حكم غيظ الصحابة]
ومن غاظه مكانهم من الله
فهو مخوف عليه ما لا شيء أعظم منه، لقوله عز وجل: ﴿مُحَمَّدٌ رَسُولُ
اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ﴾ [الفتح: ٢٩] إلى قوله ﴿وَمَثَلُهُمْ
فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى
عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ﴾ [الفتح: ٢٩] فأخبر أنه جعلهم غيظا
للكافرين.
Dan
barangsiapa yang merasa sakit hati terhadap kedudukan mereka di sisi Allah,
maka ia dikhawatirkan terkena (azab) yang tidak ada sesuatu yang lebih besar
darinya, berdasarkan firman-Nya: {Muhammad adalah utusan Allah, dan
orang-orang yang bersama dengannya...} hingga firman-Nya: {...perumpamaan
mereka dalam Injil seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu
menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi tebal dan tegak di atas batangnya,
sehingga mengagumkan para penanam, karena Allah hendak membuat orang-orang
kafir itu marah (dengan keberadaan mereka)} [Al-Fath: 29]. Maka Allah
mengabarkan bahwa Dia menjadikan mereka sebagai penyebab kemarahan bagi
orang-orang kafir.
Syarah:
Jangan
mencaci Sahabat Rasulullah ﷺ.
Dari Abu Sa'id Al-Khudriy radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«لاَ تَسُبُّوا
أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ، ذَهَبًا مَا بَلَغَ
مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلاَ نَصِيفَهُ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Jangan kalian mencaci sahabatku, karna seandainya seorang dari
kalian bersedekah sebanyak gunung uhud dari emas maka itu tidak akan menyamai
satu mudd (dua genggaman= 543gram) dari yang mereka sedekahkan dan tidak pula
seperduanya". [Sahih Bukhari dan Muslim]
Ø Dari Ibnu
Umar radiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَعَنَ اللَّهُ مَنْ
سَبَّ أَصْحَابِي» [المعجم
الكبير للطبراني: حسنه الألباني]
"Allah melaknat orang yang mencaci sahabatku". [Al-Mu'jam
Al-Kabiir: Hasan]
Ø Dari Al-Baraa'
radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«الأَنْصَارُ لاَ
يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلاَ يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ، فَمَنْ
أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Kaum Anshar; tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang beriman,
dan tidak ada yang membenci mereka kecuali orang munafik, maka barangsiapa yang
mencintai mereka maka Allah akan mencintainnya, dan barangsiapa yang membenci
mereka maka Allah akan membencinya". [Sahih Bukhari dan Muslim]
[إثبات خلافة الصحابة]
وقالوا بخلافتهم، لقول
الله عز وجل: ﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ﴾ [النور: ٥٥] فخاطب بقوله {منكم} من ولد الآن وهو مع النبي ﷺ على
دينه،
فقال بعد ذلك: ﴿لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ
وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا
يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا﴾ [النور: ٥٥] فمكن الله بأبي بكر وعمر
وعثمان الدين، وعد الله آمنين يغزون ولا يغزون، ويخيفون العدو ولا يخيفهم العدو.
وقال عز وجل للذين
تخلفوا عن نبيه في الغزوة التي ندبهم الله عز وجل بقوله: ﴿فَإِنْ رَجَعَكَ اللَّهُ
إِلَى طَائِفَةٍ مِنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوكَ لِلْخُرُوجِ فَقُلْ لَنْ تَخْرُجُوا
مَعِيَ أَبَدًا وَلَنْ تُقَاتِلُوا مَعِيَ عَدُوًّا إِنَّكُمْ رَضِيتُمْ
بِالْقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُوا مَعَ الْخَالِفِينَ﴾ [التوبة: ٨٣] فلما لقوا النبي ﷺ
يسألونه الإذن في الخروج للعدو فلم يأذن لهم، أنزل الله عز وجل: ﴿سَيَقُولُ
الْمُخَلَّفُونَ إِذَا انْطَلَقْتُمْ إِلَى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوهَا ذَرُونَا
نَتَّبِعْكُمْ يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ قُلْ لَنْ
تَتَّبِعُونَا كَذَلِكُمْ قَالَ اللَّهُ مِنْ قَبْلُ فَسَيَقُولُونَ بَلْ
تَحْسُدُونَنَا بَلْ كَانُوا لَا يَفْقَهُونَ إِلَّا قَلِيلًا﴾ [الفتح: ١٥] وقال لهم: ﴿قُلْ
لِلْمُخَلَّفِينَ مِنَ الْأَعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ إِلَى قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ
شَدِيدٍ تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ فَإِنْ تُطِيعُوا يُؤْتِكُمُ اللَّهُ
أَجْرًا حَسَنًا وَإِنْ تَتَوَلَّوْا كَمَا تَوَلَّيْتُمْ مِنْ قَبْلُ
يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا﴾ [الفتح: ١٦] والذين كانوا في عهد
رسول الله ﷺ أحياء خوطبوا بذلك لما تخلفوا عنه، وبقي منهم في خلافة أبي بكر وعمر
وعثمان رضي الله عنهم ما أوجب لهم بطاعتهم إياهم الأجر وبترك طاعتهم العذاب
الأليم، إيذانا من الله عز وجل بخلافتهم رضي الله عنهم ولا جعل في قلوبنا غلا لأحد
منهم، فإذا أثبتت خلافة واحد منهم انتظم منها خلافة الأربعة.
Mereka
juga menetapkan kekhalifahan para sahabat, berdasarkan firman Allah: {Allah
telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal shalih...} [An-Nur: 55]. Allah berfirman dengan menyebut {di
antara kamu} yang saat itu sudah ada bersama Nabi ﷺ dalam agamanya. Kemudian setelah itu Dia
berfirman: {...bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi,
sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan
sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk
mereka, dan benar-benar Dia akan mengubah (keadaan) mereka, setelah ketakutan
menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tiada menyekutukan-Ku dengan
sesuatu pun} [An-Nur: 55]. Maka Allah mewujudkan kekuasaan agama melalui
Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Janji Allah tentang keamanan menjadi kenyataan;
mereka dapat menyerang musuh tanpa diserang, mereka menakuti musuh dan musuh
tidak dapat menakuti mereka.
Dan
Allah 'Azza wa Jalla berfirman kepada orang-orang yang tidak ikut serta
(tidak berangkat) bersama Nabi-Nya dalam peperangan yang Allah serukan kepada
mereka: {Jika Allah mengembalikanmu (Muhammad) kepada segolongan dari mereka
(orang-orang munafik), lalu mereka memohon izin kepadamu untuk berangkat
(berperang), maka katakanlah: 'Kamu tidak boleh ikut berperang bersamaku
selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu
telah rela tidak ikut berperang sejak pertama kali. Karena itu duduklah bersama
orang-orang yang tidak ikut berperang'} [At-Taubah: 83]. Ketika mereka
menemui Nabi ﷺ meminta izin untuk berangkat memerangi musuh, tetapi beliau
tidak mengizinkan mereka, maka Allah menurunkan: {Orang-orang yang
ditinggalkan (tidak ikut perang) itu akan berkata ketika kamu pergi untuk
mengambil rampasan perang, 'Biarkanlah kami mengikuti kamu.' Mereka ingin
mengubah firman Allah. Katakanlah: 'Kamu sekali-kali tidak akan mengikuti kami.
Demikianlah ketetapan Allah sejak semula.' Maka mereka akan berkata,
'Sebenarnya kamu dengki kepada kami.' (Tidak demikian), bahkan mereka hanya
sedikit sekali memahami} [Al-Fath: 15]. Dan Allah berfirman kepada mereka:
{Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tidak ikut berperang: 'Kamu akan
diajak (memerangi) terhadap kaum yang mempunyai kekuatan yang besar. Kamu akan
memerangi mereka atau mereka masuk Islam. Maka jika kamu taat, niscaya Allah
akan memberikan kepadamu pahala yang baik. Dan jika kamu berpaling sebagaimana
kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya Allah akan mengazabmu dengan azab yang
pedih'} [Al-Fath: 16]. Orang-orang yang hidup pada masa Rasulullah ﷺ dan tidak ikut berperang, mereka dianiaya
dengan ayat-ayat itu. Dan di antara mereka masih ada yang hidup hingga masa
kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu 'anhum, sehingga ketaatan
kepada para khalifah itu mewajibkan pahala bagi mereka, dan meninggalkan
ketaatan kepada mereka mewajibkan azab yang pedih. Ini merupakan isyarat dari
Allah 'Azza wa Jalla tentang kekhalifahan mereka. Semoga Allah tidak
menjadikan dalam hati kami rasa dengki (ghill) terhadap seorang pun di antara
mereka. Maka apabila kekhalifahan salah seorang dari mereka telah ditetapkan,
maka dari situ tersusunlah kekhalifahan keempatnya (Khulafaur Rasyidin).
Syarah:
Isyarat kekhalifaan Abu Bakr dan Umar radhiyallahu
‘anhuma.
Aisyah radhiallahu 'anha berkata; Pada suatu hari, ketika Rasulullah ﷺ sakit, beliau berkata kepada saya:
«ادْعِي لِي أَبَا
بَكْرٍ، أَبَاكِ، وَأَخَاكِ، حَتَّى أَكْتُبَ كِتَابًا، فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ
يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ وَيَقُولُ قَائِلٌ: أَنَا أَوْلَى، وَيَأْبَى اللهُ
وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّا أَبَا بَكْرٍ»
“Panggillah Ayahmu Abu Bakr dan saudara laki-lakimu ke sini, agar aku
buatkan sebuah surat (keputusan khalifah). Karena aku khawatir jika kelak ada
orang yang ambisius dan berkata; Akulah yang lebih berhak menjadi khalifah.
Sementara Allah dan kaum muslimin tidak menyetujuinya selain Abu Bakr.” [Shahih
Muslim]
Ø Dari Abu
Hurairah radhiallahu 'anhu; Nabi ﷺ bersabda:
«بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ
رَأَيْتُنِي عَلَى قَلِيبٍ عَلَيْهَا دَلْوٌ، فَنَزَعْتُ مِنْهَا مَا شَاءَ
اللَّهُ، ثُمَّ أَخَذَهَا ابْنُ أَبِي قُحَافَةَ فَنَزَعَ بِهَا ذَنُوبًا أَوْ
ذَنُوبَيْنِ، وَفِي نَزْعِهِ ضَعْفٌ، وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ ضَعْفَهُ، ثُمَّ
اسْتَحَالَتْ غَرْبًا، فَأَخَذَهَا ابْنُ الخَطَّابِ فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا
مِنَ النَّاسِ يَنْزِعُ نَزْعَ عُمَرَ، حَتَّى ضَرَبَ النَّاسُ بِعَطَنٍ»
"Ketika aku sedang tidur, aku (bermimpi) melihat diriku ada di
samping sebuah sumur yang memiliki timba lalu aku mengambil air dengan timba
itu sesuai kehendak Allah. Kemudian timba itu diambil oleh Ibnu Abu-Quhafah
(Abu Bakr) lalu dia menimba sebanyak satu atau dua timba air dan pada
tarikannya itu ada kelemahan dan Allah telah mengampuni kelemahannya itu.
Kemudian timba itu menjadi besar alu diambil oleh Ibnu Al-Khaththab. Sungguh
aku belum pernah melihat di tengah-tengah manusia ada sesuatu yang begitu luar
biasa yang dilakukan oleh seseorang kemudian dia membagi-bagikan kepada manusia
seperti yang dilakukan oleh 'Umar sehingga manusia menjadi puas". [Shahih
Bukhari dan Muslim]
Lihat: Keistimewaan Abu Bakr Ash-Shiddiiq
[الجمعة خلف كل إمام مسلم برا كان أو
فاجرا]
ويرون الصلاة -الجمعة
وغيرها- خلف كل إمام مسلم برا كان أو فاجرا، فإن الله عز وجل فرض الجمعة وأمر
بإتيانها فرضا مطلقا، مع علمه تعالى بأن القائمين يكون منهم الفاجر والفاسق، ولم
يستثن وقتا دون وقت، ولا أمرا بالنداء للجمعة دون أمر.
Mereka
berpendapat bahwa shalat (Jumat dan lainnya) di belakang setiap imam muslim,
baik yang saleh maupun yang fasik, boleh dilakukan. Karena sesungguhnya Allah
mewajibkan shalat Jumat dan memerintahkannya secara mutlak, dengan
pengetahuan-Nya bahwa di antara yang melaksanakannya ada yang fasik dan
durhaka. Dan Allah tidak mengecualikan waktu tertentu dari waktu yang lain,
serta tidak mengecualikan perintah adzan tertentu dari perintah adzan yang
lain.
Syarah:
Bahaya perselisihan.
Abdurrahman bin Zayd berkata: Usman melakukan salat di Mina empat
raka'at. Lalu Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:
«صَلَّيْتُ مَعَ
النَّبِيِّ ﷺ رَكْعَتَيْنِ، وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ رَكْعَتَيْنِ، وَمَعَ عُمَرَ
رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ عُثْمَانَ صَدْرًا مِنْ إِمَارَتِهِ، ثُمَّ أَتَمَّهَا ،
ثُمَّ تَفَرَّقَتْ بِكُمُ الطُّرُقُ فَلَوَدِدْتُ أَنْ لِي مِنْ أَرْبَعِ
رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ مُتَقَبَّلَتَيْنِ»
Aku telah salat bersama Rasulullah ﷺ (di Mina) dua raka'at, bersama Abu Bakr dua raka'at, bersama
Umar dua raka'at, dan bersama Usman di awal khilafah-nya kemudian ia
menyempurnakan salat empat raka'at. Kemudian kalian berselisih arah, maka aku
berharap andai saja salat yang aku lakukan empat raka'at, yang dua raka'atnya
pun diterima.
Lalu ia ditanya: Engkau mencela Usman kemudian engkau-pun salat
bersamanya empat raka'at? Ibnu Mas'ud menjawab:
«الْخِلَافُ شَرٌّ» [سنن أبي داود: صحيح]
“Perselisihan itu buruk”. [Sunan Abi Daud: Sahih]
Lihat: Bahaya perselisihan dan perpecahan
[الجهاد مع الأئمة وإن كانوا جورة]
ويرون جهاد الكفار معهم،
وإن كانوا جورة، ويرون الدعاء لهم بالصلاح والعطف إلى العدل، ولا يرون الخروج
بالسيف عليهم، ولا قتال الفتنة، ويرون قتال الفئة الباغية مع الإمام العادل، إذا
كان ووجد على شرطهم في ذلك.
"Mereka
memandang bolehnya berjihad melawan orang-orang kafir bersama mereka (para
penguasa), meskipun para penguasa itu zalim. Mereka juga mendoakan para
penguasa agar menjadi baik dan condong kepada keadilan. Mereka tidak memandang
boleh memberontak dengan mengangkat senjata melawan para penguasa, dan tidak
memandang boleh memerangi kekacauan (fitnah). Mereka memandang boleh memerangi
kelompok yang memberontak bersama seorang imam yang adil, jika imam tersebut
ada dan memenuhi syarat mereka dalam hal itu."
Syarah:
Mendo’akan
kebaikan untuk pemimpin.
Dari 'Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ
الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ
عَلَيْكُمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ
وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ»
"Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan
kalian mencintai mereka, mereka mendo'akan kalian dan kalian mendo'akan mereka.
Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian
membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka."
Beliau ditanya: "Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi
mereka?"
Maka beliau bersabda:
«لَا، مَا أَقَامُوا
فِيكُمُ الصَّلَاةَ، لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، أَلَا مَنْ وَلِيَ
عَلَيْهِ وَالٍ، فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، فَلْيَكْرَهْ مَا
يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ» [صحيح مسلم]
"Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian
melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya,
dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka." [Sahih Muslim]
Lihat: Do’a Nabi Ibrahim –‘alaihissalam- untuk negri
[دار الإسلام]
ويرون الدار دار الإسلام
لا دار الكفر كما رأته المعتزلة، ما دام النداء بالصلاة والإقامة ظاهرين وأهلها
ممكنين منها آمنين.
Dan
mereka berpendapat bahwa suatu negeri adalah negeri Islam (dār al-Islām), bukan
negeri kafir (dār al-kufr), sebagaimana yang dipandang oleh Mu'tazilah, selama
seruan azan dan iqamah tampak (dilaksanakan) serta penduduknya mampu dan aman
dalam melaksanakannya.
Syarah:
Anas radhiallahu 'anhu berkata:
«كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ
إِذَا غَزَا قَوْمًا لَمْ يُغِرْ حَتَّى يُصْبِحَ، فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا
أَمْسَكَ، وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ بَعْدَمَا يُصْبِحُ»
"Rasulullah ﷺ
apabila hendak menyerang suatu kaum, beliau tidak melakukannya hingga waktu
subuh tiba. Jika beliau mendengar suara azan, maka beliau mengurungkan niatnya
(tidak jadi menyerang). Namun jika tidak mendengar azan, maka beliau menyerang
setelah subuh." [Shahih Bukhari]
[أعمال العباد لا توجب لهم الجنة إلا
بفضل الله]
ويرون أن أحدا لا تخلص
له الجنة، وإن عمل أي عمل، إلا بفضل الله ورحمته التي يخص بهما من يشاء، فإن عمله
للخير وتناوله الطاعات إنما عن فضل الله الذي لو لم يتفضل به عليه لم يكن لأحد على
الله حجة ولا عذر، كما قال الله: ﴿وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ
مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ﴾
[النور:
٢١] ﴿وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ
الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا﴾ [النساء: ٨٣] وقال: ﴿يَخْتَصُّ
بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ﴾ [البقرة: ١٠٥]
Mereka
berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang akan dimasukkan ke dalam surga,
sekalipun ia beramal apa pun, kecuali dengan karunia dan rahmat Allah yang Dia
khususkan bagi siapa yang Dia kehendaki. Amal kebaikan dan ketaatan yang mereka
lakukan hanyalah semata-mata karena karunia Allah. Seandainya Allah tidak
melimpahkan karunia-Nya kepada mereka, niscaya tidak ada seorang pun yang
memiliki alasan atau dalih di hadapan Allah. Sebagaimana Allah berfirman:
{"Dan sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu,
niscaya tidak ada seorang pun di antara kamu yang bersih (dari dosanya)
selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki."}
[An-Nur: 21] {"Dan sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya
kepadamu, niscaya kamu akan mengikuti setan, kecuali sebagian kecil (di antara
kamu)"} [An-Nisa: 83] Dan Dia berfirman: {"Allah menentukan
rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki"} [Al-Baqarah: 105]
Syarah:
1.
Surga adalah rahmat Allah ta’aalaa.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
«احْتَجَّتِ النَّارُ،
وَالْجَنَّةُ، فَقَالَتْ: هَذِهِ يَدْخُلُنِي الْجَبَّارُونَ،
وَالْمُتَكَبِّرُونَ، وَقَالَتْ: هَذِهِ يَدْخُلُنِي الضُّعَفَاءُ،
وَالْمَسَاكِينُ، فَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ: أَنْتِ عَذَابِي
أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ، وَقَالَ لِهَذِهِ: أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ
مَنْ أَشَاءُ وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْكُمَا مِلْؤُهَا» [صحيح مسلم]
"Neraka dan surga berdebat, neraka berkata: Yang masuk kepadaku
adalah orang-orang dzalim dan sombong! Surga berkata: Yang masuk kepadaku
adalah kaum lemah dan miskin! Maka Allah 'azza wa jalla berfirman kepada
neraka: Engkau adalah siksaan-Ku, Aku menyiksa denganmu siapapun yang aku
inginkan! Dan berfirman kepada surga: Engkau adalah rahmat-Ku, Aku merahmati
dengamu siapapun yang Aku inginkan, dan masing-masing dari kalian ada
penghuninya". [Sahih Muslim]
2.
Seorang tidak masuk surga karena amalannya
Abu Hurairah radhiallahu'anhu dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
«لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا
مِنْكُمْ عَمَلُهُ» قَالُوا: وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «وَلاَ
أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ، سَدِّدُوا وَقَارِبُوا،
وَاغْدُوا وَرُوحُوا، وَشَيْءٌ مِنَ الدُّلْجَةِ، وَالقَصْدَ القَصْدَ تَبْلُغُوا»
"Salah seorang dari kalian tidak akan dapat diselamatkan oleh
amalnya, " maka para sahabat bertanya, 'Tidak juga dengan engkau wahai
Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Tidak juga saya, hanya saja Allah telah
melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. Maka beramallah kalian sesuai sunnah dan
berlakulah dengan imbang, berangkatlah di pagi hari dan berangkatlah di sore
hari, dan (lakukanlah) sedikit waktu (untuk shalat) di malam hari, niat dan
niat maka kalian akan sampai." [Shahih Bukhari]
Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 18; Beramal sewajarnya dan rutin
3.
Bagaiman menyikapi ayat dan hadits yang menuntukkan bahwa
seseorang masuk surga karena amalannya?
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ
الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ} [الأعراف: 43]
Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang
diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan". [Al-A'raaf: 43]
{وَتِلْكَ الْجَنَّةُ
الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ} [الزخرف: 72]
Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan
amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. [Az-Zukhruf: 72]
{ادْخُلُوا الْجَنَّةَ
بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ} [النحل: 32]
"Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang
telah kamu kerjakan". [An-Nahl: 32]
Ø Dari Jabir
bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ
الصَّلَاةُ» [سنن
الترمذي: صحيح لغره]
“Kunci surga adalah shalat”. [Sunan Tirmidziy: Shahih]
Ada beberapa jawaban untuk masalah ini, diantaranya:
a) Amal shaleh
adalah sebab mendapatkan rahmat Allah, dan rahmat Allah sebab masuk surga.
b) Seseorang
mendapat taufiq untuk beramal shaleh adalah rahmat dari Allah.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{ثُمَّ أَوْرَثْنَا
الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ
وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ
هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ} [فاطر: 32]
Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami
pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya
diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara
mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah, yang
demikian itu adalah karunia yang amat besar. [Faathir:32]
c)
Amal shaleh bermanfaat jika diterima oleh Allah, dan
Allah hanya menerima amalan orang yang dirahmati-Nya.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ
اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ} [المائدة: 27]
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang
bertakwa". [Al-Maidah:27]
d)
Berapapun banyaknya amal shaleh yang dilakukan oleh
seorang hamba maka itu tidak akan mencukupi untuk mensyukuri nikmat Allah,
apalagi untuk masuk surga. Akan tetapi dengan rahmat-Nya Allah menerima amal
hamba-Nya sesusai kemampuan mereka kemudian memasukkannya ke dalam surga.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا
سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ
الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ}
[إبراهيم: 34]
Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala
apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah,
tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim
dan sangat mengingkari (nikmat Allah). [Ibrahim:34]
e)
Amal shaleh menentukan posisi dan derajat seseorang
dalam surga.
Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«يُقَالُ لِصَاحِبِ
الْقُرْآنِ: اقْرَأْ، وَارْتَقِ، وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي
الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا» [سنن أبي داود: صحيح]
“Dikatakan kepada ahli Qur'an: Bacalah dan naiklah (ke derajat surga),
baca dengan perlahan sebagaimana engkau membacanya di dunia, karena
sesungguhnya tempatmu di surga ada pada akhir ayat yang engkau baca".
[Sunan Abu Daud: Sahih]
Lihat: Syarah Riyadhushalihin Bab (08) Istiqamah
[تقدير الآجال]
ويقولون: إن الله عز وجل أجل لكل حي مخلوق أجلا هو بالغه،
فإذا جاء أجلهم لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون، وإن مات أو قتل فهو عند انتهاء
أجله المسمى له كما قال الله عز وجل ﴿قل لو كنتم في بيوتكم لبرز الذين كتب عليهم
القتل إلى مضاجعهم﴾
Mereka berkata, "Sesungguhnya Allah 'Azza
wa Jalla telah menetapkan bagi setiap makhluk hidup ajal yang pasti akan
mencapainya. Maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan
sesaat pun dan tidak dapat memajukkannya. Baik mati maupun terbunuh, itu
terjadi pada saat berakhirnya ajal yang telah ditentukan baginya, sebagaimana
firman Allah 'Azza wa Jalla: {'Katakanlah, sekiranya kamu berada di
rumah-rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan untuk terbunuh akan
keluar ke tempat-tempat mereka terbunuh'} [Ali 'Imran: 154]."
Syarah:
1.
Setiap yang hidup pasti
akan mati
Allah -subhanahu wata’aalaa- berfirman:
{وَلِكُلِّ أُمَّةٍ
أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا
يَسْتَقْدِمُونَ} [الأعراف
: 34]
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah
datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak
dapat (pula) memajukannya. [Al-A’raaf: 34]
Lihat: Sudah siapkah kita mati?
2.
Seorang tidak akan mati
kecuali ajalnya telah tiba
Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ رَوْحَ الْقُدُسِ
نَفَثَ فِي رُوعِيَ أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا
وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا، فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، وَلَا يَحْمِلَنَّ
أَحَدَكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنَّ اللَّهَ
لَا يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ» [حلية الأولياء لأبي نعيم: صححه
الألباني]
"Sesungguhnya Ruh Al-Qudus membisikkan dalam hatiku bahwasanya
seseorang tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan tercapi semua rezkinya,
maka perbaikilah dalam berusaha, dan janganlah kelambatan datangnya rezki
membuat seseorang dari kalian mencarinya dengan cara maksiat, karena
sesungguhnya Allah tidak bisa dicapai apa yang Ia miliki kecuali dengan cara
taat kepada-Nya". [Hilyah Auliya' karya Abu Nu'aim: Shahih]
Lihat: Agar dunia datang dalam keadaan hina (tunduk)
Bersambung …

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...