بسم
الله الرحمن الرحيم
A.
Bab 33.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
باب: كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ.
“Bab: Setiap kebaikan adalah sedekah”
Dalam bab ini Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan 2 hadits dari Jabir
bin Abdillah dan Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu 'anhuma.
Hadits pertama: Hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu
'anhuma.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٧٥ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ:
حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ [محمد بن مطرف] قَالَ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ
الْمُنْكَدِرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما، عَنِ النَّبِيِّ
ﷺ قَالَ: «كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ»
Telah menceritakan kepada kami Ali bin 'Ayasy, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Abu Ghassan [Muhammad bin Mutharrif], dia berkata: Telah
menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jabir bin Abdullah radhiallahu'anhuma
dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Setiap
perbuatan baik adalah sedekah."
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2.
Segala kebaikan bernilai sedekah.
Dari Abu Dzar -radhiallahu 'anhu-;
أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ
النَّبِيِّ ﷺ قَالُوا لِلنَّبِيِّ ﷺ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! ذَهَبَ أَهْلُ
الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ. يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي. وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ.
وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ: «أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ
لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً. وَكُلِّ
تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً. وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً. وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ
صَدَقَةً. وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ. وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ.
وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَيَأتِي
أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: «أَرَأَيْتُمْ لَوْ
وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وضعها في
الحلال كان له أجرا»
Bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi ﷺ bertanya kepada Nabi ﷺ: "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya dapat memperoleh
pahala yang lebih banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, puasa seperti kami
puasa, dan bersedekah dengan sisa harta mereka." Maka beliau pun bersabda:
"Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara kepada kalian untuk
bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah
sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah
sedekah, amar ma'ruf nahi munkar adalah sedekah, bahkan pada kemaluan seorang
dari kalian pun terdapat sedekah." Mereka bertanya: "Wahai
Rasulullah, jika salah seorang diantara kami menyalurkan nafsu syahwatnya,
apakah akan mendapatkan pahala?" Beliau menjawab: "Bagaimana menurut
kalian sekiranya ia meletakkannya pada sesuatu yang haram, bukankah ia
berdosa?! Begitu pun sebaliknya, bila ia meletakkannya pada tempat yang halal,
maka ia akan mendapatkan pahala." [Shahih Muslim]
Lihat: Syarah Arba’in hadits (25) Abu Dzar; Amal shalih bernilai sedekah
Hadits kedua: Hadits Abu Musa radhiyallahu
'anhu
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٧٦ - حَدَّثَنَا آدَمُ: حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى
الْأَشْعَرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ [عامر بن عبد الله بن قيس]، عَنْ جَدِّهِ قَالَ:
قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ». قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟
قَالَ: «فَيَعْمَلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ». قَالُوا:
فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَوْ لَمْ يَفْعَلْ؟ قَالَ: «فَيُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ
الْمَلْهُوفَ». قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ؟ قَالَ: «فليأمر بِالْخَيْرِ، أَوْ
قَالَ: بِالْمَعْرُوفِ». قَالَ: فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ؟ قَالَ: «فليمسك عَنِ
الشَّرِّ فَإِنَّهُ لَهُ صَدَقَةٌ»
Telah menceritakan kepada kami Adam, ia berkata: Telah menceritakan
kepada kami Syu'bah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu
Burdah bin Abu Musa Al-Asy'ariy, dari Ayahnya [Amir bin Abdillah bin Qais],
dari Kakeknya dia berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Wajib bagi setiap muslim untuk
bersedekah." Para sahabat bertanya, "Bagaimana jika ia tidak
mendapatkannya?' Beliau bersabda: 'Berusaha dengan tangannya, sehingga ia bisa
memberi manfaat untuk dirinya dan bersedekah.' Mereka bertanya, 'Bagaimana jika
ia tidak bisa melakukannya?' Beliau bersabda, 'Menolong orang yang sangat
memerlukan bantuan.' Mereka bertanya, 'Bagaimana jika ia tidak bisa
melakukannya?' Beliau bersabda, 'Menyuruh untuk melakukan kebaikan atau
bersabda; menyuruh melakukan yang ma'ruf' dia berkata, 'Bagaimana jika ia tidak
dapat melakukannya?' Beliau bersabda, 'Menahan diri dari kejahatan, karena itu
adalah sedekah baginya.'
Penjelasan singkat hadits ini:
1)
Biografi Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2)
Bekerja untuk menafkahi diri sendiri dan orang lain.
Dari Abu Hurairah radhiyallahul 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ سَعَى عَلَى
وَالِدَيْهِ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ فَفِي سَبِيلِ
اللَّهِ، وَمَنْ سَعَى مُكَاثِرًا فَفِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ» [المعجم الأوسط: حسنه الألباني]
"Barangsiapa yang mencari nafkah untuk kedua orang tuanya maka ia
berada di jalan Allah, barangsiapa yang mencari nafkah untuk keluarganya (istri
dan anak) maka ia berada di jalan Allah, dan barangsiapa yang mencari nafkah
untuk memperbanyak harta maka ia berada di jalan setan dan sekutunya".
[Al-Mu'jam Al-Ausath: Hasan]
Lihat: Tafsir Surah "At-Takatsur"
3)
Keutamaan amar ma'ruf nahi munkar.
Lihat: Keutamaan Amar ma’ruf Nahi mungkar
4)
Kalau tidak bisa memberi manfaat maka jangan memberi
keburukan.
Lihat: Membangun hati dengan keimanan
B.
Bab 34.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
باب: طِيبِ الْكَلَامِ.
“Bab: Ucapan yang baik”
Dalam bab ini imam Bukhari meriwayatkan 2 hadits, satu mu'allaq
dari Abu Hurairah dan satu mustahil dari 'Adiy bin Hatim radhiyallahu
'anhuma.
Hadits pertama: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ، عَنِ
النَّبِيِّ ﷺ: «الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ».
"Dan Abu Hurairah berkata: dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: 'Perkataan yang baik adalah sedekah.'"
Hadits mu'allaq
ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab "Al-Jihad"
no.2827, dengan sanad dan matan yang lengkap:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ
صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ، يَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ
صَدَقَةٌ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا، أَوْ
يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ،
وَكُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَيُمِيطُ الْأَذَى عَنِ
الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ»
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap ruas
tulang (persendian) manusia wajib dikeluarkan sedekahnya setiap hari ketika
matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang adalah sedekah, membantu
seseorang menaiki kendaraannya atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraan
adalah sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang
diayunkan menuju shalat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan
adalah sedekah."
Nb: Hadits Abu Hurairah sudah dijelaskan pada Syarah Arba’in hadits (26) Abu Hurairah; Kewajiban sedekah untuk anggota tubuh
Hadits kedua: Hadits Adiy bin Hatim
radhiyallahu 'anhu
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٧٧ - حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ [هشام بن
عبد الملك]: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ: أَخْبَرَنِي عَمْرٌو [بن مرة]، عَنْ
خَيْثَمَةَ [بن عبد الرحمن]، عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ: ذَكَرَ النَّبِيُّ ﷺ النَّارَ، فَتَعَوَّذَ مِنْهَا
وَأَشَاحَ بِوَجْهِهِ، ثُمَّ ذَكَرَ النَّارَ فَتَعَوَّذَ مِنْهَا وَأَشَاحَ
بِوَجْهِهِ، قَالَ شُعْبَةُ: أَمَّا مَرَّتَيْنِ فَلَا أَشُكُّ، ثُمَّ قَالَ: «اتَّقُوا
النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ»
Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Walid [Hisyam bin Abdil Malik], ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dia berkata: Telah mengabarkan
kepadaku 'Amru [bin Murrah], dari Khaitsamah [bin Abdirrahman], dari 'Adiy
bin Hatim dia berkata, "Nabi ﷺ menyebutkan tentang neraka, maka beliau meminta perlindungan
darinya sambil memalingkan wajahnya, kemudian beliau menyebutkan tentang neraka
lagi lalu meminta perlindungan darinya sambil memalingkan wajahnya."
-Syu'bah berkata, aku tidak ragu beliau melakukannya hingga dua kali- kemudian
beliau bersabda, "Takutlah kalian kepada neraka walau dengan (bersedekah)
secuil kurma, jikalau engkau tidak mendapatkannya, hendaknya dengan perkataan
yang baik."
Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Kitab Ar-Riqaq, bab 49; Siapa yang hisabnya diperdebatkan maka ia akan diazab
Diriwayatkan juga pada Kitab Ar-Riqaq, bab 51; Sifat surga dan neraka (bagian 2)
C.
Bab 35.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
باب: الرِّفْقِ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ.
“Bab: Bersikap lembut dalam semua urusan”
Dalam bab ini Imam
Bukhari rahimahullah meriwayatkan 2 hadis, dari Aisyah dan Anas bin
Malik radhiyallahu 'anhuma.
Hadits pertama: Hadits Aisyah radhiallahu'anha.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٧٨ - حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ
عَبْدِ الله: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ صَالِحٍ [بن كيسان]، عَنِ
ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ: أَنَّ عَائِشَةَ رضي الله عنها
زَوْجَ النَّبِيِّ ﷺ قَالَتْ: دَخَلَ رَهْطٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ، فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكُمْ، قَالَتْ عَائِشَةُ: فَفَهِمْتُهَا
فَقُلْتُ: وَعَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ، قَالَتْ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
ﷺ: «مَهْلًا يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ
كُلِّهِ». فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «قَدْ قُلْتُ: وَعَلَيْكُمْ»
Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd, dari Shalih [bin Kaisan], dari Ibnu
Syihab, dari 'Urwah bin Az Zubair bahwa Aisyah radhiallahu'anha
istri Nabi ﷺ berkata, "Sekelompok
orang Yahudi datang menemui Rasulullah ﷺ, mereka lalu berkata, "Assaamu 'alaikum (semoga kecelakaan
atasmu). Aisyah berkata, "Saya memahaminya maka saya menjawab, 'wa'alaikum
as saam wal la'nat (semoga kecelakaan dan laknat tertimpa atas kalian)."
Aisyah berkata, "Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, "Tenanglah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah
mencintai sikap lemah lembut pada setiap perkara." Saya berkata,
"Wahai Rasulullah! Apakah engkau tidak mendengar apa yang telah mereka
katakan?" Rasulullah ﷺ
menjawab, "Saya telah menjawab, 'WA 'ALAIKUM (dan semoga atas kalian
juga)."
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Lihat: Aisyah binti Abi Bakr dan keistimewaannya
2.
Besarnya kebencian kaum Yahudi kepada Nabi dan umatnya.
3.
Boleh menjawab salam dari selain muslim tapi tidak boleh
memulainya
Abu Abdurrahman Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنِّي رَاكِبٌ غَدًا
إِلَى الْيَهُودِ فَلَا تَبْدَءُوهُمْ بِالسَّلَامِ، فَإِذَا سَلَّمُوا عَلَيْكُمْ
فَقُولُوا: وَعَلَيْكُمْ» [سنن ابن ماجه: صحيح]
"Sesungguhnya besok aku akan datang menemui orang-orang Yahudi, maka
janganlah kalian mendahului mereka dengan salam, dan apabila mereka mengucapkan
salam kepada kalian, maka ucapkanlah, 'Wa 'alaikum'." [Sunan Ibnu Majah:
Shahih]
Lihat: Adab memberi dan menjawab salam
4.
Memperbaiki kekeliruan istri dengan lemah lembut.
Lihat: Rapor merah istri
5.
Penetapan sifat mencintai bagi Allah ‘azza wajalla.
Lihat: Meraih cinta Allah
6.
Keutamaan sifat lembut.
Dari Aisyah radiyallahu 'anha; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ الرِّفْقَ لَا
يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ» [صحيح مسلم]
"Sesungguhnya kelembutan tidak dibarenang pada susuatu kecuali
membuatnya indah, dan tidak hilang dari sesuatu kecuali membuatnya buruk".
[Sahih Muslim]
Lihat: Bagaimana menuntut ilmu
7.
Kewajiban membela Nabi ﷺ dari
orang yang menyakitinya.
8.
Boleh membalas keburukan dengan setimpal.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَإِنْ عَاقَبْتُمْ
فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ ۖ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ
لِّلصَّابِرِينَ} [النحل
: 126]
Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan
balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika
kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. [An-Nahl: 126]
9.
Hati-hati dengan orang yang menginginkan keburukan dalam
bentuk kebaikan.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَيَا آدَمُ اسْكُنْ
أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا
هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ (19) فَوَسْوَسَ لَهُمَا
الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْآتِهِمَا وَقَالَ
مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا
مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ (20) وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا
لَمِنَ النَّاصِحِينَ (21) فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ
بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ
الْجَنَّةِ ۖ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا
الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ} [الأعراف : 19-22]
(Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah
kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana
saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu
menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim". Maka syaitan
membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa
yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu
tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak
menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)".
Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah
termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua", maka syaitan
membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya
telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan
mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka
menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu
dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang
nyata bagi kamu berdua?" [Al-A'raaf: 19-22]
Lihat: Hadits Hudzaifah; Da’i yang mengajak kepada neraka Jahannam
Hadits kedua: Hadits Anas radhiallahu'anhu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٧٩ - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ
الْوَهَّابِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ ثَابِتٌ، عَنْ أَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ: أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَامُوا إِلَيْهِ، فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَا تُزْرِمُوهُ». ثُمَّ دَعَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَصُبَّ
عَلَيْهِ.
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdul Wahhab, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, dia berkata: Telah menceritakan
kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik bahwa seorang Arab Badui kencing
di masjid, lalu orang-orang mendatanginya, maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Biarkanlah." Kemudian beliau meminta
diambilkan air lalu beliau menyiramnya."
Penjelasan singkat hadits ini:
1)
Biografi Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2)
Kewajiban menjaga kebersihan mesjid.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَعَهِدْنَا إِلَىٰ
إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ
وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ} [البقرة : 125]
Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail:
"Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang
ruku' dan yang sujud". [Al-Baqarah: 125]
Ø Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ
رَأَى فِي جِدَارِ القِبْلَةِ مُخَاطًا أَوْ بُصَاقًا أَوْ نُخَامَةً، فَحَكَّهُ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Bahwa Rasulullah ﷺ
melihat ludah atau ingus pada dinding kiblat, beliau lalu menggosoknya."
[Shahih Bukhari dan Muslim]
Ø Dari Anas bin
Malik radhiyallahu 'anhu; Nabi ﷺ bersabda:
«البُزَاقُ فِي
المَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا» [صحيح البخاري ومسلم]
“Meludah di dalam Masjid adalah suatu dosa. Maka kafarahnya (tebusannya)
adalah menguburnya." [Shahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Kebersihan sebagai cermin keimanan
3)
Kencing manusia najis.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:
مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى
قَبْرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ،
أَمَّا هَذَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا هَذَا فَكَانَ
يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ» [سنن أبي داود: صححه الألباني]
“Rasulullah ﷺ
melewati dua kuburan dan bersabda: Keduanya sedang disiksa, dan mereka tidak
disiksa karena suatu yang besar; yang ini disiksa karena tidak membersihkan
badannya dari kencing, sedangkan yang ini disiksa karena melakukan namimah (adu
domba)”. [Sunan Abu Daud: Shahih]
Lihat: Najis kencing dan kotoran hewan
4)
Hikmah Nabi membiarkan A'rabiy menyelesaikan kencingnya.
Diantaranya:
a. Agar kencingnya
tidak menyebar.
b. Agar tidak
membahayakan si A'rabi jika menghentikan kencingnya dengan paksa.
c. Menampakkan
keramahan Islam.
Dalam riwayat lain: Maka sahabat membiarkanlah dia hingga dia selesai
kencing. Kemudian Rasulullah ﷺ memanggilnya seraya berkata
kepadanya:
«إِنَّ هَذِهِ
الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ، وَلَا الْقَذَرِ
إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ،
وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ»
"Sesungguhnya masjid ini tidak layak dari kencing ini dan tidak pula
kotoran tersebut. Ia hanya untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca
al-Qur'an"
Lalu beliau memerintahkan seorang laki-laki dari para sahabat (mengambil
air), lalu dia membawa air satu ember dan mengguyurnya." [Shahih Muslim]
Ø Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:
قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي
الْمَسْجِدِ، فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ، فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ: «دَعُوهُ
وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ،
فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»
"Seorang Arab Badui berdiri lalu kencing di masjid. Maka orang-orang
hendak menangkapnya, tetapi Nabi ﷺ bersabda kepada mereka: 'Biarkan dia, dan tuangkanlah seember
air atau setimba air ke atas kencingnya. Sesungguhnya kalian diutus untuk
memudahkan, bukan untuk mempersulit.'" [Shahih Al-Bukhari]
5)
Membersihkan tanah dari najis dengan menyirami air.
6)
Sikap lemah lembut Nabi ﷺ dalam
mendidik.
Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu berkata:
"Ketika aku sedang shalat bersama-sama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari suatu kaum bersin. Lalu
aku mengucapkan: “Yarhamukallah (semoga Allah memberi Anda rahmat)”. Maka
seluruh jamaah menujukan pandangannya kepadaku." Aku berkata, "Aduh,
celakalah ibuku! Mengapa anda semua memelototiku?" Mereka bahkan
menepukkan tangan mereka pada paha mereka. Setelah itu barulah aku tahu bahwa
mereka menyuruhku diam. Tetapi aku telah diam. Tatkala Rasulullah ﷺ selesai shalat, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu (ungkapan
sumpah Arab), aku belum pernah bertemu seorang pendidik sebelum dan sesudahnya
yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah! Beliau tidak
menghardikku, tidak memukul dan tidak memakiku. Beliau bersabda:
«إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ
لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ
وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ»
“Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan
manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur'an.” [Shahih
Muslim]
Lihat: Akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
7)
Memilih keburukan yang lebih ringan untuk menghindari yang
lebih besar.
Wallahu a’lam!
Lihat juga: Kitab Adab bab 28-32; Adab bertetangga

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...