بسم الله الرحمن الرحيم
Syekh Muhammad
bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:
من أعجب العجاب، وأكبر الآيات الدالة
على قدرة المللك الغلاب ستة أصول بينها الله تعالى بيانًا واضحًا للعوام فوق ما
يظنّ الظانون، ثم بعد هذا غلط فيها كثير من أذكياء العالم وعقلاء بني آدم إلا أقلّ
القليل.
Diantara perkara
yang paling mengherankan, dan tanda terbesar yang menunjukkan Maha Kuasanya
Al-Malik Al-Gallaab (Allah) adalah enam perkara pokok yang Allah jelaskan
dengan penjelasan yang sangat jelas untuk orang awam, yang mana kejelasannya
melebih apa yang orang sangkakan, kemudian setelah itu banyak orang yang keliru
dari orang-orang cerdas dunia dan yang berakal dari anak cucu Adam, kecuali
sangat sedikit.
Syarah:
1.
Nama Allah Al-Malik
(Yang Maha Menguasai).
Lihat: Allah Yang Maha Menguasai "Al-Malik"
2.
Tidak didapatkan dalil
bahwa “Al-Gallab” adalah asmaul husna.
Yang ada adalah nama “Al-Galib”, sebagaimana Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ} [يوسف: 21]
Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan
manusia tiada mengetahuinya. [Yusuf: 21]
Lihat: 108 "Asmaa-ul husna"
3.
Allah menjelaskan
agamaNya dengan sangat jelas.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ
تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ} [النحل: 89]
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab
(Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar
gembira bagi orang-orang yang berserah diri. [An-Nahl: 89]
Ø Dari Al-'Irbaad bin Sariyah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«لقد تركتُكم على مِثْلِ البيضاء،
ليلُها كنهارِها، لا يَزيغُ عنها إلا هالكٌ» [صحيح
الترغيب والترهيب]
"Aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang terang dan jelas,
malamnya sama dengan siangnya, tidak ada yang melenceng darinya kecuali ia akan
celaka". [Shahih At-Targiib wa At-Tarhiib]
Lihat: Keistimewaan Al-Qur'an
4.
Kebenaran yang jelas
biasa tidak nampak karena hatinya buta.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي
الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ
بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي
فِي الصُّدُورِ} [الحج
: 46]
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka
mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga
yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu
yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. [Al-Hajj: 46]
Pondasi pertama:
إخلاص الدين لله تعالى وحده لا شريك
له، وبيان ضده الذي هو الشرك بالله، وكون أكثر القرآن في بيان هذا الأصل من وجوه
شتى بكلام يفهمه أبلد العامة، ثم لما صار على أكثر الأمة ما صار أظهر لهم الشيطان
الإخلاص في صورة تنقص الصالحين والتقصير في حقوقهم، وأظهر لهم الشرك بالله في صورة
محبة الصالحين وأتباعهم.
Mengikhlashkan agama
hanya untuk Allah ta’aalaa semata, tidak ada sekutu untukNya, dan
menjelaskan lawannya yaitu menyekutukan Allah, dan bahwasanya kebanyakan ayat
Al-Qur’an menjelaskan pokok ini dari berbagai bentuk, dengan pemaparan yang
bisa dipahami oleh orang awam yang paling bodoh. Kemudian ketika kebanyakan
dari umat ini berpaling sampai setan menampakkan kepada mereka keikhlasan
adalah bentuk merendahkan orang shalih dan mengurangi hak mereka, dan
menampakkan kepada mereka kesyirikan kepada Allah dalam bentuk cinta kepada
orang shalih dan pengikutnya.
Syarah:
1)
Perintah mentauhidkan Allah dan larangan menyekutukanNya.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا
اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ} [البينة: 5]
Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama yang lurus (jauh dari syirik mempersekutukan Allah dan jauh
dari kesesatan).
[Al-Bayyinah: 5]
{وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا
بِهِ شَيْئًا} [النساء:
36]
Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. [An-Nisaa':36]
Lihat: 4 kaidah memahami tauhid dan syirik
2)
Keutamaan tauhid.
Diantaranya:
a.
Mendapatkan ampunan.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu
'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda: Allah berfirman (dalam hadits qudsi):
"يَا ابْنَ آدَمَ
إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا
أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ
اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ
أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي
شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً"
"Wahai anak cucu Adam .. sesungguhnya jika engkau meminta dan
mengharap kepada-Ku maka akan Aku ampuni semua dosa yang engkau lakukan tanpa
Kupikirkan. Wahai anak cucu Adam .. seandainya dosamu mencapai awan di langit
kemudian engkau meminta ampun pada-Ku maka Aku akan mengampunimu tanpa
Kupikirkan. Wahai anak cucu Adam .. seandainya engkau datang kepada-Ku dengan
dosa sebanyak bumi kemudian engkau menemuiku tanpa menyekutukan Aku dengan
sesuatu pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sebanyak itu pula".
[Sunan Tirmidzi: Shahih]
b.
Memberatkan timbangan amal kebaikan di akhirat.
Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu
'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ
أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ
تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ فَيَقُولُ: لَا يَا
رَبِّ! فَيَقُولُ: أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ ثُمَّ يَقُولُ: أَلَكَ
عَنْ ذَلِكَ حَسَنَةٌ؟ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ: لَا! فَيَقُولُ: بَلَى
إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ.
فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا "أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ" قَالَ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا
هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيَقُولُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ!
فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ فَطَاشَتْ
السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ»
Seorang dari umatku dipanggil pada hari kiamat di depan semua makluk.
Lalu diperlihatkan untuknya 99 buku besar berisi dosa-dosanya, setiap buku
panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah bertanya kepadanya: Apakah ada
yang engkau ingkari dari buku-buku tersebut? Ia menjawab: Tidak, Ya Rabb!
Kemudian Allah bertanya: Apakah malaikat pencatat-Ku mendzalimu kamu? Kemudian Allah bertanya lagi: Apakah kamu
punya kebaikan selain keburukan tersebut? Orang tersebut merasa malu menjawab:
Tidak ada ya Rabb! Maka Allah berkata: Tapi engkau punya kebaikan pada kami,
dan sesungguhnya pada hari ini kamu tidak akan didzalimi. Lalu dikeluarkan
untuknya sebuah kartu tertulis "aku bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan
Rasul-Nya". Lalu ia bertanya: Ya Rabb .. apa yang bisa diperbuat oleh
kartu ini dengan buku-buku besar itu? Allah menjawab: Kamu tidak akan
didzalimi. Lalu buku-buku besar itu diletakkan pada satu piring timbangan dan
kartu itu di piring yang satunya lagi, tiba-tiba buku-buku besar itu terangkat
tinggi dan kartu itu lebih berat ditimbangan. [Sunan Ibnu Majah: Sahih]
c.
Kunci surga.
Dari 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ
أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ
حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ"
Barangsiapa yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain
Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan
Rasul-Nya, dan Isa adalah hamba Allah dan anak hamba-Nya (Maryam), kalimat yang
Ia tiupkan ke rahim Maryam, dan ruh dari Allah, dan surga adalah benar
keberadaanya, dan neraka adalah benar keberadaanya, Allah akan memasukkannya ke
surga dari pintu manapun yang dari 8 pintu surga yang ia kehendaki. [Shahih
Bukhari dan Muslim]
Lihat: Keutamaan Tauhid
3)
Bahaya kesyirikan.
Diantaranya:
a. Syirik
adalah kedzaliman yang paling berat
Allah subhanahu
wata'ala berfirman:
{إِنَّ الشِّرْكَ
لَظُلْمٌ عَظِيمٌ} [لقمان:
13]
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar". [Luqman:13]
b. Dosa
syirik tidak akan diampuni oleh Allah selama pelakunya tidak bertobat.
Allah subhanahu
wata'ala berfirman:
{إِنَّ اللَّهَ لَا
يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ
يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا} [النساء: 48]
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar. [An-Nisaa:48]
c.
Allah mengharamkan
surga bagi orang-orang musyrik, dan menjanjikan bagi mereka kekekalan di
neraka.
Allah subhanahu
wata'ala berfirman:
{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ
بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا
لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu
dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya
ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang
penolongpun".
[Al-Maidah:72]
d. Syirik
menghapus amal saleh
Allah subhanahu
wata'ala berfirman:
{وَلَوْ أَشْرَكُوا
لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [الأنعام: 88]
"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya
lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." [Al-An'am:88]
Lihat: Awas ada syirik !
4)
Al-Qur’an seluruhnya berisi penjelasan tentang tauhid.
Ibnu Qayyim rahimahullah
berkata:
"الْقُرْآنُ كُلُّهُ فِي
التَّوْحِيدِ وَحُقُوقِهِ وَجَزَائِهِ، وَفِي شَأْنِ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ
وَجَزَائِهِمْ". [مدارج السالكين (3/ 418)]
“Al-Qur’an seluruhnya berbicara tentang tauhid, hak-hak dan balasannya,
dan berbicara tentang syirik, pelaku dan ganjarannya”. [Madarij As-Salikin
3/418]
5)
Diantara umat Islam ada yang terjerumus pada kesyirikan.
Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (23); Penjelasan bahwa sebagian umat ini ada yang menyembah berhala
6)
Syaitan memutar-balikkan fakta, kesyirikan ditampakkan
sebagai ibadah.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا
لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى} [الزمر: 3]
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah
agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung
selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya
mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". [Az-Zumar:3]
{وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا
لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ
اللَّهِ} [يونس:
18]
Dan mereka menyembah selain daripada
Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak
(pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi
syafa'at (perantara) kepada kami di sisi Allah". [Yunus:18]
Lihat: Jangan mengikuti langkah-langkah syaitan
Pondasi kedua:
أمر الله بالاجتماع في الدين ونهى عن
التفرق فيه، فيبين الله هذا بيانًا شافيًا تفهمه العوام، ونهانا أن نكون كالذين
تفرقوا واختلفوا قبلنا فهلكوا، وذكر أنه أمر المسلمين بالاجتماع في الدين ونهاهم
عن التفرق فيه، ويزيده وضوحًا ما وردت به السنة من العجب العجاب في ذلك.
ثم
صار الأمر إلى أن الافتراق في أصول الدين وفروعه هو العلم والفقه في الدين، وصار
الاجتماع في الدين لا يقوله إلا زنديق أو مجنون.
Allah memerintahnya
untuk bersatu dalam agama, dan melarang dari perpecahan di dalamnya. Maka Allah
menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang cukup yang dapat dipahami oleh orang
awam, dan melarang kita menyerupai orang-orang yang berpecah dan berselisih
dari umat sebelum kita sehingga mereka binasa. Dan menyebutkan bahwasanya Allah
memerinahkan umat Islam untuk bersatu dalam agama dan melarang mereka bepecah
di dalamnya, dan lebih memperjelas lagi hadits yang diriwayatkan dalam hal ini
yang sungguh menakjubkan tentang hal itu.
Kemudian keadaan berbalik, bahwasanya perpecahan dalam pokok
agama dan cabangnya itulah ilmu dan pemahaman agama, dan persatuan dalam agama
tidak ada yang mengajaknya kecuali munafiq dan orang gila.
Syarah:
1.
Perintah bersatu dan larangan berpecah.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ
جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا} [آل عمران: 103]
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada
tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. [Ali 'Imran: 103]
{وَلَا
تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ
الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ} [آل عمران:
105]
Dan janganlah kamu menyerupai
orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang
jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. [Ali 'Imran:105]
Ø Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«لاَ تَخْتَلِفُوا،
فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا» [صحيح البخاري]
“Janganlah kalian berselisih, karena sesungguhnya orang-orang sebelum
kalian telah berselisih dan akhirnya mereka binasa." [Sahih Bukhari]
2.
Bahaya
perselisihan dan perpecahan.
Diantaranya:
a)
Melemahkan kekuatan.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{وَأَطِيعُوا اللَّهَ
وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ} [الأنفال: 46]
Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu
berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu
dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [Al-Anfaal:46]
b)
Perselisihan dzahir
menyebabkan perselisihan batin.
Dari Abu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ memegang bahu kami sebelum
salat dan berkata:
«اسْتَوُوا، وَلَا تَخْتَلِفُوا،
فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ»
"Luruskan
shaf kalian, dan jangan berselisih maka hati kalianpun berselisih".
Abu Mas'ud berkata: Kalian hari ini lebih besar perselisihannya. [Sahih
Muslim]
c) Setan
bersama orang yang menyalahi jama'ah.
Dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«عَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ
وَالفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ
أَبْعَدُ، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الجَنَّةِ فَلْيَلْزَمُ الجَمَاعَةَ» [سنن الترمذي: صحيح]
"Hendaklah kalian berjama'ah, dan janganlah kalian berpecah, karena
sesungguhnya setan itu bersama orang yang sendiri, sedangkan terhadap orang
yang berdua lebih jauh, barangsiapa yang menginginkan tempat terbaik di surga
maka hendaklah ia mengikuti al-jama'ah." [Sunan Tirmidzi: Sahih]
Lihat: Bahaya perselisihan dan perpecahan
3.
Syabhat yang banyak disebutkan dalam hal ini, yaitu hadits:
«اختلاف أمّتي رحمة»
“Perselisihan umatku adalah rahmat”
Maka hadits ini tidak ditemukan sumbernya yang bersanad, dan diingkari
oleh kebanyakan ahli hadits, seperti Ibnu Hazm rahimahullah ia
berkata:
لو كان الاختلاف رحمة لكان الاتفاق
سخطا هذا ما لا يقوله مسلم لأنه ليس إلا اتفاق أو اختلاف وليس إلا رحمة أو سخط
وأما الحديث المذكور فباطل مكذوب من توليد أهل الفسق [الإحكام في أصول الأحكام (5/ 64)]
“Seandainya
perselisihan itu rahmat maka persatuan itu adalah murka, ini suatu yang tidak
mungkin dikatakan oleh seorang muslim karena tidak ada kecuali perselisihan
atau persatuan, dan tidak ada pula kecuali rahmat atau murka. Adapun hadits
yang disebutkan maka itu adalah hadits batil dan dusta yang dibuat oleh orang
fasik. [Al-Ihkam fii Ushul Al-Ahkam 5/64, Lihat: Silsilah Al-Ahadits
Adh-Dha’ifah karya syekh Albaniy 1/141 no.57]
Ø Hadits ini juga
bertentangan dengan firman Allah ta’aalaa:
{وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ
لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ . إِلَّا
مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ} [هود: 118-119]
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia
umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, Kecuali
orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan
mereka. [Huud:
118-119]
Lihat: Sikap seorang muslim ketika ada perbedaan
Pondasi ketiga:
إنّ
من تمام الاجتماع السمع والطاعة لمن تأمّر علينا ولو كان عبدًا حبشيًا، فبيّن الله
هذا بيانًا شائعًا كافيًا بوجوه من أنواع البيان شرعًا وقدرًا، ثم صار هذا الأصل
لا يعرف عند أكثر من يدّعي العلم فكيف العمل به.
Bahwasanya dari kesempurnaan persatuan adalah
senantiasa mendengar dan ta'at kepada orang yang memimpin urusan kita sekalipun
ia seorang budak Habasyi (kulit hitam). Karena Allah telah menjelaskan hal ini
dengan penjelasan yang luas dan cukup dengan bebagai bentuk penjelasan secara
syar'iy maupun takdir. Kemudian pokok ini tidak diketahui oleh kebanyakan orang
yang mengaku berilmu, lalu bagaimana dengan pengamalannya?
Syarah:
1.
Perintah taat kepada
penguasa.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ
كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا}
[النساء: 59]
Hai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian
jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.
[An-Nisaa':59]
Ø Al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu
'anhu berkata:
صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ذَاتَ
يَوْمٍ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ
مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟
فَقَالَ «أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا
حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا
كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ
الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ،
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» [سنن أبي داود: صحيح]
Suatu hari Rasulullah ﷺ shalat bersama kami, kemudian
ia memalingkan wajahnya kepada kami dan menasehati kami dengan nasehat yang
sangat mengena, air mata menetes dan hati bergetar mendengarnya. Kemudian
seseorang bertanya: Ya Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan,
maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami؟ Rasululah ﷺ bersabda: "Aku wasiatkan
kepada kalian untuk selalu bertakwa kepada Allah serta patuh dan taat (kepada
pemerintah) sekalipun ia seorang hamba dari kaum Habasyiy, karena sesungguhnya
siapa yang hidup dari kalian setelah aku meninggal maka ia akan menyaksikan
perselisihan yang besar, maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah
khalifah-khalifah yang mendapat hidayah dan petunjuk, berpegang teguhlah
dengannya, gigitlah dengan gigi graham kalian (amalkan dengan kuat), dan
jauhilah urusan yang baru, karena sesungguhnya semua yang baru dalam agama itu
adalah bid'ah, dan semua bid'ah itu adalah kesesatan". [Sunan Abi Daud:
Shahih]
Lihat: Syarah Arba’in hadits (28) Al-'Irbadh; Kewajiban taat kepada pemimpin
2.
Perintah
bersabar atas kedzaliman penguasa:
Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu
'anhuma bertanya:
يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا
بِشَرٍّ، فَجَاءَ اللهُ بِخَيْرٍ، فَنَحْنُ فِيهِ، فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا
الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قُلْتُ: هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ؟
قَالَ: «نَعَمْ»، قُلْتُ: فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ:
«نَعَمْ»، قُلْتُ: كَيْفَ؟ قَالَ: «يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ
بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ
قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ»، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ
أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ
لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ» [صحيح مسلم]
"Wahai Rasulullah, dahulu saya berada dalam kejahatan, kemudian
Allah menurunkan kebaikan (agama Islam) kepada kami, apakah setelah kebaikan
ini timbul lagi keburukan?" Beliau menjawab: "Ya." Saya bertanya
lagi, "Apakah setelah keburukan tersebut akan timbul lagi kebaikan?"
Beliau menjawab: "Ya." Saya bertanya lagi, "Apakah setelah
kebaikan ini timbul lagi keburukan?" Beliau menjawab: "Ya." Aku
bertanya, "Bagaimana hal itu?" Beliau menjawab: "Setelahku nanti
akan ada pemimpin yang memimpin tidak dengan petunjukku dan mengambil sunah
bukan dari sunahku, lalu akan datang beberapa laki-laki yang hati mereka
sebagaimana hatinya setan dalam rupa manusia." Hudzaifah berkata; saya
betanya, "Wahai Rasulullah, jika hal itu menimpaku apa yang anda perintahkan
kepadaku?" Beliau menjawab: "Dengar dan patuhilah kepada pemimpinmu,
walaupun ia memukulmu dan merampas harta bendamu, dengar dan patuhilah
dia." [Shahih Muslim]
Ø Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu; Nabi ﷺ bersabda:
«سَتَكُونُ أَثَرَةٌ
وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنَا؟
قَالَ: «تُؤَدُّونَ الحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ، وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي
لَكُمْ» [صحيح
البخاري ومسلم]
"Sungguh
akan terjadi sifat-sifat egoisme dan urusan-urusan yang kalian ingkari (dari
pemimpin kalian)". Mereka bertanya; "Wahai Rasulullah, apa yang
baginda perintahkan untuk kami (bila zaman itu kami alami)? '. Beliau menjawab: "Kalian tunaikan
hak-hak yang menjadi kewajiban kalian (terhadap pemimpin) dan kalian minta
kepada Allah apa yang menjadi hak kalian". [Shahih Bukhari dan Muslim]
Ø Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«عَلَيْكَ السَّمْعَ
وَالطَّاعَةَ فِي عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ، وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ، وَأَثَرَةٍ
عَلَيْكَ» [صحيح
مسلم]
"Wajib
bagi kalian untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan susah maupun senang,
dalam perkara yang disukai dan dibenci dan biarpun merugikan
kepentinganmu." [Shahih Muslim]
Ø Salamah bin Yazid Al-Ju'fiy radhiyallahu
'anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
يَا نَبِيَّ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ
قَامَتْ عَلَيْنَا أُمَرَاءُ يَسْأَلُونَا حَقَّهُمْ وَيَمْنَعُونَا حَقَّنَا،
فَمَا تَأْمُرُنَا؟ فَأَعْرَضَ عَنْهُ، ثُمَّ سَأَلَهُ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، ثُمَّ
سَأَلَهُ فِي الثَّانِيَةِ أَوْ فِي الثَّالِثَةِ، فَجَذَبَهُ الْأَشْعَثُ بْنُ
قَيْسٍ، وَقَالَ: «اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا، فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا،
وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ» [صحيح مسلم]
"Wahai
Nabi Allah, bagaimanakah pendapatmu jika para penguasa yang memimpin kami
selalu menuntut hak mereka atas kami tapi mereka tidak mau memenuhi hak kami,
sikap apa yang anda anjurkan kepada kami?" Maka beliau berpaling, lalu
ditanyakan lagi kepada beliau dan beliaupun tetap enggan menjawabnya, hingga
dua atau tiga kali pertanyaan itu diajukan kepada beliau, kemudian Al-Asy'ats
bin Qa`is menarik Salamah bin Yazid. Beliau lalu bersabda: "Dengarkan dan
taatilah, sesungguhnya mereka akan mempertanggung jawabkan atas semua perbuatan
mereka, sebagaimana kalian juga akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan
kalian." [Shahih Muslim]
Ø Adiy bin Hatim radhiyallahu 'anhu
berkata: Kami betanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا نَسْأَلُكَ
عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ، فَذَكَرَ الشَّرَّ،
فَقَالَ: «اتَّقُوا اللَّهَ، وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا» [السنة لابن أبي عاصم: حسن لغيره]
Wahai Rasulullah, kami tidak menanyaimu tentang taat kepada pemimpin yang
bertakwa, akan tetapi tentang taat kepada pemimpin yang melakukan ini dan itu
(maksiat). Ia menyebutkan beberapa keburukan. Maka Rasulullah ﷺ menjawab: “Bertakwalah kalian
kepada Allah, dan dengarkan dan taatilah pemerintah”. [As-Sunnah karya Ibnu Abi
‘Ashim: Hasan ligairih]
3.
Bahaya
memberontak terhadap pengauasa:
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma; Nabi ﷺ bersabda;
«مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا
فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً
جَاهِلِيَّةً» [صحيح البخاري ومسلم]
"Siapa yang tidak menyukai kebijakan amir (pemimpinnya) hendaklah
bersabar, sebab siapapun yang keluar dari ketaatan kepada amir sejengkal, ia
mati dalam jahiliyah." [Shahih Bukhari dan Muslim]
4.
Menta’aati
penguasa dalam kebaikan:
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ
بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Kewajiban seorang muslim adalah patuh dan taat pada perintah yang
ia sukai maupun yang ia tidak sukai, kecuali jika diperintahkan kepada maksiat,
jika ia diperintahkan melakukan maksiat maka tidak ada kepatuhan dan ketaatan".
[Shahih Bukhari dan Muslim]
5.
Menasehati
penguasa secara rahasia:
Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
" إِنَّ اللَّهَ
يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا: يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ
شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا،
وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ " [مسند أحمد: صحيح]
"Sesungguhnya
Allah 'Azza wa Jalla meridhai kalian atas tiga hal dan benci dari tiga
hal; Allah meridhai kalian untuk beribadah kepada-Nya dan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatu, hendaknya kalian berpegang teguh dengan tali
Allah dan jangan berpecah belah dan kalian taat kepada orang yang telah Allah
amanatkan urusan kalian." [Musnad Ahmad: Shahih]
Ø Dari 'Iyadh bin Ganm -radhiyallahu ‘anhu-; Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ أَرَادَ أَنْ
يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ، فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ
لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ، فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا
كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ» [مسند أحمد: حسن لغيره]
"Barangsiapa
yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara, maka jangan dilakukan
dengan terangterangan, tapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua. Jika
diterima memang begitu, jika tidak maka dia telah melaksakan
kewajibannya". [Musnad Ahmad: Hasan ligairih]
6.
Sampai
kapan harus bersabar?
Abu Al-Walid 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu
'anhu berkata:
دَعَانَا النَّبِيُّ ﷺ فَبَايَعْنَاهُ،
فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: «أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ،
فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا،
وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا،
عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ، ... » [صحيح البخاري ومسلم]
"Kami pernah membaiat Rasulullah ﷺ untuk taat dan mendengar baik
dalam keadaan lapang atau sempit, dalam keadaan semangat (mudah) atau terpaksa
(sulit) dan lebih mementingkan kepentingannya diri sendiri, tidak menentang
perintahan yang berwenang kecuali jika kalian melihat kekufuran yang
terang-terangan, yang pada kalian mempunyai alasan yang jelas dari Allah, … ."
[Shahih Bukhari dan Muslim]
Ø Dari 'Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ
الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ
عَلَيْكُمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ
وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ»، قَالُوا: قُلْنَا: يَا
رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ؟ قَالَ: «لَا، مَا أَقَامُوا
فِيكُمُ الصَّلَاةَ، لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، أَلَا مَنْ وَلِيَ
عَلَيْهِ وَالٍ، فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، فَلْيَكْرَهْ مَا
يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ» [صحيح مسلم]
"Sebaik-baik
pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka,
mereka mendo'akan kalian dan kalian mendo'akan mereka. Dan sejelek-jelek
pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka,
mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka." Beliau ditanya: "Wahai Rasulullah,
tidakkah kita memerangi mereka?"
Maka beliau bersabda: "Tidak, selagi mereka mendirikan shalat
bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak
baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan
kepada mereka." [Shahih Muslim]
Lihat: Syarah Riyadhushalihin, Bab (23) Amar ma'ruf nahi mungkar, hadits ketiga
Bersambung ...
Lihat juga: "Syarah Akidah Ahlussunnah" karya Al-Isma'iliy (bagian 4) - 10 Pembatal Keislaman - Daftar judul bab kitab At-Tauhid karya syekh Muhammad bin Abdil Wahhab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...