Senin, 14 September 2026

Enam pondasi pokok dalam beragama

بسم الله الرحمن الرحيم

                Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

            من أعجب العجاب، وأكبر الآيات الدالة على قدرة المللك الغلاب ستة أصول بينها الله تعالى بيانًا واضحًا للعوام فوق ما يظنّ الظانون، ثم بعد هذا غلط فيها كثير من أذكياء العالم وعقلاء بني آدم إلا أقلّ القليل.

                Diantara perkara yang paling mengherankan, dan tanda terbesar yang menunjukkan Maha Kuasanya Al-Malik Al-Gallaab (Allah) adalah enam perkara pokok yang Allah jelaskan dengan penjelasan yang sangat jelas untuk orang awam, yang mana kejelasannya melebih apa yang orang sangkakan, kemudian setelah itu banyak orang yang keliru dari orang-orang cerdas dunia dan yang berakal dari anak cucu Adam, kecuali sangat sedikit.

Syarah:

1.       Nama Allah Al-Malik (Yang Maha Menguasai).

Lihat: Allah Yang Maha Menguasai "Al-Malik"

2.       Tidak didapatkan dalil bahwa “Al-Gallab” adalah asmaul husna.

Yang ada adalah nama “Al-Galib”, sebagaimana Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ} [يوسف: 21]

Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. [Yusuf: 21]

Lihat: 108 "Asmaa-ul husna"

3.       Allah menjelaskan agamaNya dengan sangat jelas.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ} [النحل: 89]

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. [An-Nahl: 89]

Ø  Dari Al-'Irbaad bin Sariyah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«لقد تركتُكم على مِثْلِ البيضاء، ليلُها كنهارِها، لا يَزيغُ عنها إلا هالكٌ» [صحيح الترغيب والترهيب]

"Aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang terang dan jelas, malamnya sama dengan siangnya, tidak ada yang melenceng darinya kecuali ia akan celaka". [Shahih At-Targiib wa At-Tarhiib]

Lihat: Keistimewaan Al-Qur'an

4.       Kebenaran yang jelas biasa tidak nampak karena hatinya buta.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ} [الحج : 46]

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. [Al-Hajj: 46]

Pondasi pertama:

            إخلاص الدين لله تعالى وحده لا شريك له، وبيان ضده الذي هو الشرك بالله، وكون أكثر القرآن في بيان هذا الأصل من وجوه شتى بكلام يفهمه أبلد العامة، ثم لما صار على أكثر الأمة ما صار أظهر لهم الشيطان الإخلاص في صورة تنقص الصالحين والتقصير في حقوقهم، وأظهر لهم الشرك بالله في صورة محبة الصالحين وأتباعهم.

                Mengikhlashkan agama hanya untuk Allah ta’aalaa semata, tidak ada sekutu untukNya, dan menjelaskan lawannya yaitu menyekutukan Allah, dan bahwasanya kebanyakan ayat Al-Qur’an menjelaskan pokok ini dari berbagai bentuk, dengan pemaparan yang bisa dipahami oleh orang awam yang paling bodoh. Kemudian ketika kebanyakan dari umat ini berpaling sampai setan menampakkan kepada mereka keikhlasan adalah bentuk merendahkan orang shalih dan mengurangi hak mereka, dan menampakkan kepada mereka kesyirikan kepada Allah dalam bentuk cinta kepada orang shalih dan pengikutnya.

Syarah:

1)      Perintah mentauhidkan Allah dan larangan menyekutukanNya.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ} [البينة: 5]

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (jauh dari syirik mempersekutukan Allah dan jauh dari kesesatan). [Al-Bayyinah: 5]

{وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا} [النساء: 36]

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. [An-Nisaa':36]

Lihat: 4 kaidah memahami tauhid dan syirik

2)      Keutamaan tauhid.

Diantaranya:

a.       Mendapatkan ampunan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda: Allah berfirman (dalam hadits qudsi):

"يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً"

"Wahai anak cucu Adam .. sesungguhnya jika engkau meminta dan mengharap kepada-Ku maka akan Aku ampuni semua dosa yang engkau lakukan tanpa Kupikirkan. Wahai anak cucu Adam .. seandainya dosamu mencapai awan di langit kemudian engkau meminta ampun pada-Ku maka Aku akan mengampunimu tanpa Kupikirkan. Wahai anak cucu Adam .. seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sebanyak bumi kemudian engkau menemuiku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sebanyak itu pula". [Sunan Tirmidzi: Shahih]

b.      Memberatkan timbangan amal kebaikan di akhirat.

Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah bersabda:

«يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ! فَيَقُولُ: أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ ثُمَّ يَقُولُ: أَلَكَ عَنْ ذَلِكَ حَسَنَةٌ؟ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ: لَا! فَيَقُولُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا "أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ" قَالَ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيَقُولُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ! فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ»

Seorang dari umatku dipanggil pada hari kiamat di depan semua makluk. Lalu diperlihatkan untuknya 99 buku besar berisi dosa-dosanya, setiap buku panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah bertanya kepadanya: Apakah ada yang engkau ingkari dari buku-buku tersebut? Ia menjawab: Tidak, Ya Rabb! Kemudian Allah bertanya: Apakah malaikat pencatat-Ku mendzalimu kamu?  Kemudian Allah bertanya lagi: Apakah kamu punya kebaikan selain keburukan tersebut? Orang tersebut merasa malu menjawab: Tidak ada ya Rabb! Maka Allah berkata: Tapi engkau punya kebaikan pada kami, dan sesungguhnya pada hari ini kamu tidak akan didzalimi. Lalu dikeluarkan untuknya sebuah kartu tertulis "aku bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya". Lalu ia bertanya: Ya Rabb .. apa yang bisa diperbuat oleh kartu ini dengan buku-buku besar itu? Allah menjawab: Kamu tidak akan didzalimi. Lalu buku-buku besar itu diletakkan pada satu piring timbangan dan kartu itu di piring yang satunya lagi, tiba-tiba buku-buku besar itu terangkat tinggi dan kartu itu lebih berat ditimbangan. [Sunan Ibnu Majah: Sahih]

c.       Kunci surga.

 Dari 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

"مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ"

Barangsiapa yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan Isa adalah hamba Allah dan anak hamba-Nya (Maryam), kalimat yang Ia tiupkan ke rahim Maryam, dan ruh dari Allah, dan surga adalah benar keberadaanya, dan neraka adalah benar keberadaanya, Allah akan memasukkannya ke surga dari pintu manapun yang dari 8 pintu surga yang ia kehendaki. [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Keutamaan Tauhid

3)      Bahaya kesyirikan.

Diantaranya:

a.       Syirik adalah kedzaliman yang paling berat

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ} [لقمان: 13]

Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". [Luqman:13]

b.      Dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah selama pelakunya tidak bertobat.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا} [النساء: 48]

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [An-Nisaa:48]

c.       Allah mengharamkan surga bagi orang-orang musyrik, dan menjanjikan bagi mereka kekekalan di neraka.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun". [Al-Maidah:72]

d.      Syirik menghapus amal saleh

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [الأنعام: 88]

"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." [Al-An'am:88]

Lihat: Awas ada syirik !

4)      Al-Qur’an seluruhnya berisi penjelasan tentang tauhid.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

"الْقُرْآنُ كُلُّهُ فِي التَّوْحِيدِ وَحُقُوقِهِ وَجَزَائِهِ، وَفِي شَأْنِ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ وَجَزَائِهِمْ". [مدارج السالكين (3/ 418)]

“Al-Qur’an seluruhnya berbicara tentang tauhid, hak-hak dan balasannya, dan berbicara tentang syirik, pelaku dan ganjarannya”. [Madarij As-Salikin 3/418]

5)      Diantara umat Islam ada yang terjerumus pada kesyirikan.

Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (23); Penjelasan bahwa sebagian umat ini ada yang menyembah berhala

6)      Syaitan memutar-balikkan fakta, kesyirikan ditampakkan sebagai ibadah.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى} [الزمر: 3]

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". [Az-Zumar:3]

{وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ} [يونس: 18]

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at (perantara) kepada kami di sisi Allah". [Yunus:18]

Lihat: Jangan mengikuti langkah-langkah syaitan

Pondasi kedua:

            أمر الله بالاجتماع في الدين ونهى عن التفرق فيه، فيبين الله هذا بيانًا شافيًا تفهمه العوام، ونهانا أن نكون كالذين تفرقوا واختلفوا قبلنا فهلكوا، وذكر أنه أمر المسلمين بالاجتماع في الدين ونهاهم عن التفرق فيه، ويزيده وضوحًا ما وردت به السنة من العجب العجاب في ذلك.

          ثم صار الأمر إلى أن الافتراق في أصول الدين وفروعه هو العلم والفقه في الدين، وصار الاجتماع في الدين لا يقوله إلا زنديق أو مجنون.

                Allah memerintahnya untuk bersatu dalam agama, dan melarang dari perpecahan di dalamnya. Maka Allah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang cukup yang dapat dipahami oleh orang awam, dan melarang kita menyerupai orang-orang yang berpecah dan berselisih dari umat sebelum kita sehingga mereka binasa. Dan menyebutkan bahwasanya Allah memerinahkan umat Islam untuk bersatu dalam agama dan melarang mereka bepecah di dalamnya, dan lebih memperjelas lagi hadits yang diriwayatkan dalam hal ini yang sungguh menakjubkan tentang hal itu.

            Kemudian keadaan berbalik, bahwasanya perpecahan dalam pokok agama dan cabangnya itulah ilmu dan pemahaman agama, dan persatuan dalam agama tidak ada yang mengajaknya kecuali munafiq dan orang gila. 

Syarah:

1.       Perintah bersatu dan larangan berpecah.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا} [آل عمران: 103]

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. [Ali 'Imran: 103]

{وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ} [آل عمران: 105]

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. [Ali 'Imran:105]

Ø  Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«لاَ تَخْتَلِفُوا، فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا» [صحيح البخاري]

“Janganlah kalian berselisih, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah berselisih dan akhirnya mereka binasa." [Sahih Bukhari]

2.        Bahaya perselisihan dan perpecahan.

Diantaranya:

a)      Melemahkan kekuatan.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ} [الأنفال: 46]

Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [Al-Anfaal:46]

b)      Perselisihan dzahir menyebabkan perselisihan batin.

Dari Abu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah memegang bahu kami sebelum salat dan berkata:

«اسْتَوُوا، وَلَا تَخْتَلِفُوا، فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ»

"Luruskan shaf kalian, dan jangan berselisih maka hati kalianpun berselisih".

Abu Mas'ud berkata: Kalian hari ini lebih besar perselisihannya. [Sahih Muslim]

c)       Setan bersama orang yang menyalahi jama'ah.

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الجَنَّةِ فَلْيَلْزَمُ الجَمَاعَةَ» [سنن الترمذي: صحيح]

"Hendaklah kalian berjama'ah, dan janganlah kalian berpecah, karena sesungguhnya setan itu bersama orang yang sendiri, sedangkan terhadap orang yang berdua lebih jauh, barangsiapa yang menginginkan tempat terbaik di surga maka hendaklah ia mengikuti al-jama'ah." [Sunan Tirmidzi: Sahih]

Lihat: Bahaya perselisihan dan perpecahan

3.       Syabhat yang banyak disebutkan dalam hal ini, yaitu hadits:

«اختلاف أمّتي رحمة»

“Perselisihan umatku adalah rahmat”

Maka hadits ini tidak ditemukan sumbernya yang bersanad, dan diingkari oleh kebanyakan ahli hadits, seperti Ibnu Hazm rahimahullah ia berkata:

لو كان الاختلاف رحمة لكان الاتفاق سخطا هذا ما لا يقوله مسلم لأنه ليس إلا اتفاق أو اختلاف وليس إلا رحمة أو سخط وأما الحديث المذكور فباطل مكذوب من توليد أهل الفسق [الإحكام في أصول الأحكام (5/ 64)]

“Seandainya perselisihan itu rahmat maka persatuan itu adalah murka, ini suatu yang tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim karena tidak ada kecuali perselisihan atau persatuan, dan tidak ada pula kecuali rahmat atau murka. Adapun hadits yang disebutkan maka itu adalah hadits batil dan dusta yang dibuat oleh orang fasik. [Al-Ihkam fii Ushul Al-Ahkam 5/64, Lihat: Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah karya syekh Albaniy 1/141 no.57]

Ø  Hadits ini juga bertentangan dengan firman Allah ta’aalaa:

{وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ . إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ} [هود: 118-119]

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. [Huud: 118-119]

Lihat: Sikap seorang muslim ketika ada perbedaan

Pondasi ketiga:

إنّ من تمام الاجتماع السمع والطاعة لمن تأمّر علينا ولو كان عبدًا حبشيًا، فبيّن الله هذا بيانًا شائعًا كافيًا بوجوه من أنواع البيان شرعًا وقدرًا، ثم صار هذا الأصل لا يعرف عند أكثر من يدّعي العلم فكيف العمل به.

Bahwasanya dari kesempurnaan persatuan adalah senantiasa mendengar dan ta'at kepada orang yang memimpin urusan kita sekalipun ia seorang budak Habasyi (kulit hitam). Karena Allah telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang luas dan cukup dengan bebagai bentuk penjelasan secara syar'iy maupun takdir. Kemudian pokok ini tidak diketahui oleh kebanyakan orang yang mengaku berilmu, lalu bagaimana dengan pengamalannya?

Syarah:

1.       Perintah taat kepada penguasa.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا} [النساء: 59]

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An-Nisaa':59]

Ø  Al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu berkata:

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟ فَقَالَ «أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» [سنن أبي داود: صحيح]

Suatu hari Rasulullah shalat bersama kami, kemudian ia memalingkan wajahnya kepada kami dan menasehati kami dengan nasehat yang sangat mengena, air mata menetes dan hati bergetar mendengarnya. Kemudian seseorang bertanya: Ya Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami؟ Rasululah bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian untuk selalu bertakwa kepada Allah serta patuh dan taat (kepada pemerintah) sekalipun ia seorang hamba dari kaum Habasyiy, karena sesungguhnya siapa yang hidup dari kalian setelah aku meninggal maka ia akan menyaksikan perselisihan yang besar, maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khalifah-khalifah yang mendapat hidayah dan petunjuk, berpegang teguhlah dengannya, gigitlah dengan gigi graham kalian (amalkan dengan kuat), dan jauhilah urusan yang baru, karena sesungguhnya semua yang baru dalam agama itu adalah bid'ah, dan semua bid'ah itu adalah kesesatan". [Sunan Abi Daud: Shahih]

Lihat: Syarah Arba’in hadits (28) Al-'Irbadh; Kewajiban taat kepada pemimpin

2.       Perintah bersabar atas kedzaliman penguasa:

Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhuma bertanya:

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ، فَجَاءَ اللهُ بِخَيْرٍ، فَنَحْنُ فِيهِ، فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قُلْتُ: هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قُلْتُ: فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قُلْتُ: كَيْفَ؟ قَالَ: «يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ»، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ» [صحيح مسلم]

"Wahai Rasulullah, dahulu saya berada dalam kejahatan, kemudian Allah menurunkan kebaikan (agama Islam) kepada kami, apakah setelah kebaikan ini timbul lagi keburukan?" Beliau menjawab: "Ya." Saya bertanya lagi, "Apakah setelah keburukan tersebut akan timbul lagi kebaikan?" Beliau menjawab: "Ya." Saya bertanya lagi, "Apakah setelah kebaikan ini timbul lagi keburukan?" Beliau menjawab: "Ya." Aku bertanya, "Bagaimana hal itu?" Beliau menjawab: "Setelahku nanti akan ada pemimpin yang memimpin tidak dengan petunjukku dan mengambil sunah bukan dari sunahku, lalu akan datang beberapa laki-laki yang hati mereka sebagaimana hatinya setan dalam rupa manusia." Hudzaifah berkata; saya betanya, "Wahai Rasulullah, jika hal itu menimpaku apa yang anda perintahkan kepadaku?" Beliau menjawab: "Dengar dan patuhilah kepada pemimpinmu, walaupun ia memukulmu dan merampas harta bendamu, dengar dan patuhilah dia." [Shahih Muslim]

Ø  Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu; Nabi bersabda: 

«سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: «تُؤَدُّونَ الحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ، وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Sungguh akan terjadi sifat-sifat egoisme dan urusan-urusan yang kalian ingkari (dari pemimpin kalian)". Mereka bertanya; "Wahai Rasulullah, apa yang baginda perintahkan untuk kami (bila zaman itu kami alami)? '.  Beliau menjawab: "Kalian tunaikan hak-hak yang menjadi kewajiban kalian (terhadap pemimpin) dan kalian minta kepada Allah apa yang menjadi hak kalian". [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah bersabda: 

«عَلَيْكَ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ فِي عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ، وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ، وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ» [صحيح مسلم]

"Wajib bagi kalian untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan susah maupun senang, dalam perkara yang disukai dan dibenci dan biarpun merugikan kepentinganmu." [Shahih Muslim]

Ø  Salamah bin Yazid Al-Ju'fiy radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah : 

يَا نَبِيَّ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ قَامَتْ عَلَيْنَا أُمَرَاءُ يَسْأَلُونَا حَقَّهُمْ وَيَمْنَعُونَا حَقَّنَا، فَمَا تَأْمُرُنَا؟ فَأَعْرَضَ عَنْهُ، ثُمَّ سَأَلَهُ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، ثُمَّ سَأَلَهُ فِي الثَّانِيَةِ أَوْ فِي الثَّالِثَةِ، فَجَذَبَهُ الْأَشْعَثُ بْنُ قَيْسٍ، وَقَالَ: «اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا، فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا، وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ» [صحيح مسلم]

"Wahai Nabi Allah, bagaimanakah pendapatmu jika para penguasa yang memimpin kami selalu menuntut hak mereka atas kami tapi mereka tidak mau memenuhi hak kami, sikap apa yang anda anjurkan kepada kami?" Maka beliau berpaling, lalu ditanyakan lagi kepada beliau dan beliaupun tetap enggan menjawabnya, hingga dua atau tiga kali pertanyaan itu diajukan kepada beliau, kemudian Al-Asy'ats bin Qa`is menarik Salamah bin Yazid. Beliau lalu bersabda: "Dengarkan dan taatilah, sesungguhnya mereka akan mempertanggung jawabkan atas semua perbuatan mereka, sebagaimana kalian juga akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan kalian." [Shahih Muslim]                                                                                                                                                                                                                                                                              

Ø  Adiy bin Hatim radhiyallahu 'anhu berkata: Kami betanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ، فَذَكَرَ الشَّرَّ، فَقَالَ: «اتَّقُوا اللَّهَ، وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا» [السنة لابن أبي عاصم: حسن لغيره]

Wahai Rasulullah, kami tidak menanyaimu tentang taat kepada pemimpin yang bertakwa, akan tetapi tentang taat kepada pemimpin yang melakukan ini dan itu (maksiat). Ia menyebutkan beberapa keburukan. Maka Rasulullah menjawab: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dan dengarkan dan taatilah pemerintah”. [As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim: Hasan ligairih]

3.       Bahaya memberontak terhadap pengauasa:

Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma; Nabi bersabda;

«مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً» [صحيح البخاري ومسلم]

"Siapa yang tidak menyukai kebijakan amir (pemimpinnya) hendaklah bersabar, sebab siapapun yang keluar dari ketaatan kepada amir sejengkal, ia mati dalam jahiliyah." [Shahih Bukhari dan Muslim]

4.       Menta’aati penguasa dalam kebaikan:

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah bersabda:

«عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Kewajiban seorang muslim adalah patuh dan taat pada perintah yang ia sukai maupun yang ia tidak sukai, kecuali jika diperintahkan kepada maksiat, jika ia diperintahkan melakukan maksiat maka tidak ada kepatuhan dan ketaatan". [Shahih Bukhari dan Muslim]

5.       Menasehati penguasa secara rahasia:

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah bersabda:

" إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا: يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ " [مسند أحمد: صحيح]

"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla meridhai kalian atas tiga hal dan benci dari tiga hal; Allah meridhai kalian untuk beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, hendaknya kalian berpegang teguh dengan tali Allah dan jangan berpecah belah dan kalian taat kepada orang yang telah Allah amanatkan urusan kalian." [Musnad Ahmad: Shahih]

Ø  Dari 'Iyadh bin Ganm -radhiyallahu ‘anhu-; Rasulullah bersabda: 

«مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ، فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ، فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ» [مسند أحمد: حسن لغيره]

"Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terangterangan, tapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua. Jika diterima memang begitu, jika tidak maka dia telah melaksakan kewajibannya". [Musnad Ahmad: Hasan ligairih]

6.       Sampai kapan harus bersabar?

Abu Al-Walid 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu berkata:

دَعَانَا النَّبِيُّ ﷺ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: «أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ، ... » [صحيح البخاري ومسلم]

"Kami pernah membaiat Rasulullah untuk taat dan mendengar baik dalam keadaan lapang atau sempit, dalam keadaan semangat (mudah) atau terpaksa (sulit) dan lebih mementingkan kepentingannya diri sendiri, tidak menentang perintahan yang berwenang kecuali jika kalian melihat kekufuran yang terang-terangan, yang pada kalian mempunyai alasan yang jelas dari Allah, … ." [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dari 'Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda: 

«خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ»، قَالُوا: قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ؟ قَالَ: «لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، أَلَا مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ، فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ» [صحيح مسلم]

"Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo'akan kalian dan kalian mendo'akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka."  Beliau ditanya: "Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?"  Maka beliau bersabda: "Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka." [Shahih Muslim]

Lihat: Syarah Riyadhushalihin, Bab (23) Amar ma'ruf nahi mungkar, hadits ketiga 

Bersambung ...

Lihat juga: "Syarah Akidah Ahlussunnah" karya Al-Isma'iliy (bagian 4) - 10 Pembatal Keislaman - Daftar judul bab kitab At-Tauhid karya syekh Muhammad bin Abdil Wahhab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...