Selasa, 11 Agustus 2026

"Syarah Akidah Ahlussunnah" karya Al-Isma'iliy (bagian 4)

بسم الله الرحمن الرحيم

Abu Bakr Ahmad bin Ibrahim Al-Isma’iliy rahimahullah berkata:

[الرازق الله]

            وإن الله تعالى يرزق كل حيّ مخلوق رزق الغذاء الذي به قوام الحياة، وهو يضمنه الله لمن أبقاه من خلقه، وهو الذي رزقه من حلال أو من حرام، وكذلك رزق الزينة الفاضل عما يحيا به.

                Sesungguhnya Allah Ta'ala memberikan rezeki kepada setiap makhluk hidup berupa rezeki makanan yang menjadi penopang kehidupan. Dan Allah menjamin rezeki tersebut bagi siapa yang Dia pelihara hidupnya di antara makhluk-Nya. Dialah yang memberinya rezeki, baik yang halal maupun yang haram. Demikian pula rezeki berupa perhiasan yang berlebih dari sekadar kebutuhan untuk hidup.

Syarah:

1.       Allah ta'ala menanggung rezeki semua makhluk hidup.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا} [هود: 6]

Dan tidak ada suatu binatang melata (bernyawa) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya. [Huud:6]

{وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} [العنكبوت: 60]

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-'Ankabuut:60]

{قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ} [سبأ: 24]

Katakanlah: "Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?" Katakanlah: "Allah". [Saba':24]

Lihat: “Ar-Raaziq” dan “Ar-Razzaaq”; Allah Maha Pemberi Rezki

2.       Allah ta'ala meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ} [الرعد: 26]

Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dia kehendaki. [Ar-Ra'd:26]

Lihat: Rezeki hanya dari Allah

3.       Dengan cara halal ataupun haram, semuanya adalah ketetapan Allah ta'ala.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ»

“Barangsiapa yang impiannya adalah akhirat maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, dan Allah akan memudahkan urusannya, dan kenikmatan dunia akan datang kepadanya dengan sendirinya. Dan barangsiapa yang impiannya hanyalah dunia maka Allah akan menjadikan kefakiran di depan kedua matanya, dan Allah akan mempersulit urusannya, dan ia tidak akan mendapatkan kenikmatan dunia kecuali apa yang sudah ditakdirkan untuknya". [Sunan Tirmidzi: Shahih]

[الله خالق الشياطين ووساوسهم]

          ويؤمنون بأن الله تعالى خلق الشياطين توسوس للآدميين ويخدعونهم ويغرونهم، وأن الشيطان يتخبط الإنسان.

            Dan mereka beriman bahwa Allah Yang Mahatinggi menciptakan setan-setan yang membisikkan waswas kepada anak cucu Adam, menipu dan menggoda mereka, serta bahwa setan itu mengacaukan (menyesatkan atau merasuki) manusia.

Syarah:

1.       Allah ta'ala Yang menciptakan segala sesuatu termasuk Iblis.

Rasulullah bersabda:

« لو أراد اللهُ أنْ لا يُعصى ما خَلَقَ إبليس» [السلسلة الصحيحة رقم 1642]

“Seandainya Allah menghendaki untuk tidak didurhakai maka Ia tidak akan menciptakan Iblis”. [Silsilah Ash-Shahiha no.1642]

2.       Setan membisikkan pikiran jahat kepada manusia.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ (20) وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ (21) فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ} [الأعراف: 20 – 22]

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)". Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua". Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" [Al-A'raaf: 20-22]

3.       Setan mengkhianati manusia.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [إبراهيم: 22]

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca Aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. [Ibrahim:22]

{كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ} [الحشر: 16]

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu". Maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam". [Al-Hasyr:16]

4.       Setan menyesatkan manusia.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ} [ص: 82]

Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya". [Shaad:82]

5.       Setan merasuki jasad manusia.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ} [البقرة: 275]

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. [Al-Baqarah:275]

Lihat: Sifat Iblis dan Syaitan dalam Al-Qur'an

[السحر والسحرة]

          وأن في الدنيا سحرا وسحرة، وأن السحر واستعماله كفر من فاعله، معتقدا له، نافعا ضارا بغير إذن الله.

            Dan bahwa di dunia ini ada sihir dan para penyihir, dan bahwa sihir serta penggunaannya merupakan kekufuran bagi pelakunya, yang meyakininya, yang memberi manfaat dan bahaya tanpa izin Allah.

Syarah:

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ} [البقرة: 102]

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. [Al-Baqarah: 102]

Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (24); Hukum sihir

[مجانبة البدعة]

          ويرون مجانبة البدعة والآثام، والفخر، والتكبر، والعجب، والخيانة، والدغل، والسعاية، ويرون كف الأذى وترك الغيبة إلا لمن أظهر بدعة وهو يدعو إليها، فالقول فيه ليس بغيبة عندهم.

            Dan mereka (para imam Ahlul Hadits) berkeyakinan untuk menjauhi bid'ah dan dosa-dosa, kesombongan, takabur, ujub (bangga diri), khianat, kecurangan, mengadu domba. Dan mereka berkeyakinan untuk menahan gangguan (terhadap orang lain) dan meninggalkan ghibah (menggunjing), kecuali terhadap orang yang menampakkan bid'ah dan mengajak kepadanya. Maka berbicara (keburukan) tentang orang tersebut bukanlah termasuk ghibah menurut mereka.

Syarah:

1.       Bahaya bid'ah.

Lihat: Bahaya bid'ah

2.       Allah ta'ala membenci sifat sombong.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ} [النحل: 23]

Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang yang sombong. [An-Nahl: 23]

{إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا} [النساء: 36]

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. [An-Nisaa': 36]

Ø  Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu; Nabi bersabda:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ» قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً؟ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ»

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan." Seorang laki-laki bertanya, "Sesungguhnya laki-laki menyukai baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." [Shahih Muslim]

Lihat: Cela sifat sombong

3.       Sifat ujub bisa membinasakan.

Rasulullah bersabda:

«ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ»

"Tiga yang membinasakan: Sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya". [Hasan ligairih]

Lihat: Tiga yang membinasakan dan tiga yang menyelamatkan

4.       Larangan mengkhianati amanah.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ} [الأنفال : 27]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. [Al-Anfaal: 27]

Lihat: Hadits Abu Hurairah; Jika amanah sudah dilalaikan

5.       Larangan gibah.

Allah -subhanahu wa ta'aalaa- berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ} [الحجرات : 12]

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. [Al-Hujuraat: 12]

Ø  Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-; Rasulullah pernah bertanya:

«أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟» قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ! قَال:َ «ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ». قِيل:َ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُول؟ُ قَال:َ «إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَه،ُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ»

"Tahukah kamu, apakah ghibah itu?" Para sahabat menjawab; 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Kemudian Rasulullah bersabda: 'Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.' Seseorang bertanya; 'Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? 'Rasulullah berkata: 'Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.' [Shahih Muslim]

6.       Boleh mengibah orang yang menampakkan maksiatnya.

Aisyah -radhiyallahu 'anha- berkata; Nabi bersabda:

«مَا أَظُنُّ فُلَانًا وَفُلَانًا يَعْرِفَانِ مِنْ دِينِنَا شَيْئًا»

"Saya tidak mengira seandainya fulan dan fulan mengetahui agama kita sedikitpun."

Al-Laits -rahimahullah- mengatakan; "Dua orang itu adalah dari orang-orang Munafik."  [Shahih Bukhari]

Lihat: 6 gibah yang dibolehkan

[تعلم العلم]

          ويرون تعلم العلم وطلبه من مظانه، والجد في تعلم القرآن وعلومه وتفسيره، وسماع سنن الرسول ﷺ وجمعها والتفقه فيها، وطلب آثار الصحابة.

            Dan mereka berkeyakinan untuk mempelajari ilmu dan mencarinya dari sumber-sumbernya, bersungguh-sungguh dalam mempelajari Al-Qur'an dan ilmu-ilmunya serta tafsirnya, mendengarkan sunnah-sunnah Rasulullah , mengumpulkannya, dan mendalami fiqh (pemahaman) di dalamnya, serta mencari atsar (perkataan dan perbuatan) para sahabat.

Syarah:

1.       Keutamaan menuntut ilmu.

Dari Mu'awiyah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda:

«مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah suatu kebaikan maka ia akan diberi pemahaman tentang agama". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Keutamaan ilmu dan ulama                   

2.       Keutamaan mempelajari Al-Qur'an.

Dari Utsman bin 'Affan radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda:

«إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» [صحيح البخاري]

“Sesungguhnya yang paling afdhal dari kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya”. [Sahih Bukhari]

Lihat: Pentingnya mendidik anak sejak dini dengan Al-Qur'an

3.       Kewajiban mengikuti cara beragama Sahabat Rasulullah.

Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma berkata:

«مَنْ كَانَ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ ﷺ كَانُوا خَيْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ، أَبَّرَهَا قُلُوبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ ﷺ وَنَقْلِ دِينِهِ، فَتَشَبَّهُوا بِأَخْلَاقِهِمْ وَطَرَائِقِهِمْ فَهُمْ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ ﷺ ، كَانُوا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيمِ» [حلية الأولياء]

"Siapa yang mencari tuntunan maka hendaklah ia mengikuti tuntunan mereka yang sudah wafat, mereka itu adalah sahabat Muhammad , (1) mereka adalah generasi tebaik umat ini, (2) hati mereka lebih suci, (3) ilmu mereka lebih dalam, dan (4) tidak suka melampaui batas. (5) Mereka adalah generasi yang Allah pilih untuk menemani nabi-Nya dan menyampaikan agama-Nya, maka hendaklah kalian mencontoh akhlak dan metode mereka (dalam beragama), mereka adalah sahabat Muhammad , (6) mereka berada di atas petunjuk yang lurus." [Hilyatul Auliyaa']

Lihat: Kewajiban mengikuti cara beragama Sahabat Rasulullah

[الكف عن الصحابة]

          والكف عن الوقيعة فيهم، وتأول القبيح عليهم، ويكلونهم فيما جرى بينهم على التأويل إلى الله عز وجل.

            Dan menahan diri dari mencela mereka, serta menakwilkan (mencari interpretasi) atas keburukan yang terjadi di antara mereka. Mereka menyerahkan urusan apa yang terjadi di antara para sahabat (dari perselisihan) yang didasari ijtihad dan takwil kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Syarah:

Dari Abdullah bin Mas'ud dan Tsauban radiyallahu 'anhuma; Rasulullah bersabda:

«إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِي فَأَمْسِكُوا» [صحيح الجامع]

"Jika para sababatku disebutkan (tentang perselisihan yang terjadi di antara mereka) maka diamlah (jangan kalian menghinanya)" [Sahih Al-Jami']

Lihat: Keutamaan Sahabat Rasulullah

[لزوم الجماعة]

          مع لزوم الجماعة، والتعفف في المأكل والمشرب والملبس، والسعي في عمل الخير، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، والإعراض عن الجاهلين حتى يعلموهم ويبينوا لهم الحق، ثم الإنكار والعقوبة من بعد البيان وإقامة العذر بينهم ومنهم.

            Dengan tetap berpegang pada jamaah (kesatuan umat Islam di atas kebenaran), menjaga kehormatan diri dalam hal makanan, minuman, dan pakaian, bersemangat dalam beramal kebaikan, amar ma'ruf nahi munkar (menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran), berpaling dari orang-orang bodoh hingga (saatnya) mengajari mereka dan menerangkan kebenaran kepada mereka, kemudian (jika masih membangkang barulah) mengingkari dan memberi hukuman setelah penjelasan dan penegakan hujjah (argumentasi) di antara mereka dan dari mereka.

Syarah:

1.       Setan bersama orang yang menyalahi jama'ah.

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الجَنَّةِ فَلْيَلْزَمُ الجَمَاعَةَ» [سنن الترمذي: صحيح]

"Hendaklah kalian berjama'ah, dan janganlah kalian berpecah, karena sesungguhnya setan itu bersama orang yang sendiri, sedangkan terhadap orang yang berdua lebih jauh, barangsiapa yang menginginkan tempat terbaik di surga maka hendaklah ia mengikuti al-jama'ah." [Sunan Tirmidzi: Sahih]

Ø  Dari 'Arfajah bin Syuraih Al-Asyja'iy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«إِنَّ يَدَ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ يَرْتَكِضُ» [صحيح ابن حبان]

"Sesungguhnya tangan Allah bersama jama'ah, dan sesungguhnya setan bersama orang yang menyalahi al-jama'ah sambil berlari-lari". [Sahih Ibnu Hibban]

Lihat: Bahaya perselisihan dan perpecahan

2.       Adab makan dan minum; Tidak berlebihan.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ} [الأعراف: 31]

Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. [Al-A’raaf:31]

Lihat: Adab makan dalam Islam

3.       Tidak makan dan minum dengan bejana emas atau perak.

Dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«لاَ تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ، وَلاَ تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَنَا فِي الآخِرَةِ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Janganlah kalian minum dengan bejana emas dan perak, dan janganlah kalian makan dengan piring emas dan perak, karena sesungguhnya itu hanya untuk mereka (orang kafir) di dunia dan hanya untuk kita di akhirat”. [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Adab minum dalam Islam

4.       Tawadhu’ dalam berpakaian.

Dari Mu’adz bin Anas radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا» [سنن الترمذي: حسنه الألباني]

“Barangsiapa yang meninggalkan pakaian mewah (berlebihan) karena merendah demi Allah padahal dia mampu memakainya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan semua makhluk kemudian menyuruhnya memilih dari pakaian iman yang ingin ia pakai”. [Sunan Tirmidziy: Hasan]

Ø  Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah bersabda:

«كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا مَا لَمْ يُخَالِطْهُ إِسْرَافٌ، أَوْ مَخِيلَةٌ» [سنن ابن ماجه: حسنه الألباني]

“Makanl dan minumlah kalian, dan bersedekahlah, dan pakailah pakaian selama tidak diiringi sikap berlebihan dan kesombongan”. [Sunan Ibnu Majah: Hasan]

Lihat: Adab berpakaian dalam Islam

5.       Bersegera melakukan kebaikan

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-; Bahwasanya Rasulullah bersabda:

«بادِروا بالأعْمالِ فِتَناً كقطَعِ اللَّيلِ الْمُظْلمِ يُصبحُ الرجُلُ مُؤمناً ويُمْسِي كَافِراً، ويُمسِي مُؤْمناً ويُصبحُ كَافِراً، يَبيعُ دِينَهُ بعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيا»

"Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan kenikmatan dunia." [Diriwayatkan oleh Muslim]

Lihat: Syarah Riyadhushalihin Bab (10) Bersegera melakukan kebaikan, dan anjuran untuk berbuat untuk kebaikan, melakukannya dengan semangat tanpa ragu

6.       Perintah amar ma’ruf nahi mungkar:

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ} [لقمان: 17]

(Luqman berkata:) Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). [Luqman:17]

Ø  Abu Umaiyah Asy-Sya'baniy -rahimahullah- berkata; Aku menemui Abu Tsa'labah Al-Khusyaniy -radhiyallahu ‘anhu- lalu aku berkata padanya; "Apa yang kamu perbuat dengan ayat ini?"

Ia bertanya; "Ayat yang mana?"

Aku menjelaskan; Firman Allah ta'ala:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ} [المائدة: 105]

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. [Al-Ma`idah: 105]

Abu Tsa'labah berkata; "Ingatlah, demi Allah, kamu bertanya dengan orang yang tahu, aku pernah menanyakannya kepada Rasulullah , lalu beliau menjawab:

«بَلْ ائْتَمِرُوا بِالمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنِ المُنْكَرِ، حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا، وَهَوًى مُتَّبَعًا، وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً، وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ، فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعِ العَوَامَّ، فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ القَبْضِ عَلَى الجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ»

"Akan tetapi, perintahkanlah kebaikan dan cegahlah kemungkaran hingga kamu melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, kehiduoan dunia lebih diprioritaskan dan kekaguman setiap orang dengan pendapatnya, engkau harus (berpegangan) terhadap mata hatimu dan tinggalkan orang-orang awam, karena dibalik kalian akan ada suatu masa dimana kesabaran saat itu laksana memegang bara api, orang yang beramal saat itu sama seperti pahala limapuluh orang yang melakukan seperti amalan kalian."

Ø  Dalam riwayat lain: Dikatakan; "Wahai Rasulullah, pahala limapuluh orang dari kami atau dari mereka?"

Beliau menjawab:

«بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنْكُمْ»

"Bahkan pahala limapuluh orang dari kalian." [Sunan Tirmidziy, ia berkata; Hadits ini hasan gharib]

Lihat: Keutamaan Amar ma’ruf Nahi mungkar

7.       Berpaling dari orang bodoh.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ} [الأعراف: 199]

Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. [Al-A'raaf:199]

Lihat: Cela kebodohan dalam Al-Qur'an

[وجوب لزوم مذهب أهل الحديث الفرقة الناجية]

          هذا أصل الدين والمذهب، اعتقاد أئمة أهل الحديث، الذين لم تشنهم بدعة، ولم تلبسهم فتنة، ولم يخفوا إلى مكروه في دين، ولا تفرقوا عنه.

          واعلموا أن الله تعالى أوجب في كتابه محبته ومغفرته لمتبعي رسوله ﷺ في كتابه، وجعلهم الفرقة الناجية والجماعة المتبعة، فقال عز وجل لمن ادعى أنه يحب الله عز وجل: ﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ﴾ [آل عمران: ٣١]

          نفعنا الله وإياكم بالعلم، وعصمنا بالتقوى من الزيغ والضلالة بمنه ورحمته.

            Inilah pokok agama dan mazhab, keyakinan para imam Ahlul Hadits, yang tidak dinodai oleh bid'ah, tidak diliputi fitnah, tidak menyembunyikan kebencian terhadap agama (tidak munafik), dan tidak bercerai-berai darinya.

            Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala mewajibkan dalam kitab-Nya kecintaan dan ampunan-Nya bagi orang-orang yang mengikuti rasul-Nya dalam kitab-Nya. Dia menjadikan mereka sebagai kelompok yang selamat (al-firqah an-najiyah) dan jamaah yang diikuti. Allah 'Azza wa Jalla berfirman kepada orang yang mengaku mencintai Allah: "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.'" [Ali 'Imran: 31]

            Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita dan kalian semua dengan ilmu, dan memelihara kita dengan ketakwaan dari kesesatan dan penyelewengan, dengan karunia dan rahmat-Nya.

Syarah:

Al-Hasan Al-Bashriy dan selainnya dari ulama salaf rahimahumullah berkata:

«زَعَمَ قَوْمٌ أَنَّهُمْ يُحِبُّونَ اللَّهَ فَابْتَلَاهُمُ اللَّهُ بِهَذِهِ الْآيَةِ، فَقَالَ: {قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ}» [تفسير ابن كثير]

Beberapa orang mengaku bahwa mereka mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini: {Katakanlah: "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian} [Tafsir Ibnu Katsir]

Ø  Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

«هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ حَاكِمَةٌ عَلَى كُلِّ مَنِ ادَّعَى مَحَبَّةَ اللَّهِ، وَلَيْسَ هُوَ عَلَى الطَّرِيقَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ فَإِنَّهُ كَاذِبٌ فِي دَعْوَاهُ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ، حَتَّى يَتَّبِعَ الشَّرْعَ الْمُحَمَّدِيَّ وَالدِّينَ النَّبَوِيَّ فِي جَمِيعِ أَقْوَالِهِ وَأَحْوَالِهِ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: "مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عَلَيْهِ أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ"» [تفسير ابن كثير]

Ayat yang mulia ini adalah penentu terhadap setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah sedangkan ia tidak berada di atas jalan Nabi Muhammad, maka seseungguhnya pengakuannyaitu dusta dengan sendirinya, sampai ia mengikuti syari’at Muhammad dan agamanya pada setiap perkataan dan keadaannya, sebagaimana diriwayatkan dalam Ash-Shahih dari Rasulullah beliau bersabda: “Siapa yang melakukan suatu amalan ibadah yang bukan termasuk perkara agama kami maka itu tertolak”. [Tafsir Ibnu Katsir]

Lihat: Tafsir ayat 31 surah Ali ‘Imran; “Tanda cinta kepada Allah dan keutamaannya”

Wallahu a'lam!

Lihat juga: "Syarah Akidah Ahlussunnah" karya Al-Isma'iliy (bagian 3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...