Kamis, 08 Oktober 2026

Awal perjalanan hijrah Nabi ﷺ

بسم الله الرحمن الرحيم

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha; Nabi ﷺ bersabda kepada kaum Muslimin:

«إِنِّي أُرِيتُ دَارَ هِجْرَتِكُمْ، ذَاتَ نَخْلٍ بَيْنَ لَابَتَيْنِ وَهُمَا الْحَرَّتَانِ»، فَهَاجَرَ مَنْ هَاجَرَ قِبَلَ الْمَدِينَةِ، وَرَجَعَ عَامَّةُ مَنْ كَانَ هَاجَرَ بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ إِلَى الْمَدِينَةِ، وَتَجَهَّزَ أَبُو بَكْرٍ قِبَلَ الْمَدِينَةِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «عَلَى رِسْلِكَ، فَإِنِّي أَرْجُو أَنْ يُؤْذَنَ لِي» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَهَلْ تَرْجُو ذَلِكَ بِأَبِي أَنْتَ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، فَحَبَسَ أَبُو بَكْرٍ نَفْسَهُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ لِيَصْحَبَهُ، وَعَلَفَ رَاحِلَتَيْنِ كَانَتَا عِنْدَهُ وَرَقَ السَّمُرِ، وَهُوَ الْخَبَطُ، أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ.

فَبَيْنَمَا نَحْنُ يَوْمًا جُلُوسٌ فِي بَيْتِ أَبِي بَكْرٍ فِي نَحْرِ الظَّهِيرَةِ، قَالَ قَائِلٌ لِأَبِي بَكْرٍ: هَذَا رَسُولُ اللهِ ﷺ مُتَقَنِّعًا، فِي سَاعَةٍ لَمْ يَكُنْ يَأْتِينَا فِيهَا، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: فِدَاءٌ لَهُ أَبِي وَأُمِّي، وَاللهِ مَا جَاءَ بِهِ فِي هَذِهِ السَّاعَةِ إِلَّا أَمْرٌ. قَالَتْ: فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَاسْتَأْذَنَ فَأُذِنَ لَهُ فَدَخَلَ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِأَبِي بَكْرٍ: «أَخْرِجْ مَنْ عِنْدَكَ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّمَا هُمْ أَهْلُكَ، بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «فَإِنِّي قَدْ أُذِنَ لِي فِي الْخُرُوجِ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: الصَّحَابَةُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «نَعَمْ» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فَخُذْ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ إِحْدَى رَاحِلَتَيَّ هَاتَيْنِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «بِالثَّمَنِ»

قَالَتْ عَائِشَةُ: فَجَهَّزْنَاهُمَا أَحَثَّ الْجَهَازِ، وَصَنَعْنَا لَهُمَا سُفْرَةً فِي جِرَابٍ، فَقَطَعَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ أَبِي بَكْرٍ قِطْعَةً مِنْ نِطَاقِهَا، فَرَبَطَتْ بِهِ عَلَى فَمِ الْجِرَابِ، فَبِذَلِكَ سُمِّيَتْ ذَاتَ النِّطَاقِ، قَالَتْ: ثُمَّ لَحِقَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَبُو بَكْرٍ بِغَارٍ فِي جَبَلِ ثَوْرٍ، فَكَمَنَا فِيهِ ثَلَاثَ لَيَالٍ، يَبِيتُ عِنْدَهُمَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، وَهُوَ غُلَامٌ شَابٌّ، ثَقِفٌ لَقِنٌ، فَيُدْلِجُ مِنْ عِنْدِهِمَا بِسَحَرٍ، فَيُصْبِحُ مَعَ قُرَيْشٍ بِمَكَّةَ كَبَائِتٍ، فَلَا يَسْمَعُ أَمْرًا يُكْتَادَانِ بِهِ إِلَّا وَعَاهُ، حَتَّى يَأْتِيَهُمَا بِخَبَرِ ذَلِكَ حِينَ يَخْتَلِطُ الظَّلَامُ، وَيَرْعَى عَلَيْهِمَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ مِنْحَةً مِنْ غَنَمٍ، فَيُرِيحُهَا عَلَيْهِمَا حِينَ تَذْهَبُ سَاعَةٌ مِنَ الْعِشَاءِ، فَيَبِيتَانِ فِي رِسْلٍ، وَهُوَ لَبَنُ مِنْحَتِهِمَا وَرَضِيفِهِمَا، حَتَّى يَنْعِقَ بِهَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ بِغَلَسٍ، يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثِ، وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ، وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ بْنِ عَدِيٍّ، هَادِيًا خِرِّيتًا، وَالْخِرِّيتُ الْمَاهِرُ بِالْهِدَايَةِ، قَدْ غَمَسَ حِلْفًا فِي آلِ الْعَاصِ بْنِ وَائِلٍ السَّهْمِيِّ، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ، فَأَمِنَاهُ فَدَفَعَا إِلَيْهِ رَاحِلَتَيْهِمَا، وَوَاعَدَاهُ غَارَ ثَوْرٍ بَعْدَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، بِرَاحِلَتَيْهِمَا صُبْحَ ثَلَاثٍ، وَانْطَلَقَ مَعَهُمَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ، وَالدَّلِيلُ، فَأَخَذَ بِهِمْ طَرِيقَ السَّوَاحِل.

“Sesungguhnya aku telah diperlihatkan tempat hijrah kalian, yaitu sebuah negeri yang memiliki banyak pohon kurma, yang terletak di antara dua daerah berbatu hitam, dan keduanya disebut al-Harratān.” Maka orang-orang yang berhijrah pun mulai berhijrah menuju Madinah. Sebagian besar kaum Muslimin yang sebelumnya berhijrah ke negeri Habasyah pun kembali ke Madinah. Abu Bakar kemudian mempersiapkan diri untuk berangkat menuju Madinah. Maka Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: “Tunggulah dahulu, karena aku berharap akan mendapatkan izin untuk berhijrah.” Abu Bakar berkata: “Apakah engkau benar-benar berharap mendapatkan izin untuk itu? Akan kukorbankan ayahku demi engkau!” Beliau ﷺ menjawab: “Ya.” Maka Abu Bakar menahan dirinya untuk tetap tinggal bersama Rasulullah ﷺ agar dapat menyertai beliau dalam perjalanan hijrah. Ia juga memberi makan dua ekor untanya yang telah dipersiapkannya dengan daun pohon samur selama empat bulan.

‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: “Pada suatu hari, ketika kami sedang duduk di rumah Abu Bakar pada waktu tengah hari yang sangat panas, seseorang berkata kepada Abu Bakar: ‘Ini Rasulullah ﷺ datang dengan menutupi wajahnya, pada waktu yang biasanya beliau tidak pernah datang kepada kami.’ Abu Bakar berkata: ‘Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan untuk beliau. Demi Allah, tidaklah beliau datang pada waktu seperti ini kecuali karena ada suatu urusan penting.’ ‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: “Kemudian Rasulullah ﷺ datang dan meminta izin untuk masuk. Beliau pun diberi izin, lalu masuk. Nabi ﷺ berkata kepada Abu Bakar: “Suruhlah orang-orang yang ada di sini keluar.” Abu Bakar berkata: “Mereka hanyalah keluargamu sendiri, demi ayahku sebagai tebusan untukmu, wahai Rasulullah.” Beliau ﷺ berkata: “Sesungguhnya aku telah mendapatkan izin untuk keluar (berhijrah).” Abu Bakar bertanya: “Apakah aku boleh menemanimu, wahai Rasulullah? Demi ayahku sebagai tebusan untukmu.” Rasulullah ﷺ menjawab: “Ya.” Abu Bakar berkata: “Kalau begitu, ambillah salah satu dari dua ekor untaku ini, demi ayahku sebagai tebusan untukmu, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ berkata: “Dengan membayarnya.”

‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: “Kami pun segera mempersiapkan kedua ekor unta itu dengan sebaik-baiknya. Kami juga menyiapkan bekal makanan untuk keduanya dalam sebuah kantong kulit. Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu 'anha kemudian memotong sebagian dari ikat pinggangnya, lalu mengikatkannya pada mulut kantong tersebut. Karena itulah ia diberi julukan ذات النطاق (Dzatun-Nithaq), yaitu ‘wanita pemilik dua ikat pinggang’.” ‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: “Kemudian Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar sampai di sebuah gua yang berada di Gunung Tsur. Mereka bersembunyi di dalamnya selama tiga malam. Abdullah bin Abu Bakar, yang ketika itu masih seorang pemuda yang cerdas dan cepat memahami sesuatu, bermalam bersama mereka. Pada waktu sahur, ia keluar dari tempat mereka, kemudian pagi harinya ia berada bersama orang-orang Quraisy di Makkah seolah-olah ia bermalam di tengah-tengah mereka. Ia tidak mendengar suatu rencana atau pembicaraan yang ditujukan untuk mencari atau mencelakakan mereka, kecuali ia memahaminya dan mengingatnya. Kemudian ketika kegelapan mulai bercampur dengan cahaya senja, ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar untuk menyampaikan berita tersebut. Sementara itu, ‘Amir bin Fuhairah, bekas budak Abu Bakar, menggembalakan kambing-kambing milik Abu Bakar. Setelah berlalu beberapa waktu dari malam, ia membawa kambing-kambing tersebut kepada Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar. Dengan demikian, keduanya dapat bermalam dalam keadaan memperoleh susu segar dari kambing-kambing tersebut dan menikmati susu yang telah dipanaskan. Kemudian menjelang waktu fajar, ketika keadaan masih gelap, ‘Amir bin Fuhairah menggiring kembali kambing-kambing tersebut. Ia melakukan hal tersebut setiap malam selama tiga malam itu. Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar juga menyewa seorang laki-laki dari Bani ad-Dail, dari Bani ‘Abd bin ‘Adi. Ia adalah seorang penunjuk jalan yang sangat mahir. “Al-Khirrit adalah orang yang sangat mahir dalam menunjukkan jalan.” Orang tersebut sebelumnya telah terikat perjanjian dengan keluarga al-‘Ash bin Wa’il as-Sahmi. Ia masih menganut agama kaum kafir Quraisy. Meskipun demikian, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar mempercayainya. Keduanya menyerahkan dua ekor tunggangan mereka kepadanya dan membuat janji dengannya untuk bertemu di Gua Tsur setelah tiga malam. Mereka berjanji bahwa ia akan datang kepada keduanya pada pagi hari setelah berlalu tiga malam, dengan membawa kedua tunggangan tersebut. Kemudian ‘Amir bin Fuhairah dan sang penunjuk jalan itu berangkat bersama mereka. Lalu sang penunjuk jalan membawa mereka melalui jalan menyusuri daerah pesisir.” [Shahih Bukhari]

Ø  Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu berkata: Ayahku berkata: "Wahai Abu Bakar, ceritakanlah kepadaku bagaimana kalian berdua melakukannya ketika engkau berjalan di malam hari bersama Rasulullah ﷺ."

Abu Bakr radhiyallahu 'anhu berkata:

نَعَمْ، أَسْرَيْنَا لَيْلَتَنَا وَمِنَ الغَدِ، حَتَّى قَامَ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ وَخَلاَ الطَّرِيقُ لاَ يَمُرُّ فِيهِ أَحَدٌ، فَرُفِعَتْ لَنَا صَخْرَةٌ طَوِيلَةٌ لَهَا ظِلٌّ، لَمْ تَأْتِ عَلَيْهِ الشَّمْسُ، فَنَزَلْنَا عِنْدَهُ، وَسَوَّيْتُ لِلنَّبِيِّ ﷺ مَكَانًا بِيَدِي يَنَامُ عَلَيْهِ، وَبَسَطْتُ فِيهِ فَرْوَةً، وَقُلْتُ: نَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَنَا أَنْفُضُ لَكَ مَا حَوْلَكَ، فَنَامَ وَخَرَجْتُ أَنْفُضُ مَا حَوْلَهُ، فَإِذَا أَنَا بِرَاعٍ مُقْبِلٍ بِغَنَمِهِ إِلَى الصَّخْرَةِ، يُرِيدُ مِنْهَا مِثْلَ الَّذِي أَرَدْنَا، فَقُلْتُ لَهُ: لِمَنْ أَنْتَ يَا غُلاَمُ، فَقَالَ: لِرَجُلٍ مِنْ أَهْلِ المَدِينَةِ، أَوْ مَكَّةَ، قُلْتُ: أَفِي غَنَمِكَ لَبَنٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، قُلْتُ: أَفَتَحْلُبُ، قَالَ: نَعَمْ، فَأَخَذَ شَاةً، فَقُلْتُ: انْفُضِ الضَّرْعَ مِنَ التُّرَابِ وَالشَّعَرِ وَالقَذَى، فَحَلَبَ فِي قَعْبٍ كُثْبَةً مِنْ لَبَنٍ، وَمَعِي إِدَاوَةٌ حَمَلْتُهَا لِلنَّبِيِّ ﷺ يَرْتَوِي مِنْهَا، يَشْرَبُ وَيَتَوَضَّأُ، فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَهُ، فَوَافَقْتُهُ حِينَ اسْتَيْقَظَ، فَصَبَبْتُ مِنَ المَاءِ عَلَى اللَّبَنِ حَتَّى بَرَدَ أَسْفَلُهُ، فَقُلْتُ: اشْرَبْ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: فَشَرِبَ حَتَّى رَضِيتُ، ثُمَّ قَالَ: «أَلَمْ يَأْنِ لِلرَّحِيلِ؟» قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: فَارْتَحَلْنَا بَعْدَمَا مَالَتِ الشَّمْسُ [صحيح البخاري]

"Ya, kami berjalan pada malam hari kami dan keesokan harinya, hingga ketika matahari tepat di tengah langit dan jalanan sepi tidak ada seorang pun yang melintasinya, tampaklah bagi kami sebuah batu besar yang panjang yang memiliki bayangan, yang belum pernah terkena sinar matahari. Maka kami pun singgah di dekatnya. Aku ratakan untuk Nabi ﷺ sebuah tempat dengan tanganku untuk beliau tidur di atasnya, dan aku hampar sebuah kulit bulu di situ. Aku berkata: 'Tidurlah, wahai Rasulullah, dan aku akan menjaga untukmu apa yang ada di sekitarmu.' Maka beliau pun tidur, dan aku keluar menjaga apa yang ada di sekelilingnya. Tiba-tiba ada seorang penggembala yang datang dengan kambingnya menuju batu tersebut, ia ingin mendapatkan naungan seperti yang kami inginkan. Aku bertanya kepadanya: 'Milik siapa engkau, wahai anak muda?' Ia menjawab: 'Milik seorang dari penduduk Madinah atau Makkah.' Aku bertanya: 'Apakah kambingmu ada susunya?' Ia menjawab: 'Ya.' Aku bertanya: 'Apakah engkau bisa memerahnya?' Ia menjawab: 'Ya.' Maka ia mengambil seekor kambing, dan aku berkata: 'Bersihkanlah putingnya dari debu, bulu, dan kotoran.' Lalu ia memerah susu ke dalam sebuah wadah, menghasilkan sedikit susu. Aku memiliki sebuah wadah air yang kubawa untuk Nabi ﷺ agar beliau minum dan berwudhu darinya. Aku datang kepada Nabi ﷺ, namun aku enggan membangunkan beliau. Ternyata aku mendapati beliau sudah bangun. Maka aku tuangkan air ke atas susu hingga bagian bawahnya menjadi dingin. Aku berkata: 'Minumlah, wahai Rasulullah.' Beliau pun minum hingga aku merasa puas. Kemudian beliau bersabda: 'Bukankah sudah waktunya untuk berangkat?' Aku menjawab: 'Benar.' Maka kami pun berangkat setelah matahari tergelincir. [Shahih Bukhari]

Pelajaran singkat dari kisah ini:

1.      Biografi Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Lihat: Aisyah binti Abi Bakr dan keistimewaannya

2.      Madinah kota hijrah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«أُمِرْتُ بِقَرْيَةٍ تَأْكُلُ القُرَى، يَقُولُونَ يَثْرِبُ، وَهِيَ المَدِينَةُ، تَنْفِي النَّاسَ كَمَا يَنْفِي الكِيرُ خَبَثَ الحَدِيدِ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Aku diperintahkan hijrah ke suatu kampung yang akan memakan (mengalahkan) perkampungan lainnya, ia disebut Yatsrib, dan ia adalah Madinah. Akan membersihkan manusia sebagaimana tungku api membersihkan kotoran besi”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Keistimewaan kota Madinah

3.      Hijrah di masa Nabi ﷺ hukumnya wajib.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (97) إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا (98) فَأُولَٰئِكَ عَسَى اللَّهُ أَن يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا} [النساء : 97-99]

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. [An-Nisa': 97-99]

Ø  Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَنَا بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِينَ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ؟ قَالَ: «لَا تَرَاءَى نَارَاهُمَا» [سنن أبي داود: صحيح]

Aku berlepas diri dari setiap muslim yang bermukim di antara orang-orang musyrik". Mereka bertanya; kenapa wahai Rasulullah? Beliau berkata: "Jangan sampai api mereka saling melihat". [Sunan Abi Daud: Shahih]

4.      Nabi ﷺ tidak melakukan sesuatu kecuali atas izin Allah.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُّبِينٌ} [الأحقاف : 9]

Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan. [Al-Ahqaf: 9]

5.      Adab bepergian jauh.

Diantarnya:

a)      Tidak bepergian sendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لو يَعلم الناسُ مَا في الوحدةِ مَا أعلمُ مَا سارَ راكبٌ بليلٍ وحدَه» [صحيح البخاري]

"Seandainya orang tau bahaya yang akan dihadapi oleh orang yang menyendiri seperti apa yang aku ketahui, maka tidak ada lagi orang yang mau bepergian dengan kendaraan di malam hari sendirian." [Sahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Abdullah bin 'Amr; Rasulullah ﷺ bersabda:

«الراكبُ شيطانٌ، والراكِبَانِ شيطانانِ، والثلاثة ركبٌ» [سنن أبي داود: حسن]

"Yang berkendaraan sendiri adalah setan, dan yang berkendaraan berdua juga setan, sedangkan yang berkendaraan bertiga adalah pengendara (bukan setan)". [Sunan Abu Daud: Haditsnya hasan]

Lihat: Larangan bepergian SENDIRI

b)      Memilih teman yang baik.

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ» [سنن أبي داود: حسنه الألباني]

“Janganlah engaku berteman kecuali dengan sorang yang beriman, dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa”. [Sunan Abi Daud: Hasan]

c)       Mempersiapkan bekal.

Ibnu 'Abbas -radhiyallahu 'anhuma- berkata:

«كَانَ أَهْلُ اليَمَنِ يَحُجُّونَ وَلاَ يَتَزَوَّدُونَ، وَيَقُولُونَ: نَحْنُ المُتَوَكِّلُونَ، فَإِذَا قَدِمُوا مَكَّةَ سَأَلُوا النَّاسَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى} [البقرة: 197]» [صحيح البخاري]

"Dahulu para penduduk Yaman berhaji namun mereka tidak membawa bekal dan mereka berkata: Kami adalah orang-orang yang bertawakal. Ketika mereka tiba di Makkah, mereka meminta-minta kepada manusia. Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya: {"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa"} [Al-Baqarah: 197] [Shahih Bukhari]

Lihat: Adab bepergian jauh (musafir)

6.      Keistimewaan Abi Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا مِنْ أُمَّتِي لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ، وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الإِسْلاَمِ وَمَوَدَّتُهُ، لاَ يَبْقَيَنَّ فِي المَسْجِدِ بَابٌ إِلَّا سُدَّ، إِلَّا بَابُ أَبِي بَكْرٍ»

"Sesungguhnya manusia yang paling berjasa terhadapku dalam persahabatannya dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil kekasih dari ummatku, tentulah Abu Bakar orangnya. Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan Islam dan berkasih sayang dalam Islam. Sungguh, tidak ada satupun pintu di dalam Masjid yang tersisa melainkan akan tertutup kecuali pintunya Abu Bakar." [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Keistimewaan Abu Bakr Ash-Shiddiiq

7.      Tawakkal harus dibarengi usaha.

Dari Umar radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا» [سنن ابن ماجه: صححه الألباني]

"Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan memberimu rezki seperti Allah memberi rezki kepada burung؛ keluar rumah dengan perut kosong, dan kembali dengan perut kenyang". [Sunan Ibnu Majah: Shahih]

Lihat: Sifat Tawakkal; Menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah

8.      Adab bertamu.

Diantarnya:

a)      Bertamu di waktu tepat.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ} [النور: 58]

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [An-Nuur: 58]

b)      Meminta izin sebelum masuk rumah.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ} [الأحزاب: 53]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. [Al-Ahzaab:53]

Lihat: Adab bertamu dalam Islam

9.      Merahasiakan perkara penting.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«استَعِينُوا على إنجَاح الحَوَائِج بالكِتْمَان، فإنّ كلَّ ذِي نعمةٍ محسودٌ»

"Bantulah kalian dalam menyukseskan berbagai kebutuhan (hajat) dengan cara merahasiakannya, karena sesungguhnya setiap orang yang memiliki nikmat pasti akan dihasud (dengki)." [Silsilah Ash-Shahihah 3/436 no.1453]

10.  Kedermawanan Abi Bakr radhiallahu 'anhu.

Umar bin Al-Khathab radhiallahu 'anhu berkata;

أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ، فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالًا عِنْدِي، فَقُلْتُ: الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا، فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟» فَقُلْتُ: مِثْلَهُ قَالَ: وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟» قَالَ: أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللهَ وَرَسُولَهُ قُلْتُ: لَا أُسَابِقُكَ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا.

Rasulullah ﷺ memerintahkan kami agar bersedekah, dan hal tersebut bertepatan dengan keberadaan harta yang saya miliki. Lalu saya mengatakan; Apabila aku dapat mendahului Abu Bakr (dalam kebaikan) pada suatu hari maka hari ini aku akan mendahuluinya. Kemudian saya datang dengan membawa setengah hartaku, lalu Rasulullah ﷺ bersabda: "Apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?" Saya katakan; Harta yang sama seperti itu. Kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh harta yang ia miliki. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: "Wahai Abu Bakr, apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?" Ia berkata; saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya. Maka saya katakan; Saya tidak akan dapat mendahuluimu kepada sesuatupun selamanya. [Sunan Abi Daud: Hasan]

Lihat: Iman dan kikir tidak akan bersatu dalam Hati

11.  Kenapa Rasulullah ﷺ menolak kendaraan pemberian Abu Bakr?

a.       Nabi ﷺ ingin hijrah dengan usaha sendiri.

b.       Tidak suka membebani orang lain.

c.       Ingin mendapatkan pahala yang lebih besar.

Lihat: Akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

12.  Keistimewaan Asma' binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma.

Ketika para penduduk Syam menjuluki Ibnu Az-Zubair dengan panggilan, "Wahai Ibnu Dzata An-Nithaaqain." Maka Asma' pun berkata padanya:

«يَا بُنَيَّ إِنَّهُمْ يُعَيِّرُونَكَ بِالنِّطَاقَيْنِ، هَلْ تَدْرِي مَا كَانَ النِّطَاقَانِ؟ إِنَّمَا كَانَ نِطَاقِي شَقَقْتُهُ نِصْفَيْنِ، فَأَوْكَيْتُ قِرْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بِأَحَدِهِمَا، وَجَعَلْتُ فِي سُفْرَتِهِ آخَرَ»

"Wahai anakku, sesungguhnya mereka menjulukimu dengan An-Nithaaqain. Apakah kamu apakah itu An-Nithaaqain. Demikian itu hanyalah karena, ikat pinggangku yang telah aku sobek menjadi dua. Lalu aku mengikat geriba (bejana air minum) Rasulullah ﷺ dengan salah satu darinya, sedangkan yang satu lagi aku letakkan untuk mengikat makanannya."

Di kemudian hari, jika ada orang yang memberinya julukan buruk dengan panggilan 'An-Nithaqaini', ia jawab: ' Hei, demi Allah, itu adalah panggilan yang jelas-jelas tercela." [Shahih Bukhari]

Lihat biografi Asma' di sini https://umar-arrahimy.blogspot.com/

13.  Keistimewaan Abdullah bin Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma.

Beliau salah satu sahabat yang terdahulu Islam, ikut perang bersama Nabi ﷺ pada pembebasan kota Mekah, perang Hunain dan pengepungan kota Thaif, kemudian beliau wafat tahun 11 hijriyah di maka kekhalifaan ayahnya.

14.  Keistimewaan 'Amir bin Fuhairah, Abu 'Amr At-Taimiy maula Abi Bakr radhiyallahu ‘anhu.

Beliau termasuk sahabat yang terdahulu masuk Islam sebelum Nabi masuk Darul Arqam. Dahulu ia seorang budak yang disiksa karena keislamannya, kemudian dibeli oleh Abu Bakr kemudian dimerdekakan. Beliau ikut perang Badr dan Uhud.

Wafat sebagai syahid ketika ikut bersama pasukan perang Bi'r Ma'unah tahun 4 hijriyah saat berumur 40 tahun.

15.  Membantu agama Allah sesuai kemampuan.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ} [الأنفال : 60]

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). [Al-Anfaal: 60]

16.  Selalu merasa yakin dengan pertolongan Allah ta’aala.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ} [التوبة : 40]

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [At-Taubah;40]

Ø  Dari Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

قُلْتُ لِلنَّبِيِّ ﷺ وَأَنَا فِي الْغَارِ: لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ تَحْتَ قَدَمَيْهِ لَأَبْصَرَنَا، فَقَالَ: «مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللهُ ثَالِثُهُمَا»

"Aku berkata kepada Nabi ﷺ ketika kami berada di dalam gua: 'Seandainya salah seorang dari mereka (kaum musyrikin) melihat ke bawah kakinya, niscaya ia akan melihat kita.' Maka beliau bersabda: 'Apa dugaanmu, wahai Abu Bakar, tentang dua orang yang Allah menjadi yang ketiganya?'" [Shahih Bukhari]

17.  Boleh mempekerajakan orang kafir jika amanah.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ} [الممتحنة : 8]

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. [Al-Mumtahanah: 8]

18.  Perkara penting harus dilakukan dengan perencanaan yang matang.

19.  Kenapa Nabi ﷺ tidak hijrah mengendarai Buraq seperti dalam perjalana Isra’?

Allah Subhanahu wa Ta'ala ingin mengajarkan kepada kaum Muslimin bahwa menolong agama dan membangun negara tidak dilakukan dengan semata-mata bersandar pada mukjizat, tetapi juga melalui usaha manusia, perencanaan yang matang, dan pengelolaan yang baik. Hal itu tampak dalam berbagai langkah yang diambil, seperti memilih teman perjalanan yang tepat, bermalam di Gua Tsur, menyewa penunjuk jalan yang non-Muslim, serta mengubah arah perjalanan untuk menghindari musuh.

Lihat: https://www.alukah.net/

20.  Hijrah Nabi ﷺ adalah diantara peristiwa terpenting dalam sejarah Islam, sehingga dijadikan awal tahun Islam.

Oleh sebab itu Waraqah berkata kepada Nabi ﷺ di awal turun wahyu:

يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا، لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ»، قَالَ: نَعَمْ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا.

Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat engkau nanti diusir oleh kaummu." Rasulullah ﷺ bertanya, "Apakah aku akan diusir oleh mereka?" Waraqah menjawab, "Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang engkau bawa ini kecuali akan dimusuhi. Seandainya jika aku masih ada saat kejadian itu nanti, pasti aku akan menolongmu dengan sekemampuanku." Tak lama kemudian, Waraqah meninggal dunia, sementara wahyu terputus selang beberapa waktu. [Shahih Bukhari]

Lihat:  Hadits Aisyah; Awal turunya wahyu di gua Hira

Wallahu a'lam!

Lihat juga: Kisah perjanjian "Bai'atul 'Aqabah Al-Kubra" - Kisah perjalanan Isra’ dan Mi’raj - Kisah Islamnya Dhimad Al-Azdiy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...