Minggu, 04 Oktober 2026

Syarah Tsalatsah Ushul (bagian 1)

Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab (1206H) rahimahullah berkata:

بسم الله الرحمن الرحيم

اعلم رحمك الله أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل: الأولي: العلم. وهو معرفة الله، ومعرفة نبيه، ومعرفة دين الإسلام بالأدلة. الثانية: العمل به. الثالثة: الدعوة إليه. الرابعة: الصبر على الأذى فيه. والدليل قوله تعالى: بسم الله الرّحمن الرّحيم ﴿وَالْعَصْرِ إِنَّ الأِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾ [العصر: ١-٣].

قال الشافعي رحمه الله تعالى: لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم. وقال البخاري رحمه الله تعالى: باب العلم قبل القول والعمل. والدليل قوله تعالى: ﴿فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ﴾ [محمد: ١٩]. فبدأ بالعلم قبل القول والعمل.

Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa wajib atas kita mempelajari empat permasalahan: Pertama: Ilmu. Yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agama Islam beserta dalil-dalilnya. Kedua: Mengamalkannya. Ketiga: Mendakwahkan (menyeru) kepadanya. Keempat: Bersabar atas gangguan (ujian) dalam (menjalankan)nya. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. "Demi waktu Ashar. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." [Al-'Ashr: 1-3].

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: "Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah (dalil) kepada makhluk-Nya kecuali hanya surah ini, niscaya sudah cukup bagi mereka." Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata: "Bab: Ilmu sebelum berkata dan beramal." Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu." [Muhammad: 19]. Maka beliau (Al-Bukhari) memulai dengan ilmu sebelum berkata dan beramal.

Syarah:

Lihat penjelasan masalah ini di 4 kunci keberuntungan dunia akhirat dalam surah Al-'Ashr

***

اعلم رحمك الله أنه يجب على كل مسلم ومسلمة تعلم ثلاث هذه المسائل، والعمل بهن:

الأولى: أن الله خلقنا ورزقنا ولم يتركنا هملا، بل أرسل إلينا رسولا؛ فمن أطاعه دخل الجنة ومن عصاه دخل النار. والدليل قوله تعالى: ﴿إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولًا فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا﴾ [المزمل: ١٥-١٦].

الثانية: أن الله لا يرضى أن يشرك معه أحد في عبادته، لا ملك مقرب ولا نبي مرسل. والدليل قوله تعالى: ﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾ [الجن: ١٨]

الثالثة: أن من أطاع الرسول ووحد الله لا يجوز له موالاة من حاد الله ورسوله، ولو كان أقرب قريب. والدليل قوله تعالى: ﴿لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْأِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ [المجادلة: ٢٢].

Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah mempelajari tiga permasalahan ini, dan mengamalkannya:

Pertama: Bahwa Allah menciptakan kita, memberi kita rezeki, dan tidak membiarkan kita begitu saja (tanpa tujuan), bahkan Dia mengutus kepada kita seorang Rasul; maka siapa yang menaatinya masuk surga, dan siapa yang mendurhakainya masuk neraka. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul yang menjadi saksi atas kalian, sebagaimana Kami telah mengutus kepada Fir'aun seorang Rasul. Maka Fir'aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat." [Al-Muzzammil: 15-16].

Kedua: Bahwa Allah tidak ridha jika ada seseorang yang disekutukan dengan-Nya dalam ibadah, baik itu malaikat yang dekat (kepada Allah) maupun nabi yang diutus. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." [Al-Jinn: 18].

Ketiga: Bahwa siapa yang menaati Rasul dan mentauhidkan Allah, tidak boleh baginya menjalin loyalitas (kasih sayang) kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun dia adalah kerabat yang paling dekat. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menetapkan keimanan di dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung." [Al-Mujadilah: 22].

Syarah:

Lihat penjelasan masalah ini di 3 perkara yang harus diketahui dan diamalkan

***

اعلم أرشدك الله لطاعته، أن الحنيفية ملة إبراهيم: أن تعبد الله وحده مخلصا له الدين، وبذلك أمر الله جميع الناس، وخلقهم لها، كما قال تعالى: ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ﴾ [الذاريات: ٥٦]. ومعنى يعبدون: يوحدون.

وأعظم ما أمر الله به: التوحيد، وهو إفراد الله بالعبادة وأعظم ما نهى عنه: الشرك وهو دعوة غيره معه. والدليل قوله تعالى: ﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا﴾ [النساء: ٣٦].

Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya, bahwa Al-Hanifiyyah (jalan yang lurus) yaitu millah (agama) Ibrahim adalah: kamu menyembah Allah semata dengan memurnikan (mengikhlaskan) agama hanya kepada-Nya. Dan dengan itulah Allah memerintahkan seluruh manusia, serta menciptakan mereka untuk itu, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." [Adz-Dzariyat: 56]. Makna "menyembah-Ku" adalah mentauhidkan-Ku (mengesakan-Ku).

Dan perkara terbesar yang Allah perintahkan adalah Tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Sedangkan perkara terbesar yang Allah larang adalah Syirik, yaitu menyeru (berdoa kepada) selain-Nya bersama-Nya. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun." [An-Nisa: 36].

Syarah:

Lihat penjelasan masalah ini di Mengenal agama yang Hanif

***

فإذا قيل لك: ما الأصول الثلاثة التي يجب على الإنسان معرفتها؟ فقل: معرفة العبد ربه، ودينه، ونبيه محمدا ﷺ.

Jika dikatakan kepadamu: "Apa tiga pokok (ushul) yang wajib diketahui oleh setiap manusia?" Maka katakanlah: Mengenal Rabb (Tuhan)-nya, agamanya, dan nabinya Muhammad ﷺ.

Syarah:

Tiga pokok ini adalah pertanyaan pertama yang diajukan oleh malaikat di alam kubur, sebagaimana disebutkan dalam hadits;

Al-Bara’ bin Azib -radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Kami bersama Rasulullah ﷺ keluar untuk melihat jenazah seorang laki-laki Anshar, kami pun tiba di pemakaman. Ketika liang lahad telah dibuat, Rasulullah ﷺ duduk, lalu kami ikut duduk di sisinya. Kami diam, seakan-akan di atas kepala kami ada burung. Saat itu beliau memegang sebatang kayu yang ditancapkan ke dalam tanah, beliau lalu mengangkat kepalanya dan bersabda: 

«وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ. وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَيَقُولَانِ: وَمَا يُدْرِيكَ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ. فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ} [إبراهيم: 27]. قَالَ: فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا، وَيُفْتَحُ لَهُ فِيهَا مَدَّ بَصَرِهِ، قَالَ: وَإِنَّ الْكَافِرَ -فَذَكَرَ مَوْتَهُ- قَالَ: وَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ: لَهُ مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ كَذَبَ، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ النَّارِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ»

"Sungguh, mayat itu akan dapat mendengar derap sandal mereka (yang mengantar) saat berlalau pulang. Llalu ada dua malaikat mendatanginya seranya mendudukkannya. Malaikat itu bertanya, "Siapa Rabbmu?" Ia menjawab, "Rabbku adalah Allah." Malaikat itu bertanya lagi, "Apa agamamu?" Ia menjawab, "Agamaku adalah Islam." Malaikat itu bertanya lagi, "Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian ini? ' Ia menjawab, "Dia adalah Rasulullah ﷺ." Malaikat itu bertanya lagi, "Apa yang membuat kamu mengetahuinya?" Ia menjawab, "Aku membaca Kitabullah, aku mengimaninya dan membenarkannya." Maka inilah makna firman Allah: '(Allah meneguhkan (iman) orangorang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu [tauhid] dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah memperbuat apa yang Dia kehendaki) [Ibrahim: 27] 

Beliau bersabda: "Kemudian ada suara dari langit yang menyeru, "Benarlah apa yang dikatakan oleh hamba-Ku, hamparkanlah permadani untuknya di surga, bukakan baginya pintu-pintu surga dan berikan kepadanya pakaian surga." Beliau melanjutkan: "Kemudian didatangkan kepadanya wewangian surga, lalu kuburnya diluaskan sejauh mata memandang." Beliau melanjutkan: "Jika yang meninggal adalah orang kafir, maka ruhnya akan dikembalikan kepada jasadnya. Saat itu datanglah dua malaikat serya mendudukkannya. Kedua malaikat itu bertanya, "Siapa Rabbmu?" Ia menjawab, "Hah, hah, hah. Aku tidak tahu." Malaikat itu bertanya, "Apa agamamu?" Ia menjawab, "Hah, hah. Aku tidak tahu." Malaikat itu bertanya lagi, "Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian ini? ' Ia menjawab, "Hah, hah. Aku tidak tahu." Setelah itu terdengar suara dari langit: "Ia telah berdusta. Berilah ia hamparan permadani dari neraka, berikan pakaian dari neraka, dan bukakanlah pintu-pintu neraka untuknya." [Sunan Abi Daud: Shahih]

Lihat: Hadits Al-Baraa’; Ketika ajal menjemput dan pertanyaan alam kubur

***

فإذا قيل لك: من ربك؟ فقل ربي الله الذي رباني وربى جميع العالمين بنعمه، وهو معبودي ليس لي معبود سواه. والدليل قوله تعالى: ﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ [الفاتحة: ٢]. وكل ما سوى الله عالم، وأنا واحد من ذلك العالم.

فإذا قيل لك: بم عرفت ربك؟ فقل: بآياته ومخلوقاته، ومن آياته الليل والنهار، والشمس والقمر، ومن مخلوقاته السموات السبع والأرضون السبع وما فيهن وما بينهما. والدليل قوله تعالى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾ [فصلت: ٣٧]. وقوله تعالى: ﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴾ [الأعراف: ٥٤].

والرب هو المعبود. والدليل قوله تعالى: ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾ [البقرة: ٢١-٢٢]. قال ابن كثير رحمه الله تعالى: الخالق لهذه الأشياء هو المستحق للعبادة.

Jika dikatakan kepadamu: "Siapa Rabb-mu?" Maka katakanlah: Rabb-ku adalah Allah, yang telah mendidikku dan mendidik seluruh alam semesta dengan nikmat-nikmat-Nya. Dialah yang aku sembah, tidak ada sesembahan bagiku selain Dia. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam." [Al-Fatihah: 2]. Dan segala sesuatu selain Allah adalah "alam" (alam semesta), dan aku adalah salah satu bagian dari alam itu.

Jika dikatakan kepadamu: "Dengan apa kamu mengenal Rabb-mu?" Maka katakanlah: Dengan tanda-tanda (ayat) dan makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Di antara tanda-tanda-Nya adalah malam dan siang, matahari dan bulan. Dan di antara makhluk-makhluk-Nya adalah tujuh langit, tujuh bumi, serta apa yang ada di dalamnya dan apa yang ada di antara keduanya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya." [Fushshilat: 37]. Dan firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Dan (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang, semuanya tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, hanya milik-Nya-lah penciptaan dan perintah. Maha Berkah Allah, Rabb seluruh alam." [Al-A'raf: 54].

Dan Rabb itulah Al-Ma'bud (yang disembah). Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Hai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." [Al-Baqarah: 21-22]. Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Pencipta segala sesuatu ini adalah yang berhak untuk disembah."

Syarah:

1)      Siapakah itu “Ar-Rabb”?

Ar-Rabb adalah yang menciptakan, memiliki, den mengatur alam semesta. Tidak ada makhluk selain ciptaanNya, tidak ada yang memiliki kecuali milikNya, dan tidak ada kekuasaan kecuali kekuasaanNya. Tidak ada yang memberi manfaat dan mendatangkan mudharat kecuali atas kehendakNya.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَامُوسَى (49) قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى} [طه: 49، 50]

Berkata Fir'aun: "Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa? Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk. [Thaha: 49-50]

{قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ (23) قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ} [الشعراء: 23، 24]

Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?" Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya". [Asy-Syu’araa’: 23-24]

{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [البقرة: 258]

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Al-Baqarah: 258]

Lihat: “Al-Khaliq” dan “Al-Khallaq”; Allah Yang Maha Mencipta

2)      Bagaimana mengenal Ar-Rabb?

Dengan memperhatikan tanda-tanda kekuasanNya dan makluk ciptaanNya. Tanda kekuasaan Allah ada yang berupa ayat kauniyah: Seperti malam, dan siang, matahari, dan bulan, langit, dan bumi, dan semua yang ada di antara keduanya. Allah -subhanahu wa ta'aalaa- berfirman:

{أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ} [الأعراف: 185]

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah. [Al-A’raf: 185]

{إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ} [آل عمران: 190، 191]

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka". [Ali Imran: 190-191]

Atau tanda kekuasaan Allah berupa ayat syar’iyah yang Allah turunkan dalam Al-Qur’an maupun melalui sunnah RasulNya ﷺ. Allah -subhanahu wa ta'aalaa- berfirman:

{أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا} [النساء: 82]

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [An-Nisaa': 82]

3)      Tidak ada “Ar-Rabb” selain Allah ‘azza wajalla.

Allah -subhanahu wa ta'aalaa- berfirman:

{قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ} [الأنعام: 164]

Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu”. [Al-An’am: 164]

Lihat: Allah Yang Maha Menguasai "Al-Malik"

4)      Hanya “Ar-Rabb” yang berhak disembah.

Allah -subhanahu wa ta'aalaa- berfirman:

{اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (64) هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (65) قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَمَّا جَاءَنِيَ الْبَيِّنَاتُ مِنْ رَبِّي وَأُمِرْتُ أَنْ أُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (66) هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى مِنْ قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (67) هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ فَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ} [غافر: 64 - 68]

Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Katakanlah (ya Muhammad): "Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia. [Gafir: 64-68]

Lihat: "Asy-Syaafiy", "Ath-Thabiib": Yang Maha Menyembuhkan

***

وأنواع العبادة التي أمر الله بها مثل الإسلام، والإيمان، والإحسان، ومنه الدعاء، والخوف، والرجاء، والتوكل، والرغبة، والرهبة، والخشوع، والخشية، والإنابة، والاستعانة، والاستعاذة، والاستغاثة، والذبح، والنذر، وغير ذلك من أنواع العبادة التي أمر الله بها كلها الله تعالى.  والدليل قوله تعالى: ﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾ [الجن: ١٨]،

فمن صرف منها شيئا لغير الله فهو مشرك كافر. والدليل قوله تعالى: ﴿وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ﴾ [المؤمنون: ١١٧] وفي الحديث: «الدعاء مخ العبادة» والدليل قوله تعالى: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾ [غافر: ٦٠].

ودليل الخوف قوله تعالى: ﴿فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ [آل عمران: ١٧٥].

ودليل الرجاء قوله تعالى: ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾ [الكهف: ١١٠].

ودليل التوكل قوله تعالى: ﴿وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ [المائدة: ٢٣]. وقال: ﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾ [الطلاق: ٣]

ودليل الرغبة والرهبة والخشوع قوله تعالى: ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾ [الأنبياء: ٩٠].

ودليل الخشية قوله تعالى ﴿فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي﴾ [البقرة: ١٥٠].

ودليل الإنابة قوله تعالى: ﴿وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ﴾ [الزمر: ٥٤].

ودليل الاستعانة قوله تعالى: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ [الفاتحة: ٥]. وفي الحديث: «إذا استعنت فاستعن بالله».

ودليل الاستعاذة قوله تعالى: ﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ﴾ [الفلق: ١]، و﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴾ [الناس: ١].

ودليل الاستغاثة قوله تعالى: ﴿إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ﴾ [الأنفال: ٩].

ودليل الذبح قوله تعالى: ﴿قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ﴾ [الأنعام: ١٦٢-١٦٣]. ومن السنة: «لعن الله من ذبح لغير الله»

ودليل النذر قوله تعالى: ﴿يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا﴾ [الإنسان: ٧].

Dan jenis-jenis ibadah yang Allah perintahkan, seperti Islam, Iman, dan Ihsan. Di antaranya juga: doa, rasa takut (khauf), harapan (raja'), tawakal, keinginan (raghbah), rasa cemas (rahbah), kekhusyukan (khusyu'), rasa takut yang disertai pengagungan (khasyyah), kembali kepada Allah (inabah), memohon pertolongan (isti'anah), memohon perlindungan (isti'adzah), memohon pertolongan saat kesulitan (istighatsah), menyembelih (dzabh), bernazar (nadzar), dan lain-lain dari jenis-jenis ibadah yang Allah perintahkan — semuanya adalah milik Allah Ta'ala. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." [Al-Jinn: 18].

Maka siapa yang mengalihkan sebagian dari ibadah itu kepada selain Allah, maka dia adalah musyrik lagi kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabb-nya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak akan beruntung." [Al-Mu'minun: 117]. Dan dalam hadits: "Doa adalah inti (otak) ibadah."

Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Dan Rabb-mu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.'" [Ghafir: 60].

Dalil khauf (rasa takut) adalah firman Allah Ta'ala: "Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." [Ali 'Imran: 175].

Dalil raja' (harapan) adalah firman Allah Ta'ala: "Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya." [Al-Kahfi: 110].

Dalil tawakal adalah firman Allah Ta'ala: "Dan kepada Allah-lah kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman." [Al-Ma'idah: 23]. Dan firman-Nya: "Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya." [Ath-Thalaq: 3].

Dalil raghbah (keinginan), rahbah (rasa cemas), dan khusyu' adalah firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya mereka itu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." [Al-Anbiya: 90].

Dalil khasyyah (rasa takut yang disertai pengagungan) adalah firman Allah Ta'ala: "Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku." [Al-Baqarah: 150].

Dalil inabah (kembali kepada Allah) adalah firman Allah Ta'ala: "Dan kembalilah kamu kepada Rabb-mu, dan berserah dirilah kepada-Nya." [Az-Zumar: 54].

Dalil isti'anah (memohon pertolongan) adalah firman Allah Ta'ala: "Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan." [Al-Fatihah: 5]. Dan dalam hadits: "Jika kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah."

Dalil isti'adzah (memohon perlindungan) adalah firman Allah Ta'ala: "Katakanlah: 'Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai fajar.'" [Al-Falaq: 1], dan "Katakanlah: 'Aku berlindung kepada Rabb manusia.'" [An-Nas: 1].

Dalil istighatsah (memohon pertolongan saat kesulitan) adalah firman Allah Ta'ala: "Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu Dia memperkenankan (doa)-mu." [Al-Anfal: 9].

Dalil dzabh (menyembelih) adalah firman Allah Ta'ala: "Katakanlah: 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.'" [Al-An'am: 162-163]. Dan dari sunnah: "Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah."

Dalil nadzar (bernazar) adalah firman Allah Ta'ala: "Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana." [Al-Insan: 7].

Syarah:

Ibadah adalah semua yang dicintai dan diridhai oleh Allah dari ucapan, dan perbuatan, baik secara dzahir maupun batin. Seperti:

1.      Islam, Iman, dan Ihsan.

Akan dijelaskan pada pondasi yang kedua, insyaallah!

Lihat: Syarah Arba’in hadits (2) Umar; Jibril bertanya tentang iman, islam, ihsan, dan kiamat  

2.      Do’a.

Lihat: Keutamaan berdo’a 

3.      Al-Khauf (rasa takut dari keburukan yang akan menimpa).

Lihat: Sifat Al-Khauf; Takut hanya kepada Allah 

4.      Ar-Rajaa’ (pengharapan).

Lihat: Sifat Ar-Rajaa’: Berharap hanya kepada Allah 

5.      Tawakkal (menggantungkan harapan).

Lihat: Sifat Tawakkal; Menyerahkan segalaurusan hanya kepada Allah 

6.      Ar-Ragbah (berharap), Ar-Rahbah (cemas), dan Al-Khusyu’ (tunduk).

Perbedaan antara Rajaa’ dan Ragbah: Rajaa’ rasa pengharapan kemudian melahirkan Ragbah dengan berusaha mendapatkannya.

Perbedaan anatara Khauf dan Rahbah: Khauf rasa takut akan keburukan suatu kemudian melahirkan Rahbah dengan menghindari.

Allah -subhanahu wa ta'aalaa- berfirman:

{وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ} [الشرح: 8]

"Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap". [Asy-Syarh:8]

{وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ} [النحل: 51]

Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut". [An-Nahl: 51]

Ø  Al-Bara' bin 'Azib radiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ berkata kepadaku: Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka ber-wudhu-lah seperti wudhu-mu untuk shalat kemudian berbaringlah dengan samping kananmu dan baca .. 

«اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ»

"Ya Allah .. aku pasrahkan jiwaku kepada-Mu, dan aku arahkan wajahku (tujuan) kepada-Mu, dan aku gantungkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan pundakku (harapan) kepadaMu, dengan penuh harap dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat bersandar dan selamat dari-Mu kecuali kepada-Mu, aku beriman kepada Kitab-Mu yang Engkau turunkan, dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang Engkau utus"

Rasulullah bersabda: “Jika engkau mati malam itu maka engkau mati dalam keadaan fitrah, dan jika engkau bangun pagi maka engkau bangun dengan pahalah. Jadikan do'a ini akhir yang kau ucapakan”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، وَلَكِنْ لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ، فَإِنَّ اللهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ»

“Jika seseorang di antara kalian berdo'a, maka jangan mengatakan: "Ya Allah .. ampunilah aku jika Engkau mau", akan tetapi teguhkanlah permintaannya, dan mintalah sebanyak-banyaknya, karena sesungguhnya Allah tidak merasa berat terhadap sesuatu yang Ia berikan”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Sifat Khusyu’; Tunduk penuh ketaatan hanya kepada Allah 

7.      Al-Khasyah (takut yang didasari pengagungan).

Perbedaan antara Khauf, Rahbah, dan Khasyah: Khauf dan Rahbah takut karena rasa lemah, sedangkan Khasyah takut karena rasa pengagungan.

Lihat: Sifat Khasyah; Takut karena pengagungan hanya untuk Allah 

8.      Al-Inabah (kembali kepada Allah dengan ibadah).

Lihat: Sifat Al-Inabah; Kembali hanya kepada Allah 

9.      Isti’anah (minta pertolongan).

Lihat: Sifat Isti’anah; Minta pertolongan hanya kepada Allah 

10.  Isti’adzah (minta perlindungan).

Lihat: Sifat Isti’adzah; Minta perlindungan hanya kepada Allah 

11.  Istigatsah, minta bantuan ketika dalam kesulitan hanya kepada Allah. 

Perbedaan isti’anah, isti’adzh, dan isti’gatsah: Isti’anah meminta pertolongan untuk mendapatkan sesuatu, isti’adzh meminta perlindungan agar tidak ditimpa sesuatu yang buruk, sedangkan istigatsah meminta bantuan untuk dilepaskan dari kesulitan.

Kapan dianjurkan untuk istigatsah kepada Allah?

a)       Ketika berperang melawan musuh Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ} [الأنفال: 9]

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut". [Al-Anfaal: 9]

b)      Ketika tertindas. Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ} [الأحقاف: 17]

Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: "Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? Lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: "Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar". Lalu dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka". [Al-Ahqaaf: 17]

c)       Ketika bertemu Dajjal.

Dari Abu Umamah Al-Bahiliy radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda - dalam kisah Dajjal-:

«وَإِنَّ مِنْ فِتْنَتِهِ أَنَّ مَعَهُ جَنَّةً وَنَارًا، فَنَارُهُ جَنَّةٌ، وَجَنَّتُهُ نَارٌ، فَمَنِ ابْتُلِيَ بِنَارِهِ، فَلْيَسْتَغِثْ بِاللَّهِ، وَلْيَقْرَأْ فَوَاتِحَ الْكَهْفِ فَتَكُونَ عَلَيْهِ بَرْدًا وَسَلَامًا، كَمَا كَانَتِ النَّارُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ»

"Dan sesungguhnya diantara cobaannya adalah ia mempunyai surga dan neraka, maka nerakanya itu adalah surga, dan surganya itu adalah neraka. Maka barangsiapa yang ditimpa cobaan dengan nerakanya maka mintalah pertolongan Allah dan bacalah awal surah AlKahfi, maka ia akan merasakan kesejukan dan keselamatan sebagaimana apinya Ibrahim". [Sunan Ibnu Majah: Sahih]

d)      Dalam segala kesulitan

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ berkata kepada Fatimah: Apa yang menghalangimu untuk mendengarkan wasiat yang kuberikan padamu, ucapkanlah di waktu pagi dan sore... 

«يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ»

"Wahai yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), dengan rahmat-Mu aku memohon, perbaikilah segala urusanku, dan janganlah Engkau melimpahkannya kepada diriku walaupun hanya sekedip mata". [Sunan Al-Kubraa An-Nasa'i: Hasan]

Ø  Dalam riwayat lain: Rasulullah ﷺ jika kesusahan dalam satu urusan membaca ... 

«يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ»

"Wahai yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), dengan rahmat-Mu aku memohon bantuan". [Sunan Tirmidzi: Hasan]

Tidak boleh istigatsah kepada selain Allah kecuali kepada yang mampu secara dzahir. Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ} [القصص: 15]

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. [Al-Qashash: 15]

Lihat: Syarah Kitab tauhid bab (14);Istigatsah (minta pertolongan) atau berdo’a kepada selain Allah adalah syirik 

12.  Menyembelih.

Lihat: Syarah Kitab tauhid bab 10; Tentangmenyembelih untuk selain Allah 

13.  Bernadzar

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ} [الحج: 29]

Dan hendaklah mereka menunaikan nazar-nazar mereka. [Al-Hajj: 29]

Ø  Tsabit bin Adh-Dhahhaq radhiyallahu ‘anhu berkata:

نَذَرَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنْ يَنْحَرَ إِبِلًا بِبُوَانَةَ فَأَتَى النَّبِيَّ ﷺ، فَقَالَ: إِنِّي نَذَرْتُ أَنْ أَنْحَرَ إِبِلًا بِبُوَانَةَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «هَلْ كَانَ فِيهَا وَثَنٌ مِنْ أَوْثَانِ الْجَاهِلِيَّةِ يُعْبَدُ؟» قَالُوا: لَا، قَالَ: «هَلْ كَانَ فِيهَا عِيدٌ مِنْ أَعْيَادِهِمْ؟»، قَالُوا: لَا، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَوْفِ بِنَذْرِكَ، فَإِنَّهُ لَا وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَلَا فِيمَا لَا يَمْلِكُ ابْنُ آدَمَ» [سنن أبي داود: صحيح]

Seorang laki-laki bernadzar pada zaman Rasulullah ﷺ untuk menyembelih unta di Buwanah. Kemudian ia datang kepada Nabi ﷺ dan berkata; Sesungguhnya saya telah bernadzar untuk menyembelih unta di Buwanah.  Kemudian Nabi ﷺ bersabda: "Apakah padanya terdapat berhala diantara berhala-berhala jahiliyah yang disembah?" Mereka berkata; Tidak. Beliau berkata: "Apakah padanya terdapat hari besar (raya) diantara hari-hari besar mereka?" Mereka berkata; Tidak. Rasulullah ﷺ bersabda: "Penuhi nadzarmu, sesungguhnya tidak boleh memenuhi nadzar dalam bermaksiat kepada Allah, dalam perkara yang tidak dimiliki anak Adam." [Sunan Abi Daud: Shahih]

Lihat: Syarah Kitab tauhid bab (12);Termasuk syirik, bernadzar untuk selain Allah 

***

Bersambung …

Lihat juga: Enam pondasi pokok dalam beragama - "Syarah Akidah Ahlussunnah" karya Al-Isma'iliy - Daftar judul bab kitab At-Tauhid karya syekh Muhammad bin Abdil Wahhab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...