بسم الله الرحمن الرحيم
Larangan bersikap
sombong
Allah
subhanahu wata'aalaa berfirman:
{وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ} [لقمان:
18]
Dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong). [Luqman:18]
بسم الله الرحمن الرحيم
Larangan bersikap
sombong
Allah
subhanahu wata'aalaa berfirman:
{وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ} [لقمان:
18]
Dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong). [Luqman:18]
بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam bab ini, syekh Muhammad bin Abdil
Wahhab rahimahullah menyebutkan 1 ayat dan 1 hadits yang menunjukkan
larangan seseorang mencaci masa atau waktu karena itu termasuk perbuatan
meyakiti Allah ‘azza wajalla.
بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari -rahimahullah- berkata:
"بَابُ زِيَادَةِ
الإِيمَانِ وَنُقْصَانِهِ"
“Bab: Bertambah dan berkurangnya iman”
Dalam bab ini, Imam Bukhari kembali
menegaskan tentang keyakinan bahwa kualitas iman seseorang bisa mengalami
peningkatan dan penurunan, bertambah dan berkurung. Belia menyebutkan dalam bab
ini tiga ayat Al-Qur’an dan 2 hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik melalui dua jalur (muttashil
dan mu’allaq), dan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma.
بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam bab ini, syekh Muhammad bin Abdil
Wahhab rahimahullah menyebutkan 3 hadits yang menunjukkan larangan
seseorang berucap “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”.
بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari -rahimahullah- berkata:
بَابٌ: أَحَبُّ الدِّينِ إِلَى اللَّهِ
أَدْوَمُهُ
“Bab: Pelaksanaan agama yang paling
dicintai oleh Allah adalah yang konsisten”
Imam Bukhari ingin menegaskan dalam bab ini
bahwa kata iman terkadang dimaksudkan adalah amalan, karena agama yang dimaksud
dalam hadits ini adalah amalan, dan agama sesungguhnya adalah Islam, dan Islam
yang hakiki semakna dengan Iman.
بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari -rahimahullah- berkata:
بَابُ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ
“Bab: Baiknya Islam seseorang”
Dalam bab ini Imam Bukhari menjelaskan keutamaan orang yang senantiasa memperbaiki keislamannya, dengan meriwayatkan dua hadits dari Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu 'anhu- secara mu’allaq (sanad terputus) dan dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- secara muttashil (sanad bersambung).
بسم الله الرحمن الرحيم
Allah ta’aalaa berfirman:
{إِنَّمَا أَعِظُكُمْ
بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا} [سبأ: 46]
Katakanlah, “Aku hendak memperingatkan kepadamu
satu hal saja, yaitu agar kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau
sendiri-sendiri; kemudian agar kamu pikirkan (tentang Muhammad).” [Saba': 46]
بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari -rahimahullah- berkata:
"بَابٌ: الصَّلاَةُ
مِنَ الإِيمَانِ"
“Bab: Shalat bagian dari iman”
Dalam bab ini imam Bukhari menjelaskan
bahwa diantara amalan yang masuk katergori keimanan adalah shalat sebagaimana
disebutkan dalam ayat 143 surah Al-Baqarah dan penjelasannya dalam hadits Al-Bara’
bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu.
بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam bab ini, syekh Muhammad bin Abdil
Wahhab rahimahullah menyebutkan 1 hadits yang menunjukkan wajibnya
seseorang rela terhadap sumpah yang menggunakan nama Allah ‘azza wajalla.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu
‘anhuma;
سَمِعَ النَّبِيُّ ﷺ رَجُلًا
يَحْلِفُ بِأَبِيهِ، فَقَالَ: «لَا تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ، مَنْ حَلَفَ
بِاللَّهِ فَلْيَصْدُقْ، وَمَنْ حُلِفَ لَهُ بِاللَّهِ فَلْيَرْضَ، وَمَنْ لَمْ
يَرْضَ بِاللَّهِ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ» [سنن
ابن ماجه: صحيح]
"Nabi ﷺ
mendengar seorang laki-laki bersumpah dengan bapaknya, maka beliau bersabda,
"Janganlah kalian bersumpah dengan bapak-bapak kalian. Barangsiapa
bersumpah dengan Allah maka jujurlah, dan barangsiapa disumpai dengan nama
Allah hendaklah ia ridha, maka barangsiapa tidak ridha dengan Allah dia bukan
dari golongan kami." [Sunan Ibnu Majah: Shahih]
بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari -rahimahullah- berkata:
بَابٌ: الدِّينُ يُسْرٌ
“Bab: Agama itu mudah”
Dalam bab ini imam Bukhari menjelasakan
bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
adalah agama yang mudah, tidak ada kesulitan di dalamnya. Dan beliau
menyebutkan dua hadits dalam bab ini, satunya disebutkan secara mu’allaq
dan satu lagi disebutkan secara muttasil dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu.