Selasa, 13 Oktober 2026

Syarah Tsalatsah Ushul (bagian 2)

بسم الله الرحمن الرحيم

Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab (1206H) rahimahullah berkata:

الأصل الثاني: معرفة دين الإسلام بالأدلة، وهو الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والبراءة من الشرك وأهله. وهو ثلاث مراتب: الإسلام، والإيمان، والإحسان. وكل مرتبة لها أركان.

فأركان الإسلام خمسة: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج بيت الله الحرام.

فدليل الشهادة: قوله تعالى: ﴿شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾ [آل عمران: ١٨]. ومعناها لا معبود بحق إلا الله «لا إله» نافيا جميع ما يعبد من دون الله «إلا الله» مثبتا العبادة لله وحده لا شريك له في عبادته كما أنه لا شريك له في ملكه، وتفسيرها الذي يوضحها قوله تعالى: ﴿وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾ [الزخرف: ٢٦-٢٨] وقوله: ﴿قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ﴾ [آل عمران: ٦٤].

ودليل شهادة أن محمدا رسول الله قوله تعالى: ﴿قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ﴾ [التوبة: ١٢٨].

ومعنى شهادة أن محمدا رسول الله: طاعته فيما أمر، وتصديقه فيما أخبر، واجتناب ما عنه نهى وزجر، وأن لا يعبد الله إلا بما شرع.

ودليل الصلاة، والزكاة، وتفسير التوحيد: قوله تعالى: ﴿وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴾ [البينة: ٥].

ودليل الصيام قوله تعالى: ﴿يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾ [البقرة: ١٨٣].

ودليل الحج قوله تعالى: ﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ﴾ [آل عمران: ٩٧].

Pokok (Ushul) Kedua: Mengenal agama Islam beserta dalil-dalilnya. Yaitu berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk patuh kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari syirik serta para pelakunya. Agama ini memiliki tiga tingkatan: Islam, Iman, dan Ihsan. Dan setiap tingkatan memiliki rukun-rukunnya.

Adapun rukun Islam ada lima: (1) Syahadat bahwa tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, (2) Menegakkan shalat, (3) Menunaikan zakat, (4) Berpuasa Ramadhan, (5) Berhaji ke Baitullah Al-Haram.

Dalil syahadat adalah firman Allah Ta'ala: "Allah menyatakan bahwa tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, (demikian pula) para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Dia (Allah) menegakkan (makhluk-Nya) dengan keadilan. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [Surah Ali 'Imran: 18].

Maknanya: Tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. "Laa ilaaha" menafikan (meniadakan) segala sesuatu yang disembah selain Allah. "Illallah" menetapkan ibadah hanya untuk Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ibadah, sebagaimana tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya. Tafsir yang menjelaskan hal ini adalah firman Allah Ta'ala: "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (dari) yang menciptakanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.' Dan Ibrahim menjadikan kalimat itu (tetap) sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya, agar mereka kembali (kepada Allah)." [Az-Zukhruf: 26-28]. Dan firman-Nya: "Katakanlah: 'Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan sebagian kita (menjadikan) sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.' Jika mereka berpaling, maka katakanlah: 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).'" [Ali 'Imran: 64].

Dalil syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah adalah firman Allah Ta'ala: "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri; berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." [At-Taubah: 128].

Makna syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah: Menaatinya dalam apa yang ia perintahkan, membenarkannya dalam apa yang ia kabarkan, menjauhi apa yang ia larang dan cegah, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang ia syariatkan.

Dalil shalat, zakat, dan tafsir tauhid adalah firman Allah Ta'ala: "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." [Al-Bayyinah: 5].

Dalil puasa adalah firman Allah Ta'ala: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa." [Al-Baqarah: 183].

Dalil haji adalah firman Allah Ta'ala: "Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam." [Ali 'Imran: 97].

Syarah:

1)      Makna beragama Islam: Pasrah dan tunduk untuk Allah dengan tauhid, dan patuh dalam ketaatan, dan melepaskan diri dari kesyirikan dan pelakunya.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ} [آل عمران: 83]

Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan? [Ali 'Imran: 83]

Lihat: Keistimewaan agama Islam 

2)      Tingkatan beragama yang pertama: Islam.

Lihat: Syarah Arba’in hadits (3) Ibnu Umar; Rukun Islam 

3)      Rukun Islam ada lima:

a.       Dua kalimat syahadat.

Lihat: Syarat sah kalimat syahadat 

b.      Shalat.

Lihat: Keutamaan shalat 

c.       Zakat

Lihat: Keutamaan zakat 

d.      Puasa

Lihat: Keutamaan puasa 

e.       Haji

Lihat: Keutamaan haji dan umrah 

***

المرتبة الثانية: الإيمان: وهو بضع وسبعون شعبة: فأعلاها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان. وأركانه ستة: أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، وتؤمن بالقدر خيره وشره. والدليل على هذه الأركان الستة: قوله تعالى: ﴿لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ﴾ [البقرة: ١٧٧]. ودليل القدر: قوله تعالى: ﴿إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ﴾ [القمر: ٤٩].

Tingkatan Kedua: Iman. Yaitu lebih dari tujuh puluh cabang (syua'b). Yang paling tinggi adalah ucapan Laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu (haya') adalah salah satu cabang dari iman.

Rukunnya ada enam: (1) Beriman kepada Allah, (2) Beriman kepada para malaikat-Nya, (3) Beriman kepada kitab-kitab-Nya, (4) Beriman kepada para rasul-Nya, (5) Beriman kepada hari akhir, (6) Beriman kepada qadar (takdir), yang baik maupun yang buruk.

Dalil keenam rukun ini adalah firman Allah Ta'ala: "Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi." [Al-Baqarah: 177]. Dalil qadar adalah firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran/takdir)." [Al-Qamar: 49].

Syarah:

1)      Iman memilik lebih dari tujuh puluh cabang (syu’ab).

Lihat: Hadits Abu Hurairah; Tingkatan Iman

2)      Iman kepada Allah.

Mencakup 4 perkata:

a.       Mengimani keberadaanNya.

b.       Mengimani keesaanNya dalam rububiyah.

c.       Mengimani keesaanNya dalam uluhiyah.

d.       Mengimani keesaanNya dalam nama dan sifat..

Lihat: Pembagian Tauhid

3)      Iman kepada Malaikat.

Lihat: Iman kepada malaikat

4)      Iman kepada kitab suci.

Lihat: Iman kepada Kitab Suci

5)      Iman kepada para Rasul

Lihat: Iman kepada Nabi dan Rasul Allah

6)      Iman kepada hari akhir

Lihat: Perjalanan setelah kematian

7)      Iman kepada takdir

Lihat: Manfaat beriman kepada takdir

***

المرتبة الثالثة: الإحسان ركن واحد وهو: «أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك». والدليل قوله تعالى: ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ﴾ [النحل: ١٢٨]. وقوله: ﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾ [الشعراء: ٢١٧-٢٢٠] وقوله: ﴿وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ﴾ [يونس: ٦١].

والدليل من السنة حديث جبرائيل المشهور عن عمر رضي الله عنه قال: «بينما نحن جلوس عند رسول الله ﷺ إذ طلع علينا رجل، شديد بياض الثياب، شديد سواد الشعر، لا يُرَى عليه أثر السفر، ولا يعرفه منا أحد، حتى جلس إلى النبي ﷺ، فأسند ركبتيه إلى ركبتيه، ووضع كفيه على فخذيه، وقال: يا محمد! أخبرني عن الإسلام. قال: أن تشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا. فقال: صدقت. فعجبنا له يسأله ويصدقه. قال: فأخبرني عن الإيمان. قال: أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر، وتؤمن بالقدر خيره وشره. قال: صدقت. قال: فأخبرني عن الإحسان. قال: أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك. قال: فأخبرني عن الساعة. قال: ما المسؤول عنها بأعلم من السائل. قال: فأخبرني عن أماراتها. قال: أن تلد الأمة ربتها، وأن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان. قال فمضى، فلبثنا مليا. فقال: يا عمر أتدري من السائل؟ قلت: الله ورسوله أعلم. قال: هذا جبرائيل أتاكم يعلمكم أمر دينكم»

Tingkatan Ketiga: Ihsan. Rukunnya hanya satu, yaitu: "Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Maka jika engkau tidak (mampu) melihat-Nya, (ketahuilah) sesungguhnya Dia melihatmu." Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin)." [An-Nahl: 128]. Dan firman-Nya: "Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, yang melihatmu ketika engkau berdiri (untuk shalat), dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." [Asy-Syu'ara: 217-220].

Dan firman-Nya: "Dan tidaklah engkau berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur'an, dan tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya." [Yunus: 61].

Dalil dari sunnah adalah hadits Jibril yang terkenal, dari Umar radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat padanya tanda-tanda perjalanan, dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Hingga ia duduk di hadapan Nabi ﷺ, lalu ia menyandarkan lututnya ke lutut Nabi ﷺ, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha Nabi ﷺ, dan berkata: 'Wahai Muhammad! Beritahukanlah kepadaku tentang Islam.' Beliau bersabda: 'Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana.' Ia berkata: 'Engkau benar.' Maka kami pun heran kepadanya, ia bertanya namun ia juga membenarkannya. Ia berkata: 'Beritahukanlah kepadaku tentang Iman.' Beliau bersabda: 'Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar (takdir) yang baik maupun yang buruk.' Ia berkata: 'Engkau benar.' Ia berkata: 'Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan.' Beliau bersabda: 'Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Maka jika engkau tidak (mampu) melihat-Nya, (ketahuilah) sesungguhnya Dia melihatmu.' Ia berkata: 'Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.' Beliau bersabda: 'Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.' Ia berkata: 'Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tandanya.' Beliau bersabda: 'Bahwa seorang budak perempuan melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang yang telanjang kaki, telanjang badan, miskin, lagi penggembala kambing berlomba-lomba meninggikan bangunan.' Ia berkata: 'Maka ia pun pergi. Lalu kami terdiam beberapa lama. Kemudian beliau bersabda: 'Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?' Aku berkata: 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau bersabda: 'Itu adalah Jibril, ia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.'"

Syarah:

1.      Perintah berbuat ihsan.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ} [القصص: 77]

“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” [Al-Qashash: 77]

Ø  Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ» [صحيح مسلم]

"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan supaya selalu bersikap baik terhadap setiap sesuatu, jika kamu membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik, jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik, tajamkan pisaumu dan senangkanlah hewan sembelihanmu." [Shahih Muslim]

Lihat: Syarah Arba’in Hadits (17) Syaddad; Perintah berbuat ihsan (kebaikan) 

2.      Ihsan kepada diri sendiri.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا} [الإسراء: 7]

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. [Al-Isra’: 7]

3.      Keutamaan sikap ihsan (berbuat kebaikan).

Diantaranya:

a)      Meraih cinta Allah.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ} [البقرة: 195]

Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. [Al-Baqarah: 195]

b)      Bersama Allah.

Allah -subhanahu wata'ala- berfirman:

{وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ} [العنكبوت: 69]

Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [Al-'Ankabuut: 69]

c)       Menjalankan agama dengan baik.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا} [النساء: 125]

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?! [An-Nisaa': 125]

d)      Mendapatkan kebaikan.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ} [الرحمن: 60]

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). [Ar-Rahman: 60]

{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ} [النحل: 30]

Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. [An-Nahl: 30]

e)      Mendapatkan rahmat Allah.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ} [الأعراف: 56]

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. [Al-A'raaf: 56]

f)        Mendapat pahala yang besar.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ} [آل عمران: 172]

Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. [Ali ‘Imran: 172]

g)      Tidak merasa takut dan bersedih.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ} [البقرة: 112]

Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. [Al-Baqarah: 112]

h)      Mendapatkan ampunan dosa.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ (34) لِيُكَفِّرَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي عَمِلُوا وَيَجْزِيَهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ} [الزمر: 34، 35]

Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhannya. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik, agar Allah menghapus perbuatan mereka yang paling buruk yang pernah mereka lakukan dan memberi pahala kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan. [Az-Zumar: 34-35]

i)        Mendapatkan surga.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ} [يونس: 26]

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. [Yunus: 26]

4.      Hakikat ihsan; Senantiasa merasa diawasi oleh Allah ‘azza wajalla.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ} [الحديد: 4]

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [Al-Hadiid:4]

{إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ} [آل عمران: 5]

Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. [Ali ‘Imran: 5]

{إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ} [الفجر: 14]

Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. [Al-Fajr: 14]

{يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ} [غافر: 19]

Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. [Gaafir: 19]

Ø  Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ» [سنن الترمذي: حسن]

“Bertakwalah kamu dimanapun berada, ikutkanlah keburukan dengan melakukan kebaikan yang akan menghapuskannya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang mulia". [Sunan Tirmidzi: Hasan]

Lihat: Syarah Riyadhushalihin; Bab (5) “Al-Muraqabah” 

***

الأصل الثالث: معرفة نبيكم محمد ﷺ وهو: محمد بن عبد الله بن عبد المطلب بن هاشم، وهاشم من قريش وقريش من العرب، والعرب من ذرية إسماعيل بن إبراهيم الخليل عليه وعلى نبيا أفضل الصلاة والسلام. وله من العمر ثلاث وستون سنة. منها أربعون قبل النبوة، وثلاث وعشرون نبيا رسولا. نُبِّئَ ب ﴿اقْرَأْ﴾ وأُرْسِلَ بالمدثر، وبلده مكة، وهاجر إلى المدينة. بعثه الله بالنذارة عن الشرك ويدعو إلى التوحيد، والدليل قوله تعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْوَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ﴾ [المدثر: ١-٧] ومعنى ﴿قُمْ فَأَنْذِرْ﴾، ينذر عن الشرك ويدعو إلى التوحيد. ﴿وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ﴾، أي: عظمه بالتوحيد. ﴿وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ﴾، أي: طهر أعمالك عن الشرك. ﴿وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ﴾، الرجز بالأصنام، وهجرها تركها، والبراءة منها وأهلها. أخذ على هذا عشر سنين يدعو إلى التوحيد. وبعد العشر عُرج به إلى السماء، وفرضت عليه الصلوات الخمس، وصلى في مكة ثلاث سنين، وبعدها أمر بالهجرة إلى المدينة.

والهجرة: الانتقال من بلد الشرك إلى بلد الإسلام؛ والهجرة فريضة على هذه الأمة من بلد الشرك إلى بلد الإسلام، وهي باقية إلى أن تقوم الساعة. والدليل قوله تعالى: ﴿إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرا ًإِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلا يَهْتَدُونَ سَبِيلًافَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا﴾ [النساء: ٩٧-٩٩] وقوله تعالى: ﴿يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ﴾ [العنكبوت: ٥٦] قال البغوي رحمه الله تعالى: سبب نزول هذه الآية في المسلمين الذين بمكة لم يهاجروا، ناداهم الله باسم الإيمان.

والدليل على الهجرة من السنة قوله ﷺ: «لا تنقطع الهجرة حتى تنقطع التوبة، ولا تنقطع التوبة حتى تطلع الشمس من مغربها».

فلما استقر بالمدينة أمر ببقية شرائع الإسلام، مثل الزكاة والصوم والحج والجهاد والأذان، والأمر بالمعروف، والنهي عن المنكر، وغير ذلك من شرائع الإسلام.

أخذ على هذا عشر سنين وبعدها توفي صلوات الله وسلامه عليه، ودينه باقٍ، وهذا دينه، لا خير إلا دل الأمة عليه، ولا شر إلا حذرها منه. والخير الذي دل عليه: التوحيد، وجميع ما يحبه الله ويرضاه. والشر الذي حذر منه: الشرك وجميع ما يكرهه الله ويأباه. بعثه الله إلى الناس كافة. وافترض الله طاعته على جميع الثقلين: الجن والإنس. والدليل قوله تعالى: ﴿قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا﴾ [الأعراف: ١٥٨]،

وأكمل الله به الدين. والدليل قوله تعالى: ﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الأِسْلامَ دِينًا﴾ [المائدة: ٣].

والدليل على موته ﷺ قوله تعالى: ﴿إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُون َثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ﴾ [الزمر: ٣٠-٣١]،

Pokok (Ushul) Ketiga: Mengenal Nabimu Muhammad ﷺ. Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Hasyim berasal dari Quraisy, Quraisy berasal dari bangsa Arab, dan bangsa Arab adalah keturunan Ismail bin Ibrahim Al-Khalil (kekasih Allah), semoga shalawat dan salam terbaik tercurah kepada beliau dan kepada nabi kita. Usia beliau 63 tahun: 40 tahun sebelum kenabian, dan 23 tahun sebagai nabi dan rasul. Beliau diangkat sebagai nabi dengan (surah) Iqra', dan diutus sebagai rasul dengan (surah) Al-Muddatstsir. Negeri beliau adalah Makkah, dan beliau berhijrah ke Madinah. Allah mengutus beliau untuk memberi peringatan terhadap syirik dan menyeru kepada tauhid. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan Rabb-mu, agungkanlah. Dan pakaianmu, bersihkanlah. Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah. Dan janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-mu, bersabarlah." [Al-Muddatstsir: 1-7]. Makna "Bangunlah, lalu berilah peringatan" yaitu memberi peringatan terhadap syirik dan menyeru kepada tauhid. "Dan Rabb-mu, agungkanlah" yaitu agungkanlah Dia dengan tauhid. "Dan pakaianmu, bersihkanlah" yaitu bersihkanlah amal-amalmu dari syirik. "Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah" — ar-rujz adalah berhala, dan meninggalkannya berarti meninggalkan, berlepas diri darinya dan dari para penyembahnya. Beliau menjalani masa ini selama sepuluh tahun menyeru kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun, beliau diangkat ke langit (Isra' Mi'raj), dan diwajibkan atas beliau shalat lima waktu. Beliau shalat di Makkah selama tiga tahun, kemudian setelah itu beliau diperintahkan berhijrah ke Madinah.

Hijrah adalah berpindah dari negeri syirik ke negeri Islam. Hijrah adalah kewajiban atas umat ini, dari negeri syirik ke negeri Islam, dan ia tetap berlaku hingga hari kiamat tegak. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini?' Mereka menjawab: 'Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi (Makkah).' Para malaikat berkata: 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?' Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas, baik laki-laki, perempuan, ataupun anak-anak, yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkan mereka. Dan Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun." [An-Nisa: 97-99]. Dan firman Allah Ta'ala: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja." [Al-Ankabut: 56]. Al-Baghawi rahimahullah berkata: "Sebab turunnya ayat ini adalah tentang kaum muslimin yang berada di Makkah yang belum berhijrah. Allah memanggil mereka dengan nama iman."

Dalil hijrah dari sunnah adalah sabda beliau ﷺ: "Hijrah tidak akan terputus hingga taubat terputus, dan taubat tidak akan terputus hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya."

Ketika beliau telah menetap di Madinah, beliau diperintahkan (untuk melaksanakan) sisa syariat-syariat Islam, seperti zakat, puasa, haji, jihad, adzan, amar ma'ruf nahi mungkar, dan lain-lain dari syariat Islam.

Beliau menjalani masa ini selama sepuluh tahun, kemudian beliau wafat, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya. Namun agamanya tetap kekal. Dan inilah agamanya: tidak ada kebaikan kecuali beliau telah menunjukkan umat kepadanya, dan tidak ada keburukan kecuali beliau telah memperingatkan umat darinya. Kebaikan yang beliau tunjukkan adalah tauhid dan segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah. Keburukan yang beliau peringatkan adalah syirik dan segala sesuatu yang dibenci dan ditolak Allah. Allah mengutus beliau kepada seluruh manusia. Dan Allah mewajibkan ketaatan kepadanya atas seluruh dua jenis makhluk (ats-tsaqalain): jin dan manusia. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Katakanlah: 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah Rasulullah untuk kalian semuanya.'" [Al-A'raf: 158].

Dan Allah menyempurnakan agama dengan (diutusnya) beliau. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagi kalian." [Al-Ma'idah: 3].

Dalil kewafatan beliau ﷺ adalah firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya engkau akan mati, dan sesungguhnya mereka (juga) akan mati. Kemudian sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Rabb-mu." [Az-Zumar: 30-31].

Syarah:

1.      Muhammad adalah Nabi dan Rasul terakhir.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ} [الأحزاب: 40]

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. [Al-Ahzaab: 40]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي» [صحيح البخاري ومسلم]

"Sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahku". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Keistimewaan Nabi Muhammad dalam Al-Qur'an   

2.      Nasab (silsilah keturunan) nabi Muhammad ﷺ.

Nasab beliau terbagi menjadi tiga bagian, ada yang disepakati, ada yang diperselisihkan, dan ada yang disepakati ketidak benarannya.

a)      Yang disepakati kebenarannya adalah nasab beliau sampai kepada Adnan, yaitu:

مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ (اسمه شيبة) بْنِ هَاشِمِ (اسمه عمرو) بْنِ عَبْدِ مَنَافِ (اسمه المغيرة) بْنِ قُصَيِّ (اسمه زيد) بْنِ كِلاَبِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعبِ بْنِ لؤَيِّ بْنِ غالِبِ بْنِ فِهْرِ (الملقب بقريش، وإليه تنسب القبيلة) بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ (اسمه قيس) بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ (اسمه عامر) بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ (من ولد إسماعيل بن إبراهيم عليهما السلام)

Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib (namanya Syaibah) bin Hasyim (namanya Amr) bin Abdu Manaf (namanya Al-Mughirah) bin Qushay (namanya Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (yang digelari Quraisy, dan kepada beliaulah kabilah itu dinisbatkan) bin Malik bin An-Nadhr (namanya Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (namanya Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan (dari keturunan Ismail bin Ibrahim 'alaihimas-salam).

b)      Yang diperselisihkan adalah nasab beliau dari Adnan sampai kepada nabi Isma’il bin Ibrahim 'alaihimas-salam.

c)       Yang disepakati ketidak benarannya yaitu nasab beliau dari nabi Ibrahim sampai kepada nabi Adam ‘alaihimussalam.

Lihat: Keistimewaan Nabi Muhammad dalam As-Sunnah  

3.      Umurnya.

Rasulullah ﷺ berumur 63 tahun; 40 tahun sebelum kenabian, dan 23 tahun setelah kenabian. 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata; Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ» [سنن الترمذي: حسن]

"Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit diantara mereka yang melebihi itu." [Sunan Tirmidziy: Hasan]

4.      Diangkat menjadi Nabi dengan surah “Iqra’”.

Ini terjadi pada hari Senin malam 25 bulan Ramadhan, malam lailatul qadr, 13 tahun sebelum hijriyah. Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ ditanya tentang puasa hari Senin? 

Rasulullah ﷺ menjawab:

«ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ - أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ -» [صحيح مسلم]

"Itu adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau aku dituruni wahyu". [Shahih Muslim]

Ø  Dari Watsilah bin Al-Asqa' radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ» [مسند أحمد: حسن]

"Suhuf Ibrahim 'alaihissalam diturunkan pada malam pertama bulan Ramadan, dan Taurat diturunkan pada enam hari lewat bulan Ramadan (malam ke 7), dan Injil pada tigabelas hari lewat bulan Ramadhan (malam ke 14), dan Al-Qur'an turun setelah dua puluh empat hari lewat bulan Ramadhan (malam ke 25)". [Musnad Ahmad: Hasan]

Lihat: Hadits Aisyah; Awal turunya wahyu di gua Hira

5.      Diangkat menjadi Rasul dengan surah “Al-Muddatsir”.

Jabir bin Abdullah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhuma bertutur mengenai masa kesenggangan (turunnya) wahyu, sebagaimana yang Rasulullah ﷺ ceritakan:

«بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ، فَرَفَعْتُ بَصَرِي، فَإِذَا المَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، فَرُعِبْتُ مِنْهُ، فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ: زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ} [المدثر: 1 - 5] فَحَمِيَ الوَحْيُ وَتَتَابَعَ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari langit, lalu aku memandang ke arahnya dan ternyata ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hiro, ia sedang duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun ketakutan dan pulang, dan berkata, "Selimuti aku. Selimuti aku". Maka Allah ta'ala menurunkan wahyu: {Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji} [Al-Muddatsir 1-5]. Sejak saat itu wahyu terus turun berkesinambungan." [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Diangkatnya Nabi Muhammad menjadi Rasul 

6.      Kota kelahirannya adalah Mekah.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (96) فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا} [آل عمران: 96، 97]

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) “maqam” Ibrahim (tempat nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdiri membangun Ka'bah); barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. [Ali ‘Imran: 96-97]

Ø  Abdullah bin ‘Adiy bin Hamraa’ radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku melihat Rasulullah ﷺ berdiri di Al-Jazwarah dan bersabda:

«وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ» [سنن الترمذي: صحيح]

“Demi Allah, sesungguhnya engkau (Mekah) adalah bumi Allah yang terbaik, dan bumi Allah yang paling dicintai oleh Allah, dan seandainya aku tidak dipaksa keluar meninggalkanmu maka aku tidak akan keluar”. [Sunan Tirmidziy: Shahih]

Lihat: Keistimewaan kota Mekah 

7.      Diutus untuk mengajak kepada tauhid dan meninggalkan kesyirikan.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ} [النحل: 36]

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu"". [An-Nahl: 36] 

Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah subhanahu wa ta’aalaa.

Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (66); Upaya Rasulullah dalam menjaga kemurnian tauhid dan menutup semua jalan yang menuju kepada kemusyrikan

8.      Mi’raj ke langit.

Ulama berselisih tetang waktu terjadinya:

a)                   27 Rajab tahun 10 kenabian. Namun pendapa ini kurang tepat karena Khadijah wafat pada bulan Ramadhan tahun 10 kenabian, dan ia wafat sebelum diwajibkan shalat 5 waktu.

b)                  Ramadhan tahun 12 kenabian, enambelas bulan sebelum hijrah.

c)                   Muharram tahun 13 kenabian, setahun dua bulan sebelum hijrah.

d)                  Rabiul Awwal tahun 13 kenabian, setahun sebelum hijrah.

Lihat: Kisah perjalanan Isra’ dan Mi’raj

9.      Hijrah ke Madinah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«أُمِرْتُ بِقَرْيَةٍ تَأْكُلُ القُرَى، يَقُولُونَ يَثْرِبُ، وَهِيَ المَدِينَةُ، تَنْفِي النَّاسَ كَمَا يَنْفِي الكِيرُ خَبَثَ الحَدِيدِ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Aku diperintahkan hijrah ke suatu kampung yang akan memakan (mengalahkan) perkampungan lainnya, ia disebut Yatsrib, dan ia adalah Madinah. Akan membersihkan manusia sebagaimana tungku api membersihkan kotoran besi”. [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَنَا بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِينَ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ؟ قَالَ: «لَا تَرَاءَى نَارَاهُمَا» [سنن أبي داود: صحيح]

Aku berlepas diri dari setiap muslim yang bermukim di antara orang-orang musyrik". Mereka bertanya; kenapa wahai Rasulullah? Beliau berkata: "Jangan sampai api mereka saling melihat". [Sunan Abi Daud: Shahih]

Lihat: Awal perjalanan hijrah Nabi ﷺ 

10.  Syari’at hijrah tidak terputus.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:

«لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الفَتْحِ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ، وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا» [صحيح البخاري ومسلم]

"Tidak ada hijrah setelah kemenangan (pembebasan kota Mekkah) akan tetapi yang tetap ada adalah jihad dan niat. Maka jika kalian diperintahkan berangkat jihad, maka berangkatlah!". [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Motivasi hijrah di zaman Fitnah

11.  Rasulullah ﷺ wafat pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 hijriyah, di Madinah dalam kamar Aisyah dan dikuburkan di dalamnya.

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ meminta saat beliau sakit yang mana beliau wafat karenanya:

«أَيْنَ أَنَا غَدًا؟ أَيْنَ أَنَا غَدًا؟»

“Dimana saya besok? Di mana saya besok (tinggal di rumah istrinya)?”

Beliau menginginkan hari tinggalnya di rumah Aisyah, maka istri-istrinya mengizinkannya untuk tinggal di mana saja beliau suka, maka beliau tinggal di rumah Aisyah sampai beliau wafat.

Aisyah berkata: Maka Rasulullah ﷺ wafat pada hari giliranku, di rumahku. Kemudian Allah mencabut ruhnya dan sungguh kepala beliau berada di antara leher dan daguku, dan liurnya bercampur dengan liurku. [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Aisyah binti Abi Bakr dan keistimewaannya

Ø  Abu Bakr radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha:

«فِي أَيِّ يَوْمٍ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ؟»

“Pada hari apa Rasulullah ﷺ wafat?”

Aisyah menjawab:

«يَوْمَ الِاثْنَيْنِ» [صحيح البخاري]

“Hari senin”. [Shahih Bukhari]

Lihat: Keistimewaan hari Senin 

***

Bersambung …

Lihat juga: Syarah Tsalatsah Ushul (bagian 1)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...