بسم
الله الرحمن الرحيم
Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab
(1206H) rahimahullah berkata:
والناس إذا ماتوا يبعثون. والدليل قوله تعالى: ﴿مِنْهَا
خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى﴾ [طه: ٥٥]. وقوله تعالى: ﴿وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ
نَبَاتًا ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا﴾ [نوح: ١٧-١٨].
وبعد البعث محاسبون ومجزيون بأعمالهم. والدليل قوله تعالى:
﴿لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا
بِالْحُسْنَى﴾ [النجم: ٣١]،
ومن كذب بالبعث كفر. والدليل قوله تعالى: ﴿زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا
أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ
بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴾ [التغابن: ٧].
Dan
manusia apabila mati akan dibangkitkan (dihidupkan kembali). Dalilnya adalah
firman Allah Ta'ala: "Dari bumi (tanah) itulah Kami menciptakan
kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan
mengeluarkan kamu pada waktu yang lain." [Thaha: 55]. Dan firman Allah
Ta'ala: "Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan
sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah, dan (pada hari
kiamat) Dia akan mengeluarkan kamu dengan sebenar-benarnya." [Nuh:
17-18].
Dan
setelah dibangkitkan, mereka akan dihisab (dihitung) dan diberi balasan atas
amal-amal mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "Agar Dia
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah
mereka kerjakan, dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik
dengan pahala yang lebih baik (surga)." [Surah An-Najm: 31].
Dan
barangsiapa mendustakan kebangkitan, maka ia kafir. Dalilnya adalah firman
Allah Ta'ala: "Orang-orang kafir mengira bahwa mereka tidak akan
dibangkitkan. Katakanlah: 'Tidak! Demi Rabb-ku, kamu pasti akan dibangkitkan,
kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Dan yang
demikian itu adalah mudah bagi Allah.'" [Surah At-Taghabun: 7].
Syarah:
1. Manusia
setelah mati akan dihidupkan kembali.
Allah subhanahu wata’aalaa
berfirman:
{ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ
أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ} [الزمر:
68]
Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala
itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan
Allah). [Az-Zumar: 68]
Lihat: Perjalanan setelah kematian
2. Setelah
dibangkitkan, mereka akan dihisab (dihitung) dan diberi balasan atas amal-amal
mereka.
Dari Abu Barzah Al-Aslamiy radhiyallahu
'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا تَزُولُ قَدَمَا
عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ،
وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ
أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ» [سنن
الترمذي: صحيح]
"Kedua kaki seorang hamba tidak
berajak dari tempatnya di hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya yang ia
habiskan dengan melakukan apa, tentang ilmunya apa yang ia amalkan, tentang
hartanya dari mana ia dapat dan ia nafkahkan untuk apa, dan tentang jasadnya
pada hal apa ia gunakan". [Sunan Tirmidziy: Shahih]
Lihat: Yang halal dihisab, Yang haram diadzab
3. Barangsiapa
mendustakan hari kebangkitan, maka ia kafir.
Allah
subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{بَلِ الَّذِينَ لَا
يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ فِي الْعَذَابِ وَالضَّلَالِ الْبَعِيد} [سبأ: 8]
Tetapi orang-orang yang tidak beriman
kepada negeri akhirat berada dalam siksaan dan kesesatan yang jauh.
[Saba':8]
Lihat: 10 Pembatal Keislaman
***
وأرسل الله جميع الرسل مبشرين ومنذرين. والدليل قوله تعالى: ﴿رُسُلًا
مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ
بَعْدَ الرُّسُلِ﴾ [النساء: ١٦٥].
وأولهم نوح عليه السلام، وآخرهم محمد ﷺ. والدليل على أن أولهم نوح
عليه السلام قوله تعالى: ﴿إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى
نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ﴾ [النساء: ١٦٣].
وكل أمة بعث الله إليها رسولا من نوح إلى محمد يأمرهم بعبادة الله
وحده، وينهاهم عن عبادة الطاغوت. والدليل قوله تعالى: ﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي
كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾ [النحل: ٣٦].
Dan
Allah mengutus seluruh para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi
peringatan. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: "(Kami
mengutus) rasul-rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan,
agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah (diutusnya)
para rasul itu." [An-Nisa: 165].
Dan
rasul yang pertama adalah Nuh 'alaihissalam, dan yang terakhir adalah
Muhammad ﷺ.
Dalil bahwa rasul pertama adalah Nuh 'alaihissalam adalah firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah
mewahyukan kepada Nuh dan para nabi setelahnya." [An-Nisa: 163].
Dan
setiap umat, Allah mengutus kepada mereka seorang rasul dari (zaman) Nuh hingga
Muhammad, yang memerintahkan mereka untuk menyembah Allah semata dan melarang
mereka dari menyembah thaghut. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:
"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk
menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.'"
[An-Nahl: 36].
Syarah:
1)
Allah ta'aalaa mengutus seluruh para rasul sebagai pemberi kabar
gembira dan pemberi peringatan.
Allah
subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَمَا نُرْسِلُ
الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ ۖ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا
خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ} [الأنعام
: 48]
Dan tidaklah Kami mengutus para rasul
itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan.
Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. [Al-An'am: 48]
Lihat: Iman kepada Nabi dan Rasul Allah
2)
Rasul yang pertama adalah Nuh 'alaihissalam.
Dalam hadits syafa'at Kubra, Nabi Adam 'alaihissalam
berkata:
«ائْتُوا نُوحًا، أَوَّلَ
رَسُولٍ بَعَثَهُ الله»
"Datangilah Nuh, rasul pertama-tama
yang Allah utus."
Lihat: Syarah hadits tentang Syafa’at Kubra di padang mahsyar
3)
Muhammad ﷺ adalah Nabi dan
Rasul terakhir.
Allah
subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{مَا كَانَ مُحَمَّدٌ
أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ}
[الأحزاب: 40]
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak
dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup
nabi-nabi. [Al-Ahzaab:40]
Ø Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ
الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي، كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ
وَأَجْمَلَهُ، إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ
يَطُوفُونَ بِهِ، وَيَعْجَبُونَ لَهُ، وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ
اللَّبِنَةُ؟ قَالَ: فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Sesungguhnya perumpamaan aku dengan para nabi sebelumku seperti
seorang laki-laki yang membangun rumah dengan baik dan cantik kecuali satu
tempat batu bata dari satu sudut (yang belum terpasang). Maka orang-orang
berkeliling melihatnya dan mereka kagum seraya berkata: "Apakah tidak
sebaiknya jika satu batu bata ini dipasang?" Rasulullah ﷺ bersabda: "Akulah satu batu bata itu dan aku adalah
penutup para nabi". [Sahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Keistimewaan Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an
4)
Setiap umat, Allah mengutus kepada mereka seorang rasul,
yang memerintahkan mereka untuk menyembah Allah semata dan melarang mereka dari
menyembah thaghut.
Allah
subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَمَا أَرْسَلْنَا مِن
قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا
فَاعْبُدُونِ} [الأنبياء: 25]
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun
sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada
Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".
[Al-Anbiyaa': 25]
Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (1) Pentingnya tauhid
***
وافترض الله على جميع العباد الكفر بالطاغوت والإيمان بالله. قال ابن
القيم رحمه الله تعالى: الطاغوت ما تجاوز به العبد حده من معبود، أو متبوع، أو
مطاع. والطواغيت كثيرة، ورؤوسهم خمسة: إبليس لعنه الله، ومن عبد وهو راض، ومن دعا
الناس إلى عبادة نفسه، ومن ادعى شيئا من علم الغيب، ومن حكم بغير ما أنزل الله. والدليل قوله تعالى: ﴿لا
إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ
بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى﴾ [البقرة: ٢٥٦]. وهذا معنى لا إله إلا الله، وفي الحديث: «رأس الأمر
الإسلام، وعموده الصلاة، وذروة سنامه الجهاد في سبيل الله»
Dan
Allah mewajibkan atas seluruh hamba untuk kafir kepada thaghut dan beriman
kepada Allah. Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: "Thaghut adalah
segala sesuatu yang dengannya seorang hamba melampaui batasnya, baik berupa
sesembahan, yang diikuti, maupun yang ditaati."
Dan
thaghut itu banyak, dan pemimpinnya ada lima: (1) Iblis -semoga Allah melaknatnya-, (2) Orang yang disembah sedangkan
ia ridha (dengan penyembahan itu), (3) Orang yang menyeru manusia untuk
menyembah dirinya, (4) Orang yang mengaku mengetahui sesuatu dari ilmu gaib, (5)
Orang yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah. Dalilnya adalah
firman Allah Ta'ala: "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama
(Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.
Karena itu barangsiapa yang kafir kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka
sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang sangat kuat."
[Al-Baqarah: 256].
Dan
inilah makna Laa ilaaha illallah. Dan dalam hadits: "Kepala segala
urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah
jihad di jalan Allah."
Syarah:
1. Allah subhanah mewajibkan atas seluruh hamba untuk kafir kepada thaghut dan beriman
kepada Allah semata.
Allah
subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا
الطَّاغُوتَ أَن يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ ۚ
فَبَشِّرْ عِبَادِ} [الزمر : 17]
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut
(yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita
gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku [Az-Zumar:
17]
Lihat: Awas ada syirik!
2. Iblis
adalah rajanya thaghut.
Umar bin Khathab radhiyallahu
'anhu berkata:
«الطاغوت: الشيطان»
“Thaghut adalah syetan”. [Shahih Bukhari: Mu'allaq]
Ø Jabir radhiyallahu 'anhu berkata:
«الطواغيت: كهان كان ينزل
عليهم الشيطان، في كل حي واحد»
“Thaghut adalah para tukang ramal yang
didatangi syetan; yang ada pada setiap kabilah”. [Shahih Bukhari: Mu'allaq]
Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (24); Hukum sihir
3. Orang
yang disembah sedangkan ia ridha (dengan penyembahan itu).
Dari ‘Ady bin Hatim radhiyallahu
‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ
membaca firman Allah ta’alaa:
{اتَّخَذُوا
أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ} [التوبة: 31]
“Mereka menjadikan orang-orang alim dan
rahib-rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Allah.” [At-Taubah: 31]
Maka saya berkata kepada beliau: “Sungguh
kami tidaklah menyembah mereka”, Beliau bersabda:
«أَلَيْسَ يُحَرِّمُوْنَ
مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُوْنَهُ، وَيُحِلُّوْنَ مَا حَرَّمَ اللهُ
فَتُحِلُّوْنَهُ؟ فَقُلْتُ: بَلَى، قَالَ: فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ»
“Tidakkah mereka mengharamkan apa yang
telah dihalalkan Allah, lalu kalian pun mengharamkanya; dan tidakkah mereka itu
menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya? Aku
menjawab: ya, maka beliau bersabda: “itulah bentuk penyembahan kepada mereka.”
[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At Tirmidziy menyatakan hasan].
4. Orang
yang menyeru manusia untuk menyembah dirinya.
Allah
subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ (21)
ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىٰ (22) فَحَشَرَ فَنَادَىٰ (23) فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ
الْأَعْلَىٰ} [النازعات : 21-24]
Tetapi Fir'aun mendustakan dan
mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia
mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya)
berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi". [An-Nazi'at: 21-24]
5. Larangan
mendatangi orang yang mengaku mengetahui sesuatu dari ilmu gaib.
Dari salah seorang istri Nabi -ﷺ-, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ أَتَى عَرَّافًا
فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»
“Barangsiapa yang mendatangi peramal dan
menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara, maka shalatnya tidak diterima
selama 40 hari.” [Shahih Muslim]
Ø Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ أَتَى كَاهِنًا،
فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ»
“Barangsiapa yang mendatangi seorang dukun,
dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir
(ingkar) terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad ﷺ”. [Sunan Abi Daud: Shahih]
Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (26); Dukun (tukang ramal) dan sejenisnya
6. Larangan
berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah 'azza wajalla.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma
berkata:
«كَانَ أَبُو بَرْزَةَ
الْأَسْلَمِيُّ كَاهِنًا يَقْضِي بَيْنَ الْيَهُودِ فِيمَا يَتَنَافَرُونَ
إِلَيْهِ، فتنافرَ إِلَيْهِ نَاسٌ
مِنَ الْمُسْلِمِينَ، فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ {أَلَمْ تَرَ إِلَى
الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ
مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحاكَمُوا إِلَى الطاغوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ
يَكْفُرُوا بِهِ} إِلَى قَوْلِهِ: {إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا} [النساء: 60-62]» [المعجم الكبير للطبراني: صححه الشيخ
مقبل]
“Abu Barzah Al-Aslamiy dahulu adalah
seorang dukun yang memberi keputusan di antara kaum Yahudi terhadap perkara
yang mereka ajukan kepadanya. Lalu beberapa orang muslim ikut meminta keputusan
kepadanya, maka Allah ‘azza wajalla menurunkan firmanNya: {“Tidakkah kamu
memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang
diturunkan kepadamu, dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak
berhakim kepada Thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari
Thaghut itu}, sampai firmanNya: {“Sekali kali kami tidak menghendaki selain
penyelesain yang baik.”} [An-Nisaa': 60-62] [Al-Mu’jam Al-Kabir karya
Ath-Thabaraniy: Dishahihkan oleh syekh Muqbil]
Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (39); Berhakim kepada selain Allah dan RasulNya
7. Makna
Laa ilaaha illallah.
Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (6); Penjelasan makna tauhid dan persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah
8. Hadits:
"Kepala segala urusan adalah Islam ..."
Lihat penjelasannya di sini Syarah Arba’in hadits (29) Mu’adz; Amalan mendekatkan surga dan menjauhkan neraka
***
والله
أعلم. وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم.
Wallahu a'lam. Dan
semoga shalawat serta salam tercurah kepada Muhammad, keluarga, dan para
sahabatnya.
Lihat juga: Syarah Tsalatsah Ushul (bagian 2)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...