Sabtu, 17 Oktober 2026

Kitab Adab bab 51-55; Adab-adab berbicara

بسم الله الرحمن الرحيم

A.    Bab 51.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

 باب: قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ﴾ [الحج: ٣٠]

Bab: Firman Allah ta'aalaa {Jauhilah ucapan dusta} [Al-Hajj: 30]

Dalam bab ini imam Bukhari menjelaskan tetang larangan berdusta sebagaimana firman Allah ‘azza wajalla dalam surah "Al-Hajj" ayat 30 dan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Penjelasan ayat 30 surah Al-Hajj.

Lihat: Hadits Ibnu Mas’ud; Jujurlah jangan berdusta

Nb: Pada bab sebelumnya (bab 06) Imam Bukhari meriwayatkan 2 hadits tentang larangan berdusta, yaitu: Hadits Abu Bakrah dan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhuma.

Dari Abi Bakrah radhiallahu'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟» قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ»، وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ: «أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ، أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ». فَمَا زَالَ يَقُولُهَا، حَتَّى قلت: لا يسكت.

"Maukah kuberitahukan kepada kalian tentang sesuatu yang termasuk dosa-dosa besar?" Kami menjawab: "Tentu wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua." -Ketika itu beliau tengah bersandar, kemudian duduk melanjutkan sabdanya: "Hati-hatilah terhadap perkataan dusta dan kesaksian palsu, hati-hatilah terhadap perkataan dusta dan kesaksian palsu." Beliau terus saja mengulanginya hingga aku mengira beliau tidak akan diam."

Ø  Anas bin Malik radhiallahu'anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

«أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟» قَالَ: «قَوْلُ الزُّورِ، أَوْ قَالَ: شَهَادَةُ الزُّورِ»

"Maukah aku beritahukan kepada kalian yang termasuk dari dosa besar?" beliau bersabda, "Perkataan dusta atau beliau bersabda, "Kesaksian palsu."

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧١٠ - حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا [محمد بن عبد الرحمن بن المغيرة بن الحارث] ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الْمَقْبُرِيِّ [سعيد ين أبي سعيد كيسان]، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ».

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdirrahman bin Al-Mugirah bin Al-Harits] Ibnu Abu Dzi`b, dari Al-Maqburiy [Sa’id bin Abi Sa’id Kaisan], dari Ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Barang siapa tidak meninggalkan perkataan kotor, melakukan hal itu dan masa bodoh, maka Allah tidak butuh (amalannya) meskipun dia meninggalkan makanan dan minumannya (puasa)."

قَالَ أَحْمَدُ [بن يونس]: "أَفْهَمَنِي رَجُلٌ إِسْنَادَهُ".

Ahmad [bin Yunus] berkata, "Seorang laki-laki memahamkanku tentang isnad hadits ini".

Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada kitab Puasa bab (8) Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta

B.     Bab 52.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: مَا قِيلَ فِي ذِي الْوَجْهَيْنِ.

Bab: Tentang oportunis (bermuka dua)

Dalam bab ini, Imam Bukhari menjelaskan tentang bahaya sifat bermuka dua yang bertujuan untuk mendatangkan kerusakan, sebagaimana dalam hadits Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧١١ - حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ: حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَجِدُ مِنْ شرار النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ ذَا الْوَجْهَيْنِ، الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ، وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ».

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu dia berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Kamu akan mendapati orang yang paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat kelak adalah orang yang bermuka dua, yang datang dengan satu muka dan datang kepada orang lain dengan muka yang lain."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Biografi Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: Abu Hurairah dan keistimewaannya

2.      Bahaya bermuka dua untuk mengadu domba.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«مَا يَنْبَغِي لِذِي الْوَجْهَيْنِ أَنْ يَكُونَ أَمِينًا»

"Tidak pantas bagi orang yang bermuka dua untuk menjadi orang yang amanah." [Musnad Ahmad: Sanadnya kuat]

Ø  Ammar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ كَانَ لَهُ وَجْهَانِ فِي الدُّنْيَا كَانَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِسَانَانِ مِنْ نَارٍ»

"Barangsiapa yang memiliki dua wajah (bermuka dua) di dunia, maka pada hari kiamat ia akan memiliki dua lidah dari api neraka." [Sunan Abi Daud: Shahih]

3.      Salah satu sifat orang munafiq adalah bermuka dua.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ} [البقرة: 14]

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka (pemimpin mereka), mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok." [Al-Baqarah: 14]

{مُّذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا} [النساء : 143]

Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. [An-Nisa': 143]

Lihat: Surah Al-Munaafiquun; Sifat orang munafiq

4.      Adapun orang yang berwajah dua untuk kemaslahatan atau takut akan keburukannya maka itu dibolehkan.

Sebagaimana dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha pada bab sebelumnya bab 38 dan bab 48.

C.     Bab 53.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: مَنْ أَخْبَرَ صَاحِبَهُ بِمَا يُقَالُ فِيهِ.

Bab: Mengabari kawan mengenai apa yang dikatakan orang tetang dirinya.

Dalam bab ini Imam Bukhari menjelaskan tentang hukum menyampaikan komentar buruk seseorang kepada orang yang lain.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧١٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ [الثوري]، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَسَمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قِسْمَةً، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: وَاللَّهِ مَا أَرَادَ مُحَمَّدٌ بِهَذَا وَجْهَ اللَّهِ، فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَأَخْبَرْتُهُ، فَتَمَعَّرَ وَجْهُهُ، وَقَالَ: «رَحِمَ اللَّهُ مُوسَى، لَقَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ».

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Sufyan [Ats-Tsauriy], dari Al-A'masy, dari Abu Wa`il, dari Ibnu Mas'ud radhiallahu'anhu dia berkata, "Rasulullah ﷺ pernah membagikan suatu bagian, lantas seorang laki-laki dari Anshar berkata, "Demi Allah, dalam hal (pembagian) ini Muhammad tidak mengharapkan wajah Allah." Lalu saya langsung mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengabarkan kepada beliau, tiba-tiba wajah beliau berubah menjadi merah dan bersabda, "Semoga Allah merahmati Musa, sungguh dia lebih banyak disakiti daripada ini lalu dia bersabar."

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2)      Sifat kelompok Khawarij; Suka berkomentar buruk tentang penguasa.

Lihat sifat lain kaum Khawarij pada bab 18 

3)      Tidak boleh menghukumi niat (isi hati) seseorang.

4)      Boleh mengabari seseorang tetang perkataan buruk yang dikatakan atas dirinya jika ada maslahat.

Tapi jika tidak ada maslahat, maka tidak menyampaikannya lebih baik agar tidak terjadi permusuhan diantara manusia dan bisa tergolong berbuat namimah. Sebagaimana disebutkan:

أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ عَبْدِ الْمَلِكِ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ كَانَ جَالِسًا وَعِنْدَهُ الزُّهْرِيُّ فَجَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ لَهُ سُلَيْمَانُ: بَلَغَنِي أَنَّكَ وَقَعْتَ فِيَّ وَقُلْتَ كَذَا وَكَذَا. فَقَالَ الرَّجُلُ مَا فَعَلْتُ وَمَا قُلْتُ شَيْئًا فِيكَ، فَقَالَ لَهُ سُلَيْمَانُ: إِنَّ الَّذِي أَخْبَرَنِي كَانَ صَادِقًا. فَقَالَ الزُّهْرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: لَا يَكُونُ النَّمَّامُ صَدُوقًا، قَالَ سُلَيْمَانُ: صَدَقْتَ اذْهَبْ بِسَلَامَةٍ.

Sesungguhnya Sulaiman bin Abdul Malik, Amirul Mukminin, sedang duduk dan di sisinya ada Az-Zuhri. Lalu datang seorang laki-laki, maka Sulaiman berkata kepadanya: "Telah sampai kepadaku bahwa engkau menjelek-jelekkanku dan mengatakan ini dan itu." Maka laki-laki itu berkata: "Aku tidak melakukannya dan aku tidak mengatakan sesuatu pun tentangmu." Lalu Sulaiman berkata kepadanya: "Sesungguhnya orang yang memberitahuku adalah orang yang jujur." Maka Az-Zuhri radhiyallahu ta'ala 'anhu berkata: "Tidak mungkin seorang penebar fitnah (namim/adu domba) itu jujur." Sulaiman berkata: "Engkau benar. Pergilah dengan selamat." [Tanbiihul Gafilin]

5)      Sifat Rahmat bagi Allah ta’alaa.

6)      Kesabaran Nabi Musa ‘alaihissalam.

Lihat: Sebab-sebab kemenangan dari kisah Nabi Musa

7)      Melihat musibah orang lain yang lebih berat agar kita mempu bersabar atas musibah yang menimpa.

Lihat: Ringkasan 20 Kaidah Bersabar terhadap Gangguan Manusia

D.    Bab 54.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: مَا يُكْرَهُ مِنَ التَّمَادُحِ.

Bab: Dimakruhkan berlebihan dalam memuji

Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dua hadits dari Abu Musa Al-As’ariy dan Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhuma tentang larangan berlebihan dalam memuji yang bisa menimbulkan keburukan.

Pertama: Hadits Abi Musa radhiyallahu 'anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧١٣ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ صَبَّاحٍ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ: حَدَّثَنَا بُرَيْدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ [عامر بن عبد الله بن قيس]، عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ: سَمِعَ النَّبِيُّ ﷺ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ وَيُطْرِيهِ فِي الْمِدْحَةِ، فَقَالَ: «أَهْلَكْتُمْ، أَوْ: قَطَعْتُمْ ظَهْرَ الرَّجُلِ».

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shabbah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Zakariya', ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Buraid bin Abdillah bin Abi Burdah, dari Abu Burdah [Amir bin Abdillah bin Qais], dari Abu Musa, ia berkata, "Nabi ﷺ pernah mendengar seseorang yang memuji orang lain secara berlebihan. Lantas beliau bersabda, "Kalian telah binasa atau telah memutuskan punggung seseorang."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Biografi Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2.      Larangan memuji secara berlebihan.

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:

«لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ» [صحيح البخاري]

"Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana kaum Nashrani telah berlebihan memuji Ibnu Maryam, karena sesungguhnya aku ini hanya hamba-Nya. Maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya". [Shahih Bukhari]

Lihat: Mencintai Nabi; Antara sikap berlebihan dan antipati

Kedua: Hadits Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧١٤ - حَدَّثَنَا آدَمُ [ابن أبي إياس]: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ خَالِدٍ [بن مهران]، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ: أَنَّ رَجُلًا ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ فَأَثْنَى عَلَيْهِ رَجُلٌ خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «وَيْحَكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ - يَقُولُهُ مِرَارًا - إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا لَا مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يُرَى أَنَّهُ كَذَلِكَ، والله حَسِيبُهُ، وَلَا يُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا»

Telah menceritakan kepada kami Adam, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Khalid [bin Mihran] dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari Ayahnya bahwa seorang laki-laki disebut-sebut disamping Nabi ﷺ, lalu laki-laki lain memuji kebaikan laki-laki tersebut, lalu Nabi ﷺ bersabda, "Celaka kamu, kamu telah memenggal leher saudaramu." -Beliau mengatakannya hingga berkali-kali- bila salah seorang dari kalian memuji temannya -tidak mustahil- hendaklah mengucapkan: 'Aku kira fulan seperti ini dan ini, walaupun jika diperlihatkan ia memang seperti itu, dan Allah lah yang akan menilainya, supaya ia tidak menyucikan seorang pun atas Allah."

قَالَ وُهَيْبٌ، عَنْ خَالِدٍ: «وَيْلَكَ».

Wuhaib mengatakan dari Khalid, "Wailaka (celaka kamu)."

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi Abu Bakrah Nufai' bin Al-Harits radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2)      Allah ta'aalaa lebih tahu siapa yang pantas dipuji.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى} [النجم: 32]

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci (memuji diri sendiri), Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. [An-Najm:32]

{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا} [النساء: 49]

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih (memuji diri sendiri)? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun. [An-Nisaa’:49]

Lihat: Adab berkomunikasi

E.     Bab 55.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: مَنْ أَثْنَى عَلَى أَخِيهِ بِمَا يَعْلَمُ.

Bab: Orang yang memuji saudaranya dengan apa yang ia ketahui

Dalam bab ini imam Bukhari menjelaskan tentang bolehnya memuji jika tidak menimbulkan keburukan, sebagaimana dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash yang disebutkan secara mu’allaq dan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum.

Pertama: Hadits Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

وَقَالَ سَعْدٌ: «مَا سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ لِأَحَدٍ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ: إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، إِلَّا لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ»

Dan Sa‘d berkata: "Aku tidak pernah mendengar Nabi ﷺ menyatakan bahwa seseorang yang berjalan di muka bumi ini adalah penghuni surga, kecuali untuk ‘Abdullah bin Salam."

Nb: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab "Manaqibul Anshar" dengan sanad dan matan yang utuh;

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: «مَا سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ لِأَحَدٍ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ: إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، إِلَّا لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ. قَالَ: وَفِيهِ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: ﴿وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى مِثْلِهِ﴾. الْآيَةَ».

Dari ‘Amir bin Sa‘d bin Abi Waqqash, dari ayahnya (Sa‘d bin Abi Waqqash), ia berkata: "Aku tidak pernah mendengar Nabi ﷺ menyatakan bahwa seseorang yang berjalan di muka bumi ini adalah penghuni surga, kecuali untuk ‘Abdullah bin Salam." Ia (Sa‘d) berkata: "Dan mengenai beliau (Abdullah bin Salam) inilah ayat ini turun: {Dan seorang saksi dari Bani Israil menyaksikan keserupaannya (dengan kitab-kitab sebelumnya)} [Al-Ahqaf: 10]."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Biografi Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: Keistimewaan Sa’ad bin Abi Waqqash

2.      Keutamaan Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu.

Dalam riwayat lain;

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أُتِيَ بِقَصْعَةٍ فَأَكَلَ مِنْهَا، فَفَضَلَتْ فَضْلَةٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «يَجِيءُ رَجُلٌ مِنْ هَذَا الْفَجِّ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَأْكُلُ هَذِهِ الْفَضْلَةَ» قَالَ سَعْدٌ: وَكُنْتُ تَرَكْتُ أَخِي عُمَيْرًا يَتَوَضَّأُ، قَالَ: فَقُلْتُ: هُوَ عُمَيْرٌ، قَالَ: فَجَاءَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلامٍ فَأَكَلَهَا [مسند أحمد: حسن]

Bahwa sebuah piring besar berisi makanan diberikan kepada Nabi ﷺ, lalu beliau memakannya dan masih tersisa. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, "Akan datang seorang lelaki dari jalan ini, salah seorang penghuni Surga, dia memakan sisa makanan ini." Sa'd berkata, "Dan ketika itu aku tinggalkan saudaraku yaitu Umair sedang berwudu, maka aku berkata (dalam hatiku), 'lelaki itu pasti Umair, ' akan tetapi datanglah Abdullah bin Salam kemudian memakan sisa makanan Rasulullah." [Musnad Ahmad: Hasan]

Lihat biografi Abdullah bin Salam di sini: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

3.      Tidak boleh mengklaim surga atau nereka untuk seseorang kecuali ada dalil dari Al-Qur’an dan Hadits shahih.

4.      Ada beberapa sahabat yang dihukumi surga secara khusus oleh Nabi ﷺ.

Lihat: Sepuluh sahabat terbaik dijamin masuk surga

5.      Boleh memuji selama tidak berlebihan dan tidak membahayakan.

Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu;

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ: أَرَأَيْتَ الرجل يعمل العمل من الخير، ويحمده الناس عليه؟ قال: «تلك عاجل بُشرى المؤمن». [صحيح مسلم]

Dikatakan kepada Rasulullah ﷺ: "Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang beramal kebaikan, lalu manusia memujinya atas amal tersebut?" Beliau bersabda: "Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin". [Shahih Muslim]

Kedua: Hadits Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧١٥ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ [بن عيينة]: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ حِينَ ذَكَرَ فِي الْإِزَارِ مَا ذَكَرَ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ إِزَارِي يَسْقُطُ مِنْ أَحَدِ شِقَّيْهِ؟ قَالَ: «إِنَّكَ لَسْتَ مِنْهُمْ».

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah, dari Salim, dari Ayahnya bahwa ketika Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang kain sarung sebagaimana yang beliau sebutkan, Abu Bakr berkata, "Wahai Rasulullah, salah satu dari kain sarungku yang sebelah selalu terjatuh," Beliau bersabda, "Sesungguhnya kamu tidak termasuk dari mereka (yang menjulurkan kain sarung sampai di bawah mata kaki)."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Biografi Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2.      Larangan isbal.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ، لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي، إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ» [صحيح البخاري]

"Barangsiapa menyeret kainnya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat." Maka Abu Bakar berkata: "Sesungguhnya salah satu sisi kainku melorot, kecuali jika aku menjaganya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya engkau tidak melakukannya karena sombong." [Shahih Bukhari]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ» [صحيح البخاري]

“Apa yang sampai di bawah mata kaki dari sarung (celana) maka (akan disiksa) dalam neraka”. [Shahih Bukhari]

Ø  Dalam riwayat lain:

«لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا» [صحيح البخاري ومسلم]

“Allah tidak akan memandang pada hari kiamat kepada orang yang menjulurkan pakaiannya (melebihi mata kaki) dengan rasa sombong”. [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Adab berpakaian dalam Islam

3.      Boleh memanjangkan pakaian bagi laki-laki jika ada udzur.

4.      Keistimewaan Abu Bakr radhiyallahu 'anhu.

Lihat: Keistimewaan Abu Bakr Ash-Shiddiiq

Wallahu a’lam!

Lihat juga: Kitab Adab bab 45-50; Gibah dan Adu Domba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...