Jumat, 13 Februari 2026

Menyuburkan Iman, Memanen Pahala: Merawat Hubungan dengan Al-Qur'an

بسم الله الرحمن الرحيم

Pembuka

a.      Salam & Ucapan Syukur:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah subhanahuwata'aalaa, Rabb Yang menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk, cahaya, dan rahmat bagi seluruh alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad , sang penerima dan penyampai wahyu, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

b.      Pengantar:

Hadirin yang dirahmati Allah, izinkan saya membuka ceramah ini dengan sebuah pertanyaan yang mungkin sering terlintas di hati kita: “Bagaimana caranya agar iman kita tidak layu, tidak kering kerontang oleh teriknya kehidupan dunia? Bagaimana agar pahala kita terus mengalir, bahkan ketika kita sedang tidur atau saat kita telah tiada?”

Jawabannya, salah satu intinya, ada dalam hablumminallah (hubungan dengan Allah) melalui firman-Nya: Al-Qur’anul Karim. Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca di bulan Ramadhan, bukan sekadar hiasan lemari. Ia adalah nutrisi bagi hati, pupuk bagi iman, dan ladang pahala yang tak terhingga.

A.    Iman bisa bertambah dan berkurang; ibarat pohon, bisa semaking subur, kokoh, tinggi dan lebat atau menjadi lemah, gersang, layu, bahkan bisa mati.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ . تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ} [إبراهيم: 24-25]

"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik [kalimat tauhid] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhan-nya". [Ibrahim: 24-25]

Lihat: 10 Buah Keimanan

{هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ} [الفتح: 4]

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). [Al-Fath:4]

{وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا} [المدثر: 31]

Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat, dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya. [Al-Muddatsir:31]

{الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ} [آل عمران: 173]

Orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia (orang Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka!" Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung". [Ali Imran: 172-173]

{وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا} [الأحزاب: 22]

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu (yang ingin menyerang), mereka berkata : "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya [kemenangan] kepada kita". Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. [Al-Ahzaab:22]

Lihat: Kitab Iman bab 34; Bertambah dan berkurangnya iman

B.     Al-Qur’an Sebagai Nutrisi dan Pupuk bagi Iman.

Allah subhanahuwata'aalaa berfirman:

{وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا} [الإسراء: 82]

Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. [Al-Israa':82]

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ} [يونس: 57]

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. [Yunus:57]

{قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ} [فصلت: 44]

Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan obat penawar bagi orang-orang mukmin. [Fushilat:44]

1.      Iman itu seperti tanaman. Ia butuh disiram, dipupuk, dan dilindungi dari hama. Al-Qur’an adalah semua itu.

Allah subhanahuwata'aalaa berfirman:

{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ} [الأنفال: 2]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. [Al-Anfaal:2]

{وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ (124) وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ} [التوبة: 124-125]

Dan apabila diturunkan suatu surat, Maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat Ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. [At-Taubah: 124-125]

Ø  Jundub bin Abdillah radhiyallahu 'anhu berkata:

«كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا»

"Kami bersama Nabi dan kami adalah pemuda-pemuda yang kuat, maka kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur'an, kemudian kami mempelajari Al-Qur'an sehingga bertambahlah iman kami karenanya." [Sunan Ibnu Majah: Shahih]

Lihat: Keistimewaan Al-Qur'an

2.      Menyirami Iman dengan Tadabbur: Membaca dengan memahami.

Bayangkan saat kita membaca ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi, kisah para Nabi, atau janji-janji surga dan neraka. Hati yang tadinya kering bisa menjadi basah oleh keagungan Allah. Seperti tanah yang disiram, hati menjadi subur untuk menerima kebenaran. Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ} [ص: 29]

Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (mempelajari dan mengamalkan) ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai akal. [Shaad:29]

Lihat: Bagaimana meraih keberkahan Al-Qur’an

{أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا} [النساء: 82]

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [An-Nisaa’:82]

{أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا} [محمد: 24]

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran, ataukah hati mereka terkunci? [Muhammad:24]

Ø  Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Abu Bakr bertanya: Ya Rasulallah, engkau telah beruban!

Rasulullah bersabda:

«شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالوَاقِعَةُ، وَالمُرْسَلَاتُ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ» [سنن الترمذي: صحيح]

“Aku beruban karena (memikirkan kandungan) surah Huud, Al-Waqi’ah, Al-Mursalaat, An-Naba’, dan At-Takwiir”. [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Liat: Sifat ahli Al-Qur’an

3.      Memupuk Iman dengan Tafakkur: Merenungkan maknanya dalam kehidupan kita.

Ayat tentang bersyukur mengajak kita melihat nikmat yang sering terlupa. Ayat tentang sabar menguatkan kita dalam ujian. Proses merenung ini adalah pupuk yang membuat akar iman semakin kuat dan dalam. Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ} [الحشر: 21]

Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran Ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. [Al-Hasyr:21]

4.      Melindungi Iman dengan Pengamalan:

Al-Qur’an bukan untuk diketahui, tapi untuk diamalkan. Perintah shalat, zakat, jujur, berbuat baik kepada orang tua—semua itu adalah aplikasi yang membuat iman kita tumbuh kokoh dan berbuah. Iman tanpa amal adalah tanaman yang layu.

Ziyad bin Labid radhiyallahu 'anhu berkata:

ذَكَرَ النَّبِيُّ ﷺ شَيْئًا، فَقَالَ: «ذَاكَ عِنْدَ أَوَانِ ذَهَابِ الْعِلْمِ» ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ، وَنَحْنُ نَقْرَأُ الْقُرْآنَ، وَنُقْرِئُهُ أَبْنَاءَنَا، وَيُقْرِئُهُ أَبْنَاؤُنَا أَبْنَاءَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَرَاكَ مِنْ أَفْقَهِ رَجُلٍ بِالْمَدِينَةِ، أَوَلَيْسَ هَذِهِ الْيَهُودُ، وَالنَّصَارَى، يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ، وَالْإِنْجِيلَ لَا يَعْمَلُونَ بِشَيْءٍ مِمَّا فِيهِمَا؟» [سنن ابن ماجه: صحيح]

"Nabi pernah menyebutkan sesuatu, lalu beliau bersabda, "Dan itulah saat hilangnya ilmu." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana ilmu bisa hilang? Sedangkan kami masih membaca Al-Qur'an dan kami juga membacakannya (mengajarkannya) kepada anak-anak kami, dan anak-anak kami juga akan membacakannya kepada keturunannya sampai hari kiamat datang." Beliau bersabda, "Kebangetan kamu ini wahai Ziyad, padahal aku melihatmu adalah orang yang paling memahami agama di Madinah ini! Bukankah orang-orang Yahudi dan Nasrani juga membaca Taurat dan Injil, namun mereka tidak mengamalkan sedikitpun apa yang terkandung di dalamnya." [Sunan Ibnu Majah: Shahih]

Ø  Abu Abdirrahman Abdullah bin Habib As-Sulamiy rahimahullah berkata:

«حَدَّثَنَا مَنْ كَانَ يُقْرِئُنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْتَرِئُونَ مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ عَشْرَ آيَاتٍ، فَلَا يَأْخُذُونَ فِي الْعَشْرِ الْأُخْرَى حَتَّى يَعْلَمُوا مَا فِي هَذِهِ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ، قَالُوا: فَعَلِمْنَا الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ»

Diriwayatkan kepada kami oleh orang-orang yang dahulu mengajarkan Al-Qur'an kepada kami dari kalangan sahabat Nabi , bahwa mereka biasa "mempelajari sepuluh ayat dari Rasulullah ", kemudian mereka tidak melanjutkan ke sepuluh ayat berikutnya sampai mereka memahami ilmu dan mengamalkan isi sepuluh ayat tersebut. Mereka berkata: "Maka kami pun mempelajari ilmu dan mengamalkannya." [Musnad Ahmad: Hasan]

Lihat: Pentingnya mendidik anak sejak dini dengan Al-Qur'an

5.      Kisah Nyata:

Banyak yang masuk Islam hanya dengan mendengar atau membaca ayat Al-Qur'an. Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ} [المائدة : 83]

Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad). [Al-Maidah: 83]

Diantara mereka, seperti:

Ø  Rombongan jin langsung beriman setelah mendengarkan bacaan Al-Qu'an.

Lihat: Tafsir surah Al-Jinn

Ø  Pengaruh Al-Qur'an kepada An-Jazasyiy sehingga menerima Islam.

Lihat: Usaha kaum Musyrikin menggagalkan hijrah ke Habasyah

Ø  Beberapa muallaf di masa sekarang yang masuk Islam setelah membaca atau mendengarkan Al-Qu'an.

C.     Al-Qur’an Sebagai Ladang Pahala yang Tak Pernah Berhenti.

Selain menyuburkan iman, Allah telah menjadikan interaksi dengan Al-Qur’an sebagai sumber pahala yang sangat mudah dan berlipat.

1)      Pahala Membaca (Tilawah):

Dari Ibnu Mas'ud -radhiyallahu 'anhu-; Rasulullah bersabda:

«مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ {الم} حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ» [سنن الترمذي: صحيح]

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur'an maka ia akan mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan  ألم  satu huruf akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf". [Sunan Tirmidzi: Shahih]

Bayangkan, membaca 1 huruf = 10 pahala. Ini adalah investasi akhirat termurah dan termudah!

Ø  Uqbah bin 'Amir radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda:

«أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ، أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ، فَيَأْتِيَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ، وَلَا قَطْعِ رَحِمٍ؟»

Siapa diantara kalian yang suka pergi ke Buthaan atau ke Al-'Aqiiq setiap hari dan mendapatkan dari sana dua ekor unta tanpa dosa dan tidak pula memutuskan siraturahmi (diambil dengan halal dan suka rela)?

Sahabat menjawab: Ya Rasulullah, kami suka dengan itu.

Maka Rasulullah bersabda:

«أَفَلَا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمُ، أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلَاثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الْإِبِلِ» [صحيح مسلم]

Tidakkah seorang dari kalian pergi ke mesjid dan belajar atau membaca dua ayat dari Al-Qur'an, maka itu lebih baik baginya dari dua ekor onta, tiga ayat lebih baik dari tiga onta, empat ayat lebih baik dari empat onta, dan semakin banyak jumlah ayatnya lebih baik dari onta sebanyak itu. [Sahih Muslim]

Ø  Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah bersabda:

«يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ، وَارْتَقِ، وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا» [سنن أبي داود: صحيح]

“Dikatakan kepada ahli Qur'an: Bacalah dan naiklah (ke derajat surga), baca dengan perlahan sebagaimana engkau membacanya di dunia, karena sesungguhnya tempatmu di surga ada pada akhir ayat yang engkau baca”. [Sunan Abu Daud: Shahih]

Ø  Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha; Rasulullah bersabda:

«الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ، وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ، لَهُ أَجْرَانِ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Orang yang lancar membaca Al-Qur'an bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti, dan yang membaca Al-Qur'an dengan tersendat-sendat kesulitan membacanya mendapatkan dua pahala”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Keutamaan membaca Al-Qur'an

2)      Pahala Mempelajari dan Mengajarkan (Ta’lim):

Setiap kali kita menghadiri majelis taklim, mengikuti kajian tafsir, atau sekadar mengajari anak kita satu surat pendek, itu adalah amal jariyah yang pahalanya mengalir. Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ} [آل عمران: 79]

Akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani*, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. [Ali 'Imran:79]

*”Rabbani” ialah orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah subhanahu wata'ala.

Ø  Dari Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» [صحيح البخاري]

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya". [Sahih Bukhari]

Lihat: Pentingnya belajar Al-Qur'an

3)      Pahala Mendengarkan dengan Khushu’:

Allah memerintahkan untuk mendengarkan Al-Qur’an dengan penuh perhatian. Mendengarkan murotal dengan khusyuk juga bernilai ibadah dan menenteramkan hati. Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ} [الأعراف: 204]

Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. [Al-A'raaf:204]

Ø  Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi berkata kepadaku:

«اقْرَأْ عَلَيَّ»

“Bacakanlah Al-Qur’an untukku!”

Aku berkata: Apakah aku membacakannya untukmu, padahal ia diturunkan padamu?

Rasulullah menjawab:

«فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي»

“Aku senang mendengarnya dari selainku”

Ibnu Mas’ud berkata: Maka aku membacakan untuknya surah An-Nisaa’, sampai aku membaca:

{فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا} [النساء: 41]

Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu). [An-Nisaa’:41]

Rasulullah bersabda:

«أَمْسِكْ»

“Berhentilah”

Ibnu Mas’ud berkata: Maka ketika saya lihat, ternyata kedua matanya meneteskan air mata. [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Ibnu Bathal rahimahullah berkata:

«يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ أَحَبَّ أَنْ يَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِهِ لِيَكُونَ عَرْضُ الْقُرْآنِ سُنَّةً، وَيَحْتَمِلَ أَنْ يَكُونَ لِكَيْ يَتَدَبَّرَهُ وَيَتَفَهَّمَهُ، وَذَلِكَ أَنَّ الْمُسْتَمِعَ أَقْوَى عَلَى التَّدَبُّرِ وَنَفْسُهُ أَخْلَى وَأَنْشَطُ لِذَلِكَ مِنَ الْقَارِئِ لِاشْتِغَالِهِ بِالْقِرَاءَةِ وَأَحْكَامِهَا»

Kemungkinan, Nabi lebih suka mendengarkannya dari orang lain agar pembacaan Al-Qur'an menjadi sunnah, dan kemungkinan juga agar dia dapat merenungkan dan memahaminya. Hal ini karena pendengar lebih mampu untuk merenungkan dan jiwanya lebih kosong serta lebih aktif untuk hal itu dibandingkan dengan pembaca, karena pembaca sibuk dengan bacaan dan kaidah-kaidahnya. [Fathul Bari karya Ibnu Hajar 9/94]

Lihat: Adab membaca Al-Qur'an

4)      Pahala yang Terus Mengalir (Amal Jariyah):

Jika kita mewaqafkan mushaf, membangun tempat tahfiz, atau menyumbang untuk program pembelajaran Al-Qur’an, maka setiap kali Al-Qur’an itu dibaca atau dipelajari dari apa yang kita sediakan, pahalanya akan terus mengalir kepada kita. Ini adalah “pupuk abadi” untuk kebun pahala kita.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda:

«إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ» [سنن الترمذي: صححه الألباني]

"Jika seorang manusia meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga: Sedekah jariah, ilmu yang ia ajarkan (diamalkan setelah ia meninggal), dan anak saleh yang berdo'a untuknya". [Sunan At-Tirmidzi: Sahih]

Lihat: Keutamaan ilmu, ulama dan penuntut ilmu

Penutup & Aksi Nyata

a)      Kesimpulan:

Hadirin yang mulia, Al-Qur’an adalah anugerah terbesar. Ia adalah “pupuk” yang menyuburkan iman kita, sekaligus “lahan” tempat kita menanam benih pahala.

Hubungan kita dengan Al-Qur’an menentukan kualitas iman dan kelimpahan pahala kita. Jangan jadikan hubungan ini jauh dan asing.

b)     Ajakan untuk Aksi Nyata (Actionable Steps):

Mari kita buat komitmen kecil yang konsisten:

1.       Set Target Membaca: Minimal 1 hari 1 halaman (atau 5 ayat) dengan disertai terjemahan.

2.       Hadiri Majelis Ilmu: Luangkan waktu 1-2 jam perpekan untuk hadir kajian tafsir atau tahsin.

3.       Dengarkan dalam Aktivitas: Saat di perjalanan, masak, atau bersantai, perdengarkan murotal Al-Qur’an.

4.       Amalkan dalam Perilaku: Pilih 1 ayat atau pesan moral dari Al-Qur’an untuk diamalkan hari ini (misal: tersenyum, berkata jujur, menahan marah).

5.       Berbagi Kebaikan: Ajak keluarga ngaji bersama, atau sedekahkan mushaf kepada yang membutuhkan.

c)      Doa Penutup:

“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, penerang dada kami, pelipur duka kami, dan penghapus kesalahan kami. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai imam, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagi kami. Ya Allah, ingatkan kami jika kami lalai, ajarilah kami apa yang tidak kami ketahui, dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya sepanjang malam dan siang. Jadikan Al-Qur’an sebagai hujjah (pembela) untuk kami, bukan sebagai hujjah yang membelakangi kami”

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sumber pokok materi: “IA DeepSeek” dengan sedikit koreksi dan tambahan ayat Al-Qur'an dan hadits.

Lihat juga: "Membangun Pilar Iman: Mengurai Sebab-Sebab Keshalihan Umat dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sunnah" - Tafsir surah "Al-Qari'ah" - Langkah menuju kemuliaan bersama Al-Qur’an dan pentingnya berta’awun di dalamnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...