Sabtu, 01 Agustus 2026

MERAWAT KEIKHLASAN MERAIH RIDHA ALLAH

بسم الله الرحمن الرحيم

                Pernahkah kita bertanya dalam hati, "Mengapa aku belajar? Mengapa aku mengajar? Untuk apa semua jerih payah ini?"

                Pertanyaan ini sangat fundamental. Karena jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan kualitas amal kita di hadapan Allah. Maka pada kesempatan yang berbahagia ini, mari kita renungkan bersama tentang "Bagaimana merawat keikhlasan dalam belajar dan mengajar untuk meraih Ridha Allah."

A.   Hakikat Ikhlas

                Ikhlas adalah kata yang sering kita ucapkan, namun seberapa dalam kita memahaminya? Ulama mendefinisikan ikhlas sebagai:

"Membersihkan amal dari segala kotoran yang menodai, yaitu keinginan untuk dilihat manusia dan tujuan-tujuan duniawi lainnya."

                Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ} [الزمر: 2]

"Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya." [Az-Zumar: 2]

            Termasuk ibadah dalam ayat ini adalah belajar dan mengajar. Ya, menuntut ilmu dan mengajarkannya adalah bentuk ibadah yang agung, tapi hanya jika dilakukan dengan ikhlas.

Lihat: Jadikan amalan kita bernilai ibadah

B.     Pentingnya Ikhlas dalam Belajar

            Mengapa ikhlas sangat penting dalam belajar? Mari kita renungkan hadits yang sangat terkenal: Rasulullah bersabda:

"إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى"

"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." [Shahih Bukhari dan Muslim]

            Bayangkan seseorang yang belajar dengan tekun, berjam-jam mengaji, menghafal Al-Qur'an, memahami kitab kuning, tetapi niatnya hanya ingin dipanggil "ustadz" atau "kyai", ingin dihormati orang, atau ingin mendapatkan ijazah untuk pekerjaan dunia. Maka apa yang ia dapatkan? Hanya predikat dan penghormatan itu. Ia kehilangan pahala besar dari Allah subhanahu wata'aalaa.

            Sementara itu, ada yang belajar dengan niat karena Allah, ingin memahami agama-Nya, ingin mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain. Meskipun belajarnya tidak secerdas yang pertama, namun setiap huruf yang dibaca, setiap tetes keringat yang jatuh, setiap rasa lelah yang dirasakan, semuanya bernilai ibadah di sisi Allah subhanahu wata'aalaa.

            Maka, Rawatlah keikhlasan dalam belajar, karena ini adalah kunci keberkahan ilmu.  Ibnu Abbas radiyallahu 'anhuma berkata:

"إنّما يَحفظ الرّجُلُ على قَدر نِيّتِه" [الجامع لأخلاق الراوي للخطيب البغدادي]

"Sesungguhnya seseorang hanya bisa menghafal sesuai dengan kadar niatnya". [Al-Jami' li akhlaq ar-rawiy]

Ø  Ibrahim An-Nakha'iy rahimahullah berkata:

"مَنِ ابْتَغَى شَيْئًا مِنَ الْعِلْمِ يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ، آتَاهُ اللَّهُ مِنْهُ مَا يَكْفِيهِ" [سنن الدارمي: صحيح]

"Barangsiapa yang menuntut ilmu mengharapkan wajah Allah subhanahu maka Allah akan memberinya ilmu yang cukup untuknya". [Sunan Ad-Darimiy: Sahih]

Ø  Imam Malik rahimahullah pernah berkata:

"لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ إِنَّمَا الْعِلْمُ نُورٌ يَضَعَهُ اللَّهُ فِي الْقُلُوبِ"

"Ilmu itu bukan tentang banyaknya riwayat, tetapi tentang cahaya yang Allah letakkan di dalam hati." [Al-Ilma']

Dan cahaya itu hanya akan masuk ke hati yang ikhlas.

Lihat: Keutamaan ilmu dan ulama

C.     Pentingnya Ikhlas dalam Mengajar

            Tidak hanya dalam belajar, dalam mengajar pun keikhlasan adalah nyawa dari amal tersebut. Banyak di antara kalian yang kelak akan menjadi guru, ustadz, atau da'i. Maka perhatikanlah. Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا  تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ} [البقرة : 265]

"Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat." [Al-Baqarah: 265]

            Para ulama menafsirkan "menafkahkan harta" di sini dalam arti luas, termasuk menafkahkan ilmu. Seorang guru yang mengajar karena Allah, ilmu yang ia ajarkan adalah sedekah jariyah yang mengalir pahalanya terus-menerus.

            Namun waspadalah! Ada bahaya besar dalam mengajar, yaitu riya' (ingin dipuji) dan sum'ah (ingin didengar orang). Rasulullah mengingatkan dalam hadits qudsi bahwa Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

"أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ" [صحيح مسلم]

"Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa yang melakukan amalah yang menyekutukan Aku di dalamnya dengan selain-Ku maka Aku abaikan ia dengan sekutunya". [Sahih Muslim]

            Bayangkan, seseorang mengajar dengan fasih, disegani murid-muridnya, tetapi di dalam hatinya terselip keinginan agar disebut "guru yang hebat" atau "ustadz yang pandai". Maka amalnya hangus, dan ia justru mendapatkan murka Allah.

            Maka Rawatlah keikhlasan dalam mengajar. Jadikanlah setiap kata yang engkau sampaikan di depan para santri sebagai amal yang ditujukan semata-mata untuk Allah subhanahu wata'aalaa.

Lihat: Akhlak ulama dan penuntut ilmu

D.    Cara Merawat Keikhlasan

            Lalu bagaimana cara merawat keikhlasan ini? Beberapa amalan yang dapat kita lakukan:

1)      Memperbaharui Niat Setiap Hari.

                Setiap kali hendak belajar atau mengajar, katakan dalam hati: "Aku belajar/mengajar karena Allah, untuk memahami agama-Nya, mengamalkannya, dan menyampaikannya."

                Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata:

"مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ."

"Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku perjuangkan daripada niatku, karena ia selalu berubah-ubah." [Al-Jami’ liakhlaqirrawi]

2)      Mengingat Kematian dan Akhirat

                Bayangkan bahwa maut bisa datang kapan saja. Jika ajal menjemput saat kita sedang belajar atau mengajar, apakah kita siap menghadap Allah dengan amalan yang ikhlas?

                Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

"مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ ىناه وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ" يَعْنِي رِيحَهَا [سنن أبى داود: صححه الألباني]

"Barangsiapa yang menuntu ilmu yang seharusnya diniatkan demi Allah namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kenikmatan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga di hari kiamat". [Sunan Abi Daud: Sahih]

Ø  Dari Ka'b bin Malik radiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

"مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ العُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ" [سنن الترمذي: حسنه الألباني]

"Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan niat untuk bersaing (berdebat) dengan para ulama atau membanggakannya (pamer) di hadapan orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan wajah orang-orang kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke neraka". [Sunan Ibnu Majah: Hasan]

Ø  Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ ... وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ [صحيح مسلم]

"Sesungguhnya orang yang pertama diadili pada hari kiamat, ... dan orang yang menuntut ilmu, mengajarkannya, dan ia membaca Al-Qur'an. Kemudian ia didatangkan dan diperlihatkan nikmat yang diberikan kepadanya di dunia maka ia mengingatnya. Allah bertanya: "Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu?" Ia menjawab: "Aku menuntut ilmu, aku mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur'an demi Engkau!" Allah berkata: "Engkau bohong, akan tetapi engkau menuntut ilmu supaya engkau disebut seorang alim, dan engkau membaca Al-Qur'an agar disebut seorang Qari' dan itu telah dikatakan!" Kemudian ia diseret dengan mukanya sampai ia dilemparkan ke neraka. [Sahih Muslim]

Lihat: Keutamaan banyak mengingat mati

3)      Muhasabah (Introspeksi) Diri

            Setiap malam, evaluasi diri: "Apakah hari ini aku belajar/mengajar karena Allah atau karena yang lain?"

            Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

"كُنَّا نَطْلُبُ الْعِلْمَ لِلدُّنْيَا فَجَرَّنَا إِلَى الْآخِرَةِ"

"Dahulu kami menuntut ilmu karena tujuan dunia, namun kemudian ilmu itu menyeret (mengantarkan) kami kepada akhirat." [Jami'u Bayanil Ilmi]

Ø  Ḥabīb bin Abī Tsābit rahimahullah berkata:

"طَلَبْنَا هَذَا الْأَمْرَ وَلَيْسَ لَنَا فِيهِ نِيَّةٌ ثُمَّ جَاءَتِ النِّيَّةُ بَعْدُ"

"Kami menuntut ilmu ini (agama) padahal ketika itu kami belum memiliki niat (ikhlas) di dalamnya. Kemudian niat itu datang setelahnya." [Jami'u Bayanil Ilmi]

4)      Menyembunyikan Amal Kebaikan

            Tidak perlu mengumumkan seberapa banyak kita belajar atau mengajar. Diam-diam beribadah adalah ciri orang yang ikhlas. Kecuali jika ada maslahat yang lebih besar.

5)      Berteman dengan Orang Shalih

            Lingkungan sangat mempengaruhi keikhlasan kita. Bergaul dengan santri yang juga menjaga niatnya akan saling mengingatkan.

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

"الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ" [سنن أبي داود: حسنه الألباني]

"Seseorang itu dipengaruhi oleh perilaku orang yang dicintainnya, maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang ia cintai. [Sunan Abi Daud: Hasan]

6)      Doa

            Berdoalah selalu kepada Allah subhanahu wata'aalaa agar diberikan keikhlasan. Rasulullah mengajarkan doa:

"اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا"

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima."

Lihat: Fawaid hadits Ummu Salamah; Do’a setelah shalat subuh

Ø  Abu Hurairah radiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah sering membaca do'a ini ...

اللَّهُمَّ انْفَعَنيْ بِمَا عَلَّمْتَنِيْ وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعَنِيْ وَزِدْنِيْ عِلْمًا

"Ya Allah .. berikanlah aku manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan padaku, dan ajarkanlah aku ilmu yang bermanfaat untukku, dan tambahkanlah aku ilmu." [Sunan Tirmidzi: Sahih]

Ø  Zaid bin Arqam radiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah sering membaca ...

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

"Ya Allah .. sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu', jiwa yang tidak puas, dan do'a yang tidak terkabulkan." [Shahih Muslim]

Ilmu yang bermanfaat tidak mungkin diraih kecuali dengan niat yang Ikhlas.

Lihat: Bagaimana menuntut ilmu

E.     Penutup

                Rawat keikhlasan dalam setiap hembusan nafas, dalam setiap huruf yang kita baca, dalam setiap kata yang kita sampaikan. Karena hanya dengan ikhlas, belajar dan mengajar kita menjadi ibadah, dan dengan ibadah kita meraih keridhaan Allah.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ} [البينة: 5]

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." [Al-Bayyinah: 5]

            Semoga Allah memberikan kita semua keikhlasan dalam belajar dan mengajar. Semoga setiap langkah kita menuju ilmu adalah langkah menuju surga-Nya.

                Semoga setiap kata yang kita sampaikan menjadi cahaya yang menerangi hati dan menjadi amal jariyah yang tak terputus pahalanya. Amin ya Rabbal 'alamin.

Wallahu a’lam!

Sumber pokok materi: “IA DeepSeek” dengan beberapa tambahan ayat Al-Qur'an, hadits dan perkataan ulama salaf.

Lihat juga: Pola Pendampingan Peserta Didik Berdasarkan Tinjauan Syari'at - Metode dalam berpikir ilmiyah dan Islami - Semangat salaf menimba ilmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...