بسم
الله الرحمن الرحيم
Pernahkah
kita bertanya dalam hati, "Mengapa aku belajar? Mengapa aku mengajar?
Untuk apa semua jerih payah ini?"
Pertanyaan
ini sangat fundamental. Karena jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan
kualitas amal kita di hadapan Allah. Maka pada kesempatan yang berbahagia ini,
mari kita renungkan bersama tentang "Bagaimana merawat keikhlasan dalam belajar
dan mengajar untuk meraih Ridha Allah."
A.
Hakikat Ikhlas
Ikhlas
adalah kata yang sering kita ucapkan, namun seberapa dalam kita memahaminya?
Ulama mendefinisikan ikhlas sebagai:
"Membersihkan amal dari segala kotoran yang
menodai, yaitu keinginan untuk dilihat manusia dan tujuan-tujuan duniawi
lainnya."
Allah subhanahu
wata'aalaa berfirman:
{إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ
بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ} [الزمر:
2]
"Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab kepadamu dengan
membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya."
[Az-Zumar: 2]
Termasuk ibadah dalam ayat ini adalah belajar dan mengajar.
Ya, menuntut ilmu dan mengajarkannya adalah bentuk ibadah yang agung, tapi
hanya jika dilakukan dengan ikhlas.
Lihat: Jadikan amalan kita bernilai ibadah
B.
Pentingnya Ikhlas dalam
Belajar
Mengapa ikhlas sangat penting dalam belajar? Mari kita
renungkan hadits yang sangat terkenal: Rasulullah ﷺ bersabda:
"إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ،
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى"
"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap
orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." [Shahih Bukhari
dan Muslim]
Bayangkan seseorang yang belajar dengan tekun, berjam-jam
mengaji, menghafal Al-Qur'an, memahami kitab kuning, tetapi niatnya hanya ingin
dipanggil "ustadz" atau "kyai", ingin dihormati orang, atau
ingin mendapatkan ijazah untuk pekerjaan dunia. Maka apa yang ia dapatkan?
Hanya predikat dan penghormatan itu. Ia kehilangan pahala besar dari Allah subhanahu
wata'aalaa.
Sementara itu, ada yang belajar dengan niat karena Allah,
ingin memahami agama-Nya, ingin mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang
lain. Meskipun belajarnya tidak secerdas yang pertama, namun setiap huruf yang
dibaca, setiap tetes keringat yang jatuh, setiap rasa lelah yang dirasakan,
semuanya bernilai ibadah di sisi Allah subhanahu wata'aalaa.
Maka, Rawatlah keikhlasan dalam belajar, karena ini adalah
kunci keberkahan ilmu. Ibnu Abbas radiyallahu 'anhuma
berkata:
"إنّما
يَحفظ الرّجُلُ على قَدر نِيّتِه" [الجامع لأخلاق الراوي للخطيب البغدادي]
"Sesungguhnya seseorang hanya bisa menghafal sesuai
dengan kadar niatnya". [Al-Jami' li akhlaq ar-rawiy]
Ø Ibrahim
An-Nakha'iy rahimahullah
berkata:
"مَنِ ابْتَغَى شَيْئًا مِنَ الْعِلْمِ
يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ، آتَاهُ اللَّهُ مِنْهُ مَا يَكْفِيهِ"
[سنن الدارمي:
صحيح]
"Barangsiapa yang menuntut ilmu mengharapkan wajah Allah
subhanahu maka Allah akan memberinya ilmu yang cukup untuknya". [Sunan
Ad-Darimiy: Sahih]
Ø Imam Malik
rahimahullah pernah berkata:
"لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ
الرِّوَايَةِ إِنَّمَا الْعِلْمُ نُورٌ يَضَعَهُ اللَّهُ فِي الْقُلُوبِ"
"Ilmu itu bukan tentang banyaknya riwayat, tetapi
tentang cahaya yang Allah letakkan di dalam hati." [Al-Ilma']
Dan cahaya itu hanya akan masuk ke hati yang ikhlas.
Lihat: Keutamaan ilmu dan ulama
C.
Pentingnya Ikhlas dalam
Mengajar
Tidak hanya dalam belajar, dalam mengajar pun keikhlasan
adalah nyawa dari amal tersebut. Banyak di antara kalian yang kelak akan
menjadi guru, ustadz, atau da'i. Maka perhatikanlah. Allah subhanahu
wata'aalaa berfirman:
{وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ
ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ
بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ
يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ} [البقرة : 265]
"Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya
karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah
kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun
itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya,
maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu
perbuat."
[Al-Baqarah: 265]
Para ulama menafsirkan "menafkahkan harta" di sini
dalam arti luas, termasuk menafkahkan ilmu. Seorang guru yang mengajar karena
Allah, ilmu yang ia ajarkan adalah sedekah jariyah yang mengalir pahalanya
terus-menerus.
Namun waspadalah! Ada bahaya besar dalam mengajar, yaitu
riya' (ingin dipuji) dan sum'ah (ingin didengar orang). Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam hadits qudsi bahwa Allah subhanahu
wata'aalaa berfirman:
"أَنَا
أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي
غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ" [صحيح مسلم]
"Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu,
barangsiapa yang melakukan amalah yang menyekutukan Aku di dalamnya dengan
selain-Ku maka Aku abaikan ia dengan sekutunya". [Sahih Muslim]
Bayangkan, seseorang mengajar dengan fasih, disegani
murid-muridnya, tetapi di dalam hatinya terselip keinginan agar disebut
"guru yang hebat" atau "ustadz yang pandai". Maka amalnya
hangus, dan ia justru mendapatkan murka Allah.
Maka Rawatlah keikhlasan dalam mengajar. Jadikanlah setiap
kata yang engkau sampaikan di depan para santri sebagai amal yang ditujukan
semata-mata untuk Allah subhanahu wata'aalaa.
Lihat: Akhlak ulama dan penuntut ilmu
D.
Cara Merawat Keikhlasan
Lalu bagaimana cara merawat keikhlasan ini? Beberapa amalan
yang dapat kita lakukan:
1)
Memperbaharui Niat
Setiap Hari.
Setiap
kali hendak belajar atau mengajar, katakan dalam hati: "Aku
belajar/mengajar karena Allah, untuk memahami agama-Nya, mengamalkannya, dan menyampaikannya."
Sufyan
Ats-Tsauri rahimahullah berkata:
"مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ
مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ."
"Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku perjuangkan
daripada niatku, karena ia selalu berubah-ubah." [Al-Jami’ liakhlaqirrawi]
2)
Mengingat Kematian dan
Akhirat
Bayangkan
bahwa maut bisa datang kapan saja. Jika ajal menjemput saat kita sedang belajar
atau mengajar, apakah kita siap menghadap Allah dengan amalan yang ikhlas?
Dari Abu
Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا
يُبْتَغَى بِهِ ىناه وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا
لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ" يَعْنِي رِيحَهَا [سنن أبى داود: صححه الألباني]
"Barangsiapa yang menuntu ilmu yang seharusnya diniatkan
demi Allah namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kenikmatan
dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga di hari kiamat". [Sunan Abi
Daud: Sahih]
Ø Dari Ka'b bin
Malik radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ
العُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ
النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ" [سنن الترمذي: حسنه الألباني]
"Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan niat untuk
bersaing (berdebat) dengan para ulama atau membanggakannya (pamer) di hadapan
orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan wajah orang-orang kepadanya, maka
Allah akan memasukkannya ke neraka". [Sunan Ibnu Majah: Hasan]
Ø Dari Abu
Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ
النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ ... وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ،
وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ
فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ،
وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ
تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ
قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى
أُلْقِيَ فِي النَّارِ [صحيح مسلم]
"Sesungguhnya orang yang pertama diadili pada hari
kiamat, ... dan orang yang menuntut ilmu, mengajarkannya, dan ia membaca
Al-Qur'an. Kemudian ia didatangkan dan diperlihatkan nikmat yang diberikan
kepadanya di dunia maka ia mengingatnya. Allah bertanya: "Apa yang kau
lakukan dengan nikmat itu?" Ia menjawab: "Aku menuntut ilmu, aku
mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur'an demi Engkau!" Allah berkata:
"Engkau bohong, akan tetapi engkau menuntut ilmu supaya engkau disebut
seorang alim, dan engkau membaca Al-Qur'an agar disebut seorang Qari' dan itu
telah dikatakan!" Kemudian ia diseret dengan mukanya sampai ia dilemparkan
ke neraka. [Sahih Muslim]
Lihat: Keutamaan banyak mengingat mati
3)
Muhasabah (Introspeksi)
Diri
Setiap malam, evaluasi diri: "Apakah hari ini aku
belajar/mengajar karena Allah atau karena yang lain?"
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
"كُنَّا نَطْلُبُ الْعِلْمَ لِلدُّنْيَا
فَجَرَّنَا إِلَى الْآخِرَةِ"
"Dahulu kami menuntut ilmu karena tujuan dunia, namun
kemudian ilmu itu menyeret (mengantarkan) kami kepada akhirat." [Jami'u
Bayanil Ilmi]
Ø Ḥabīb bin Abī
Tsābit rahimahullah
berkata:
"طَلَبْنَا هَذَا الْأَمْرَ وَلَيْسَ
لَنَا فِيهِ نِيَّةٌ ثُمَّ جَاءَتِ النِّيَّةُ بَعْدُ"
"Kami menuntut ilmu ini (agama) padahal ketika itu kami
belum memiliki niat (ikhlas) di dalamnya. Kemudian niat itu datang
setelahnya." [Jami'u Bayanil Ilmi]
4)
Menyembunyikan Amal
Kebaikan
Tidak perlu mengumumkan seberapa banyak kita belajar atau
mengajar. Diam-diam beribadah adalah ciri orang yang ikhlas. Kecuali jika ada
maslahat yang lebih besar.
5)
Berteman dengan Orang
Shalih
Lingkungan sangat mempengaruhi keikhlasan kita. Bergaul
dengan santri yang juga menjaga niatnya akan saling mengingatkan.
Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah
ﷺ bersabda:
"الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ،
فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ" [سنن أبي داود: حسنه الألباني]
"Seseorang itu dipengaruhi oleh perilaku orang yang
dicintainnya, maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang ia cintai. [Sunan
Abi Daud: Hasan]
6)
Doa
Berdoalah selalu kepada Allah subhanahu wata'aalaa agar
diberikan keikhlasan. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
"اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا
نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا"
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat,
rezeki yang baik, dan amal yang diterima."
Lihat: Fawaid hadits Ummu Salamah; Do’a setelah shalat subuh
Ø Abu Hurairah radiyallahu 'anhu berkata:
Rasulullah ﷺ sering membaca do'a ini ...
اللَّهُمَّ
انْفَعَنيْ بِمَا عَلَّمْتَنِيْ وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعَنِيْ وَزِدْنِيْ
عِلْمًا
"Ya Allah .. berikanlah aku manfaat dari ilmu yang telah
Engkau ajarkan padaku, dan ajarkanlah aku ilmu yang bermanfaat untukku, dan
tambahkanlah aku ilmu." [Sunan Tirmidzi: Sahih]
Ø Zaid bin
Arqam radiyallahu
'anhu berkata: Rasulullah ﷺ
sering membaca ...
اللَّهُمَّ
إِنِّيْ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ
نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
"Ya Allah .. sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari
ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu', jiwa yang tidak puas, dan
do'a yang tidak terkabulkan." [Shahih Muslim]
Ilmu yang bermanfaat tidak mungkin diraih kecuali dengan niat
yang Ikhlas.
Lihat: Bagaimana menuntut ilmu
E.
Penutup
Rawat
keikhlasan dalam setiap hembusan nafas, dalam setiap huruf yang kita baca,
dalam setiap kata yang kita sampaikan. Karena hanya dengan ikhlas, belajar dan
mengajar kita menjadi ibadah, dan dengan ibadah kita meraih keridhaan Allah.
Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:
{وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ
مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا
الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ} [البينة:
5]
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan
lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang
demikian itulah agama yang lurus." [Al-Bayyinah: 5]
Semoga Allah memberikan kita semua keikhlasan dalam belajar
dan mengajar. Semoga setiap langkah kita menuju ilmu adalah langkah menuju
surga-Nya.
Semoga
setiap kata yang kita sampaikan menjadi cahaya yang menerangi hati dan menjadi
amal jariyah yang tak terputus pahalanya. Amin ya Rabbal 'alamin.
Wallahu a’lam!
Sumber pokok materi: “IA DeepSeek” dengan beberapa tambahan ayat Al-Qur'an, hadits dan perkataan ulama salaf.
Lihat juga: Pola Pendampingan Peserta Didik Berdasarkan Tinjauan Syari'at - Metode dalam berpikir ilmiyah dan Islami - Semangat salaf menimba ilmu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...