Jumat, 21 Agustus 2026

Kitab Adab bab 39; Bagusnya akhlak dan kedermawanan serta dibencinya kebakhilan

بسم الله الرحمن الرحيم

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٣٩ - باب: حُسْنِ الْخُلُقِ وَالسَّخَاءِ، وَمَا يُكْرَهُ مِنَ الْبُخْلِ.

Bab: Bagusnya akhlak dan kedermawanan serta dibencinya kebakhilan

                Dalam bab ini imam Bukhari menjelaskan tentang bentuk-bentuk akhlak yang baik seperti kedermawanan dan jauh dari sifat kikir.

                Imam bukhari menyebutkan 2 hadits mu'allaq dari Ibnu Abbas dan Abu Dzar, dan meriwayatkan 6 hadits muttashil dari Anas (dua hadits), Jabir, Abdullah bin 'Amr, Sahl bin Sa'ad dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhum.

A.    Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ»

Dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi adalah manusia yang paling dermawan dengan kebaikan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan”.

Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (7) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam paling dermawan

B.     Hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

وَقَالَ أَبُو ذَرٍّ، لَمَّا بَلَغَهُ مَبْعَثُ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ لِأَخِيهِ: "ارْكَبْ إِلَى هَذَا الْوَادِي فَاسْمَعْ مِنْ قَوْلِهِ"، فَرَجَعَ فَقَالَ: «رَأَيْتُهُ يَأْمُرُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ»

Dan Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata, ketika kabar tentang diutusnya Nabi sampai kepadanya, ia berkata kepada saudaranya, "Pergilah ke lembah ini (Mekah), lalu dengarkanlah perkataannya." Maka saudaranya kembali dan berkata, "Aku melihat beliau menyeru kepada akhlak-akhlak yang mulia."

Nb: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan sanad dan matan yang lengkap dalam kitab "Fadhail As-Shahabah" bab Islam Abi Dzar radhiyallahu 'anhu no.3648.

Dan sudah dijelaskan pada Kisah islamnya Abu Dzar

C.     Hadits Anas radhiyallahu ‘anhu (pertama).

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٨٦ - حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، هُوَ ابْنُ زَيْدٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ أَحْسَنَ النَّاسِ، وَأَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَشْجَعَ النَّاسِ، وَلَقَدْ فَزِعَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَانْطَلَقَ النَّاسُ قِبَلَ الصَّوْتِ، فَاسْتَقْبَلَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ قَدْ سَبَقَ النَّاسَ إِلَى الصَّوْتِ، وَهُوَ يَقُولُ: "لم تُرَاعُوا لم تُرَاعُوا". وَهُوَ عَلَى فَرَسٍ لِأَبِي طَلْحَةَ عُرْيٍ مَا عَلَيْهِ سَرْجٌ، فِي عُنُقِهِ سَيْفٌ، فَقَالَ: لَقَدْ وَجَدْتُهُ بَحْرًا. أَوْ: إِنَّهُ لَبَحْرٌ»

Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin 'Aun, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Zaid, dari Tsabit, dari Anas dia berkata, Nabi adalah sosok yang paling baik (perawakannya), orang yang paling dermawan dan pemberani, Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suatu suara, lalu orang-orang keluar ke arah datangnya suara itu. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Rasulullah yang hendak pulang. Rupanya beliau telah mendahului mereka ke tempat datangnya suara itu. Beliau mengendarai kuda yang dipinjamnya dari Abu Thalhah, beliau tidak membawa lampu sambil menyandang pedang beliau bersabda, "Jangan takut! Jangan takut!" kata Anas, "Kami dapati beliau tengah menunggang kuda yang berjalan cepat atau sesungguhnya kudanya berlari kencang."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.       Biografi Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2.       Rasulullah manusia paling pemberani.

Ali radhiyallahu 'anhu berkata:

«رَأَيْتُنَا يَوْمَ بَدْرٍ وَنَحْنُ نَلُوذُ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ، وَهُوَ أَقْرَبُنَا إِلَى الْعَدُوِّ، وَكَانَ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ يَوْمَئِذٍ بَأْسًا»

"Sungguh aku melihat kami pada hari perang Badar, dan kami berlindung kepada Rasulullah , sementara beliau berada paling dekat dengan musuh, dan beliau hari itu adalah orang yang paling pemberani." [Musnad Ahmad: Sahih]

Lihat: Akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

3.       Memberikan rasa aman kepada orang lain.

Abdulrahman bin Abi Laila -rahimahullah- berkata: "Para sahabat Muhammad menceritakan kepada kami, bahwa mereka pernah berjalan bersama Nabi , lalu seorang di antara mereka tertidur. Maka sebagian yang lain pergi mengambil tali miliknya, sehingga ia pun terkejut (ketika bangun). Maka Nabi bersabda:

«لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا»

'Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim lainnya.'" [Sunan Abi Daud: Shahih]

D.    Hadits Jabir radhiyallahu 'anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٨٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ [بن سعيد الثوري]، عَنِ [محمد] ابْنِ الْمُنْكَدِرِ قَالَ: سَمِعْتُ جَابِرًا رضي الله عنه يَقُولُ: «مَا سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ عَنْ شَيْءٍ قَطُّ فَقَالَ: لَا»

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Sufyan [bin Sa’id Ats-Tsauriy], dari [Muhammad] Ibnu Al Munkadir, dia berkata: Saya mendengar Jabir radhiallahu'anhu berkata, Nabi tidak pernah dimintai sesuatu lalu beliau berkata, "Tidak."

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2)      Sikap dermawan Nabi .

Anas bin Malik radiyallahu 'anhu berkata:

«مَا سُئِلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى الْإِسْلَامِ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ، قَالَ: فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ، فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ، فَقَالَ: يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا، فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِي عَطَاءً لَا يَخْشَى الْفَاقَةَ»

"Tidak pernah Rasulullah dimintai sesuatu karena Islam, melainkan selalu dipenuhinya. Pada suatu hari datang kepada beliau seorang laki-laki, lalu diberinya seekor kambing di antara dua bukit. Kemudian orang itu pulang ke kampungnya dan berseru kepada kaumnya: "Hai, kaumku! Masuk Islam-lah kalian semuanya! Sesungguhnya Muhammad telah memberiku suatu pemberian yang dia sendiri tidak takut miskin.”  [Sahih Bukhari]

Lihat: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai suri teladan terbaik

3)      Sifat dermawan tanda keimanan.

Lihat: Iman dan kikir tidak akan bersatu dalam Hati

4)      Boleh menolak permintaan jika memberinya akan berdampak buruk.

Sa'ad bin Abi Waqqashradhiyallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah memberi kepada beberapa orang dan aku duduk di antara mereka, lalu Rasulullah membiarkan seseorang dari mereka dan tidak memberinya seseuatu padahal orang itu yang paling aku kagumi dari mereka, maka aku mendatangi Rasulullah dan berbisik kepadanya: Kenapa engkau tidak memberi si Fulan, demi Allah sesungguhnya aku melihat ia adalah seorang yang beriman?

Rasulullah menjawab: Atau ia seorang muslim?

Kemudian aku diam sejenak, kemudian aku tidak tahan dengan apa yang aku ketahui tentang orang itu, lalu aku berkata: Ya Rasulullah, kenapa engkau tidak memberi si Fulan, demi Allah sesungguhnya aku melihat ia adalah seorang yang beriman?

Rasulullah menjawab: Atau ia seorang muslim?

Kemudian aku diam sejenak, kemudian aku tidak tahan dengan apa yang aku ketahui tentang orang itu, lalu aku berkata: Ya Rasulullah, kenapa engkau tidak memberi si Fulan, demi Allah sesungguhnya aku melihat ia adalah seorang yang beriman?

Rasulullah menjawab: Atau ia seorang muslim?

Kemudian Rasulullah bersabda:

«إِنِّي لَأُعْطِي الرَّجُلَ، وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ، خَشْيَةَ أَنْ يُكَبَّ فِي النَّارِ عَلَى وَجْهِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Sesungguhnya aku memberi kepada seseorang padahal selain dia (yang tidak kuberi) lebih aku cintai darinya karena khawatir pemberian itu menyebabkan ia dilemparkan ke neraka dengan wajahnya”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Meminta, Memberi, dan Menerima

5)      Memberi atau tidak mesti karena Allah.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda:                                                                    

«مَنْ أَحَبَّ لِلهِ، وَأَبْغَضَ لِلهِ، وَأَعْطَى لِلهِ، وَمَنَعَ لِلهِ، فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ»

"Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh ia telah menyempurnakan imannya." [Sunan Abi Daud: Hasan]

E.     Hadits Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٨٨ - حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ [بن غياث]: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ: حَدَّثَنِي شَقِيقٌ، عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو يُحَدِّثُنَا، إِذْ قَالَ: لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَإِنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا»

Telah menceritakan kepada kami 'Umar bin Hafsh [bin Giyats], ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Syaqiq, dari Masruq, dia berkata, "Kami pernah duduk-duduk sambil berbincang-bincang bersama Abdullah bin 'Amru, tiba-tiba dia berkata, "Rasulullah tidak pernah berbuat keji dan tidak pula menyuruh berbuat keji, bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling mulia akhlaknya."

Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada bab sebelumnya (bab 38).

F.     Hadits Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhuma.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٨٩ - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ: حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ [محمد بن مطرف] قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ [سلمة بن دينار]، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ بِبُرْدَةٍ، فَقَالَ سَهْلٌ لِلْقَوْمِ: أَتَدْرُونَ مَا الْبُرْدَةُ؟ فَقَالَ الْقَوْمُ: هِيَ شملة، فَقَالَ سَهْلٌ: هِيَ شَمْلَةٌ مَنْسُوجَةٌ فِيهَا حَاشِيَتُهَا، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَكْسُوكَ هَذِهِ، فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ ﷺ مُحْتَاجًا إِلَيْهَا فَلَبِسَهَا، فَرَآهَا عَلَيْهِ رَجُلٌ مِنَ الصَّحَابَةِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَحْسَنَ هَذِهِ، فَاكْسُنِيهَا، فَقَالَ: «نَعَمْ». فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ ﷺ لَامَهُ أَصْحَابُهُ، قَالُوا: مَا أَحْسَنْتَ حِينَ رَأَيْتَ النَّبِيَّ ﷺ أَخَذَهَا مُحْتَاجًا إِلَيْهَا، ثُمَّ سَأَلْتَهُ إِيَّاهَا، وَقَدْ عَرَفْتَ أَنَّهُ لَا يُسْأَلُ شَيْئًا فَيَمْنَعَهُ، فَقَالَ: "رَجَوْتُ بَرَكَتَهَا حِينَ لَبِسَهَا النَّبِيُّ ﷺ، لَعَلِّي أُكَفَّنُ فِيهَا".

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Maryam, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan [Muhammad bin Mutharrif], dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Hazim [Salamah bin Dinar], dari Sahl bin Sa'd dia berkata, "Seorang wanita datang kepada Nabi dengan membawa selimut bersulam. Sahal bertanya: Apa kalian tahu selimut apakah itu? Mereka menjawab, "Ya, ia adalah mantel." Sahal berkata, Ia adalah mantel bersulam yang ada rendanya. Lalu wanita itu berkata, "Wahai Rasulullah! aku membawanya untuk mengenakannya pada Anda." Lalu Nabi mengambilnya karena beliau sangat memerlukannya. Kemudian beliau mengenakan mantel tersebut ternyata salah seorang dari sahabat melihat beliau mengenakan mantel itu lalu berkata, "Alangkah bagusnya selimut ini, kenakanlah untukku wahai Rasulullah!" Rasulullah bersabda, "Ya." Ketika Nabi beranjak pergi, orang-orang pun mencela sahabat tersebut sambil berkata, "Demi Allah, kau berlaku kurang ajar. Kamu tahu, Rasulullah diberi selimut itu saat beliau memerlukannya, malahan kau memintanya, padahal kau tahu beliau tidak pernah menolak seorang peminta pun." Sahabat itu berkata, "Aku hanya mengharap keberkahannya ketika Nabi mengenakannya semoga kain itu menjadi kafanku pada saat aku meninggal."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.       Biografi Sahl bin Sa’d As-Sa’idiy radhiyallahu 'anhu.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2.       Menerima pemberian tanpa meminta, terkhusus jika membutuhkan.

Abdullah bin Umarradhiyallahu ‘anhuma- berkata: Rasulullah memberi Umar bin Khattab sesuatu, lalu Umar berkata kepadanya: Berikan ya Rasulullah kepada yang lebih membutuhkan dariku!

Maka Rasulullah bersabda kepadanya:

«خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ أَوْ تَصَدَّقْ بِهِ، وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ، وَمَا لَا، فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Ambil ini dan jadikan sebagai hartamu atau kau sedekahkan, dan apa saja yang mendatangimu dari harta dunia ini tanpa kau damba-dambakan dan meminta-minta maka ambillah, dan jika tidak maka jangan kau mengikuti nafsu dirimu”.

Salim berkata: Oleh karena itu, Ibnu Umar tidak meminta kepada seseorang sesuatu pun dan tidak menolak sesuatu yang diberikan kepadanya. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dari Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu-; Nabi besabda:

«مَا الَّذِي يُعْطِي مِنْ سَعَةٍ بِأَعْظَمَ أَجْرًا مِنَ الَّذِي يَقْبَلُ إِذَا كَانَ مُحْتَاجًا»

“Tidaklah yang memberi dalam kondisi berkecukupan (kaya) lebih besar pahalanya dari yang menerima jika ia membutukan”. [Hasan ligairih]

3.       Boleh meminta jika membutuhkan.

Dari Samurah bin Jundabradhiyallahu ‘anhu-; Rasulullah bersabda:

«إِنَّ المَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ، إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا، أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ» [سنن الترمذي: صححه الألباني]

“Sesungguhnya meminta adalah aib yang mencoreng wajah seseorang, kecuali seorang yang meminta kepada penguasa (haknya), atau pada urusan yang mendesak (darurat)”. [Sunan Tirmidziy: Sahih]

4.       Mengambil berkah dari sisa manusia tidak boleh kepada selain Nabi.

5.       Mempersiapkan kain kafan sebelum wafat.

6.       Selalu mengingat kematian.

Lihat: Keutamaan banyak mengingat mati

G.    Hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٩٠ - حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ [الحكم بن نافع]: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: أَخْبَرَنِي حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ: أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ، وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ، وَيُلْقَى الشُّحُّ، وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ». قَالُوا: وَمَا الْهَرْجُ؟ قَالَ: «الْقَتْلُ الْقَتْلُ»

Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman [Al-Hakam bin Nafi’], ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Humaid bin Abdurrahman, bahwa Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: "Zaman semakin cepat, amalan kian berkurang, kekikiran semakin banyak dan Al-Harj semakin merajalela." Para sahabat bertanya, "Apakah Al-Harj itu?" Beliau menjawab, "Pembunuhan, pembunuhan."

Nb: Sudah dijelaskan pada Kitab Ilmu Bab 24: Orang yang menjawab fatwa dengan isyarat tangan atau kepada

Dengan lafadz:

«يُقْبَضُ العِلْمُ، وَيَظْهَرُ الجَهْلُ وَالفِتَنُ، وَيَكْثُرُ الهَرْجُ»، قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الهَرْجُ؟ فَقَالَ: «هَكَذَا» بِيَدِهِ فَحَرَّفَهَا، كَأَنَّهُ يُرِيدُ القَتْلَ.

"Ilmu akan diangkat dan akan tersebar kebodohan dan fitnah merajalela serta banyak timbul kekacauan". Ditanyakan kepada beliau , "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kekacauan?" Maka Rasul menjawab, "Begini". Nabi memberi isyarat dengan tangannya lalu memiringkannya. Seakan yang dimaksudnya adalah pembunuhan.

Penjelasan tambahan hadits ini:

Diantara tanda dekatnya hari kiamat:

a) Zaman semakin cepat.

b) Amalan ibadah kian berkurang.

c) Kekikiran semakin banyak.

Lihat: Cela sifat kikir dan penakut

H.    Hadits Anas radhiyallahu 'anhu (kedua).

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٩١ - حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ: سَمِعَ سَلَّامَ بْنَ مِسْكِينٍ قَالَ: سَمِعْتُ ثَابِتًا يَقُولُ: حَدَّثَنَا أَنَسٌ رضي الله عنه قَالَ: «خَدَمْتُ النَّبِيَّ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ، وَلَا: لِمَ صَنَعْتَ؟ وَلَا: أَلَّا صَنَعْتَ؟»

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il, bahwasanya ia mendengar Sallam bin Miskin berkata: Aku mendengar Tsabit berkata: Telah menceritakan kepada kami Anas radhiallahu'anhu, ia berkata: "Aku telah melayani Nabi selama sepuluh tahun, dan belum pernah beliau mengutarakan kekesalannya kepadaku dengan ungkapan 'huft,' dan tidak pernah pula berkomentar, 'Apa yang telah kau perbuat? Mengapa engkau tak berbuat yang demikian?!'"

Penjelasan singkat hadits ini:

1.       Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Anas melayani Nabi atas permintaan Abu Thalhah suami ibunya.

«لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمَدِينَةَ، أَخَذَ أَبُو طَلْحَةَ بِيَدِي، فَانْطَلَقَ بِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَنَسًا غُلَامٌ كَيِّسٌ فَلْيَخْدُمْكَ، قَالَ: فَخَدَمْتُهُ فِي الْحَضَرِ وَالسَّفَرِ، فَوَاللَّهِ مَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ: لِمَ صَنَعْتَ هَذَا هَكَذَا؟، وَلَا لِشَيْءٍ لَمْ أَصْنَعْهُ: لِمَ لَمْ تَصْنَعْ هَذَا هَكَذَا؟»

"Ketika Rasulullah tiba di Madinah, Abu Thalhah menggandeng tanganku, lalu membawaku menemui Rasulullah . Abu Thalhah berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anas adalah seorang anak yang cerdas, maka jadikanlah ia sebagai pelayanmu.' Maka aku pun melayani beliau , baik ketika sedang menetap maupun dalam perjalanan. Demi Allah, beliau tidak pernah berkata

 

kepadaku mengenai sesuatu yang telah aku kerjakan, 'Mengapa engkau mengerjakan ini seperti ini?' Dan tidak pula mengenai sesuatu yang tidak aku kerjakan, 'Mengapa engkau tidak mengerjakan ini seperti ini?'"

Ø  Dan diriwayatkan juga bahwa yang memintanya adalah ibu Anas Ummu Sulaim, Anas radhiyallahu 'anhu berkata:

دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ، عَلَى أُمِّ سُلَيْمٍ، فَأَتَتْهُ بِتَمْرٍ وَسَمْنٍ، قَالَ: «أَعِيدُوا سَمْنَكُمْ فِي سِقَائِهِ، وَتَمْرَكُمْ فِي وِعَائِهِ، فَإِنِّي صَائِمٌ» ثُمَّ قَامَ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنَ البَيْتِ، فَصَلَّى غَيْرَ المَكْتُوبَةِ، فَدَعَا لِأُمِّ سُلَيْمٍ وَأَهْلِ بَيْتِهَا، فَقَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي خُوَيْصَّةً، قَالَ: «مَا هِيَ؟»، قَالَتْ: خَادِمُكَ أَنَسٌ، فَمَا تَرَكَ خَيْرَ آخِرَةٍ وَلاَ دُنْيَا إِلَّا دَعَا لِي بِهِ، قَالَ: «اللَّهُمَّ ارْزُقْهُ مَالًا وَوَلَدًا، وَبَارِكْ لَهُ فِيهِ»، فَإِنِّي لَمِنْ أَكْثَرِ الأَنْصَارِ مَالًا، وَحَدَّثَتْنِي ابْنَتِي أُمَيْنَةُ: أَنَّهُ دُفِنَ لِصُلْبِي مَقْدَمَ حَجَّاجٍ البَصْرَةَ بِضْعٌ وَعِشْرُونَ وَمِائَةٌ

Nabi datang menemui Ummu Sulaim, kemudian Ummu Sulaim menyuguhkan kurma dan mentega untuk Beliau. Beliau berkata: "Kembalikanlah mentega-mentega kalian ke kendinya dan kurma-kurma kalian di penyimpanannya karena aku sedang berpuasa". Kemudian Beliau berdiri di pojok rumah mengerjakan shalat sunnat. Setelah itu Beliau memanggil Ummu Sulaim dan anggota keluarga lainnya. Ummu Sulaim berkata: "Wahai Rasulullah, aku mempunyai permintaan sederhana". Beliau bertanya: "Apa itu?" Ummu Sulaim berkata: "Jadikan Anas sebagai pelayanmu!” Anas berkata: “Maka beliau tidak meninggalkan kebaikan akhirat dan dunia kecuali beliau mendo’akannya untukku”. Beliau berdo'a: "Ya Allah, karuniakanlah dia harta dan anak-anak dan berilah dia keberkahan di dalamnya". Setelah itu aku menjadi orang yang paling banyak hartanya di kalangan Kaum Anshar. Dan telah menceritakan kepada saya putriku Umainah: "Bahwa telah dikuburkan anak kandungku, di masa kedatangan Hajjaj di Bashrah (tahun 75H, dan umur Anas waktu itu 80 tahun lebih), sekitar seratus dua puluh orang lebih". [Shahih Bukhari]

Lihat: Keistimewaan Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha

2.       Bersikap baik kepada pelayan.

Al-Ma'rur bin Suwaid berkata: Aku bertemu Abu Dzar di Rabdzah yang saat itu mengenakan pakaian dua lapis, begitu juga budaknya, maka aku tanyakan kepadanya tentang itu, maka dia menjawab: Aku telah menghina seseorang dengan cara menghina ibunya, maka Nabi menegurku:

«يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ؟ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ»

"Wahai Abu Dzar apakah kamu menghina ibunya? Sesungguhnya kamu masih memiliki (sifat) jahiliyyah. Saudara-saudara kalian adalah tanggungan kalian, Allah telah menjadikan mereka di bawah tangan kalian. Maka siapa yang saudaranya berada di bawah tangannya (tanggungannya) maka jika dia makan berilah makanan seperti yang dia makan, bila dia berpakaian berilah seperti yang dia pakai, janganlah kalian membebani mereka sesuatu yang di luar batas kemampuan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka". [Shahih Bukhari]

Lihat: Kitab Iman bab 22; Perbuatan maksiat merupakan kebiasaan Jahiliyah, tidak dikafirkan pelakunya kecuali perbuatan syirik

Wallahua'lam!

Lihat juga: Kitab Adab bab 36-38; Berakhlak mulia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...