Minggu, 22 Maret 2026

Tafsir surah Al-Fatihah

Surah Al-Fatihah adalah surah yang pertama dalam urutan mushaf, terdiri dari 7 ayat, dan termasuk surah Makkiyah.

Arti nama surah Al-Fatihah dan nama-nama lainnya:

1. Surah ini dinamai surah "Al-Fatihah" (pembuka) karena bacaan shalat diawali dengan surah ini dan mushhaf Al-Qur'an diawali dengan surah ini.

2. Dinamai juga "Ummu Al-Kitab" atau "Ummu Al-Qur'an" (induk Al-Qur'an) karena mushhaf Al-Qur'an diawali dengan surah ini dan kandungan semua ayat Al-Qur'an secara umum merujuk pada kandungan surah ini.

3. Surah ini juga dinamai "Ar-Ruqyah" (penyembuh) karena bisa menyembukan jika dibaca.

4. Dinamai juga "Ash-Shalah" (shalat) karena shalat tidak sah jika tidak membacanya.

5. Dinamai juga "As-Sab'u Al-Matsaniy" (tujuh ayat yang diulang-ulang) karena jumlah ayatnya ada tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat.

Keutamaan surah Al-Fatihah

Abu Sa'id bin Al-Mu'alla radiyallahu 'anhu berkata kepada Rasulullah : Bukankah engkau mengatakan akan mengajarkanku satu surah yang paling agung dari surah Al-Qur'an lainnya? Rasulullah menjawab:

«{الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ} [الفاتحة: 2] هِيَ السَّبْعُ المَثَانِي، وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ» [صحيح البخاري]

"Surah Al-Fatihah, tujuh ayat yang diulang-ulang, dan Al-Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku". [Shahih Bukhari]

Ø  Ibnu Abbas radiyallahu 'anhuma berkata: Ketika Jibril 'alaihissalam duduk di sisi Rasulullah , ia mendengar suara dari atas lalu mengankat kepalanya dan berkata:

«هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ »

"Ini adalah suara pintu langit yang dibuka hari ini dan tidak akan dibuka selamanya kecuali hari ini".

Kemudian turun malaikat, lalu Jibril berkata:

«هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ»

"Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan tidak akan turun kecuali hari ini!"

Lalu malaikat itu memberi salam dan berkata:

«أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةُ الْكِتَابِ، وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ» [صحيح مسلم]

"Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu yang tidak diberikan kepada nabi sebelum kamu: Surah Al-Fatihah dan penutup (akhri) surah Al-Baqarah, kamu tidak membacanya kecuali engkau akan diberi (atas do'a yang terkandung dalam ayat-ayatnya)". [Shahih Muslim]

Lihat: Keutamaan surah Al-Fatihah

Ayat pertama

{بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ}

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

1. Apakah "basmalah" ayat pertama surah Al-Fatihah?

Pendapat pertama: Basmalah adalah ayat pertama surah Al-Fatihah.

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«إذا قرأتم: {الحمد لله} فاقرءوا: {بسم الله الرحمن الرحيم} [الفاتحة: 1]، إنها أم القرآن، وأم الكتاب، والسبع المثاني، و{بسم الله الرحمن الرحيم} إحداها» [سنن الدارقطني: صححه الألباني]

"Jika kalian membaca surah Al-Fatihah maka bacalah {بسم الله الرحمن الرحيم}, surah ini adalah Ummul Qur'an, Ummul Kitab (induk Al-Qur'an), As-Sab'u Al-Matsaniy (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang), dan {بسم الله الرحمن الرحيم} adalah salah satu ayatnya". [Sunan Ad-Daruquthniy: Sahih]

Pendapat kedua: Basmalah bukan ayat dari surah Al-Fatihah.

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي - وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي - فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ» [صحيح مسلم]

Allah berfirman dalam hadits qudsi: "Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta". Maka jika sang hamba membaca (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) Allah berkata: "Hamba-Ku mensyukuri Aku", dan jika membaca (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) Allah berkata: "Hamba-Ku memuji Aku", dan jika membaca (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) Allah berkata: "Hamba-Ku pasrah kepada-Ku", dan jika membaca  (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) , Allah berkata: "Ini antara Aku dan Hambaku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta", dan jika membaca (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ) Allah berkata: "Ini untuk hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta". [Shahih Muslim]

2. Kewajiban mengimani Nama dan Sifat Allah besrta hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.

“Allah” adalah Yang disembah, tidak ada yang berhak disembah selainNya.

“Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” adalah Yang merahmati,  rahmat-Nya meliput segala sesuatu. Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ} [الأعراف: 156]

Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. [Al-A'raaf:156]

Lihat: Kaedah nama dan sifat Allah

3. Perbedaan Ar-Rahman dengan Ar-Rahim:

a. Sifat Menyeluruh vs. Kekhususan: Ar-Rahman adalah rahmat yang umum bagi seluruh alam, sementara Ar-Rahim adalah rahmat yang khusus bagi orang-orang beriman.

b. Sifat yang Melekat pada Perbuatan: Ar-Rahman menunjukkan sifat yang melekat pada Dzat Allah (Pemilik rahmat yang menyeluruh), sedangkan Ar-Rahim menunjukkan rahmat yang dikaitkan dengan pihak yang menerima rahmat (penyampaian rahmat).

c. Penggunaan: Ar-Rahman adalah nama yang khusus milik Allah, tidak ada makhluk yang boleh menyandang nama ini. Sementara Ar-Rahim dapat digunakan untuk menggambarkan makhluk (selain Allah).

d. Waktu: Ar-Rahman adalah Maha Pengasih di dunia dan akhirat, sedangkan Ar-Rahim adalah Maha Penyayang (khusus) kepada orang-orang mukmin di akhirat.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata; Rasulullah bersabda:

«جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا، وَأَنْزَلَ فِي الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الخَلْقُ، حَتَّى تَرْفَعَ الفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا، خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bagian, maka dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkan-Nya satu bagian ke bumi. Dari yang satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang sesamanya, sehingga seekor kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya akan terinjak olehnya." [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Ramadhan bulan penuh rahmat

4. Keutamaan mengawali aktifitas dengan "basmalah":

a) Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah ‘azza wajalla.

b) Mengharapkan pertolongan dari Allah ‘azza wajalla.

c) Mendapatkan keberkahan dari Allah ‘azza wajalla.

d) Mendapatkan perlindungan dari Allah ‘azza wajalla.

e) Amalan disempurnakan dan diterima oleh Allah ‘azza wajalla.

Lihat: Baca basmalah

Ayat kedua dan ketiga

{الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ}

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

1) Segala pujian hanya untuk Allah subhanahu wata’aalaa.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [الجاثية : 36]

Maka hanya bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam. [Al-Jatsiyah: 36]

Lihat: Kisah Islamnya Dhimad Al-Azdiy

2) Memuji Allah dalam segala kondisi.

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah jika melihat sesuatu yang menyenangkannya beliau mengatakan  ..

«الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَات»

"Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatNya sempuna segala amal saleh".

Dan jika melihat sesuatu yang tidak menyenangkannya beliau mengatakan  ...

«الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ»

"Segala puji bagi Allah atas segala hal". [Sunan Ibnu Majah: Hasan]

Ø  Dari Syaddad bin Auws radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: إِنِّي إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنًا، فَحَمِدَنِي عَلَى مَا ابْتَلَيْتُهُ، فَإِنَّهُ يَقُومُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ مِنَ الْخَطَايَا، وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: أَنَا قَيَّدْتُ عَبْدِي، وَابْتَلَيْتُهُ، فَأَجْرُوا لَهُ كَمَا كُنْتُمْ تُجْرُونَ لَهُ وَهُوَ صَحِيحٌ»

“Sesungguhnya Allah 'azza wajalla berfirman (dalam hadits qudsi): Sesungguhnya jika Aku memberi cobaan (berupa penyakit) kepada seorang hamba dari hamba-Ku yang beriman lalu ia memuji-Ku atas cobaan yang kutimpakan padanya, maka (ketika ia sembuh) sesungguhnya ia bangkit dari pembaringannya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya bersih dari dosa-dosa. Dan Ar-Rabb 'azza wajalla berkata (kepada Malaikat): Aku yang menahan hamba-Ku dan Aku yang memberinya cobaan, maka catatlah untuknya pahala seperti kalian mencatat pahala untuknya (atas ibadah yang sering ia lakukan) di waktu sehat”. [Musnad Ahmad: Hasan]

Lihat: Tingkatan orang yang ditimpa musibah

3) Anjuran mengawali pembicaraan (majelis) dengan pujian kepada Allah ta’aalaa.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

«عَلَّمَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ خُطْبَةَ الْحَاجَةِ أَنِ: الْحَمْدُ لِلهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ﴿وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾ ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾» [سنن أبي داود: صحيح]

Rasulullah mengajarkan kepada kami Khutbatul Haajah (khutbah untuk kebutuhan/kepentingan) yaitu: “Segala puji bagi Allah, kami memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang berhak disembah) selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Wahai orang-orang yang beriman! {“Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”} [An-Nisa’: 1] {“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”} [Ali ‘Imran: 102] {“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (tepat dan jujur), niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.”} [Al-Ahzab: 70-71] [Sunan Abi Daud: Shahih]

4) Allah adalah “Rab” segala sesuatu.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{قُلْ أَغَيْرَ الله أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ} [الأنعام : 164]

Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu". [Al-An'aam: 164]

{قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ (23) قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ (24) قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلَا تَسْتَمِعُونَ (25) قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ (26) قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ (27) قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ  وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ} [الشعراء : 23-28]

Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?" Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya". Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah kamu tidak mendengarkan?" Musa berkata (pula): "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu". Fir'aun berkata: "Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila". Musa berkata: "Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal". [Asy-Syu'araa: 23-28]

Lihat: Tafsir surah An-Naas

5) Rububiyah Allah ta’aalaa terbagi dua:

a) Rububiyah umum untuk seluruh makhluk. Yaitu menciptakan mereka, mengatur urusannya dan memberi petunjuk untuk kemaslahatan mereka.

b) Rububiyah khusus untuk hamba yang beriman dan ta'at. Yaitu melindungi mereka, menjaganya dari keburukan, diberi taufiq untuk bisa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.

Ayat keempat

{مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}

Yang menguasai di Hari Pembalasan.

1. Allah sebagai "Al-Malik" Yang memiliki dan menguasai segala yang ada di langit dan di bumi, karena semua itu adalah ciptaanNya.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَلِله مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ وَالله عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} [المائدة : 17]

Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Al-Maidah: 17]

Lihat: Allah Yang Maha Menguasai "Al-Malik"

2. Pada hari pembalasan, tidak ada yang punya kuasa selain Allah ta’aalaa.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (17) ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (18) يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لله} [الإنفطار : 17-19]

Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. [Al--Infithar: 17-19]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, Nabi bersabda:

«يَقْبِضُ الله الأَرْضَ، وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا المَلِكُ، أَيْنَ مُلُوكُ الأَرْضِ؟!»

"Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya (pada hari kiamat) seraya berfirman, 'Akulah Sang Raja, mana orang-orang yang mengaku dirinya sebagai raja-raja bumi?" [Shahih Bukhari]

3. Motivasi untuk beramal sebagai persiapan datangnya hari kiamat.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ} [البقرة : 281]

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). [Al-Baqarah: 281]

Ayat kelima

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

1) Beribadah hanya untuk Allah ta’aalaa.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ} [الإسراء : 23-24]

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia. [Al-Israa': 23-24]

Lihat: Hadits Mu'adz; Hak Allah atas hamba-Nya

2) Selain hanya untuk Allah (ikhlash), ibadah juga harus sesuai tuntunan Nabi .

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha; Rasulullah bersabda:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ» [صحيح البخاري]

"Barangsiapa yang mengada-ada suatu dalam urusan kami (ibadah) yang bukan bagian darinya, maka hal itu tertolak". [Sahih Bukhari]

Ø  Dalam riwayat lain:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ» [صحيح مسلم]

"Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan ajaran kami maka hal itu tertolak". [Shahih Muslim]

Lihat: Kitab I’tisham, bab (02) Mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ

3) Meminta juga termasuk ibadah, hanya boleh kepada Allah saja.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Suatu hari aku duduk di belakang Rasulullah , beliau bersabda:

«يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»

"Wahai bocah, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat, jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah kau akan mendapati-Nya di hadapanmu, jika kau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika kau minta bantuan maka mintalah kepada Allah, ketahuilah .. sesungguhnya jika semua umat sepakat untuk memberimu suatu yang bermanfaat, mereka tidak akan memberimu kecuali sesuatu yang sudah ditakdirkan Allah untukmu, dan seandainya mereka sepakat untuk mencelakaimu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa mencelakaimu kecuali sesuatu yang sudah ditakdirkan Allah kepadamu, pena telah diangkat dan lembaran telah kering. [Sunan Tirmidzi: Shahih]

Lihat: Sifat ِAl-Isti’anah; Minta pertolongan hanya kepada Allah

4) Boleh meminta kepada manusia dengan syarat:

a) Meyakini bahwa pertolongan manusia tidak terwujud tanpa bantuan dari Allah ‘azza wajalla.

b) Meminta pada perkara yang mampu dilakukan oleh manusia.

c) Meminta secara langsung, bukan kepada orang yang tidak hadir.

5) Meminta (isti'anah) disebutkan setelah ibadah secara umum:

a. Karena manusia tidak bisa lepas dari pertolongan Allah ‘azza wajalla.

b. Meminta adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wajalla.

c. Banyak yang menyekutukan Allah dalam meminta.

d. Ibadah tidak bisa terlaksana tanpa pertolongan Allah ‘azza wajalla.

Dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu;

أَنَّ رَسُولَ ﷺ أَخَذَ بِيَدِهِ، وَقَالَ: «يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ»، فَقَالَ: «أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ»

Bahwa Rasulullah menggandeng tangannya dan berkata: "Wahai Mu'adz, demi Allah, aku mencintaimu." Kemudian beliau berkata: "Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, janganlah engkau tinggalkan setiap akhir shalat untuk mengucapkan: "Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta beribadah kepadaMu dengan baik.” [Sunan Abu Daud]

Lihat: Hadits Mu'adz; Do'a di akhir shalat

Ayat keenam

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}

Tunjukilah kami jalan yang lurus

1. Senantiasa berdo'a agar diberi hidayah.

Dari Abu Dzar Al-Gifariy -radhiyallahu ‘anhu-, dari Nabi yang beliau riwayatkan dari Allah 'azza wajalla (dalam sebuah hadits Qudsi):

«يا عبادي! كلكم ضال إلا من هديته. فاستهدوني أهدكم»

“Wahai hamba-Ku .. kalian semua sesat kecuali yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah dari-Ku dan Aku akan memberimu hidayah. [Shahih Muslim]

Lihat: Syarah Arba’in hadits (24) Abu Dzar; Keharaman perbuatan dzalim

2. Hidayah terbagi dua:

a. Hidayah dilalah wal irsyad. Yaitu ditunjukkan mana yang baik dan yang buruk.

b. Hidayah taufiq. Yaitu dimudahkan melakukan yang baik dan menjauhi yang buruk. Hidayah ini hanya dimiliki oleh Allah. Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ} [القصص : 56]

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. [Al-Qashash: 56]

3. Penetapan adanya Nabi dan Rasul, karena hidayah mesti melalui mereka.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ} [الشورى : 52]

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. [Asy-Syuuraa: 52]

{وَإِنَّكَ لَتَدْعُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ} [المؤمنون : 73]

Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus. [Al-Mu'minuun: 73]

Lihat: Iman kepada Nabi dan Rasul Allah

4. Bantahan untuk seluruh kelompok ahli bid'ah yang menyelisihi jalan yang lurus.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [القصص : 50]

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Al-Qashash: 50]

Ayat ketujuh

{صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ}

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

1) Siapakah orang yang telah diberi nikmat?

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا} [النساء : 69]

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [An-Nisaa: 69]

2) Siapakah orang yang dimurkai dan orang yang sesat?

Dari Adiy bin Hatim radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«الْيَهُودُ مَغْضُوبٌ عَلَيْهِمْ، وَالنَّصَارَى ضُلَّالٌ»

"Yahudi adalah kaum yang dimurkai (Allah), dan Nasrani adalah kaum yang sesat". [Sunan Tirmidziy]

3) Isyarat untuk menyelisihi kaum Yahudi dan Nashraniy.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah bersabda:

«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ» [سنن أبي داود: صحيح]

"Barang siapa yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka". [Sunan Abi Daud: Shahih]

Lihat: Kitab I’tisham, bab (14) Sabda Nabi ﷺ Sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian

4) Yahudi dimurkai karena tidak mengamalkan ilmunya.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ أَن يَكْفُرُوا بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَن يُنَزِّلَ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ} [البقرة : 90]

Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. [Al-Baqarah: 90]

5) Nashrani tersesat karena beramal tanpa ilmu.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَن سَوَاءِ السَّبِيلِ} [المائدة : 77]

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus". [Al-Maidah: 77]

6) Mengucapkan "Amin" setelah membaca Al-Fatihah dalam shalat.

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«إِذَا قَالَ الإِمَامُ: {غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] فَقُولُوا: آمِينَ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu." [Shahih Bukhari dan Muslim]

Faidah dari surah ini:

a. Diawali dengan pujian kepada Allah dan diakhiri dengan orang-orang tercela, menunjukkan bahwa puncak kemuliaan adalah mendekatkan diri kepada Allah, dan puncak kehinaan adalah jauh dari Allah ‘azza wajalla.

b. Menyebutkan tiga jenis tauhid.

Lihat: Pembagian Tauhid

Wallahu a'lam!

Lihat juga: Tafsir surah As-Sajdah - Tafsir Surah Al-Qadr - Tafsir surah "Al-Qari'ah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...