Surah Al-Fatihah adalah surah yang pertama dalam urutan mushaf, terdiri
dari 7 ayat, dan termasuk surah Makkiyah.
Arti nama surah Al-Fatihah dan nama-nama
lainnya:
1. Surah ini dinamai surah "Al-Fatihah" (pembuka) karena bacaan
shalat diawali dengan surah ini dan mushhaf Al-Qur'an diawali dengan surah ini.
2. Dinamai juga "Ummu Al-Kitab" atau "Ummu Al-Qur'an"
(induk Al-Qur'an) karena mushhaf Al-Qur'an diawali dengan surah ini dan
kandungan semua ayat Al-Qur'an secara umum merujuk pada kandungan surah ini.
3. Surah ini juga dinamai "Ar-Ruqyah" (penyembuh) karena bisa
menyembukan jika dibaca.
4. Dinamai juga "Ash-Shalah" (shalat) karena shalat tidak sah
jika tidak membacanya.
5. Dinamai juga "As-Sab'u Al-Matsaniy" (tujuh ayat yang
diulang-ulang) karena jumlah ayatnya ada tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam
shalat.
Keutamaan surah Al-Fatihah
Abu Sa'id bin Al-Mu'alla radiyallahu 'anhu berkata kepada Rasulullah ﷺ: Bukankah engkau mengatakan akan mengajarkanku satu surah yang
paling agung dari surah Al-Qur'an lainnya? Rasulullah ﷺ menjawab:
«{الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
العَالَمِينَ} [الفاتحة:
2] هِيَ السَّبْعُ
المَثَانِي، وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ» [صحيح البخاري]
"Surah Al-Fatihah, tujuh ayat yang diulang-ulang, dan Al-Qur'an yang
agung yang diberikan kepadaku". [Shahih Bukhari]
Ø Ibnu Abbas radiyallahu 'anhuma berkata:
Ketika Jibril 'alaihissalam duduk di sisi Rasulullah ﷺ, ia mendengar suara dari atas lalu mengankat kepalanya dan
berkata:
«هَذَا بَابٌ مِنَ
السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ »
"Ini adalah suara pintu langit yang dibuka hari ini dan tidak akan
dibuka selamanya kecuali hari ini".
Kemudian turun malaikat, lalu Jibril berkata:
«هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ
إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ»
"Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan tidak akan turun kecuali
hari ini!"
Lalu malaikat itu memberi salam dan berkata:
«أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ
أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةُ الْكِتَابِ،
وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا
أُعْطِيتَهُ» [صحيح
مسلم]
"Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu yang tidak
diberikan kepada nabi sebelum kamu: Surah Al-Fatihah dan penutup (akhri) surah
Al-Baqarah, kamu tidak membacanya kecuali engkau akan diberi (atas do'a yang
terkandung dalam ayat-ayatnya)". [Shahih Muslim]
Lihat: Keutamaan surah Al-Fatihah
Ayat pertama
{بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ}
Dengan menyebut nama
Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
1. Apakah
"basmalah" ayat pertama surah Al-Fatihah?
Pendapat pertama: Basmalah
adalah ayat pertama surah Al-Fatihah.
Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إذا قرأتم: {الحمد لله}
فاقرءوا: {بسم الله الرحمن الرحيم} [الفاتحة: 1]، إنها أم القرآن، وأم الكتاب، والسبع
المثاني، و{بسم الله الرحمن الرحيم} إحداها» [سنن الدارقطني: صححه الألباني]
"Jika kalian membaca surah Al-Fatihah maka bacalah {بسم الله الرحمن الرحيم}, surah ini adalah Ummul
Qur'an, Ummul Kitab (induk Al-Qur'an), As-Sab'u Al-Matsaniy (tujuh ayat yang
dibaca berulang-ulang), dan {بسم الله الرحمن الرحيم} adalah salah satu ayatnya". [Sunan Ad-Daruquthniy: Sahih]
Pendapat kedua: Basmalah bukan ayat dari surah
Al-Fatihah.
Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«قَالَ اللهُ تَعَالَى:
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا
سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}، قَالَ
اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ
اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ
الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي - وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي
- فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا
بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ
الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي
مَا سَأَلَ» [صحيح
مسلم]
Allah berfirman dalam hadits qudsi: "Aku membagi salat antara Aku
dan hamba-Ku menjadi dua dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta". Maka jika
sang hamba membaca (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) Allah berkata: "Hamba-Ku mensyukuri Aku", dan jika
membaca (الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ)
Allah berkata: "Hamba-Ku memuji Aku", dan jika membaca (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) Allah berkata: "Hamba-Ku
pasrah kepada-Ku", dan jika membaca
(إِيَّاكَ
نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ)
, Allah berkata: "Ini antara Aku dan Hambaku, dan untuk hamba-Ku apa yang
ia minta", dan jika membaca (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ
الضَّالِّينَ)
Allah berkata: "Ini untuk hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang ia
minta". [Shahih Muslim]
2. Kewajiban
mengimani Nama dan Sifat Allah besrta hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.
“Allah” adalah Yang disembah, tidak ada yang berhak disembah selainNya.
“Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” adalah Yang merahmati, rahmat-Nya meliput segala sesuatu. Allah subhanahu
wata’aalaa berfirman:
{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ
كُلَّ شَيْءٍ} [الأعراف:
156]
Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. [Al-A'raaf:156]
Lihat: Kaedah nama dan sifat Allah
3. Perbedaan
Ar-Rahman dengan Ar-Rahim:
a. Sifat Menyeluruh vs. Kekhususan: Ar-Rahman adalah rahmat yang umum
bagi seluruh alam, sementara Ar-Rahim adalah rahmat yang khusus bagi
orang-orang beriman.
b. Sifat yang Melekat pada Perbuatan: Ar-Rahman menunjukkan sifat yang
melekat pada Dzat Allah (Pemilik rahmat yang menyeluruh), sedangkan Ar-Rahim
menunjukkan rahmat yang dikaitkan dengan pihak yang menerima rahmat
(penyampaian rahmat).
c. Penggunaan: Ar-Rahman adalah nama yang khusus milik Allah, tidak ada
makhluk yang boleh menyandang nama ini. Sementara Ar-Rahim dapat digunakan
untuk menggambarkan makhluk (selain Allah).
d. Waktu: Ar-Rahman adalah Maha Pengasih di dunia dan akhirat, sedangkan
Ar-Rahim adalah Maha Penyayang (khusus) kepada orang-orang mukmin di akhirat.
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata; Rasulullah ﷺ bersabda:
«جَعَلَ اللَّهُ
الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا،
وَأَنْزَلَ فِي الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الجُزْءِ يَتَرَاحَمُ
الخَلْقُ، حَتَّى تَرْفَعَ الفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا، خَشْيَةَ أَنْ
تُصِيبَهُ» [صحيح
البخاري ومسلم]
"Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bagian, maka
dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkan-Nya satu
bagian ke bumi. Dari yang satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang
sesamanya, sehingga seekor kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya akan
terinjak olehnya." [Shahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Ramadhan bulan penuh rahmat
4. Keutamaan
mengawali aktifitas dengan "basmalah":
a) Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah ‘azza wajalla.
b) Mengharapkan pertolongan dari Allah ‘azza wajalla.
c) Mendapatkan keberkahan dari Allah ‘azza wajalla.
d) Mendapatkan perlindungan dari Allah ‘azza wajalla.
e) Amalan disempurnakan dan diterima oleh Allah ‘azza wajalla.
Lihat: Baca basmalah
Ayat kedua dan ketiga
{الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2)
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ}
Segala puji bagi Allah,
Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
1) Segala
pujian hanya untuk Allah subhanahu wata’aalaa.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{فَلِلَّهِ الْحَمْدُ
رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [الجاثية : 36]
Maka hanya bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan
bumi, Tuhan semesta alam. [Al-Jatsiyah: 36]
Lihat: Kisah Islamnya Dhimad Al-Azdiy
2) Memuji
Allah dalam segala kondisi.
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah ﷺ jika melihat sesuatu yang menyenangkannya beliau
mengatakan ..
«الْحَمْدُ لِلَّهِ
الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَات»
"Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatNya sempuna segala amal
saleh".
Dan jika melihat sesuatu yang tidak menyenangkannya beliau
mengatakan ...
«الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى
كُلِّ حَالٍ»
"Segala puji bagi Allah atas segala hal". [Sunan Ibnu Majah:
Hasan]
Ø Dari Syaddad
bin Auws radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللهَ عَزَّ
وَجَلَّ يَقُولُ: إِنِّي إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنًا،
فَحَمِدَنِي عَلَى مَا ابْتَلَيْتُهُ، فَإِنَّهُ يَقُومُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ
كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ مِنَ الْخَطَايَا، وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ:
أَنَا قَيَّدْتُ عَبْدِي، وَابْتَلَيْتُهُ، فَأَجْرُوا لَهُ كَمَا كُنْتُمْ
تُجْرُونَ لَهُ وَهُوَ صَحِيحٌ»
“Sesungguhnya Allah 'azza wajalla berfirman (dalam hadits qudsi): Sesungguhnya
jika Aku memberi cobaan (berupa penyakit) kepada seorang hamba dari hamba-Ku
yang beriman lalu ia memuji-Ku atas cobaan yang kutimpakan padanya, maka
(ketika ia sembuh) sesungguhnya ia bangkit dari pembaringannya seperti hari ia
dilahirkan oleh ibunya bersih dari dosa-dosa. Dan Ar-Rabb 'azza wajalla berkata
(kepada Malaikat): Aku yang menahan hamba-Ku dan Aku yang memberinya cobaan,
maka catatlah untuknya pahala seperti kalian mencatat pahala untuknya (atas
ibadah yang sering ia lakukan) di waktu sehat”. [Musnad Ahmad: Hasan]
Lihat: Tingkatan orang yang ditimpa musibah
3) Anjuran
mengawali pembicaraan (majelis) dengan pujian kepada Allah ta’aalaa.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
«عَلَّمَنَا رَسُولُ
اللهِ ﷺ خُطْبَةَ الْحَاجَةِ أَنِ: الْحَمْدُ لِلهِ نَسْتَعِينُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ
فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ﴿وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ
وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾ ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ﴾ ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلا
سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾» [سنن أبي داود: صحيح]
Rasulullah ﷺ
mengajarkan kepada kami Khutbatul Haajah (khutbah untuk kebutuhan/kepentingan)
yaitu: “Segala puji bagi Allah, kami memohon pertolongan dan ampunan
kepada-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kami. Barangsiapa
yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan
barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang berhak disembah) selain Allah,
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Wahai orang-orang
yang beriman! {“Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan)
nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”} [An-Nisa’: 1] {“Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa
kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”}
[Ali ‘Imran: 102] {“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah
dan ucapkanlah perkataan yang benar (tepat dan jujur), niscaya Allah akan
memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati
Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.”}
[Al-Ahzab: 70-71] [Sunan Abi Daud: Shahih]
4) Allah adalah
“Rab” segala sesuatu.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{قُلْ أَغَيْرَ الله
أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ} [الأنعام : 164]
Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah,
padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu". [Al-An'aam: 164]
{قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ
الْعَالَمِينَ (23) قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ
إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ (24) قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلَا تَسْتَمِعُونَ (25)
قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ (26) قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ
الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ (27) قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ} [الشعراء : 23-28]
Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?"
Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara
keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang)
mempercayai-Nya". Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya:
"Apakah kamu tidak mendengarkan?" Musa berkata (pula): "Tuhan
kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu". Fir'aun berkata:
"Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang
gila". Musa berkata: "Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa
yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan
akal". [Asy-Syu'araa:
23-28]
Lihat: Tafsir surah An-Naas
5) Rububiyah
Allah ta’aalaa terbagi dua:
a) Rububiyah umum untuk seluruh makhluk. Yaitu menciptakan mereka,
mengatur urusannya dan memberi petunjuk untuk kemaslahatan mereka.
b) Rububiyah khusus untuk hamba yang beriman dan ta'at. Yaitu
melindungi mereka, menjaganya dari keburukan, diberi taufiq untuk bisa melaksanakan
perintah dan menjauhi larangan.
Ayat keempat
{مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}
Yang menguasai di Hari
Pembalasan.
1. Allah sebagai "Al-Malik" Yang memiliki dan
menguasai segala yang ada di langit dan di bumi, karena semua itu adalah
ciptaanNya.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَلِله مُلْكُ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ وَالله
عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} [المائدة : 17]
Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada
diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu. [Al-Maidah: 17]
Lihat: Allah Yang Maha Menguasai "Al-Malik"
2. Pada hari pembalasan, tidak ada yang punya kuasa selain Allah ta’aalaa.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَمَا أَدْرَاكَ مَا
يَوْمُ الدِّينِ (17) ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (18) يَوْمَ لَا
تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لله} [الإنفطار : 17-19]
Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah
kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya
sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam
kekuasaan Allah.
[Al--Infithar: 17-19]
Ø Dari Abu
Hurairah radhiallahu'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«يَقْبِضُ الله الأَرْضَ،
وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا المَلِكُ، أَيْنَ مُلُوكُ
الأَرْضِ؟!»
"Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya
(pada hari kiamat) seraya berfirman, 'Akulah Sang Raja, mana orang-orang yang
mengaku dirinya sebagai raja-raja bumi?" [Shahih Bukhari]
3. Motivasi untuk beramal sebagai persiapan datangnya hari kiamat.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَاتَّقُوا يَوْمًا
تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ
وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ} [البقرة : 281]
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari
yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian
masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah
dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). [Al-Baqarah: 281]
Ayat kelima
{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}
Hanya Engkaulah yang
kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
1) Beribadah hanya untuk Allah ta’aalaa.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا
تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ} [الإسراء : 23-24]
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
selain Dia.
[Al-Israa': 23-24]
Lihat: Hadits Mu'adz; Hak Allah atas hamba-Nya
2) Selain hanya untuk Allah (ikhlash), ibadah juga harus sesuai
tuntunan Nabi ﷺ.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha; Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي
أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ» [صحيح البخاري]
"Barangsiapa yang mengada-ada suatu dalam urusan kami (ibadah) yang
bukan bagian darinya, maka hal itu tertolak". [Sahih Bukhari]
Ø Dalam riwayat
lain:
«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا
لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ» [صحيح مسلم]
"Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan ajaran kami
maka hal itu tertolak". [Shahih Muslim]
Lihat: Kitab I’tisham, bab (02) Mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ
3) Meminta juga termasuk ibadah, hanya boleh kepada Allah saja.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Suatu hari aku duduk di
belakang Rasulullah ﷺ,
beliau bersabda:
«يَا غُلَامُ إِنِّي
أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ
تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ
بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ
بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ
اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ
كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»
"Wahai bocah, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat,
jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah kau akan mendapati-Nya
di hadapanmu, jika kau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika kau minta
bantuan maka mintalah kepada Allah, ketahuilah .. sesungguhnya jika semua umat
sepakat untuk memberimu suatu yang bermanfaat, mereka tidak akan memberimu
kecuali sesuatu yang sudah ditakdirkan Allah untukmu, dan seandainya mereka
sepakat untuk mencelakaimu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa mencelakaimu
kecuali sesuatu yang sudah ditakdirkan Allah kepadamu, pena telah diangkat dan
lembaran telah kering. [Sunan Tirmidzi: Shahih]
Lihat: Sifat ِAl-Isti’anah; Minta pertolongan hanya kepada Allah
4) Boleh meminta kepada manusia dengan syarat:
a) Meyakini bahwa pertolongan manusia tidak terwujud tanpa bantuan dari
Allah ‘azza wajalla.
b) Meminta pada perkara yang mampu dilakukan oleh manusia.
c) Meminta secara langsung, bukan kepada orang yang tidak hadir.
5) Meminta (isti'anah) disebutkan setelah ibadah secara
umum:
a. Karena manusia tidak bisa lepas dari pertolongan Allah ‘azza
wajalla.
b. Meminta adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wajalla.
c. Banyak yang menyekutukan Allah dalam meminta.
d. Ibadah tidak bisa terlaksana tanpa pertolongan Allah ‘azza wajalla.
Dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu;
أَنَّ رَسُولَ ﷺ أَخَذَ بِيَدِهِ،
وَقَالَ: «يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللَّهِ إِنِّي
لَأُحِبُّكَ»، فَقَالَ: «أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ
صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ
عِبَادَتِكَ»
Bahwa Rasulullah ﷺ menggandeng
tangannya dan berkata: "Wahai Mu'adz, demi Allah, aku mencintaimu."
Kemudian beliau berkata: "Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, janganlah
engkau tinggalkan setiap akhir shalat untuk mengucapkan: "Ya Allah,
bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta beribadah kepadaMu
dengan baik.” [Sunan Abu Daud]
Lihat: Hadits Mu'adz; Do'a di akhir shalat
Ayat keenam
{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}
Tunjukilah kami jalan
yang lurus
1. Senantiasa
berdo'a agar diberi hidayah.
Dari Abu Dzar Al-Gifariy -radhiyallahu ‘anhu-, dari Nabi ﷺ yang beliau riwayatkan dari Allah 'azza wajalla (dalam
sebuah hadits Qudsi):
«يا عبادي! كلكم ضال إلا
من هديته. فاستهدوني أهدكم»
“Wahai hamba-Ku .. kalian semua sesat kecuali yang Aku beri hidayah, maka
mintalah hidayah dari-Ku dan Aku akan memberimu hidayah. [Shahih Muslim]
Lihat: Syarah Arba’in hadits (24) Abu Dzar; Keharaman perbuatan dzalim
2. Hidayah
terbagi dua:
a. Hidayah dilalah wal irsyad. Yaitu ditunjukkan mana yang
baik dan yang buruk.
b. Hidayah taufiq. Yaitu dimudahkan melakukan yang baik dan
menjauhi yang buruk. Hidayah ini hanya dimiliki oleh Allah. Allah subhanahu
wata’aalaa berfirman:
{إِنَّكَ لَا تَهْدِي
مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِينَ} [القصص
: 56]
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada
orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang
dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima
petunjuk.
[Al-Qashash: 56]
3. Penetapan
adanya Nabi dan Rasul, karena hidayah mesti melalui mereka.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا
إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا
الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ
عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ} [الشورى : 52]
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran)
dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al
Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al
Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di
antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk
kepada jalan yang lurus. [Asy-Syuuraa: 52]
{وَإِنَّكَ لَتَدْعُوهُمْ
إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ} [المؤمنون : 73]
Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan
yang lurus.
[Al-Mu'minuun: 73]
Lihat: Iman kepada Nabi dan Rasul Allah
4. Bantahan
untuk seluruh kelompok ahli bid'ah yang menyelisihi jalan yang lurus.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{فَإِن لَّمْ
يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ
أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ
لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [القصص : 50]
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah
bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan
siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan
tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Al-Qashash: 50]
Ayat ketujuh
{صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ}
(yaitu) Jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka
yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
1) Siapakah
orang yang telah diberi nikmat?
Allah subhanahu
wata’aalaa berfirman:
{وَمَن يُطِعِ اللَّهَ
وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ
النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ
أُولَٰئِكَ رَفِيقًا} [النساء : 69]
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka
itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,
yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan
orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [An-Nisaa: 69]
2) Siapakah
orang yang dimurkai dan orang yang sesat?
Dari Adiy bin Hatim radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«الْيَهُودُ مَغْضُوبٌ
عَلَيْهِمْ، وَالنَّصَارَى ضُلَّالٌ»
"Yahudi adalah kaum yang dimurkai (Allah), dan Nasrani adalah kaum
yang sesat". [Sunan Tirmidziy]
3) Isyarat
untuk menyelisihi kaum Yahudi dan Nashraniy.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ
فَهُوَ مِنْهُمْ» [سنن
أبي داود: صحيح]
"Barang siapa yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk golongan
mereka". [Sunan Abi Daud: Shahih]
4) Yahudi
dimurkai karena tidak mengamalkan ilmunya.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{بِئْسَمَا اشْتَرَوْا
بِهِ أَنفُسَهُمْ أَن يَكْفُرُوا بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَن يُنَزِّلَ
اللَّهُ مِن فَضْلِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ
عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ} [البقرة : 90]
Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual
dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena
dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya
diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat)
kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. [Al-Baqarah: 90]
5) Nashrani
tersesat karena beramal tanpa ilmu.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{قُلْ يَا أَهْلَ
الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا
أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَن
سَوَاءِ السَّبِيلِ} [المائدة
: 77]
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu
berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya
(sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan
(manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus". [Al-Maidah: 77]
6) Mengucapkan
"Amin" setelah membaca Al-Fatihah dalam shalat.
Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا قَالَ الإِمَامُ:
{غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] فَقُولُوا: آمِينَ، فَإِنَّهُ مَنْ
وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh
dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa
ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya
yang masa lalu." [Shahih Bukhari dan Muslim]
Faidah dari surah ini:
a. Diawali dengan pujian kepada Allah dan diakhiri dengan orang-orang
tercela, menunjukkan bahwa puncak kemuliaan adalah mendekatkan diri kepada
Allah, dan puncak kehinaan adalah jauh dari Allah ‘azza wajalla.
b. Menyebutkan tiga jenis tauhid.
Lihat: Pembagian Tauhid
Wallahu a'lam!
Lihat juga: Tafsir surah As-Sajdah - Tafsir Surah Al-Qadr - Tafsir surah "Al-Qari'ah"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...