Jumat, 18 September 2026

Kitab Adab bab 45-50; Gibah dan Adu Domba

بسم الله الرحمن الرحيم

A.    Bab 45.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٤٥ - باب: مَا يَجُوزُ مِنْ ذِكْرِ النَّاسِ، نَحْوَ قَوْلِهِمُ: الطَّوِيلُ وَالْقَصِيرُ.

Bab: Apa yang dibolehkan terkait menyebut seseorang,semisal menyebutnya si Tinggi atau si Pendek

وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ»، وَمَا لَا يُرَادُ بِهِ شَيْنُ الرَّجُلِ.

"Dan Sabda Nabi "Apakah benar yang dikatakan oleh Dzul Yadainiy (yang tangannya panjang)?", dan penyebutan (cacat) yang tidak dimaksudkan sebagai celaan pada seseorang".

                Dalam bab ini imam Bukhari menjelaskan bahwa boleh menyebut seseorang dengan sifatnya yang buruk jika ada maslahat seperti kala orang tersebut idak dikenali kecuali dengan sifat tersebut.

Lihat: 6 gibah yang dibolehkan

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧٠٤ - حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ [بن سيرين]، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ ﷺ الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى خَشَبَةٍ فِي مُقَدَّمِ الْمَسْجِدِ، وَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهَا، وَفِي الْقَوْمِ يَوْمَئِذٍ أَبُو بَكْرٍ وعُمَرُ، فَهَابَا أَنْ يُكَلِّمَاهُ، وَخَرَجَ سَرَعَانُ النَّاسِ، فَقَالُوا: قَصُرَتِ الصَّلَاةُ. وَفِي الْقَوْمِ رَجُلٌ، كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَدْعُوهُ ذَا الْيَدَيْنِ، فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَنَسِيتَ أَمْ قَصُرَتْ؟ فَقَالَ: «لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تَقْصُرْ». قَالُوا: بَلْ نَسِيتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «صَدَقَ ذُو الْيَدَيْنِ». فَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ كَبَّرَ فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ، ثُمَّ وَضَعَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ.

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Ibrahim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad [bin Sirin], dari Abu Hurairah; "Nabi mengimami kami pada waktu shalat Dzuhur hanya dua rakaat kemudian salam, lalu beliau mendekat ke sebatang kayu yang tersandar di masjid sambil meletakkan tangan beliau di atas batang kayu tersebut. Pada waktu itu di antara mereka terdapat Abu Bakar dan Umar, keduanya merasa segan untuk menegur Rasulullah , dan orang-orang segera keluar masjid sambil berkata, "Apakah salat di Qashar (ringkas)?" Di antara mereka juga terdapat seorang laki-laki yang biasa dipanggil oleh Nabi dengan sebutan Dzul Yadain, ia berkata, "Wahai Nabiyullah, apakah engkau telah lupa atau memang salatnya diqashar (diringkas)?" Beliau menjawab, "Aku tidak lupa dan salatnya tidak pula diringkas." Para sahabat berkata, 'Bahkan Anda telah lupa wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Kalau begitu benar apa kata Dzul Yadain." Lalu beliau mengerjakan salat dua rakaat kemudian salam, kemudian beliau bertakbir dan sujud sebagaimana sujudnya (waktu salat), atau bahkan lebih lama lagi, kemudian mengangkat kepalanya dan bertakbir, kemudian beliau meletakkan (kepalanya) sebagaimana beliau sujud bahkan lebih lama lagi kemudian beliau mengangkat kepalanya dan bertakbir."

Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Hadits Abu Hurairah dan ‘Imran; Sujud Sahwi ketika salam sebelum shalat sempurna

B.     Bab 46.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٤٦ - باب: الْغِيبَةِ.

“Bab: Gibah”

                Dalam bab ini imam Bukhari menjelaskan tentang larangan gibah dengan menyebutkan satu ayat dan satu hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

وَقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ﴾ [الحجرات: ١٢]

Dan firman Allah ta'aalaa: {Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.} [Al-Hujuraat: 12]

Penjelasan singkat ayat ini:

1.       Larangan gibah.

Abu Barzah Al-Aslamiy -radhiyallahu 'anhu- berkata, Rasulullah bersabda:

«يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ»

"Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun keimanannya belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian mengumpat seorang muslim dan jangan pula mencari-cari kesalahannya. Sebab siapa saja yang mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan mencari-cari kesalahannya. Maka siapa saja yang Allah telah mencari-cari kesalahannya, Allah akan menampakkan kesalahannya meskipun ia ada di dalam rumahnya." [Sunan Abi Daud: Hasan]

2.       Perumpamaaan (kiyas) buruk.

Anas bin Malik -radhiyallahu 'anhu- berkata, Rasulullah bersabda:

«لَمَّا عُرِجَ بِي، مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ، يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ، وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ»

"Ketika aku dinaikkan ke lagit (dimi'rajkan), aku melewati suatu kaum yang kuku mereka terbuat dari tembaga, kuku itu mereka gunakan untuk mencakar muka dan dada mereka. Aku lalu bertanya, "Wahai Jibril, siapa mereka itu?" Jibril menjawab, "Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan merusak kehormatan mereka." [Sunan Abi Daud: Shahih]

3.       Hakikat gibah

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-; Rasulullah pernah bertanya:

«أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟» قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ! قَال:َ «ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ». قِيل:َ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُول؟ُ قَال:َ «إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَه،ُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ»

"Tahukah kamu, apakah ghibah itu?" Para sahabat menjawab; 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Kemudian Rasulullah bersabda: 'Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.' Seseorang bertanya; 'Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? ' Rasulullah berkata: 'Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.' [Shahih Muslim]

4.       Larangan memakan bangkai.

Lihat: Halal-haram makanan dan minuman

5.       Perintah bertakwa.

Lihat: Bertakwa di manapun berada

6.       Allah Maha menerima taubat (At-Tawwab).

Lihat: Taubat .. Kenapa tidak ?

7.       Allah Maha kasih sayang (Ar-Rahiim)

Lihat: Kitab Adab Bab 19; Allah menciptakan rahmat seratus bagian

Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧٠٥ - حَدَّثَنَا يَحْيَى [بن جعفر بن عيان]: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الْأَعْمَشِ قَالَ: سَمِعْتُ مُجَاهِدًا يُحَدِّثُ عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى قَبْرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا هَذَا: فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَأَمَّا هَذَا: فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ». ثُمَّ دَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ، فَغَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا، وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا، ثُمَّ قَالَ: «لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا»

Telah menceritakan kepada kami Yahya [bin Ja’far bin ‘Ayyan], ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki', dari Al-A'masy dia berkata, saya mendengar Mujahid bercerita dari Thawus dari Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma dia berkata, Rasulullah pernah melewati dua kuburan lalu beliau bersabda, "Kedua penghuni kubur ini tengah disiksa dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu ini, tidak bersuci dari kencingnya, sedangkan yang ini disiksa karena selalu mengadu domba." Kemudian beliau meminta sepotong pelepah kurma yang masih basah. Beliau membelahnya menjadi dua dan menancapkannya pada dua kuburan tersebut. Beliau kemudian bersabda, 'Semoga ini bisa meringankan keduanya selagi belum kering.'

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Lihat: Keistimewaan Abdullah bin ‘Abbas

2)      Mu'jizat Nabi mengetahui perkara gaib.

Lihat: Mu'jizat Nabi Muhammad

3)      Bahaya adzab kubur.

Lihat: Siksa kubur yang mengerikan

4)      Berhati-hati dari najis.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«تَنَزَّهُوا مِنَ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ» [سنن الدارقطني: صححه الألباني]

“Sucikanlah diri kalian dari najis kencing, karena sesungguhnya kebanyakan siksaan kubur disebabkan karena najis kencing”. [Sunan Ad-Daruquthniy: Shahih]

Lihat: Adab buang hajat dan istinja’

5)      Buruknya adu domba.

Dari Asma' binti Yazid radhiyallahu 'anha; Nabi bersabda:

«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِشِرَارِكُمْ؟ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ، الْمُفْسِدُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ، الْبَاغُونَ لِلْبُرَآءِ الْعَنَتَ» [مسند أحمد: حسنه الألباني]

"Maukah aku beritahukan kepada kalian orang yang paling buruk di antara kalian? Yaitu orang orang yang suka menebar fitnah, yang merusak hubungan di antara dua orang bersaudara dan menganiaya terhadap orang yang tidak disukai dengan menyengsarakannya." [Musnad Ahmad: Hasan]

Lihat: Jaga puasamu dengan menjaga ucapanmu

6)      Kenapa dua dosa ini yang disebutkan?

                Karena shalat adalah hak Allah yang pertama dihisab, sedangkan shalat tidak sah jika bernajis.

                Kemudian darah adalah hak manusia yang pertama dihisab, sedangkan namimah adalah pemicu terjadinya peetumpahan darah. [Fathul Bary karya Ibnu Hajar]

7)      Anjuran mendo'akan penguni kubur.

Aisyah radhiallahu'anha berkata, 'Apa yang kubaca untuk penghuni kuburan wahai Rasulullah? '

Beliau menjawab: 'Bacalah:

«السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ» [صحيح مسلم]

“Semoga keselamatan tercurah bagi penduduk kampung orang-orang mukmin dan muslim ini. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang kemudian, dan kami insya Allah akan menyusul kalian semua.'" [Shahih Muslim]

Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (21); Berlebih-lebihan terhadap kuburan orang shalih menjadi penyebab dijadikannya sesembahan selain Allah

8)      Menanam atau menaburi bunga di atas kuburan tidak disyari'atkan.

Dengan alasan:

a.       Karena yang meringankan azabnya adalah do'a Nabi bukan daunnya, adapun daun itu hanya batas waktu berlakunya do'a Nabi .

b.       Nabi tidak melakukan hal itu kecuali pada dua kuburan tersebut.

c.       Nabi tidak memerintahkan hal tersebut.

d.       Sahabat juga tidak melakukannya.

e.       Melakukan hal tersebut berarti berburuk sangka kepada penghuni kuburan bahwa ia sedang di azab.

9)      Kasih sayang Nabi kepada umatnya.

Lihat: Akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

C.     Bab 47.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٤٧- باب: قَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ: «خَيْرُ دُورِ الْأَنْصَارِ».

Bab: Sabda Nabi "Sebaik-baik pemukiman orang Anshar"

                Dalam bab ini imam Bukhari menjelaskan bahwa memuji seseorang yang menyebabkan orang tersebut atau orang lain marah maka itu tidak termasuk gibah.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧٠٦ - حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ [بن عقبة]: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ [الثوري]، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ [عبد الله بن ذكوان]، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ [بن عبد الرحمن بن عوف]، عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «خَيْرُ دُورِ الْأَنْصَارِ بَنُو النَّجَّارِ»

Telah menceritakan kepada kami Qabishah [bin ‘Uqbah], ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan [Ats-Tsauriy], dari Abu Az-Zinnad [Abdullah bin Dzakwan], dari Abu Salamah [bin Abdirrahman bin ‘Auf], dari Abu Usaid As-Sa'idiy dia berkata, Nabi bersabda, "Sebaik-baik pemukiman orang Anshar adalah pemukiman Bani Najjar."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.       Biografi Abu Usaid As-Sa’idiy radhiyallahu ‘anhu.

                Namanya Malik bin Rabi’ah Al-Anshariy. Beliau adalah salah satu pembesar Sahabat, ikut perang Badr dan semua peperangan bersama Nabi . Ia yang dipercayakan memegang bendera pasukan Bani Sa’idah pada saat perang pembebasan kota Mekah. Beliau wafat tahun 30 hijriyah. [Siyar A’lam An-Nubala’ 2/539]

2.       Bani Najjar adalah suku terkemuka dari kabilah Khazraj, termasuk golongan sahabat Anshar di Madinah.

                Nama asli mereka adalah Taimullah bin Tsa'labah bin Amr bin Al-Khazraj. Bani Najjar merupakan paman dari kakek Nabi (Abdul Muthalib bin Hasyim), karena ibunda Abdul Muthalib bernama Salmah binti Amr An-Najjariyyah.

                Ketika hijrah ke Madinah, Nabi singgah di rumah mereka, dan membangun masjidnya yang mulia di marbad mereka (tempat menjemur kurma milik mereka).

3.       Boleh memuji jika tidak berlebihan.

4.       Boleh membanding-bandingkan jika tidak menimbulkan keburukan.

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah bersabda:

«مَا أَظَلَّتِ الخَضْرَاءُ وَلَا أَقَلَّتِ الغَبْرَاءُ أَصْدَقَ مِنْ أَبِي ذَرٍّ» [سنن الترمذي: صحيح]

"Tidak ada seorang lelaki yang berada di hamparan bumi ini dan di bawah naungan langit ini yang lebih jujur daripada Abu Dzar." [Sunan Tirmidziy: Shahih]

Lihat: Kisah islamnya Abu Dzar

D.    Bab 48.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٤٨ - باب: مَا يَجُوزُ مِنَ اغْتِيَابِ أَهْلِ الْفَسَادِ وَالرِّيَبِ.

“Bab: Boleh membicarakan orang yang suka berbuat rusak dan onar”

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧٠٧ - حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ الْفَضْلِ: أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ: سَمِعْتُ ابْنَ الْمُنْكَدِرِ: سَمِعَ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ: أَنَّ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَخْبَرَتْهُ قَالَتْ: اسْتَأْذَنَ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: «ائْذَنُوا لَهُ، بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ، أَوِ ابْنُ الْعَشِيرَةِ». فَلَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْكَلَامَ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قُلْتَ الَّذِي قُلْتَ، ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ الْكَلَامَ؟ قَالَ: «أَيْ عَائِشَةُ، إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ، أَوْ وَدَعَهُ النَّاسُ، اتِّقَاءَ فُحْشِهِ»

Telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Al-Fadl, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu 'Uyainah, Ia berkata: Saya mendengar Ibnu Al-Munkadir, dia mendengar 'Urwah bin Az-Zubair; bahwa Aisyah radhiallahu'anha pernah mengabarkan kepadanya, katanya, "Seorang laki-laki meminta izin kepada Nabi , beliau lalu bersabda, "Izinkanlah dia masuk, amat buruklah saudara 'Asyirah (maksudnya kabilah) ini atau amat buruklah Ibnul Asyirah (maksudnya kabilah) ini." Ketika orang itu duduk, beliau berbicara kepadanya dengan suara yang lembut, lalu aku bertanya, "Wahai Rasulullah, Anda berkata seperti ini dan ini, namun setelah itu Anda berbicara dengannya dengan suara yang lembut, Maka beliau bersabda, "Wahai 'A`isyah, sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut akan kekejiannya."

Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada bab sebelumnya (bab 38

E.     Bab 49.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٤٩ - باب: النَّمِيمَةُ مِنَ الْكَبَائِرِ.

Bab: Mengadu domba termasuk dosa besar

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧٠٨ - حَدَّثَنَا [محمد] ابْنُ سَلَامٍ: أَخْبَرَنَا عُبَيْدَةُ بْنُ حُمَيْدٍ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ مِنْ بَعْضِ حِيطَانِ الْمَدِينَةِ، فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا، فَقَالَ: «يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، وَإِنَّهُ لَكَبِيرٌ، كَانَ أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَكَانَ الْآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ». ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ فَكَسَرَهَا بِكِسْرَتَيْنِ أَوْ ثِنْتَيْنِ، فَجَعَلَ كِسْرَةً فِي قَبْرِ هَذَا، وَكِسْرَةً فِي قَبْرِ هَذَا، فَقَالَ: «لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا»

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad] Ibnu Salam, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami 'Abidah bin Humaid Abu Abdurrahman, dari Manshur, dari Mujahid dari Ibnu Abbas dia berkata, Nabi pernah keluar dari salah satu kebun yang ada di Madinah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang di siksa di kuburnya, setelah itu beliau bersabda, "Tidaklah keduanya di siksa karena dosa besar namun hal itu adalah perkara yang besar, salah satu darinya adalah tidak bersuci dari kencingnya sedangkan yang lain selalu mengadu domba." Kemudian beliau meminta sepotong pelepah kurma yang masih basah. Beliau membelahnya menjadi dua, sepotong beliau tancapkan di kuburan yang satu dan sepotong di kuburan yang lain. Beliau kemudian bersabda, 'Semoga ini bisa meringankan siksa keduanya selagi belum kering.'

Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada bab sebelumnya (bab 46)

F.     Bab 50.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٠ - باب: مَا يُكْرَهُ مِنَ النَّمِيمَةِ.

Bab: Yang dibenci dari adu domba

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

وَقَوْلِهِ: ﴿هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ﴾ [القلم: ١١] ﴿وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ﴾ [الهمزة: ١]: يَهْمِزُ وَيَلْمِزُ: يَعِيبُ.

Dan firmanNya: {yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah} [Al-Qalam: 11] {Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela} [Al-Humazah: 1]: Yahmizu dan Yalmizu maknanya mencela.

Penjelasan surah Al-Qalam ayat 10 dan 11:

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ (10) هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ} [القلم: 10، 11]

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. [Al-Qalam: 10 - 11]

Larangan mempercayai tukang adu domba.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ} [الحجرات : 6]

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.  [Al-Hujurat: 6]

Penjelasan surah Al-Humazah ayat 1.

Lihat: Tafsir surah "Al-Humazah"

Hadits Huzaifah radhiyallahu ‘anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٧٠٩ - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ [الفضل بن دكين]: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ [الثوري]، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ هَمَّامٍ [بن الحارث] قَالَ: كُنَّا مَعَ حُذَيْفَةَ، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ رَجُلًا يَرْفَعُ الْحَدِيثَ إِلَى عُثْمَانَ [بن عفان]، فَقَالَ حُذَيْفَةُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ».

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim [Al-Fadhl bin Dukain], telah menceritakan kepada kami Sufyan [Ats-Tsauriy], dari Manshur, dari Ibrahim, dari Hammam, ia berkata, "Kami pernah bersama Hudzaifah, lalu diberitahukan kepadanya bahwa ada seseorang yang melaporkan suatu pembicaraan kepada Utsman [bin ‘Affan], lantas Hudzaifah berkata kepada orang tersebut, "Aku mendengar Nabi bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba."

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2)      Adu domba yang paling buruk adalah adu domba antara penguasa dan rakyatnya.

3)      Makna tidak masuk surga:

Ada beberapa jawaban dari ulama tentang masalah ini:

a.       Menghalalkan adu domba.

b.       Allah mengampuni siapa yang dikehendaki selain dosa syirik.

c.       Tidak masuk surga khusus untuk orang yang tidak mengadu domba.

d.       Tidak segera masuk surga, diadzab dulu di neraka.

Lihat: Hadits Ibnu Mas’ud; Orang sombong tidak masuk surga

Wallahu a'lam!

 Lihat juga:  Kitab Adab bab 44; Larangan mencela dan melaknat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...