بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam bab ini, syekh Muhammad bin Abdil
Wahhab rahimahullah menyebutkan 1 hadits yang menunjukkan larangan menolak permintaan orang
yang menyebut nama Allah ‘azza wajalla.
بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam bab ini, syekh Muhammad bin Abdil
Wahhab rahimahullah menyebutkan 1 hadits yang menunjukkan larangan menolak permintaan orang
yang menyebut nama Allah ‘azza wajalla.
بسم الله الرحمن
الرحيم
Imam
Bukhari rahimahullah berkata:
كِتَابُ الرِّقَاقِ
“Kitab: Pelunak-pelunak hati”
"بَابٌ: لاَ عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ
الآخِرَةِ"
“Bab: Tidak ada kehidupan kecuali kehidupan
akhirat”
Judul bab ini adalah pengalan salah satu
hadits yang akan disebutkan oleh imam Bukhari dalam bab ini, semuanya ada 3
hadits, dari Ibnu ‘Abbas, Anas bin Malik, dan Sahl bin Sa’ad
As-Sa’idiy radhiyallahu ‘anhum.
بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam bab ini, syekh Muhammad bin Abdil
Wahhab rahimahullah menyebutkan 1 hadits yang menunjukkan larangan mengucapkan: “Abdi atau
amati (hambaku)”.
بسم الله الرحمن الرحيم
Kitab Iman dalam Shahih Bukhari
terdiri dari 43 judul bab:
Bab (01); “Islam dibangun atas
lima (rukun)”
https://umar-arrahimy.blogspot.com/2021/10/kitab-iman-bab-01-islam-dibangun-atas.html
Bab (2): “Do’a kalian adalah iman
kalian, karena firman Allah ‘azza wajalla: {Katakanlah (kepada
orang-orang musyrik): "Tuhanku tidak mengindahkan kamu (dengan
siksaanNya), seandainya bukan karena ibadatmu"} [Al-Furqaan: 77], dan
makna do’a dalam bahasa Arab adalah iman”.
https://umar-arrahimy.blogspot.com/2021/11/kitab-iman-bab-02-03-04-dan-05-perkara.html
بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari -rahimahullah- berkata:
بَابُ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "
الدِّينُ النَّصِيحَةُ: لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ
وَعَامَّتِهِمْ "
"Bab: Sabda Nabi ﷺ: Agama adalah kebaktian; Untuk Allah, Rasul-Nya, dan para
pemimpin kaum muslimin (ulama dan umara'), serta kaum awam mereka."
بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam bab ini, syekh Muhammad bin Abdil
Wahhab rahimahullah menyebutkan 1 hadits yang menunjukkan larangan berdo’a dengan ucapan “Ya
Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki”.
بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari -rahimahullah- berkata:
بَابٌ: مَا جَاءَ إِنَّ الأَعْمَالَ
بِالنِّيَّةِ وَالحِسْبَةِ، وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Bab: Bahwa amalan tergantung niat dan
tujuan, serta setiap orang mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya”
بسم الله الرحمن الرحيم
Hadits kedelapan:
8/102-الثامن: عن أبي عبد اللَّه حُذَيْفةَ بنِ اليمانِ،
رضي اللَّهُ عنهما، قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ
وسَلَّم ذَاتَ ليْلَةٍ، فَافَتَتَحَ الْبقرة، فقُلْت يرْكَعُ عِندَ المائة، ثُمَّ
مَضَى، فَقُلْت يُصلِّي بِهَا في رَكْعةٍ، فَمَضَى فَقُلْت يَرْكَع بهَا، ثمَّ
افْتتَح النِّسَاءَ، فَقَرأَهَا، ثمَّ افْتتح آلَ عِمْرانَ فَقَرَأَهَا، يَقْرُأُ
مُتَرَسِّلاً إذَا مرَّ بِآيَةٍ فِيها تَسْبِيحٌ سَبَّحَ، وإِذَا مَرَّ بِسْؤالٍ
سَأل، وإذَا مَرَّ بِتَعَوذٍ تَعَوَّذَ، ثُمَّ رَكَعَ فَجعل يقُول: "سُبحانَ
رَبِّيَ الْعظِيمِ"، فَكَانَ ركُوعُه نحْوا مِنْ قِيامِهِ، ثُمَّ قَالَ:
"سمِع اللَّهُ لِمن حمِدَه، ربَّنا لك الْحمدُ"، ثُم قَام قِياماً
طوِيلاً قَريباً مِمَّا ركَع، ثُمَّ سَجَدَ فَقالَ: "سُبْحَانَ رَبِّيَ
الأعلَى" فَكَانَ سُجُوده قَرِيباً مِنْ قِيامِهِ". رواه مسلم.
Dari Abu Abdillah Hudzaifah bin Al-Yaman
radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata; Pada suatu malam, saya shalat (Qiyamul
Lail) bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau mulai
membaca surah Al-Baqarah. Kemudian saya pun berkata (dalam hati bahwa beliau)
akan rukuk pada ayat yang keseratus. Kemudian (seratus ayat pun) berlalu, lalu
saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan shalat dengan (surat itu) dalam
satu rakaat. Namun (surah Al-Baqarah pun) berlalu, maka saya berkata (dalam
hati bahwa) beliau akan segera sujud. Ternyata beliau melanjutkan dengan mulai
membaca surah An Nisa` hingga selesai membacanya. Kemudian beliau melanjutkan
ke surah Ali 'Imran hingga selesai hingga beliau selesai membacanya. Bila
beliau membaca ayat tasbih, beliau bertasbih dan bila beliau membaca ayat yang
memerintahkan untuk memohon, beliau memohon, dan bila beliau membaca ayat
ta'awwudz (ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan) beliau memohon
perlindungan. Kemudian beliau rukuk. Dalam rukuk, beliau membaca,
"SUBHAANA RABBIYAL 'AZHIIM (Maha suci Tuhanku yang Maha agung)." Dan
lama beliau rukuk hampir sama dengan berdirinya. Kemudian beliau membaca,
"SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Maha Mendengar Allah akan orang yang memuji-Nya)."
Kemudian beliau berdiri dan lamanya berdiri lebih kurang sama dengan lamanya
rukuk. Sesudah itu beliau sujud, dan dalam sujud beliau membaca, "SUBHAANA
RABBIYAL A'LAA (Maha suci Tuhanku Yang Maha tinggi)." Lama beliau sujud
hampir sama dengan lamanya berdiri. [Diriwayatkan oleh Muslim]
بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam bab ini, syekh Muhammad bin Abdil
Wahhab rahimahullah menyebutkan 1 hadits yang menunjukkan larangan mengucapkan “Assalamu
‘alallah” keselamatan untuk Allah ‘azza wajalla.
Diriwayatkan dalam shahih Bukhari dan
Muslim, dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
" كُنَّا إِذَا كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ الصَّلاَةِ، قُلْنَا: السَّلاَمُ عَلَى اللهِ مِنْ
عِبَادِهِ، السَّلاَمُ عَلَى فُلاَنٍ وَفُلاَنٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَقُوْلُوْا السَّلاَمُ عَلَى اللهِ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ
السَّلاَمُ "
“Ketika kami melakukan shalat bersama Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kami pernah mengucapkan: “semoga
keselamatan untuk Allah dari hamba-hambaNya, semoga keselamatan untuk si fulan
dan si fulan”, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah
kamu mengucapkan: “keselamatan
semoga untuk Allah”, karena sesungguhnya Allah adalah (Maha pemberi
keselamatan).
بسم الله الرحمن الرحيم
Allah ta’aalaa berfirman:
{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا
لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ} [العنكبوت:69]
Dan orang-orang yang berjihad (berusaha
dengan sungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik. [Al-'Ankabuut:69]