بسم
الله الرحمن الرحيم
Pembukaan
الله أكبر، الله
أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد. الله أكبر
كبيرًا، والحمد لله كثيرًا، وسبحان الله بكرة وأصيلاً. لا إله إلا الله وحده، صدق
وعده، ونصر عبده، وأعز جنده، وهزم الأحزاب وحده، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا
إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون.
الحمد لله الذي
أتم لنا الصيام، وأعاننا على القيام، ووفقنا لصلاة العيد والاجتماع على البر
والتقوى. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله،
صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد،
فيا عباد الله،
أوصيكم ونفسي بتقوى الله عز وجل، فقد قال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}
[آل عمران: 102]
Pendahuluan: Makna Idul Fitri
Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah.
Hari ini, di pagi yang cerah ini, kita berkumpul untuk
merayakan hari kemenangan. Hari di mana kita semua diizinkan kembali kepada
fitrah, suci seperti bayi yang baru lahir, setelah sebulan penuh berpuasa,
bertarawih, dan memperbanyak amal ibadah. Takbir, tahmid, dan tahlid
berkumandang sebagai ungkapan syukur kita atas nikmat iman dan Islam.
Namun, saudaraku, Idul Fitri bukan sekadar euforia
kemenangan. Bukan pula hanya tentang baju baru, hidangan lezat, atau kumpul
keluarga semata. Lebih dari itu, Idul Fitri adalah momentum untuk memperbaiki
hubungan, terutama hubungan kita dengan kedua orang tua. Sebab, di antara
pintu-pintu kebaikan yang paling utama setelah kewajiban kepada Allah adalah
berbakti kepada ibu bapak kita.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman dalam Al-Qur’an:
{وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا
إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا} [الإسراء:
23]
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua
dengan sebaik-baiknya." [Al-Isra': 23]
Ayat ini menunjukkan bahwa perintah berbakti kepada orang tua
berada tepat setelah perintah tauhid. Ini menegaskan betapa agungnya kedudukan
mereka dalam Islam.
Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Berbakti kepada orang tua, atau yang sering disebut birrul
walidain, memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ bersabda, ketika seorang sahabat bertanya tentang amal yang
paling dicintai Allah:
"الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا، ثُمَّ
بِرُّ الْوَالِدَيْنِ، ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ"
"Shalat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua
orang tua, kemudian jihad di jalan Allah." [Shahih Bukhari dan Muslim]
Subhanallah, berbakti kepada orang tua bahkan didahulukan dari jihad,
padahal jihad adalah amal yang sangat mulia. Ini menunjukkan bahwa ridha Allah
bergantung pada ridha orang tua. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
"رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ،
وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ"
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka
Allah tergantung pada murka orang tua." [Sunan Tirmidzi:Shahih]
Betapa besar peluang meraih surga melalui pintu bakti kepada
mereka. Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berbaiat untuk berhijrah, namun beliau bertanya,
"Apakah masih ada salah seorang dari kedua orang tuamu yang hidup?"
Ia menjawab, "Keduanya masih hidup." Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
"فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ"
"Kalau begitu, berbaktilah kepada keduanya (dengan
sungguh-sungguh)." [Shahih Bukhari]
Artinya, merawat orang tua di rumah adalah bentuk jihad yang
agung, bahkan pahalanya melebihi jihad di medan perang bagi yang berhak.
Lihat: Berbakti pada kedua orang tua
Bentuk-Bentuk Bakti kepada Orang Tua
Ma’asyiral Muslimin,
Berbakti kepada orang tua tidak hanya saat mereka masih
hidup, tetapi juga setelah mereka wafat. Berikut beberapa bentuk bakti yang
bisa kita lakukan:
1.
Saat mereka masih hidup:
· Berbicara dengan lemah
lembut, tidak membentak, apalagi berkata "ah" (uff).
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا
تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا} [الإسراء:
23]
"Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada
keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak mereka, dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia." [Al-Isra': 23]
· Mentaati perintah mereka
selama tidak maksiat.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَوَصَّيْنَا
الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ
لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا} [العنكبوت: 8]
Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang
ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya.
[Al-‘Ankabuut:8]
· Membantu pekerjaan
rumah, meringankan beban mereka.
Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhuma berkata: Sesungguhnya bapakku
mengadukanku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka
beliau bersabda:
"أَطِعْ أَبَاكَ مَا دَامَ حَيًّا،
وَلَا تَعْصِهِ" [مسند
أحمد: حسن]
“Taatilah bapakmu selama ia hidup, dan jangan engkau
mendurhakainya”. [Musnad Ahmad: Hasan]
· Memberikan nafkah jika
mereka membutuhkan, dengan ikhlas.
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhuma;
Bahwasanya seorang lelaki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan bertanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta dan anak, dan
sesungguhnya orang tuaku membutuhkan hartaku?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"أَنْتَ وَمَالُكَ لِوَالِدِكَ" [سنن أبي داود: صححه الألباني]
“Engkau dan hartamu adalah milik orang tuamu”. [Sunan Abi
Daud: Sahih]
· Mendoakan mereka setiap
waktu, terutama di sepertiga malam.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَقُلْ
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا} [الإسراء: 24]
Dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka
keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". [Al-Israa’:24]
2.
Setelah mereka meninggal dunia:
· Melanjutkan amal shaleh
yang biasa mereka lakukan, atau bersedekah atas nama mereka.
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Seorang laki-laki
bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
إِنَّ أَبِي
مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا، وَلَمْ يُوصِ، فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ
عَنْهُ؟ قَالَ: «نَعَمْ» [صحيح مسلم]
Sesungguhnya bapakku meninggal dan mewariskan harta, dan ia
tidak berwasiat. Apakah akan menghapuskan dosa-dosanya jika aku bersedekah
untuknya? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Iya".
[Shahih Muslim]
· Menjaga silaturahmi
dengan kerabat dan sahabat mereka.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ صِلَةَ
الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ» [صحيح مسلم]
“Sesungguhnya termasuk barbakti (kepada kedua orang tua) yang
terbaik adalah dengan menyambung hubungan dengan orang yang dulu dicintai oleh
bapaknya setelah meninggalnya”. [Sahih Muslim]
· Memohonkan ampunan untuk
mereka.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
"إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ
عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ
يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ"
"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya
kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh
yang mendoakannya." [Shahih Muslim]
Saudaraku, doa anak untuk orang tua adalah hadiah terindah
yang tak pernah putus pahalanya.
Lihat: Bagaimana berbakti pada kedua orang tua
Bahaya Durhaka kepada Orang Tua
Di sisi lain, kita juga harus waspada terhadap sikap durhaka
kepada orang tua (uququl walidain). Durhaka adalah dosa besar yang disebut
Rasulullah ﷺ sebagai salah satu dosa besar
yang paling cepat azabnya di dunia. Beliau bersabda:
"كُلُّ ذُنُوبٍ يُؤَخِّرُ الله مَا
شَاءَ مِنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِلَّا الْبَغْيُ، وَعُقُوقُ
الْوَالِدَيْنِ، فَإِنَّ صَاحِبَهُمَا يُعَجَّلُ لَهُمَا فِي الدُّنْيَا"
"Semua dosa itu Allah tunda balasannya hingga hari
kiamat, kecuali kezaliman terhadap sesama dan durhaka kepada orang tua, maka
Allah akan menyegerakan hukumannya di dunia." [Syu'abul Iman karya
Al-Baihaqiy, Dishahihkan oleh syekh Albaniy dalam kitab Shahih Adabul Mufrad]
Betapa banyak kita saksikan orang yang sukses secara materi
namun hidupnya selalu diliputi masalah, tidak tenang, mungkin saja itu akibat
durhaka pada orang tua. Naudzubillah.
Kaitannya dengan Idul Fitri: Momentum
Memperbaiki Hubungan
Jamaah rahimakumullah,
Idul Fitri adalah hari kemenangan, tetapi juga hari untuk
saling memaafkan. Di hari yang fitri ini, mari kita jadikan momen untuk memohon
maaf kepada kedua orang tua, jika masih ada. Sungkeman, cium tangan, ucapkan
terima kasih, dan mintalah doa restu mereka.
Bagi yang orang tuanya telah tiada, jangan bersedih. Kita
tetap bisa berbakti dengan mendoakan mereka, bersedekah untuk mereka, dan
menjaga nama baik mereka.
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: Seorang laki-laki mendatangi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya:
يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَصَبْتُ ذَنْبًا عَظِيمًا، فَهَلْ لِي تَوْبَةٌ؟ قَالَ: «هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟» قَالَ: لَا. قَالَ: «هَلْ لَكَ مِنْ خَالَةٍ؟» قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: «فَبِرَّهَا»
Wahai Rasulullah, aku telah melakukan dosa yang sangat besar,
apakah ada taubat untukku? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya
kepadanya: "Apakah kamu masih memiliki ibu?" Ia menjawab: Tidak!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: "Apakah kamu
memiliki khalah (saudari perempuan ibu)?" Ia menjawab: Iya! Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Berbuat baiklah kepadanya".
[Sunan Tirmidzi: Sahih]
Maka, jika orang tua kita sudah tiada, jangan lupa untuk
mengunjungi atau menghubungi teman-teman lama mereka, tanyakan kabar, dan jalin
silaturahmi.
Penutup dan Doa
Ma’asyiral Muslimin,
Mari kita renungkan, sudahkah kita berbakti kepada orang tua
kita? Sudahkah kita membuat mereka tersenyum? Atau justru sering menyakiti hati
mereka? Idul Fitri ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki segalanya.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan,
mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang selalu berbakti
kepada kedua orang tua, serta meraih ridha-Nya. Amin.
أقول
قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Sumber pokok materi: “IA DeepSeek” dengan beberapa tambahan ayat Al-Qur'an dan hadits.
Lihat juga: Kitab Adab; Bab 01, 02, 03 dan 04: Berbakti kepada kedua orang tua - Kitab Adab; Bab 05 dan 06: Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua - Menanamkan tauhid dan adab pada anak sejak dini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...