بسم
الله الرحمن الرحيم
Sering kali kita mendengar keluhan orang tua tentang
anak-anak mereka. Ada yang merasa kewalahan karena anaknya sulit diatur, mudah
marah, tidak sopan, atau bahkan lebih parah lagi, mulai menunjukkan
ketidakpedulian terhadap agama. Kita mungkin bertanya-tanya, di mana letak
kesalahan kita?
Jawabannya mungkin sederhana, namun sangat dalam
maknanya. Banyak di antara kita yang mungkin terlalu fokus pada pendidikan
akademis, les ini dan itu, pakaian bermerek, atau gadget terbaru untuk
anak-anak kita, namun kita lupa bahwa fondasi paling utama yang harus kita
bangun dalam diri mereka adalah fondasi iman (tauhid) dan bangunan akhlak
(adab).
Mari kita renungkan sejenak, apa warisan terbaik yang
bisa kita berikan kepada anak-anak kita sebelum kita meninggalkan dunia ini?
Bukan harta yang melimpah, bukan jabatan yang tinggi, melainkan keturunan yang
saleh dan salehah yang selalu mendoakan kita. Dan kesalehan itu tidak datang
dengan sendirinya. Ia harus ditanam, disiram, dan dirawat.
Lihat: "Membangun Pilar Iman: Mengurai Sebab-Sebab Keshalihan Umat dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sunnah"
Mengapa Tauhid Adalah Fondasi Utama?
Tauhid adalah inti dari ajaran Islam. Ia adalah
keyakinan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad
adalah utusan Allah. Tauhid inilah yang membedakan seorang Muslim dengan yang
bukan Muslim. Tauhid inilah yang menjadi modal utama seorang hamba untuk
bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan selamat.
Lalu, mengapa kita harus menanamkan tauhid sejak dini?
Sebab, anak-anak di usia dini adalah seperti kertas
putih yang masih bersih. Ia akan menerima apa pun yang kita tuliskan di
atasnya. Jika kita menuliskan kebaikan dan keimanan, maka itulah yang akan
melekat. Jika kita menuliskan keburukan dan kekufuran, maka itulah yang akan ia
bawa.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam
Al-Qur'an:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا} [التحريم : 6]
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka..." [At-Tahrim: 6]
Ayat ini adalah perintah langsung dari Allah kepada
kita, para orang tua, untuk tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga
seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak kita, dari siksa api neraka.
Menyelamatkan mereka dari api neraka adalah dengan memastikan bahwa mereka
meninggal dunia dalam keadaan bertauhid, dalam keadaan beriman kepada Allah.
Lihat: Keutamaan Tauhid
Bagaimana cara menanamkan tauhid pada anak?
1.
Perkenalkan
Allah melalui fitrah.
Anak-anak memiliki fitrah untuk mengakui keberadaan
Pencipta. Saat melihat langit yang luas, bintang yang bertaburan, atau hujan
yang turun, kita bisa bertanya kepada mereka, "Wahai anakku, siapa ya yang
menciptakan langit yang indah ini? Siapa yang menurunkan hujan ini?"
Kemudian kita jawab, "Dialah Allah, Tuhan kita."
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Suatu hari aku duduk di
belakang Rasulullah ﷺ,
beliau bersabda:
«يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ
كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ،
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ،
وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ
يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا
عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ
اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»
"Wahai bocah, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat,
jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah kau akan mendapati-Nya
di hadapanmu, jika kau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika kau minta
bantuan maka mintalah kepada Allah, ketahuilah .. sesungguhnya jika semua umat
sepakat untuk memberimu suatu yang bermanfaat, mereka tidak akan memberimu
kecuali sesuatu yang sudah ditakdirkan Allah untukmu, dan seandainya mereka
sepakat untuk mencelakaimu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa mencelakaimu
kecuali sesuatu yang sudah ditakdirkan Allah kepadamu, pena telah diangkat dan
lembaran telah kering. [Sunan Tirmidzi: Shahih]
Lihat: Allah Yang Maha Menguasai "Al-Malik"
2.
Tanamkan rasa
cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ajak mereka merasakan kebesaran Allah melalui
ciptaan-Nya. Ceritakan kisah-kisah Nabi yang penuh hikmah. Biasakan mereka
mendengar kalimat-kalimat thayyibah seperti "Alhamdulillah",
"MasyaAllah", "Subhanallah" dalam keseharian.
Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (31); Cinta kepada Allah
3.
Ajarkan secara
perlahan ibadah mahdhah.
Ajak mereka shalat meskipun mungkin baru sebatas
gerakannya. Ceritakan mengapa kita shalat, yaitu karena kita menghamba kepada
Allah. Jangan paksa, tapi biasakan dan berikan teladan.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ
وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ
لِلتَّقْوَى} [طه: 132]
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan
bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu,
Kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi
orang yang bertakwa.
[Thaahaa:132]
Ø Dari Abdullah
bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ
وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ
عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ» [سنن أبي داود: صححه الألباني]
“Perintahkanlah anakmu shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan
pukullah mereka jika meninggalkan shalat ketika mereka berumur sepuluh tahun,
dan pisahkanlah tempat tidur mereka”. [Sunan Abi Daud: Sahih]
Ø Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata;
رَفَعَتِ امْرَأَةٌ صَبِيًّا لَهَا،
فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَلِهَذَا حَجٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَلَكِ أَجْرٌ»
Ada seorang wanita yang menggendong anak kecil lalu bertanya, "Wahai
Rasulullah, apakah anak kecil ini boleh menunaikan haji." Beliau menjawab:
"Ya, dan kamu juga mendapatkan pahala." [Shahih Muslim]
Lihat: Kewajiban orang tua mendidik anaknya
Adab Adalah Buah dari Pohon Tauhid
Jika tauhid adalah akar yang kuat yang menancap dalam
hati, maka adab adalah buah dan dedaunan yang indah yang terlihat oleh orang
lain. Adab adalah cerminan dari iman seseorang.
Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu;
Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا
أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» [سنن أبي داود: صحيح]
“Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling mulia
akhlaknya”. [Sunan Abi Daud: Shahih]
Seseorang bisa saja rajin shalat, rajin puasa, hafal
Al-Qur'an, namun jika adabnya buruk, maka imannya dipertanyakan. Sebaliknya,
anak yang memiliki adab yang baik, akan lebih mudah diterima di masyarakat dan
lebih mudah pula dibimbing ke jalan kebaikan.
Sayangnya, di era modern ini, adab seringkali
dikesampingkan. Kita bangga jika anak kita pintar matematika atau fasih
berbahasa asing, tetapi kita mungkin lupa untuk menegurnya ketika ia berbicara
kasar kepada orang tua, atau ketika ia makan sambil berdiri atau tidak membaca
doa.
Lihat: Aqidah sebagai pondasi akhlak mulia
Lalu, adab apa saja yang perlu kita tanamkan?
1)
Adab kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ini adalah induk dari semua adab. Ajarkan anak untuk
selalu mendahulukan cinta kepada Allah dan Rasul di atas cinta kepada siapa
pun. Jika ada perintah Allah, ia harus taat. Jika ada larangan Allah, ia harus
tinggalkan. Misalnya, ketika waktu shalat tiba, ajarkan untuk segera bersiap,
meskipun sedang asyik bermain.
Lihat: Hadits Ibnu Mas’ud; Malu kepada Allah yang sebenarnya
2)
Adab kepada Orang Tua.
Inilah yang sangat krisis saat ini. Ajarkan anak untuk
berkata lembut kepada ayah dan ibunya, tidak membentak, tidak berkata
"ah" atau "uff". Biasakan mereka untuk mencium tangan orang
tua saat pergi atau pulang, minta tolong dengan sopan, dan mengucapkan terima
kasih. Ingatkan mereka bahwa ridha Allah tergantung pada ridha orang tua.
Lihat: Bakti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada orang tuanya
3)
Adab dalam Keseharian.
Diantaranya:
a.
Adab makan dan minum: membaca doa, menggunakan tangan
kanan, duduk, tidak mencela makanan.
Umar bin Abu Salamah radhiyallahu 'anhu berkata: Waktu aku masih
kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah ﷺ, tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ
بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Wahai anak kecil, bacalah Bismilillah, makanlah dengan tangan
kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu."
Maka seperti itulah cara makanku setelah itu. [Sahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Adab makan dalam Islam - Adab minum dalam Islam
b. Adab masuk
dan keluar rumah:
mengucap salam, meminta izin.
c. Adab
berbicara: jujur,
tidak berkata kotor, tidak menyela pembicaraan orang lain.
Lihat: Adab berkomunikasi
d.
Adab terhadap teman: mengucap salam saat bertemu, tidak saling mendengki,
tidak meremehkan.
Lihat: 10 sebab yang menguatkan persaudaraan
Para orang tua, menanamkan adab ini bukan dengan cara
menceramahi anak terus-menerus. Itu tidak efektif. Cara paling utama adalah
dengan menjadi teladan (uswah hasanah). Anak adalah peniru ulung. Mereka
lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat, daripada apa yang mereka
dengar. Jika kita ingin anak kita tidak berkata kasar, maka jangan pernah
berkata kasar di depan mereka. Jika kita ingin anak kita rajin shalat, maka
perlihatkanlah semangat kita untuk shalat berjamaah.
Momentum dan Metode Menanamkan
Kapan waktu terbaik untuk memulai? Jawabannya adalah
sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan. Di masa kandungan, perbanyaklah
mendengar Al-Qur'an.
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu;
Rasulullah ﷺ bersabda:
«كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى
الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ
يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ البَهِيمَةِ تُنْتَجُ البَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا
جَدْعَاءَ» [صحيح
البخاري ومسلم]
“Setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka
kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau Nashrani, atau
Majusi, ibarat hewan yang melahirkan hewan, apakah engkau melihat ada yang
tidak punya telinga?” [Sahih Bukhari dan Muslim]
Hadits ini sangat tegas menjelaskan bahwa orang tua
adalah penentu arah keyakinan anak. Jika kita mendidik mereka dengan tauhid,
mereka akan tumbuh menjadi Muslim yang hanif. Jika kita biarkan atau justru
mengenalkan mereka pada kesyirikan dan kemaksiatan, maka kita telah
mengkhianati amanah yang Allah berikan.
Lihat: Pentingnya mendidik anak sejak dini dengan Al-Qur'an
Beberapa
metode praktis yang bisa kita lakukan:
a. Metode Keteladanan: Ini
yang paling utama.
b. Metode Pembiasaan: Biasakan
mereka dengan kebaikan sejak kecil.
c. Metode Nasihat: Nasihatilah
mereka di saat yang tepat, dengan bahasa yang lembut dan penuh kasih sayang.
d. Metode Perhatian (Pengawasan): Pantau
pergaulan, tontonan, dan bacaan mereka. Di era digital ini, kontrol terhadap
gadget adalah jihad tersendiri bagi orang tua. Pastikan tontonan mereka adalah
tontonan yang Islami dan mendidik.
e. Metode Doa: Jangan
pernah lelah berdoa kepada Allah agar anak-anak kita menjadi penyejuk mata hati
(qurrata a'yun). Seperti doa Nabi Ibrahim 'Alaihissalam:
{رَبِّ هَبْ لِي مِنَ
الصَّالِحِينَ} [الصافات
: 100]
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang
termasuk orang yang saleh." [Ash-Shaffat: 100]
Dalam Al-Qur’an banyak disebutkan do’a untuk kebaikan
bagi anak dan keluarga, diantaranya:
{رَبَّنَا هَبْ لَنَا
مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا}
"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri
kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam
bagi orang-orang yang bertakwa”. [Al-Furqan:74]
{رَبِّ اجْعَلْنِيْ
مُقِيْمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ}
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang
yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku". [Ibrahim: 40-41]
{رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ
أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ
أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ
إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ}
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat
Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku
dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku
dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada
Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". [Al-Ahqaaf:15]
Lihat: Tatacara mendidik anak dalam Islam
Penutup dan Kesimpulan
Sebagai penutup, marilah kita renungkan bersama.
Anak-anak kita adalah amanah. Mereka bukan sekadar
harta atau perhiasan dunia, tetapi mereka adalah investasi akhirat kita. Kelak,
ketika kita sudah berada di alam kubur, yang akan terus mengalirkan pahala
adalah anak saleh yang mendoakan kita.
Karena itu, jangan pernah remehkan pendidikan tauhid
dan adab. Jangan tunggu mereka besar untuk mulai mengajarkan ini. Mulailah dari
sekarang, dari hal-hal yang kecil, dengan kesabaran dan keteguhan hati.
Ingatlah, harta yang paling berharga adalah keturunan
yang saleh. Bentengi mereka dengan tauhid yang kokoh agar tidak mudah goyah
oleh badai kehidupan. Hiasi mereka dengan adab yang mulia agar menjadi pribadi
yang diridhai Allah dan disayangi sesama.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan
kita kekuatan dan keistiqamahan dalam mendidik buah hati kita. Semoga anak-anak
kita menjadi generasi rabbani yang berilmu, bertauhid, dan berakhlak mulia.
Lihat: Anak Adalah Amanah
Wallahu a’lam!
Sumber pokok materi: “IA DeepSeek” dengan beberapa tambahan
ayat Al-Qur'an dan hadits.
Lihat juga: Urgensi adab dalam tatanan masyarakat - Hidup berkah dengan akhlak mulia - Peran keluarga Islami dalam kehidupan masyarakat damai
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...