بسم
الله الرحمن الرحيم
Jubair bin Muth'im bin 'Adiy radhiyallahu ‘anhu berkata:
«سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقْرَأُ فِي
الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ، وَذَلِكَ أوَّلَُ مَا وَقَرَ الْإِيمَانُ فِي قَلْبِي»
"Aku mendengar Nabi ﷺ membaca (surah) Ath-Thur pada salat Magrib, dan itulah awal
mula keimanan tertanam dalam hatiku." [Shahih Bukhari]
Ø Dalam riwayat
lain:
«سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقْرَأُ فِي
الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ، فَلَمَّا بَلَغَ هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿أَمْ خُلِقُوا مِنْ
غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ * أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ
بَلْ لا يُوقِنُونَ * أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ
المُسَيْطِرُونَ﴾ كَادَ قَلْبِي أَنْ يَطِيرَ»
"Aku mendengar Nabi ﷺ membaca (surah) Aṭ-Ṭhūr pada salat Magrib. Ketika beliau sampai
pada ayat ini: 'Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang
menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan
bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa pun). Ataukah di sisi mereka ada
perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa?' Hampir saja hatiku
terbang (karena takjub dan tersentuh)." [Shahih Bukhari]
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2.
Al-Qur'an memberi pengaruh kepada gunung yang besar dan
kuat apalagi kepada hati.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{لَوْ
أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا
مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ
يَتَفَكَّرُونَ} [الحشر:
21]
Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran Ini kepada sebuah
gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan
ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk
manusia supaya mereka berfikir. [Al-Hasyr:21]
{اللَّهُ
نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ
مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ
وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن
يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ} [الزمر : 23]
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al
Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya
kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan
hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu
Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan
Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. [Az-Zumar: 23]
Ø Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:
«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَجَدَ بِالنَّجْمِ،
وَسَجَدَ مَعَهُ الْمُسْلِمُونَ وَالْمُشْرِكُونَ، وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ»
"Bahwasanya Nabi ﷺ sujud (ketika membaca surat) "An-Najm", dan ikut sujud bersamanya
kaum muslimin, kaum musyrikin, jin, dan manusia." [Shahih Bukhari]
Lihat: Keistimewaan Al-Qur'an
3.
Al-Qur’an adalah obat untuk hati.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{يَا
أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا
فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ} [يونس: 57]
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran
dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. [Yunus:57]
Ø Al-Barra' bin
'Azib radhiyallahu
‘anhu berkata: Nabi ﷺ
bersabda:
«السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالقُرْآنِ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Ketenangan turun di saat membaca Al-Qur'an”. [Shahih Bukhari
dan Muslim]
Lihat: Keutamaan membaca Al-Qur'an
4.
Al-Qur’an menambah keimanan.
Allah subhanahuwata'aalaa berfirman:
{إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا
تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُونَ} [الأنفال:
2]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila
disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya
bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka
bertawakkal.
[Al-Anfaal:2]
Ø Jundub bin
Abdillah radhiyallahu
'anhu berkata:
«كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ
حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ،
ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا»
"Kami bersama Nabi ﷺ dan kami adalah pemuda-pemuda yang kuat, maka kami mempelajari
iman sebelum mempelajari Al-Qur'an, kemudian kami mempelajari Al-Qur'an
sehingga bertambahlah iman kami karenanya." [Sunan Ibnu Majah: Shahih]
Lihat: Menyuburkan Iman, Memanen Pahala: Merawat Hubungan dengan Al-Qur'an
5.
Al-Qur'an sebab keimanan.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَإِذَا
سَمِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ
الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا
فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ} [المائدة : 83]
Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada
Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan
kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka
sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka
catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran
dan kenabian Muhammad). [Al-Maidah: 83]
Ø Dari Ummu
Salamah radhiyallahu ‘anha;
فَقَالَ لَهُ
النَّجَاشِيُّ: هَلْ مَعَكَ مِمَّا جَاءَ بِهِ عَنِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ؟ قَالَتْ:
فَقَالَ لَهُ جَعْفَرٌ: نَعَمْ، فَقَالَ لَهُ النَّجَاشِيُّ: فَاقْرَأْهُ عَلَيَّ،
فَقَرَأَ عَلَيْهِ صَدْرًا مِنْ {كهيعص} [سورة مريم]، قَالَتْ: فَبَكَى وَاللَّهِ النَّجَاشِيُّ
حَتَّى أَخْضَلَ لِحْيَتَهُ، وَبَكَتْ أَسَاقِفَتُهُ حَتَّى أَخْضَلُوا
مَصَاحِفَهُمْ حِينَ سَمِعُوا مَا تَلا عَلَيْهِمْ، ثُمَّ قَالَ النَّجَاشِيُّ:
إِنَّ هَذَا وَاللَّهِ وَالَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى لَيَخْرُجُ مِنْ مِشْكَاةٍ
وَاحِدَةٍ، انْطَلِقَا فَوَاللَّهِ لَا أُسْلِمُهُمِ إلَيْكُم أبَدًا، وَلا
أُكَادُ!»
An-Najasy berkata padanya (Ja'far); Mungkin kalian bisa
membacakan yang Rasulullah terima dari Allah? Ja'far menjawab, Ya. An Najasy
berkata, Bacalah. Kemudian Ja'far membaca permulaan surat Maryam lalu An Najasy
menangis, demi Allah, sampai membasahi janggutnya, dan uskup-uskupnya pun
menangis hingga membasahi kitab suci-kitab suci mereka saat mendengar yang
dibacakan Ja'far kepada mereka. Kemudian An Najasy berkomentar; Sesungguhnya
ini demi yang dibawa Musa, berasal dari lentera yang sama. Demi Allah, aku
tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian dan tidak akan berbuat yang
tidak-tidak untuk mereka.
Lihat: Usaha kaum Musyrikin menggagalkan hijrah ke Habasyah
Ø Abdullah bin
'Abbas radhiyallahu
‘anhuma berkata:
«انْطَلَقَ النَّبِيُّ ﷺ فِي طَائِفَةٍ مِنْ
أَصْحَابِهِ عَامِدِينَ إِلَى سُوقِ عُكَاظٍ، وَقَدْ حِيلَ بَيْنَ الشَّيَاطِينِ
وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ، وَأُرْسِلَتْ عَلَيْهِمُ الشُّهُبُ، فَرَجَعَتِ
الشَّيَاطِينُ إِلَى قَوْمِهِمْ، فَقَالُوا: مَا لَكُمْ؟ فَقَالُوا: حِيلَ
بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ، وَأُرْسِلَتْ عَلَيْنَا الشُّهُبُ،
قَالُوا: مَا حَالَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ إِلَّا شَيْءٌ حَدَثَ،
فَاضْرِبُوا مَشَارِقَ الأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا، فَانْظُرُوا مَا هَذَا الَّذِي
حَالَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ، فَانْصَرَفَ أُولَئِكَ الَّذِينَ
تَوَجَّهُوا نَحْوَ تِهَامَةَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ بِنَخْلَةَ عَامِدِينَ
إِلَى سُوقِ عُكَاظٍ، وَهُوَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ صَلاَةَ الفَجْرِ، فَلَمَّا
سَمِعُوا القُرْآنَ اسْتَمَعُوا لَهُ، فَقَالُوا: هَذَا وَاللَّهِ الَّذِي حَالَ
بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ، فَهُنَالِكَ حِينَ رَجَعُوا إِلَى
قَوْمِهِمْ، وَقَالُوا: يَا قَوْمَنَا {إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا،
يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ، فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا} [الجن: 2]، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ ﷺ:
{قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الجِنِّ} [الجن: 1] وَإِنَّمَا أُوحِيَ إِلَيْهِ قَوْلُ
الجِنِّ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Nabi ﷺ
bersama sekelompok sahabat berangkat menuju pasar 'Ukazh. Saat itu telah ada
penghalang antara setan dan berita-berita langit dimana telah dikirim kabut
kepada setan sebagai penghalang. Maka setan-setan kembali menemui kaumnya, lalu
kaumnya berkata, "Apa yang terjadi dengan kalian?" Setan-setan
tersebut menjawab, "Telah ada penghalang antara kami dan berita-berita
langit dengan dikirimnya kabut." Kaumnya berkata, "Tidak ada
penghalang antara kalian dan berita-berita langit kecuali telah ada sesuatu
yang terjadi. Pergilah kalian ke seluruh penjuru timur bumi dan baratnya, lalu
perhatikanlah apa penghalang yang ada antara kalian dan berita-berita
langit!" Maka berangkatlah setan-setan yang ada di Tihamah untuk
mendatangi Nabi ﷺ
dan para sahabat Beliau yang sedang berada di pasar 'Ukazh. Saat itu beliau dan
para sahabat sedang melaksanakan salat fajar. Ketika setan-setan itu mendengar
Al-Qur'an, mereka menyimaknya dengan baik hingga mereka pun berkata, "Demi
Allah, inilah yang menjadi penghalang antara kalian dan berita-berita
langit." Dan perkataan ini pula yang disampaikan ketika mereka kembali
kepada kaum mereka. Lantas mereka berkata kepada kaumnya, "Wahai kaum
kami, {sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan.
(Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya.
Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami)
' [Al-Jin: 1-2]. Maka kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya ﷺ: {Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu
bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al-Qur'an)} [Al-Jin: 1]
Yakni diwahyukan kepada beliau perkataan jin." [Shahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Tafsir surah Al-Jinn
6.
Al-Qur’an tidak berpengaruh pada hati yang terkunci atau
kotor.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{أَفَلَا
يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا} [محمد: 24]
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran, ataukah hati
mereka terkunci?
[Muhammad:24]
Ø Utsman bin
Affan radhiyallahu
'anhu berkata:
«لَوْ أَنَّ قُلُوبَنَا طَهُرَتْ مَا شَبِعْنَا
مِنْ كَلَامِ ربِّنَا، وَإِنِّي لَأَكْرَهُ أَنْ يَأْتِيَ عَلَيَّ يَوْمٌ لَا
أَنْظُرُ فِي الْمُصْحَفِ»
“Sekiranya hati kita bersih, niscaya kita tidak akan pernah
merasa puas terhadap firman Tuhan kita. Sesungguhnya aku tidak suka jika ada
satu hari pun yang berlalu tanpa aku melihat (membaca) Al-Qur'an”. [Al-I'tiqad
karya Al-Baihaqiy]
Ø Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
«اطلبْ قلبك في ثلاثة مواطن: عند سماع القرآن،
وفي مجالِس الذِّكر، وفي أوقات الخلوة؛ فإن لم تجدهُ في هذه المواطن فسَلِ الله أن
يَمُنَّ عليك بقلبٍ؛ فإنه لا قلبَ لك»
“Carilah hatimu di tiga tempat: saat mendengar Al-Qur'an, di
majelis-majelis zikir, dan di waktu-waktu menyendiri. Jika tidak engkau dapati
hatimu di tempat-tempat itu, maka mohonlah kepada Allah agar menganugerahkan
hatimu kepadamu, karena sesungguhnya engkau tidak memiliki hati”. [Al-Fawaid]
Lihat: Sifat hati yang baik dan yang buruk dalam Al-Qur’an
7.
Syaitan dan orang kafir berusaha menjauhkan manusia dari
Al-Qur'an.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَقَالَ
الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ
لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ} [فصلت : 26]
Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu
mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk
terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka". [Fushilat: 26]
{وَقَالَ
الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا} [الفرقان : 30]
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku
menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan". [Al-Furqan: 30]
Lihat: Jangan mengikuti langkah-langkah syaitan
8.
Sunnah membaca surah “Ath-Thur” dalam shalat magrib.
9.
Boleh memanjangkan bacaan shalat magrib.
Syekh Albaniy
rahimahullah berkata:
وكان ﷺ يقرأ
فيها - أحيانا - بقصار المفصل، حتى إنهم كانوا إذا صلوا معه وسلّم بهم انصرف أحدهم
وإنه ليبصر مواقع نبله، وقرأ في سفر بـ {والتين والزيتون} [٩٥: ٨] في الركعة الثانية، وكان أحيانا يقرأ
بطوال المفصل وأوساطه فكان تارة يقرأ بـ {الذين كفروا وصدوا عن سبيل الله} [٤٧: ٣٨] وتارة بـ {والطور} [٥٢: ٤٩] وتارة بـ {والمرسلات} [٧٧: ٥٠] قرأ بها في آخر صلاة صلاها ﷺ، وكان
أحيانا يقرأ بطولى الطوليين [الأعراف (٢٠٦: ٧)] في الركعتين.
Dia (ﷺ)
terkadang membaca surah-surah pendek dari bagian al-Mufashshal dalam salatnya.
Bahkan para sahabat, ketika salat bersamanya lalu beliau mengucapkan salam,
sebagian dari mereka langsung pergi sementara masih bisa melihat tempat
jatuhnya anak panah (karena langit masih terang). Beliau juga membaca surah
At-Tin (95: 1-8) pada rakaat kedua dalam safar. Terkadang beliau membaca
surah-surah panjang dari al-Mufashshal, atau yang sedang. Maka beliau terkadang
membaca surah Muhammad (47: 38) yang dimulai dengan "(Orang-orang) yang
kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah...", terkadang
membaca surah Ath-Thur (52: 49), dan terkadang membaca surah Al-Mursalat (77:
1-50). Surah Al-Mursalat ini dibaca pada salat terakhir yang dilakukan beliau.
Dan terkadang beliau membaca dua surah terpanjang dari surah-surah panjang,
yaitu surah Al-A'raf (7: 1-206), dalam dua rakaat. [Sifat shalat Nabi]
10. Bacaan shalat magrib dikeraskan
(jahar).
Syekh Albaniy rahimahullah berkata:
"وكان ﷺ
يجهر بالقراءة في صلاة الصبح وفي الركعتين الأوليين من المغرب والعشاء ويسر بها في
الظهر والعصر والثالثة من المغرب والأخريين من العشاء"
Dan beliau ﷺ
mengeraskan bacaan (Al-Qur'an) pada salat Subuh, dan pada dua rakaat pertama
salat Magrib dan Isya, serta melirihkan bacaan pada salat Zuhur, Asar, rakaat
ketiga Magrib, dan dua rakaat terakhir Isya. [Sifat shalat Nabi]
Wallahu a'lam!
Lihat juga: Do'a agar hati diberi hidayah - Bagaimana meraih keberkahan Al-Qur’an - Langkah menuju kemuliaan bersama Al-Qur’an dan pentingnya berta’awun di dalamnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...