Rabu, 20 Januari 2021

Kitab Ilmu bab 19; Pergi menuntut ilmu

 بسم الله الرحمن الرحيم

Imam Bukhari -rahimahullah- berkata:

بَابُ الخُرُوجِ فِي طَلَبِ العِلْمِ

“Bab: Pergi menuntut ilmu”

Dalam bab ini, imam Bukhari menjelaskan keutamaan pergi menutu negri-negri yang jauh untuk menuntut ilmu dengan menyebutkan satu hadits mu’allaq (sanad terputus) dari Jabir bin ‘Abdillah -radhiyallahu ‘anhuma- yang bepergian sebulan lamanya menemui Abdullah bin Unais untuk mendengarkan satu hadits, dan yang kedua hadits muttashil (sanad bersambung) dari Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- tentang perjalanan Nabi Musa menemui Nabi Khidir -‘alaihimassalam-.

A.    Hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.

Imam Bukhari -rahimahullah- berkata:

وَرَحَلَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُنَيْسٍ، فِي حَدِيثٍ وَاحِدٍ

“Dan Jabir bin Abdillah pergi selama sebulan perjalanan menemui Abdillah bin Unais untuk satu hadits”.

Takhri hadits ini:

Diriwayatkan oleh Imam Ahmadrahimahullah- dengan sanad bersambung dalam kitabnya “Al-Musnad” 25/431 no.16042; Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma berkata:

بَلَغَنِي حَدِيثٌ عَنْ رَجُلٍ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاشْتَرَيْتُ بَعِيرًا، ثُمَّ شَدَدْتُ عَلَيْهِ رَحْلِي، فَسِرْتُ إِلَيْهِ شَهْرًا، حَتَّى قَدِمْتُ عَلَيْهِ الشَّامَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُنَيْسٍ، فَقُلْتُ لِلْبَوَّابِ: قُلْ لَهُ: جَابِرٌ عَلَى الْبَابِ، فَقَالَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، فَخَرَجَ يَطَأُ ثَوْبَهُ فَاعْتَنَقَنِي، وَاعْتَنَقْتُهُ، فَقُلْتُ: حَدِيثًا بَلَغَنِي عَنْكَ أَنَّكَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقِصَاصِ، فَخَشِيتُ أَنْ تَمُوتَ، أَوْ أَمُوتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا " قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: " لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مِنْ بُعْدٍ كَمَا يَسْمَعُهُ مِنْ قُرْبٍ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ، وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ، وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، حَتَّى اللَّطْمَةُ " قَالَ: قُلْنَا: كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا؟ قَالَ: «بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ»

Telah sampai hadits kepadaku dari seorang laki-laki yang mendengar dari Rasulullah , kontan saya membeli unta, kuikat kencang perbekalanku dan kuarahkan perjalananku untuk menemuinya selama satu bulan. Selanjutnya aku menemuinya tepatnya di Syam, tak tahunya orang itu adalah Abdullah bin Unais. Saya berkata kepada penjaga pintu, "Katakan padanya, Jabir sedang menunggunya di di depan pintu". Lalu dia bertanya, kamu adalah Ibnu Abdullah, saya menjawab, Ya. Lalu dia keluar dengan menginjak pakaiannya, dia memelukku dan sebaliknya aku juga memeluknya, saya berkata; telah sampai kepadaku suatu hadits darimu, kamu mendengar Rasulullah tentang perkara qishas, saya khawatir apabila engkau meninggal ataupun saya meninggal sebelum saya dapat mendengarnya. (Abdullah bin Unais) berkata; Saya mendengar Rasulullah bersabda, "Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan dan dalam keadaan buhman", lalu kami bertanya, "Apakah buhman itu?" Beliau bersabda, "Tidak membawa sesuatupun", lalu ada suara yang memanggil mereka dari dekat, 'Aku adalah raja dan Aku Ad-Dayyan (pemberi pembalasan) tidaklah patut bagi seorang penduduk neraka untuk masuk neraka sedangkan dia mempunyai hak atas seseorang dari penduduk surga sampai Aku memberikan haknya. Juga tidaklah patut seseorang dari penduduk surga untuk masuk surga sedangkan seseorang dari penduduk nereka mempunyai hak atas dirinya sampai Aku memberikan haknya. Sampai satu tamparan sekalipun. (Abdullah bin Unais) berkata; kami bertanya, Bagaimana ini? Kami mendatangi Allah 'azza wa jalla dalam keadaan telanjang dan tidak berkhitan, dan tidak membawa sesuatupun? maka beliau bersabda, "Kalian datang dengan kebaikan dan keburukan".

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.

Lihat di sini: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2)      Biografi Abdullah bin Unais Al-Juhaniy, Abu Yahya Al-Madaniy radhiyallahu ‘anhu.

Ia salah satu dari 70 orang Anshar yang menghadiri bai’at Al-‘Aqabah, ia tidak ikut pada perang Badr, tapi ikut perang Uhud dan peperangan lainnya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia wafat tahun 54 hijriyah pada masa Khalifah Mu’awiyah –radhiyallahu ‘anhu- di Syam.

3)      Keutamaan pergi menuntut ilmu.

Diantaranya:

a.       Mendapat penghormatan dari malaikat

Shafwan bin 'Assaal Al-Muradiy radhiyallahu 'anhu berkata: Ya Rasulullah, aku datang untuk menuntut ilmu.

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam menjawab:

«مَرْحَبًا بطالبِ الْعِلْمِ، طَالِبُ الْعِلْمِ لَتَحُفُّهُ الْمَلَائِكَةُ وَتُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا، ثُمَّ يَرْكَبُ بَعْضُهُ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغُوا السَّمَاءَ الدُّنْيَا مِنْ حُبِّهِمْ لِمَا يَطْلُبُ» [المعجم الكبير للطبراني: حسنه الألباني]

“Selamat datang wahai penuntut ilmu, orang yang menuntut ilmu dikelilingi oleh malaikat, dan dinaungi dengan sayapnya kemudian mereka saling menaiki satu sama lain sampai mencapai langit dunia karena cinta mereka kepada penuntut ilmu.” [Al-Mu'jam Al-Kabir Ath-Thabaraniy: Hasan]

Ø  Dalam riwayat lain; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«مَا مِنْ خَارِجٍ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ، إِلَّا وَضَعَتْ لَهُ الْمَلَائِكَةُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا بِمَا يَصْنَعُ» [سنن ابن ماجه: صحيح]

"Tidak satu orang pun yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu kecuali para malaikat merendahkan sayapnya sebagai penghormatan untuknya karena ridha atas apa yang ia lakukan". [Sunan Ibnu Majah: Sahih]

b.      Dimudahkan jalannya ke surga

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ» [صحيح مسلم]

“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. [Sahih Muslim]

c.       Jihad di jalan Allah

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata; Rasulullah bersabda:

«مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ» [سنن الترمذي: حسن لغيره]

"Barangsiapa keluar dalam rangka menuntut ilmu maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali." [Sunan Tirmidziy: Hasan ligairih]

Lihat: Keutamaan ilmu, ulama, dan penuntut ilmu

4)      Mengorbankan harta, waktu, tenaga, dan perasaan dalam menuntutu ilmu.

Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu 'anhu berkata:

أَتَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ يَوْمًا وَلَيْلَةً، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيمًا رَفِيقًا، فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدْ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا - أَوْ قَدْ اشْتَقْنَا - سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا، فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ: " ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ، فَأَقِيمُوا فِيهِمْ، وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ "

"Kami datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, saat itu kami adalah para pemuda yang usianya sebaya. Maka kami tinggal bersama beliau selama dua puluh hari dua puluh malam. Beliau adalah seorang yang sangat penuh kasih dan lembut. Ketika beliau merasa bahwa kami telah ingin, atau merindukan keluarga kami, beliau bertanya kepada kami tentang orang yang kami tinggalkan. Maka kami pun mengabarkannya kepada beliau. Kemudian beliau bersabda: "Kembalilah kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan perintahkan (untuk shalat)." [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Yahya bin Abi Katsir -rahimahullah- berkata:

«لَا يَأْتِي الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجَسَدِ»

"Ilmu tidak akan datang dengan tubuh yang santai". [Hilyatul Auliya' karya Abu Nu'aim]

Ø  Ayyub bin 'Utbah -rahimahullah- (w.160 H) berkata:

«لا يَسْتَقِيمُ طَلَبُ الْعِلْمِ بِرَاحَةِ الْجَسَدِ»

"Tidak benar cara menuntut ilmu dengan tubuh yang santai". [Al-Masyayikh Al-Bagdadiyah karya Abu Thahir As-Silafiy]

5)      Minta izin ketika bertamu.

Lihat: Adab bertamu dalam Islam

6)      Menerima tamu dengan baik.

Lihat: Adab menerima tamu dalam Islam

7)      Boleh berpelukan ketika menerima tamu dari jauh.

Abu Juhaifah radhiyallahu 'anhu berkata:

لَمَّا قَدِمَ جَعْفَرٌ مِنْ هِجْرَةِ الْحَبَشَةِ، تَلَقَّاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَانَقَهُ، وَقَبَّلَ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَقَالَ: «مَا أَدْرِي بِأَيِّهِمَا أَنَا أَسَرُّ، بِفَتْحِ خَيْبَرَ، أَوْ بِقُدُومِ جَعْفَرٍ» [المعجم الكبير للطبراني: صححه الشيخ الألباني]

Ketika Ja’far tidak dari hijrah Habasyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya lalu memeluknya dan menciumi di antara dua matanya, dan beliau bersabda: Aku tidak tahu dengan apa dari salah satu diantara keduanya yang membuatku senang, dengan pembebasan Khaibar, atau dengan kedatangan Ja’far”. [Al-Mu’jam Al-Kabiir karya Ath-Thabaraniy: Shahih]

Ø  Anas radhiyallahu 'anhu berkata:

«كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَلَاقَوْا تَصَافَحُوا، وَإِذَا قَدِمُوا مِنْ سَفَرٍ تَعَانَقُوا» [المعجم الأوسط: حسنه الألباني]

“Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jika bertemu saling bersalaman, dan jika tiba dari bepergian jauh mereka berpelukan”. [Al-Mu'jam Al-Ausath: Hasan]

Lihat: Adab bepergian jauh

8)      Semangat sahabat mendengarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Abdullah bin Buraidah -rahimahullah- berkata:

أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحَلَ إِلَى فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ وَهُوَ بِمِصْرَ، فَقَدِمَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: أَمَا إِنِّي لَمْ آتِكَ زَائِرًا، وَلَكِنِّي سَمِعْتُ أَنَا وَأَنْتَ حَدِيثًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَوْتُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَكَ مِنْهُ عِلْمٌ، قَالَ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: كَذَا وَكَذَا، قَالَ: فَمَا لِي أَرَاكَ شَعِثًا وَأَنْتَ أَمِيرُ الْأَرْضِ؟ قَالَ: «إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْهَانَا عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الإِرْفَاهِ»، قَالَ: فَمَا لِي لَا أَرَى عَلَيْكَ حِذَاءً؟ قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نَحْتَفِيَ أَحْيَانًا» [سنن أبي داود: صحيح]

"Seorang laki-laki dari sahabat Nabi berkunjung ke rumah Fadhalah bin Ubaid yang berada di Mesir. Ia lalu datang kepadanya seraya berkata, "Aku datang kepadamu bukan untuk berkunjung, tetapi aku dan kamu sendiri telah mendengar hadits Rasulullah , maka aku berharap engkau mempunyai ilmu tentang itu." Fadhalah bertanya, "Hadits tentang apa itu?" sahabat Nabi itu menjawab, "Begini dan begini." Fadhalah bertanya, "Kenapa rambutmu tampak kusut dan berantakan, padahal engkau adalah seorang pemimpin?" ia menjawab, "Sesungguhnya Rasulullah telah melarang kita untuk bermewah-mewah." Fadhalah lalu bertanya lagi, "Kenapa aku juga melihatmu tidak mengenakan sepatu?" ia menjawab, "Nabi memerintahkan untuk berjalan dengan tanpa alas kaki sesekali." [Sunan Abi Daud: Shahih]

Ø  ‘Atha’ bin Abi Rabah -rahimahullah- berkata:

خَرَجَ أَبُو أَيُّوبَ إِلَى عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ وَهُوَ بِمِصْرَ يَسْأَلُهُ عَنْ حَدِيثٍ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَبْقَ أَحَدٌ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَهُ وَغَيْرَ عُقْبَةَ فَلَمَّا قَدِمَ أَتَى مَنْزِلَ مَسْلَمَةَ بْنِ مَخْلَدٍ الْأَنْصَارِيِّ وَهُوَ أَمِيرُ مِصْرَ فَأُخْبِرَ بِهِ فَعَجَّلَ فَخَرَجَ إِلَيْهِ فَعَانَقَهُ، ثُمَّ قَالَ: مَا جَاءَ بِكَ يَا أَبَا أَيُّوبَ؟ فَقَالَ: حَدِيثٌ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَبْقَ أَحَدٌ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرِي وَغَيْرَ عُقْبَةَ فَابْعَثْ مَنْ يَدُلُّنِي عَلَى مَنْزِلِهِ قَالَ فَبَعَثَ مَعَهُ مَنْ يَدُلُّهُ عَلَى مَنْزِلِ عُقْبَةَ فَأُخْبِرَ عُقْبَةُ بِهِ فَعَجَّلَ فَخَرَجَ إِلَيْهِ فَعَانَقَهُ وَقَالَ مَا جَاءَ بِكَ يَا أَبَا أَيُّوبَ؟ فَقَالَ حَدِيثٌ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَبْقَ أَحَدٌ سَمِعَهُ غَيْرِي وَغَيْرَكَ فِي سَتْرِ الْمُؤْمِنِ قَالَ عُقْبَةُ نَعَمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ سَتَرَ مُؤْمِنًا فِي الدُّنْيَا عَلَى خِزْيِهِ سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» فَقَالَ لَهُ أَبُو أَيُّوبَ: صَدَقْتَ، ثُمَّ انْصَرَفَ أَبُو أَيُّوبَ إِلَى رَاحِلَتِهِ فَرَكِبَهَا رَاجِعًا إِلَى الْمَدِينَةِ فَمَا أَدْرَكَتْهُ جَائِزَةُ مَسْلَمَةَ بْنِ مَخْلَدٍ إِلَّا بَعَرِيشِ مِصْرَ [مسند الحميدي]

Abu Ayyub pergi menemui ‘Uqbah bin ‘Amir yang berada di Mesir, ia ingin menanyakan tentang satu hadits yang ia dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mana tidak ada lagi seorang yang pernah mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selain dia dan ‘Uqbah. Maka ketika ia tiba, ia mendatangi rumah Maslamah bin Makhlad Al-Anshariy dan ia adalah penguasa Mesir, lalu dikabarkan kepadanya maka ia keluar menemuinya lalu memeluknya, kemudian berkata: Apa yang membuatmu datang wahai Abu Ayyub? Ia menjawab: Satu hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak ada lagi seorangpun yang pernah mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selain aku dan ‘Uqbah, maka utuslah seseorang untuk menunjukkan aku rumahnya. Maka ia mengutus bersamanya seorang yang menunjukkan rumah ‘Uqbah, kemudian dikabarkan kepada ‘Uqbah maka ia bersegerah keluar menemuinya. Lalu ia memeluknya dan berkata: Apa yang membuatmu datang wahai Abu Ayyub? Ia menjawab: Satu hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak ada lagi seorangpun yang pernah mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selain aku dan engkau tentang menutupi aib seorang mukmin. ‘Uqbah berkata: Betul, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang menutupi seorang mu’min di dunia dari aibnya maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat”. Maka Abu Ayyub berkata kepadanya: Engkau betul. Lalu Abu Ayyub pergi ke tunggangannya dan berangakat kembali ke Madinah, dan ia tidak mendapati hadiah dari Maslamah bin Maklad kecuali setelah tiba di ‘Arisy Mesir. [Musnad Al-Humaidiy]

9)      Memimba ilmu dari sumbernya langsung.

Abu Al-‘Aliyah -rahimahullah- (90H) berkata:

«إِنْ كُنَّا نَسْمَعُ الرِّوَايَةَ بِالْبَصْرَةِ عَنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ نَرْضَ، حَتَّى رَكِبْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ، فَسَمِعْنَاهَا مِنْ أَفْوَاهِهِمْ» [سنن الدارمي: صحيح]

“Jika kami mendengar riwayat di Bashrah tentang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami tidak menerimanya sampai kami berangkat menuju Madinah lalu kami mendengarnya langsung dari mulut mereka”. [Sunan Ad-Darimiy: Sahih]

Lihat: Talaqi, cara cepat dan tepat menuntut ilmu

10)  Keutamaan sanad 'Aly (tertinggi).

Lihat: Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari;Bab (21)

11)  Manusia dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan telanjang.

Dari 'Aisyah radhiallahu'anha; Rasulullah bersabda:

«تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا» قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: «الأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Kalian dikumpulkan dengan keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak beralas kaki." 'Aisyah menyela; 'Hai Rasulullah, laki-laki dan perempuan, satu sama lain bisa melihat auratnya?' Nabi menjawab, "Kejadian ketika itu lebih dahsyat sehingga memalingkan mereka dari keinginan seperti itu." [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dari Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhuma; Nabi bersabda:

" إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا، ثُمَّ قَرَأَ: {كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ} [الأنبياء: 104]، وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ القِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ " [صحيح البخاري ومسلم]

"Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari kiamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan". Lalu beliau membaca firman Allah yang artinya {"Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya"}. [Al-Anbiya’: 104] Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari kiamat adalah Nabi Ibrahim 'alaihissalam”. [Shahih Bukhari dan Muslim]

12)  Allah ‘azza wa jalla berbicara dengan suara yang bisa didengar.

Lihat: Allah berbicara

13)  Kedzaliman terhadap makhluk akan dipertanggung-jawabkan walau sekecil apa pun.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ، مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ» [صحيح مسلم]

"Kalian akan mengembalikan hak kepada pemiliknya di hari kiamat, sampai kambing yang tidak bertanduk dikisas dari kambing bertanduk". [Sahih Muslim]

Lihat: Hadits Anas; 3 jenis kedzaliman

B.     Hadits Ibnu ‘Abbas.

Imam Bukhari -rahimahullah- berkata:

78 - حَدَّثَنَا أَبُو القَاسِمِ خَالِدُ بْنُ خَلِيٍّ قَاضِي حِمْصَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الأَوْزَاعِيُّ، أَخْبَرَنَا الزُّهْرِيُّ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ تَمَارَى هُوَ وَالحُرُّ بْنُ قَيْسِ بْنِ حِصْنٍ الفَزَارِيُّ فِي صَاحِبِ مُوسَى، فَمَرَّ بِهِمَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ، فَدَعَاهُ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقَالَ: إِنِّي تَمَارَيْتُ أَنَا وَصَاحِبِي هَذَا فِي صَاحِبِ مُوسَى الَّذِي سَأَلَ السَّبِيلَ إِلَى لُقِيِّهِ، هَلْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ شَأْنَهُ؟ فَقَالَ أُبَيٌّ: نَعَمْ، سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ شَأْنَهُ يَقُولُ: " بَيْنَمَا مُوسَى فِي مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: أَتَعْلَمُ أَحَدًا أَعْلَمَ مِنْكَ؟ قَالَ مُوسَى: لاَ، فَأَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى مُوسَى: بَلَى، عَبْدُنَا خَضِرٌ، فَسَأَلَ السَّبِيلَ إِلَى لُقِيِّهِ، فَجَعَلَ اللَّهُ لَهُ الحُوتَ آيَةً، وَقِيلَ لَهُ: إِذَا فَقَدْتَ الحُوتَ فَارْجِعْ، فَإِنَّكَ سَتَلْقَاهُ، فَكَانَ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَّبِعُ أَثَرَ الحُوتِ فِي البَحْرِ، فَقَالَ فَتَى مُوسَى لِمُوسَى: {أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهِ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ}، قَالَ مُوسَى: {ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِي فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا}، فَوَجَدَا خَضِرًا، فَكَانَ مِنْ شَأْنِهِمَا مَا قَصَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ "

78 - Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Qasim Khalid bin Khaliy -seorang hakim di Himsha-, dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harb, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Auza'iy, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Az-Zuhriy, dari 'Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud, dari Ibnu 'Abbas bahwasanya dia dan Al-Hurru bin Qais bin Hishin Al-Fazariy berdebat tentang sahabat Musa 'alaihissalam, Ibnu 'Abbas berkata; Dia adalah Khidir 'alaihissalam. Tiba-tiba lewat Ubay bin Ka'b di depan keduanya, maka Ibnu 'Abbas memanggilnya dan berkata: "Aku dan temanku ini berdebat tentang sahabat Musa 'alaihissalam, yang ditanya tentang jalan yang akhirnya mempertemukannya, apakah kamu pernah mendengar Nabi menceritakan masalah ini?" Ubay bin Ka'ab menjawab: Ya, benar, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Ketika Musa di tengah pembesar Bani Israil, datang seseorang yang bertanya: apakah kamu mengetahui ada orang yang lebih pandai darimu?" Berkata Musa 'alaihissalam, "Tidak". Maka Allah ta'ala mewahyukan kepada Musa 'alaihissalam, "Ada, yaitu hamba Kami bernama Hidlir." Maka Musa 'alaihissalam meminta jalan untuk bertemu dengannya. Allah menjadikan ikan bagi Musa sebagai tanda dan dikatakan kepadanya, "Jika kamu kehilangan ikan tersebut kembalilah, nanti kamu akan berjumpa dengannya". Maka Musa 'alaihissalam mengikuti jejak ikan di lautan. Berkatalah murid Musa 'alaihissalam, "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi? Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidaklah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan". Maka Musa 'alaihissalam berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Maka akhirnya keduanya bertemu dengan Khidlir 'alaihissalam." Begitulah kisah keduanya sebagaimana Allah ceritakan dalam kitab-Nya.

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Hadits ini sudah dijelaskan pada bab sebelumnya (bab 16).

2.      Memilih guru yang terbaik ketika pergi menuntut ilmu.

Mujahid berkata: Busyair Al-‘Adawiy datang kepada Ibnu Abbas kemudian ia menyebutkan hadits dan berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda .. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda ..! Akan tetapi Ibnu Abbas tidak mendengarkannya dan tidak melihat kepadanya.

Maka Busyair berkata: Wahai Ibnu Abbas, kenapa aku tidak melihatmu mendengarkan hadits yang kusampaikan? Aku menyampaikan hadits dari Rasulullah dan kamu tidak mendengarkannya?

Maka Ibnu Abbas menjawab:

" إِنَّا كُنَّا مَرَّةً إِذَا سَمِعْنَا رَجُلًا يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ابْتَدَرَتْهُ أَبْصَارُنَا، وَأَصْغَيْنَا إِلَيْهِ بِآذَانِنَا، فَلَمَّا رَكِبَ النَّاسُ الصَّعْبَ، وَالذَّلُولَ، لَمْ نَأْخُذْ مِنَ النَّاسِ إِلَّا مَا نَعْرِفُ " [مقدمة صحيح مسلم]

Dulu jika kami mendengar seorang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, maka kami segera memandangnya dan memasang telinga kami untuk mendengarkannya. Akan tetapi setelah orang-orang marasakan masa kesulitan dan kekeliruan (fitnah) maka kami tidak menerima hadits dari orang-orang kecuali yang kami ketahui. [Muqaddimah Sahih Muslim]

Ø  Ibnu Sirin (110H) -rahimahullah- berkata:

«إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ» [مقدمة صحيح مسلم]

“Sesungguhnya ilmu ini (periwayatan hadits) adalah bagian dari agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian”. [Muqaddimah Sahih Muslim]

Ø  Ia juga berkata:

" لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ " [مقدمة صحيح مسلم]

“Dulunya mereka tidak bertanya tentang sanad (sumber hadits), namun ketika fitnah (maraknya ahli bid’ah) terjadi maka mereka mulai bertanya: Sebutkan pada kami dari siapa kalian menerima hadits! Kemudian mereka memeriksa, jika sumbernya dari ahli sunnah maka mereka menerima haditsnya, dan mereka memeriksa jika sumbernya dari ahli bid’ah maka mereka tidak menerima haditsnya”. [Muqaddimah Sahih Muslim]

3.      Bertanya kepada ulama dalam memilih guru.

Sulaiman bin Musa (119H) -rahimahullah- berkata: Aku bertemu dengan Thawus (106H) -rahimahullah- dan kukatakan padanya: Fulan menyampaikan hadits padaku tentang ini dan itu!

Thawus berkata:

«إِنْ كَانَ صَاحِبُكَ مَلِيًّا، فَخُذْ عَنْهُ» [مقدمة صحيح مسلم]

“Jika ia seorang yang tsiqah (terpercaya dan kuat hafalannya) maka ambillah hadits darinya”. [Muqaddimah Sahih Muslim]

Ø  Makhul Asy-Syamiy (112H) -rahimahullah- berkata:

«لَا يُؤْخَذُ الْعِلْمُ إِلَّا عَنْ مَنْ شُهِدَ لَهُ بِالطَّلَبِ» [حلية الأولياء وطبقات الأصفياء لأبي نعيم]

“Ilmu tidak diterima kecuali dari orang yang terkenal dalam menuntut ilmu”. [Hilyah Al-Auliya’ karya Abu Nu’aim]

4.      Meminta kepada Allah agar diberi guru yang baik.

Lihat: Bagaimana menuntut ilmu

Wallahu a’lam!

Lihat juga: Kitab Ilmu bab 18; Kapan anak kecil boleh menerima hadits

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...